Pembalasan Gadis Yang Tertindas

Pembalasan Gadis Yang Tertindas
Dijodohin


__ADS_3

Di sebuah Mansion yang lumayan besar, tepatnya di meja makan. Beberapa orang nampak tengah makan dengan santai seperti biasanya.


"Mom!" bisik seorang wanita yang ternyata adalah Amira memberi kode ke Momnya.


Mama Amira yang menerima kode itu pun mengangguk pelan ke anaknya. Renata pun meletakkan alat makannya di piringnya, lalu berdehem memecah keheningan. Deheman Renata sukses membuat dua pria yang tadinya sibuk dengan makanannya melihat ke arah Renata.


"Pa, Papa tau kan kalau Shakila itu masih sekolah di sekolah yang sama dengan Amira. Papa pikirin deh darimana coba dia dapat uang untuk biaya sekolahnya di tempat itu? Padahal kan selama ini Papa yang bayarin dia sekolah di situ agar bisa membantu Amira, tapi sekarang Papa sudah berhenti membiayai sekolahnya, lalu darimana dia dapat uang sebanyak itu untuk bisa membayar sekolah di sekolah elite itu Pa? Bukannya Mom mau tuduh, tapi Mom khawatir kalau saja Shakila malah berbuat hal nekat dan kotor Pa seperti jadi j*lang?" ujar Renata dengan wajahnya yang pura-pura khawatir.


Brakk, Herdi meletakkan dengan kasar peralatan makannya.


Herdi pun menatap tajam istrinya. "Kenapa Mom membahas dia lagi? Dia sudah pergi dari sini, itu artinya dia tidak ada urusan dengan kita lagi!!" tegas Herdi.


"Bu..bukan itu maksud Mom. Walaupun dia sudah keluar dari sini, bukankah sebagian rekan kerja Papa ada yang mengenal dia sebagai putri Papa juga? Bagaimana kalau ada rekan kerja Papa yang lihat dia bersama dengan pria yang sudah tua bermesraan bukankah itu akan mencoreng nama baik Papa dan Perusahaan?" ujar Renata tak merasa bersalah memfitnah Shakila.


Herdi tiba-tiba ingat akan hal itu. "Apa yang Mom katakan ada benarnya. Ckck anak itu sudah keluar juga masih menjadi masalah saja untuk keluarga ini, benar-benar anak tidak tau diri!!" hardik Herdi sembari mengepalkan tangannya kesal mengingat putrinya yang satu itu yang menurutnya hanya membawa masalah saja untuk dirinya.


"Bagaimana kalau kita buat dia dikeluarkan dari sekolah Pa? Lalu menyalahkan semuanya ke j*lang itu kalau dia yang salah sehingga hanya namanya saja tercoreng, nama keluarga kita akan tetap aman!" cetus Amira.


"Bagaimana caranya nak?" tanya Herdi tidak paham.


Amira pun tersenyum smirk lalu menceritakan semuanya dengan penuh semangat. Ia tidak sabar melihat Shakila dikeluarkan dari sekolah, terutama agar Shakila tidak mendekati lagi orang yang disukai Amira.


Beberapa saat kemudian.


"Apa itu akan berhasil Amira?" tanya Rian agak ragu dengan rencana yang dikatakan adiknya itu.


"Tentu, kalian tenang saja serahkan semuanya ke Amira! Amira jamin beres!" ujar Amira dengan percaya dirinya.


"Baiklah nak, kami serahkan semuanya ke kamu. Kamu memang anak yang cerdas," puji Herdi.


Amira tersenyum bangga dengan pujian dari Papanya itu.

__ADS_1


******


Di sekolah tepatnya SMA Mahkota Emas, sejak pagi sudah berisik dengan suara-suara para siswa-siswi di sekolah itu yang sudah berdatangan memenuhi sekolahan. Begitupun di dalam kelas, tetapi berbeda dengan satu kelas dimana semuanya hanya diam.


"Davin, Al baik-baik saja kan?" tanya Amira dengan berbisik sembari melihat Al yang berada di bangku bagian belakang sebelah kanannya sedang tertidur.


"Tentu, kapan sih Al sakit," ujar Davin sembari mengedipkan salah satu matanya.


Amira hanya tersenyum terpaksa melihat tingkah Davin.


Brak, suara seseorang yang memukul meja.


Pukulan itu membangunkan Al dari tidurnya, ia menatap tajam orang yang berani memukul mejanya hingga mengganggu tidur nyenyak nya.


Semuanya terkejut melihat hal itu.


Sementara yang memukul meja Al bukannya takut, tapi wajahnya tetap datar.


"Ikut gue!!" ujar Shakila yang merasa tidak bersalah sama sekali lalu menarik tangan Al untuk ikut bersamanya.


Al langsung menarik kembali tangannya dengan keras mengakibatkan Shakila yang tidak siap pun terhuyung dan terduduk di paha Al.


Keduanya saling menatap dengan mata melotot kaget mereka. Setelah sadar, Shakila langsung buru-buru berdiri. Sedangkan Al langsung memperbaiki pakaiannya lalu berdehem.


"Ck gara-gara lo sih! Lo tinggal ikut sama gue apa susahnya sih!!" ketus Shakila menatap sinis Al sekaligus menyembunyikan kecanggungan nya karena kejadian tadi.


Al menatap tidak percaya Shakila yang malah menyalahkan dirinya. "Lo duluan, kenapa tarik gue nggak bilang-bilang!!" ketus balik Al dengan wajah kesalnya. "Dan berani-beraninya lo bangunin gue terutama dengan cara itu!!" Al mengepalkan tangannya kesal, kalau saja di depannya ini laki-laki mungkin sudah dia hajar dari tadi.


"Gue malas ribut okey, sekarang ikut gue dulu gue mau minta penjelasan sama lo!!" ketus Shakila lagi. "Ikut gue dengan sendirinya atau gue tarik lagi!!" lanjutnya.


"Ck." Al berdecak kesal mendengar ucapan Shakila. Mau tidak mau ia mengikuti Shakila, karena ia juga sangat tidak mood untuk bertengkar, apalagi semalam ia sudah bertengkar lagi dengan Papanya.

__ADS_1


Shakila membawa Al ke rooftop yang sepi.


"Ada apa lo bawa gue kesini?!" tanya Al dengan ketus.


"Nih, lihat sendiri!" Shakila memberikan handphonenya ke Al.


Al mengernyitkan dahinya tidak paham saat melihat ponsel Shakila.


"Lo mau gue lihat foto lo yang sok cantik ini?" ketