
Keresahan Koyuki untuk sesaat hilang namun kemudian muncul lagi saat memandang Naruto. Ia merasa ragu bila Naruto bisa membantu.
"Naruto apa kau yakin bisa?" Tanya wanita ini tidak yakin. Sudut bibir beberapa orang disana sontak bergetar menahan tawa ketika Naruto diremehkan.
Kakashi tersenyum simpul pada Koyuki. "Tenang saja, kau akan banyak dibantu olehnya."
.
.
.
Hitungan mundur dimulai pertanda pertandingan akan dimulai. Sekali lagi Koyuki melirik Naruto yang terlihat begitu tenang atau bisa dibilang kelewat tenang karena pemuda satu ini masih asik sms-an entah dengan siapa.
Setelah melakukan uji coba jalanan Koyuki sangat was-was karena wilayah KDS jalanannya memiliki tikungan yang tajam dan berbahaya.
"Sebaiknya Koyuki-sensei fokus saja pada start saat ini, jangan memandangiku terus." Tegur Naruto yang sadar sedari tadi menjadi bahan lirikan dosennya.
Koyuki langsung membuang muka saat mahasiswa favoritenya ini menegurnya.
"Sebaiknya kau juga bisa menjadi navigator yang baik untukku karena kulihat sedari tadi kau terus saja bermain handphone. Jika saja ini jam kuliahku dan kau bersikap seperti ini aku tidak segan-segan mengusirmu keluar." Ancam wanita muda itu pada mahasiswanya yang justru mengeluarkan senyum menawan kemudian tertawa rendah.
"Jangan begitu bu, baiklah handphoneku akan kusimpan selama pertandingan." Ujar Naruto kemudian mengalihkan perhatiannya pada Sasori yang memegang bendera start.
Posisi mobil mereka berada di barisan dua di belakang mobil perwakilan Takigakure.
"Sensei percaya padaku?" Tanya Naruto pada Koyuki yang fokus dibalik kemudinya.
"Mau tidak mau aku harus percaya padamu Naruto. Tidak ada pilihan lain." Jawab Koyuki tanpa melirik Naruto karena gadis cantik ini tidak mau memulai start dengan tidak baik.
Hitungan mundurpun dimulai. Koyuki dengan kesiagaan tinggi dia langsung menekan gas dalam-dalam saat memulai start. Sejalan dengan pertandingan yang telah dimulai, tak ayal semua peserta berkonsentrasi pada jalannya pertandingan tidak terkecuali Naruto yang mengamati gerakan mobil di depan dalam diam.
Whussssssh
Rumput-rumput liar di tepi jalan bergoyang ketika mobil-mobil ini melesat dalam kecepatan tinggi. Untuk beberapa saat Naruto hanya terdiam ketika wanita cantik disampingnya itu menampakkan kelihaian dalam beradu kecepatan mobil. Wajah cantik dosennya itu tidak sama sekali menunjukkan kegentaran ketika mobil mustang GT-500 milik perwakilan Kumogakure sudah mengapitnya ketika memasuki tikungan.
Seulas senyum kemudian terpampang diwajah Koyuki untuk mengiringi aksinya dalam melakukan weight transfer. Tangan mulusnya dengan tegas menarik rem tangan untuk melakukan sedikit pengereman agar mengurangi kecepatan serta menjaga stabilitas mobil. Dia terlihat cukup ahli mengendalikan stir hingga mobilnya bisa melaju lebih cepat ketika akan disalip.
"Lihat saya cukup kompeten bukan?" Tanya Koyuki yang sekaligus memberikan pernyataan formal pada Naruto yang bermimik tenang khas milik si mahasiswa rajin saat di perkuliahan. Koyuki sampai sekarang masih belum mengerti kenapa mahasiswa favoritenya bisa terdampar di tempat macam ini. Mengesampingkan dulu rasa herannya, sekarang dia harus focus dengan apa yang ada di depannya.
Alis Naruto bertaut sebelah pertanda memberikan reaksi pada seniornya.
" Ahh…eksekusi weight transfernya tidak buruk." Wanita berambut dark blue panjang itu sedikit menggeram marah saat mahasiswanya itu hanya berkomentar pendek tanpa memuji. Wajah Naruto masih saja datar seperti jalan tol ketika Koyuki bisa lolos lagi dari aksi penyalipan mobil di belakang.
"Di depan ada tikungan cukup tajam dengan jalanan sedikit menukik di ujung tikungan. Kurangi kecepatan lalu lakukan pengereman, tolong kurangi gigi kemudian lakukan pulse untuk overpower." Pinta Naruto dengan nada halus pada Koyuki yang masih konsentrasi memperpendek jarak dengan mobil depan.
Perwakilan Takigakure sangat disiplin dalam menjaga posisi dan membuat jarak sehingga membuat Koyuki sulit mendekat. Naruto dengan sabar memberi arahan positive yang sangat bisa diterima baik oleh wanita perwakilan Suna itu.
Tidak ada catatan khusus dari Naruto mengenai perwakilan dari Takigakure dan Kumogakure karena menurutnya cara balapan mereka masuk dalam kategori biasa. Sejauh ini dia belum merasakan adanya tekanan yang berarti dalam menghadapi mereka. Dia bahkan sangat menikmati posisinya yang memberi arahan-arahan pada partner sementaranya itu.
Bila dibandingkan saat melawan Menma atau yang lain seperti Sasuke ataupun Gaara, pressure yang dirasakan sungguh sangat berbeda. Tidak mungkin akan bisa sesantai ini bila orang sejenis Menma yang dihadapi.
"Di depan ada tikungan yang lebar kurasa anda harus berhati-hati karena ada kemungkinan mobil di belakang ingin menyalip. Sebelum disalip lebih baik kita dahulu yang menyalip mobil depan. Dari segi jarak dan moment jelas kita memiliki keuntungan." Tutur Naruto sambil melirik spion mobil milik Koyuki yang memantulkan sorot lampu mobil belakang.
"Baiklah, aku akan berusaha menyalipnya. Terimakasih atas arahannya, kau sangat membantu." Tutur wanita itu tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Naruto mengangguk kemudian tersenyum tipis.
"Kalau ibu menang, saya akan senang hati menerima nilai A untuk mata kuliah yang ibu ampu." Naruto sempat-sempatnya bercanda disaat sang dosen berusaha mempertahankan posisinya. Untungnya Koyuki sedang fokus dengan pertandingan di depan kalau tidak mungkin kepala si pirang ini akan dipukul gara-gara berusaha menyogok dosennya sendiri.
Sretttttt
Balapan ini semakin seru bagi Koyuki karena adrenalinnya terus terpacu saat hampir saja berhasil menyalip mobil di depannya. Desiran di jantungnya semakin terasa saja saat jarak keduanya sungguh tipis, Koyuki hanya kalah moment sehingga mobil di depannya itu bisa menaikkan kecepatan lebih dahulu darinya.
"Aku akan memberimu nilai A bila nilaimu memang pantas untuk dihargai A. Jangan bangga dulu dengan nilaimu karena bobot nilai UAS adalah 40%." Koyuki baru menjawab Naruto saat memasuki jalanan yang lurus.
Tak ayal Naruto langsung sweatdrop saat Koyuki di moment seperti ini masih bisa mengingatkan Naruto akan ketentuan mendapat nilai.
Putra Minato Namikaze itu kemudian tersenyum getir sebelum memandang mobil depan dengan serius lagi.
"Sebentar lagi kita akan mencapai posisi finish sebaiknya sensei secepatnya mengambil alih posisi pertama kalau tidak kita akan kalah." Tutur Naruto tenang yang langsung mendapat tanggapan cepat dari Koyuki.
"Memangnya sedari tadi aku ini melakukan apa hah? Aku sudah mencoba menyalipnya beberapa kali namun gagal. Rupanya kau tidak memperhatikan!" Koyuki kesal karena ternyata anak didiknya itu tidak menyadari apa yang dilakukan. Namun rasa jengkelnya itu kemudian berubah saat Naruto menjawab tuduhannya.
"Maaf bukannya saya tidak memperhatikan tapi kukira tadi ibu hanya berusaha memperbaiki jarak. Ahh, mungkin aku yang salah tafsir, wanita memang sukanya ragu-ragu." Ujar Naruto lirih di akhir kalimat.
Lagi-lagi Koyuki gagal dalam menyalip dan hal itu mulai membuat Naruto resah karena jalanan Konoha sebentar lagi akan habis. Dia lirik wanita di sebelahnya yang mulai mengeluarkan keringat pertanda sedang mengalami keadaan tertekan. Mobil di depan selalu bisa menghalangi mobil Koyuki sehingga membuat pergerakannya terbatas. Selain berkonsentrasi menyalip wanita ini juga fokus mempertahankan posisinya agar tidak di salip mobil belakang.
"Tenanglah sensei, kumohon tetap fokus jangan panik. Kita akan mencuri kesempatan di depan. Kita tunggu saat mobil di depan kehilangan kecepatan sesaat. Aku yakin bisa menyalipnya jika bisa lebih cepat mengambil kesempatan." Naruto masih berusaha menenangkan wanita disampingnya yang mulai dilanda kepanikan. Dia sangat tahu betul bagaimana cara menenangkan pertandingan ini.
"Caranya?" Tanya Koyuki diliputi rasa kesangsian.
"Bisa Kensei Drift?" Koyuki langsung menggeleng cepat. Secara teori ia tahu tapi secara praktik dia belum bisa menguasai.
Naruto menyeringai penuh kemenangan. "Ayo kita lakukan."
.
.
.
Tangan lembut wanita bersurai dark blue itu seketika lemas tak berdaya begitu berhasil melewati garis finish. Sorak-sorai kemenangan yang keras di luar tidak mampu membuatnya tenang seperti seharusnya.
Dia masih tidak percaya, ini semua seperti mimpi. Dia berhasil memenangkan pertandingan . Detak jantung yang begitu cepat masih saja belum mau melambat padahal mobilnya telah dihentikan. Pertandingan tadi sungguh menegangkan dimana dia melakukan kensei drift dengan sempurna untuk pertama kali.
Dalam memorinya masih terbayang jelas bagaimana mobilnya bisa menyalip mobil di depan dengan mulus dalam waktu yang singkat.
"Sensei tidak apa-apa? Apa sensei sedikit mual?" Tanya Naruto asal, jelas-jelas dosennya itu masih shock bisa memenangkan pertandingan ini.
Koyuki menggeleng pelan. "Terimakasih, kau hebat untuk jadi navigator." Jawab Koyuki kuyu. Kepalanya sudah tertelungkup di setir mobil.
Naruto tersenyum. "Ayo kita keluar, kurasa fans-fans anda sudah menunggu." Ujar Naruto namun tidak ditanggapi.
"Eng sensei apa aku boleh keluar?" Tanya Naruto takut-takut. Koyuki langsung mengangkat tanggannya. "Keluarlah dulu nanti aku menyusul."
Naruto memaklumi keadaan wanita ini jadi ia putuskan keluar dari mobil meninggalkan sang dosen yang masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Pemuda pirang itu kemudian berjalan ke tempat kawan-kawannya. Disana sudah ada Menma yang menatapnya dengan wajah bosan.
"Bagaimana? Menyenangkan?" Menma kembali ke sikap stoiknya yang selama ini membuat dirinya begitu di puja para gadis.
"Yah lumayan dari pada lihat wajah jelekmu." Ujar Naruto sekenanya pada Menma karena fokusnya langsung tertuju pada gadis lavendernya. Kasihan Menma.
"Hinata!" Panggil Naruto berseri-seri meninggalkan Menma yang kesal.
"Yang sabar ya Menma-chan semoga kau semakin dekat dengan jodohmu." Sindir Sasuke yang sengaja lewat dengan di depan Menma sambil bermesraan dengan Sakura. Sepupu Naruto itu tak ayal langsung menatap pada Sasuke namun percuma karena si bungsu Uchiha itu tidak takut dengan tatapannya. Poor you Menma.
"Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrttttttttttttt." Tiba-tiba handphone miliknya bergetar. Dengan malas-malas dia mengangkat telephone yang diketahui dari Kakashi.
"Iya-iya! Aku akan segera kesana." Jawabnya datar kemudian menuju ke tempat para ketua. Tanpa harus bertanya dia sudah tahu apa maksudnya di panggil, pastilah ini tentang Suna yang akan menjadi wilayah baru untuk kualifikasi.
.
.
Suasana di akhir semester gasal begitu membuat tegang bagi para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan semester pertamanya. Ada yang terlihat begitu sedih dan ada yang terlihat begitu gembira. Namikaze Naruto menjadi salah satu mahasiswa yang bahagia karena IP pertamanya hampir sempurna. Nilai terendahnya adalah AB itupun hanya ada satu mata kuliah.
Ia sungguh senang dengan transkrip nilai miliknya yang baru keluar. Sambil berjalan dia tatap lekat-lekat nilai hasil jerih payahnya.
__ADS_1
"Apa kau puas dengan nilaimu Naruto?" Naruto sedikit tersentak ketika tiba-tiba ada seseorang disampingnya. Dia menoleh dengan ekspresi terkejut untuk melihat siapa yang bertanya.
"Cukup puas sensei. Aku tidak menyangka aku bisa padahal di SMA nilaiku payah." Ujar Naruto sambil tersenyum ramah pada salah satu dosennya itu.
Mau tidak mau senyum manis Kazahana Koyuki berkembang untuk mahasiswa favoritenya itu.
"Kau anak yang rajin, kau pantas mendapatkannya. Tapi aku sungguh tidak menyangka kau itu salah satu orang yang bisa mengimbangi Menma. Aku sangat terkejut saat tahu dari Kakashi." Ucap Koyuki untuk pertama kalinya bicara pada Naruto di lingkungan kampus dengan tema out topic dari perkuliahan. Sejak saat itu Naruto tidak pernah lagi bertemu Koyuki di luar perkuliahan. Jika bertemupun dia sama sekali tidak pernah membahas masalah itu yang ada juga membahas laporan praktikum yang beberapa kali ditolak dan harus direvisi ulang.
Naruto garuk-garuk kepala kemudian nyengir pada dosennya.
"Penampilan memang bisa menipu." Komentar Koyuki yang tentunya ia tujukan pada mahasiswanya itu.
"Jangan menilai orang dari covernya sensei." Jawab Naruto dengan tenang.
"Harus. Ngomong-ngomong kenapa kau tidak ikut klub otomotif padahal kau bisa jadi bagian dari kami kalau mau." Siapa yang tidak tertarik mendapatkan anggota seperti Naruto, dia potensial dan hebat meski sampai sekarang tidak mengikuti klub.
Lagi-lagi senyum menawan sang Namikaze itu berkembang. "Otak ini pas-pasan sensei kalau tidak belajar bisa-bisa nilaiku jelek. Ikut klub otomotif banyak menyita waktu jadi aku tidak ikut." Jawab Naruto dengan halus dan dengan bercanda. Koyuki sangat memaklumi alasan Naruto dan kini semakin kagum pada si pirang ini karena bisa memiliki komitmen dalam studinya.
"Baiklah, aku tidak memaksa. Kalau begitu kita akan bertemu di kejuaraan Naruto, aku tahu kau pasti akan ikut juga. Akan kuperlihatkan hasil latihanku." Ucap Koyuki.
Naruto mengangguk. "Pasti, semoga kita bertemu sensei."
.
.
"Ya ampun Naruto, apa kau serius mau pulang sore ini?" Tanya seorang lelaki berambut coklat iris mata senada dengan rambutnya. Sora teman satu kontrakan dengan Naruto itu hanya bisa geleng-geleng kepala terhadap sifat sahabatnya yang punya home sindrom.
"Sudahlah, kerjaannya Naruto memang hari sabtu-minggu pulang Konoha, pulang kuliah belajar. Bagi Naruto rumah itu adalah refresing!" Cibir pemuda berambut hitam panjang berkuncir yang juga seumuran dengan Naruto.
Sret!
"Berisik!" Omel Naruto pada Sora dan Hidate begitu selesai mengemas semua barangnya pertanda siap untuk liburan panjang. Naruto sudah tidak sabar lagi untuk pulang dan memperlihatkan hasil nilainya cumloude pada orang tuanya. Sebenarnya masa liburan mereka sudah dimulai seminggu lalu, tapi Naruto dan mahasiswa yang lain masih bertahan di Suna sampai nilai keluar. Jujur dia tidak tahan jika hanya menunggu di rumah. Alasan lain ingin cepat pulang tentunya ia juga sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya Hinata dan bertemu teman-temannya yang masih tenggelam saja di dunia balap mobil.
Ada satu momen lagi yang ditunggu Naruto yaitu event "Speed Level" tahun ini. Akhirnya setelah tertunda dua tahun dia bisa ikut juga meski statusnya masih sama seperti dua tahun lalu.
"Kalian tidak pulang?" Tanya Naruto heran pada kedua teman satu kontrakan. Kedua pemuda itu masih santai dengan duduk dikursi tengah sambil ngemil menonton tv.
"Tidak, ada acara di ground Suna." Ujar Sora tanpa memandangi Naruto. Di tempat manapun Naruto seperti ditakdirkan bertemu dengan orang-orang penggila balap. Sora dan Hidate adalah anggota dari klub Scorpio yang anggotanya adalah para mahasiswa Universitas Sunagakure.
"Hah kalian ini, acara apa sih sampai kalian tidak pulang!" Celetuk Naruto. Kini tubuhnya sudah dihempaskan pada kursi sambil menyerobot cemilan Hidate. Naruto tahu Hidate dan Sora adalah maniak layaknya teman-temannya di Konoha tapi selama di Suna jujur tidak pernah menyambangi ground Suna yang jadi tempat favorite untuk balapan di Sunagakure. Waktu Naruto habis untuk belajar, hari libur dia lebih memilih pulang ke Konoha daripada mengahabiskan waktu di Suna.
"Yang jelas itu penting bagi perkembangan kami!" Timpal Sora cuek.
Naruto mengunyah cemilannya. "Sepenting apa?" Tanyanya polos.
"Hah…kujelaskan juga percuma karena kau tidak akan tahu." Cibir Hidate pada Naruto yang tumben tidak pegang buku saat santai. Jelas mereka meragukan Pangeran kampus yang terkenal dengan cap anak baik akan mau mengenal dunia mereka.
"Paling juga soal klub balap lagi!" Dengus Naruto kesal karena teman-temannya sama sekali tidak mau menjelaskan.
"Nah itu sudah tahu, tidak usah ngambek gitu. Cuma sesi kumpul penjajakan klub baru dan klub lama pra-event!" Sora akhirnya menjawab pertanyaan Naruto begitu melihat sahabatnya ini mulai ngambek.
"Berarti akan ada beberapa klub luar dong!" Ujar Naruto dengan nada tertarik.
"Tentu, namanya aja kumpul penjajakan!" Jawab Hidate asal.
"Berarti ada klub dari Konoha, Usuzhio, Iwagakure dan yang lain. Boleh aku ikut?" Mendengar lontaran kalimat dari Naruto membuat Hidate dan Sora tersedak berbarengan. Hallo, apa otak Naruto sedang konslet?
"Kau serius?" Tanya Sora tidak percaya memandang Naruto.
Mata Naruto menyorotkan kebingungan. "Kenapa, tidak boleh ya?" Tanyanya dengan nada yang berubah sedih.
"Bukan begitu, boleh saja. Ya sudah nanti malam kau ikut kami." Hidate masih tidak percaya Naruto akan ikut bersama mereka.
"Apa reaksinya teman-temannya jika melihat Pangeran kampus di Ground Suna?" Hidate masih membayangkan seorang Naruto keluar malam di tempat balapan. Ini kejadian langka tentunya.
.
.
Suasana akhir bulan Desember memang jadi suasana yang selalu dingin. Naruto baru saja memarkirkan mobil Corolla Axio berwarna biru laut tepat dibelakang mobil Sora dan Hidate. Karena cuaca cukup dingin dia mengenakan jaket putih miliknya. Dia segera turun dari mobil, disana dia melihat pemandangan khas dari perkumpulan klub mobil. Padahal baru dua minggu dia tidak bertemu kawan-kawannya namun itu seperti waktu yang lama baginya.
Naruto sedikit mengangkat alis karena melihat pandangan heran dari beberapa wajah familiar namun tidak dikenalnya. Jelas beberapa mahasiswa Sunagakure terkejut untuk pertama kalinya melihat Namikaze Naruto si anak baik disana.
"Naruto-kun?" Sapa seorang gadis dengan rambut coklat madu. Wajahnya oval dengan kulit putih disertai bibirnya merah marun serta tubuhnya yang langsing menjadi daya tarik sendiri untuk gadis ini. Tapi jangan salah meski cantik ia juga terkenal akan ketomboinnya karena ia salah satu anggota Scorpio. Benar-benar mengingatkannya dengan Sakura dan kawan-kawan.
Naruto tersenyum ramah untuk membalas sapaan itu. "Matsuri, aku tidak menyangka kau disini?"
"Justru aku yang tidak menyangka kau disini, Naruto-kun." Ujarnya lembut.
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku juga punya urusan, he he he."
"Masa sih?" Tanya Matsuri centil. Kalau berhadapan dengan Naruto yang sekarang memang jarang ada wanita yang tahan imannya untuk tidak menggoda pemuda tampan satu ini.
Hidate merangkul Naruto. "Dia sudah punya urusan sendiri, memangnya kalian para wanita punya niatan tambahan untuk cuci mata!" Tuding Hidate pada Matsuri sambil tersenyum mengejek.
"Huh bilang saja iri selain mereka tampan mereka juga hebat tau, tidak sepertimu!" Kata Matsuri diakhiri juluran lidah seperti anak kecil.
"Hah teruslah bermimpi Menma mau menyapamu, girls!" Sora sudah ikut-ikutan saja mengejek obsesi para gadis. Sora memang akhir-akhir ini jadi jengah jika mendengar pembicaraan terus-terusan anak perempuan di klubnya yang tidak henti-henti membicarakan cowok-cowok tampan dan berbakat dari klub lain.
"Cih seperti Hinata mau menyapamu saja!" Balas Matsuri kesal.
Kalau yang ini Naruto jelas langsung bereaksi mendengar nama kekasihnya disebut-sebut. "Siapa, Hinata?" Tanya Naruto memastikan.
Matsuri menyeringai seraya menepuk Naruto. "Itu idolanya Sora, dari klub Black Roses." Mata blue safir Naruto langsung menatap Sora yang wajahnya sudah merah padam.
"Huh, daripada kau apaan tuh Menma, Menma, Menma mulu!" Ketus Sora. Nah untuk yang satu ini jelas sukses ingin membuat Naruto tertawa sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka ada yang berminat pada makhluk saklek macam dia.
Naruto menutup mulutnya dengan salah tangan untuk menahan tawa. "Beneran kamu ngefans sama Menma?" Tanyanya sambil menahan tawa. Ketiga pasang mata menatap Naruto horror kelakuan pemuda bersurai pirang yang tahu-tahu tertawa sendiri.
"Ada yang lucu?" Matsuri merasa terhina dengan kelakuan Naruto. Paras cantiknya sudah diubahnya menjadi tampilan marah. Melihat reaksi Matsuri yang tidak enak dia langsung minta maaf.
"Gomen, gomen aku tidak bermaksud."Ujarnya sebelum Matsuri tambah marah. Kalau situasi begini tiba-tiba saja otaknya ada niatan jahil untuk kejutan sang sepupu. Dia membuka dompetnya dan mengambil foto simpanan yang ekslusif jadi simpanan miliknya selama dua tahun ini.
"Matsuri, aku punya sesuatu untukmu!" Tangan Naruto sudah membawa lembaran foto ukuran 4x6 yang masih utuh belum terpotong lalu diberikannya pada Matsuri.
Reflek mereka bertiga melihat foto gadis manis berpakaian jadul dengan rambut dikepang dua di dalam setiap lembaran." Tolong nanti kalau bertemu Menma kau minta tanda tangan difoto itu!" Ujarnya penuh misteri.
"Tapi ini foto siapa?" Hidate masih tidak mengerti apa maksud Naruto.
"Sudah nanti juga tahu!" Naruto kembali menunjukkan senyumnya yang mencurigakan.
Hidate, Sora, Matsuri hanya mengangguk saja meskipun tidak tahu arti kelakuan Naruto.
"Kami mau kesana, mau ikut?" Tawar Hidate pada Naruto sambil menunjuk gerombolan klub Scorpio yang ada di ujung barat.
"Ngg ,tidak!" Perhatian Naruto sudah tertuju pada gerombolan wajah-wajah familiar yang dilihat di ujung selatan. "Tenang saja, aku tidak akan hilang!" Tambah Naruto ketus melihat ekspresi khawatir terpampang di wajah mereka.
Begitu Sora, Matsuri dan Hidate pergi, Naruto segera melangkahkan kakinya menuju kerumunan teman-temannya. Hinata menjadi orang pertama yang mengetahui kehadiran sang blonde.
"Naruto-kun!" Senyum manis Hinata langsung mengembang begitu melihat kekasih hatinya datang dihadapannya.
"Sesuai janji, aku datang Hinata-chan!"Naruto langsung mengelus-elus poni Hinata begitu disampingnya.
"Ya ampun baru datang, udah bermesraan. Tidak tahu apa kakakmu itu jomblo." Celetuk suara yang amat dikenal Naruto. Menma sepupunya super jahil yang ajaibnya dia sekarang pemegang peringkat satu selama dua tahun berturut sudah terduduk manis disamping Sai, Chouji, Shino dan Kiba.
"Apa luh orang nyasar, ngapain juga disini!" Komentar pedas langsung keluar dari mulut Naruto.
__ADS_1
"Haduh, kenapa kalau Menma dan Naruto bawaannya ribut mulu." Shikamaru sudah memijit keningnya pertanda pusing. Pertengkaran dua orang ini memang sering jadi warna lain jika berkumpul seperti ini.
"Biarkan saja, toh sama-sama keras kepala!" kata Gaara cuek. Dia tidak peduli dengan pertengkaran dua pemuda itu karena dia tengah asik memainkan game sepakbola versi teranyar dalam Handphonenya.
"Berisik!" Sela Sasuke tajam. Mahasiswa jurusan desain grafis berhasil menyela keributan. Naruto berpaling menghadapkan wajahnya pada kekasih Sakura.
"Kenapa kasih infonya telat Teme! Untung aku belum pulang ke Konoha." Dia jelas kesal kawan-kawannya memberi info telat soal hal ini. Untung saja dia tadi sempat ngobrol dengan Sora dan Hidate kalau tidak mungkin sore tadi dia sudah melesat pulang Konoha.
"Maaf kami sibuk koordinasi, Naruto." Suara halus Sakura memberi jawaban untuk sahabatnya ini. Penampilan Sakura yang sekarang sudah jauh beda dengan yang dulu. Wajahnya makin cantik dengan rambut soft pinknya yang tergerai panjang. Benar-benar layaknya dewi dan Sasuke beruntung mendapatkannya.
Naruto bersedekap kesal. "Hah, bilang saja lupa."
Kiba mendecih pendek. "Sudah jangan ngambek, seperti anak kecil saja! Yang terpenting sekarang kau sudah disini." Naruto masih belum bisa terima alasan mereka terbukti dengan sorotan tajam masih mengarah pada mereka. Sebuah tepukan kecil dari Hinata berhasil mengalihkan perhatianya.
"Maaf Naruto-kun, ta-tapi kami memang akhir-akhir ini sangat sibuk. Ka-kami tidak melupakan Naruto-kun!" Cicit Hinata dengan nada gugup untuk menenangkan Naruto. Ajaib jika Hinata yang memberi penjelasan Naruto langsung menurut.
"Ya sudah tak apa!" Senyum charming Naruto mengembang seraya mengandeng mesra Hinata. Saat ini jelas sepasang kekasih ini memanfaatkan momen untuk saling melepas rindu. Sayangnya kemesraan mereka harus dirusak oleh seseorang.
"Ehm!" Potong Sasuke dengan suara batuk yang di buat-buat. "Apa kau mau datang kesini cuma untuk bermesraan?"
Naruto berpaling pada Sasuke dengan pandangan sebal. "Apa sih gak suka lihat orang senang dikit!"
"Kalau mau pacaran sana di danau, tidak sopan bermesraan di tempat umum!" Ucap Sasuke untuk mengingatkan tujuan mereka disini.
Kekasih Hinata mengerling bosan. "Ya ya ya, bay the way mana para senpai?( Kakashi, Sasori, Pein )" Tanya Naruto mengalihkan pembicaraan sekaligus mempertanyakan keberadaan beberapa ketua yang sama sekali belum terlihat batang hidungnya.
"Tuh disana lagi kumpul!" Ujar Menma santai sembari memainkan kunci mobilnya. Wajahnya spontan berseri begitu memandangi Naruto.
"Tanding yuk! Lama nih gak duel sama adik kecil kesayanganku!" Ajaknya pada Naruto. Pemuda dengan peringkat satu ini agaknya rindu untuk bertanding dengan orang sekelas Naruto. Selain itu saat ini dia juga sedang dilanda bosan karena sedari tadi menunggu. Mungkin bertanding dengan Naruto bisa cukup membunuh moodnya yang lagi jelek.
Tawaran Menma cukup menarik perhatian Naruto, sejujurnya ini kesempatan juga untuk latihan pemanasan berhubung dia sudah tidak intens lagi melakukan balapan mengingat dia hanya bisa pulang ke Konoha hanya dua hari.
"Adakah yang bisa pinjami mobil lagi?" Tanya Naruto sambil cengar-cengir watados pada teman-temannya. Sampai sekarang Naruto memang belum memodifikasi mobilnya sehingga masih suka pinjam sana-sini untuk menghadapi lawan-lawan tertentu khususnya Menma.
Sebuah kunci mobil telah dilemparkan seseorang dan berhasil ditangkap sempurna oleh Naruto. "Dasar tidak modal, aku heran kenapa kamu bisa menyaingi Menma." Rupa-rupanya pelaku pelemparan kunci tidak lain adalah Simurai Sai. Pria tampan playboy satu ini sudah terduduk santai di belakang Sasuke bersama Lee dan kawan-kawan.
"Thank!" Ujarnya berterimakasih.
Menma langsung bangkit dari duduknya. "Nah ayo kita mulai!"
"Tunggu aku ikut! Enak saja kalian berdua meninggalkanku!" Ujar Sasuke pada keduanya dengan serius.
"Aku ikut juga!" Gaara juga tidak mau ketinggalan.
"Eh?" Naruto terkejut dengan keinginan Sasuke dan Gaara yang juga tidak mau ketinggalan. "Apa ini tidak kebanyakan?" Tanya Naruto tidak yakin.
"Sudah ayo!" Menma tahu-tahu sudah menyeret Naruto ke tempat parkir mobil mereka.
Dengan bersiapnya ke empat mobil di area start tentu sangat menyedot banyak perhatian terlebih mereka mengenal betul siapa pemilik mobil-mobil ini. Di area tersebut telah ada Mitsubishi lancer evo IV berwarna dark blue milik Sasuke, Mazda RX7 berwarna merah gelap milik Gaara, subaru impreza WRX modif berwarna hitam dengan aksen api merah milik Menma, dan BMW M3 (E36) hitam milik Sai yang dipinjam Naruto.
Dalam sekejap mereka langsung menjadi pusat perhatian karena pertanda akan ada pertandingan diantara mereka. Siapa yang tidak tertarik jika pertandingan dilakukan oleh Menma pemegang peringkat satu, Sasuke peringkat tiga dan Gaara peringkat empat. Dibanding dengan perhatian yang mendadak terpusat pada mereka Naruto justru tampak gugup menunggu seseorang. Dia lebih memilih mengetuk-ketuk kap mobil Sai daripada menanggapi pandangan aneh yang banyak tertuju padanya.
"Awas saja jika Hidate atau Sora tidak kesini, bakal kupecat jadi teman!" Umpatnya kesal. Melakukan pertandingan tanpa tahu medan bisa dikatakan ceroboh. Untuk itulah dia meminta bantuan dari salah satu sahabatnya menjadi navigator.
"Akhirnya kalian datang juga!" Naruto langsung lega melihat batang hidung kedua temannya yang kini mendekat padanya. Begitu menerima pesan Naruto mereka langsung menghambur ke area start. Memang tadi mereka mendengar selentingan akan ada pertandingan yang dilakukan oleh Menma dan yang lain namun ia tidak menyangka sohib blondenya itu bisa terlibat.
"Apa yang kau lakukan Naruto? Kau tahu siapa mereka hah." Ucap Hidate marah, Hidate sudah salah paham mengenai bagaimana Naruto bisa terlibat.
Dibanding Hidate yang emosi Sora lebih bisa bereaksi bijak. "Apa yang terjadi?"
"Aku butuh bantuan dari salah satu dari kalian untuk jadi navigatorku dalam pertandingan ini. Ayolah aku sama sekali tidak tahu jalanan ini!" Rengek Naruto pada keduanya.
"Tunggu aku masih tidak paham." Jawab Sora gamang.
"Haahhh… sudah jelas aku akan bertanding dengan Menma, Sasuke, Gaara memangnya apalagi?"Ucap Naruto ringan.
"Sora kau jadi navigatorku oke! Aku janji deh akan mengenalkanmu pada Hinata!" Iming-iming Naruto pada Sora. Sahabatnya ini tampak menimang karena masih ragu.
"Memangnya kau kenal Hinata?" Tanya Hidate meragukan.
"Memangnya dihadapanmu ini siapa kalau bukan kekasihnya Hinata." Ujar Naruto bangga mengakui Hinata sebagai gadisnya.
"Sudah cepat masuk, atau kupecat kalian jadi temanku!" Ancam Naruto pada Sora yang berlaku juga pada Hidate. Sora dengan terpaksa masuk kedalam mobil Sai.
Hidate yang tidak ikut selepas itu memilih mundur untuk berdiri di samping Matsuri dan yang lain.
"Tenang saja, Naruto dan temanmu akan baik-baik saja." Kata Seseorang disampingnya tiba-tiba. Reflek Matsuri, Hidate yang lain menoleh pada wajah-wajah yang sangat mereka tahu.
"Anda, Hatake Kakashi ketua Night." Ucap Matsuri sambil tertegun melihat pria tampan dan beberapa ketua lain sudah berada di depan mereka.
"Hah dasar anak muda, ditinggal sebentar saja sudah curi start." Pein ketua aktsuki turut mengkomentari kelakuan beberapa pemuda disana.
"Pantas saja, ternyata ada Naruto disini." Sasori ketua The Sand angkat bicara.
"Cih, curang aku kan juga ingin ikut." Suigetsu tidak terima tidak dilibatkan dalam pertandingan ini.
"Sudahlah, berilah kesempatan yang muda juga." Jawab Kakashi dengan santai sembari memperhatikan baik-baik sesi start yang akan dimulai sebentar lagi.
"Maaf, tapi kenapa anda bisa kenal Naruto?" Tanya Matsuri malu-malu. Mengetahui fakta mereka mengenal Naruto tentu sangat membuat banyak pihak penasaran.
Kakashi tersenyum manis mendengar pertanyaan gadis disampingnya ini. "Sepertinya Naruto tidak pernah cerita kalau dia mengenal kami. Naruto bahkan sering bertanding dengan kami loh." Ujar Kakashi riang.
"Hah, sepertinya kalian juga belum tahu Naruto itu sama menyulitkannya dengan Menma. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya di event nanti." Kata Pein menambahkan dan membeberkan kemampuan Naruto.
Kakashi masih memasang wajah stoiknya melihat wajah-wajah terkejut teman-teman Naruto. "Sudahlah, mari kita tonton saja aksi mereka."
.
.
.
Suasana tegang begitu menyelimuti arena. Kakashi bahkan tampak begitu khusuk meski pertandingan belum di mulai.
Ngungg! Whusss!
Mobil BMW milik Sai yang di kendarai Naruto tanpa ada hitungan start langsung meluncur meninggalkan daerah start. Beberapa detik berikutnya mobil Gaara meluncur yang diikuti Sasuke dan Menma.
Beberapa orang terlihat kebingungan ketika ke-empat mobil itu meluncur tanpa start. Tidak ada sorak sorai yang hanya ada pertanyaan besar dalam otak mereka. Kakashi tak bergeming, dia kemudian menoleh pada Pein yang sudah mendial-up sebuah nomer. Namun belum juga Pain berhasil menghubungi Menma, handphone Kakashi sudah bergetar karena ada SMS. Kakashi membaca sejenak sms itu.
"Dasar Naruto, dia memang tidak mau ambil resiko jika tidak tahu karakter jalanan. Percuma dia meminta temannya jadi Navigator." Keluh Kakashi pendek setelah tahu isi sms Naruto.
Dalam keheningan Naruto meluncur menyusuri jalanan Ground Suna yang sama sekali tidak diketahui. Wajahnya masih tenang ketika ia melibas habis semua tikungan dengan kecepatan sedang karena ingin bisa mengenal jalanan ini lebih detail.
"Bagaimana kau melawan mereka dengan kecepatan seperti ini?" Tanya Sora ragu.
"Ini baru permulaan. Setelah kufikir-fikir terlalu ceroboh bila tidak tahu jalanan. Aku tidak mau mengambil resiko bahaya lebih besar lagi." Ucap Naruto tanpa mengalihkan focus karena di belakangnya sudah ada Gaara yang sudah hampir menyalipnya.
Dia tidak mudah terpancing saat Gaara, Sasuke dan Menma telah melewatinya seenak jidat. Sora tidak terkejut ketika ketiganya dengan mudah melewati Naruto karena secara kelas mereka masuk dalam jajaran pembalap elit.
"Sora apa di depan ada tikungan yang cukup lebar dengan jalanan lurus di depannya?" tanya Naruto yang masih focus pada jalanan. Dia berkonsentrasi agar tidak kehilangan jarak terlalu lebar.
Sora berpikir sejenak. "Ada, lima tikungan setelah ini."
Naruto langsung terlihat bersemangat. "Baiklah kalau begitu. Ayo perlihatkan apa yang bisa kita lakukan."
Bersambung
__ADS_1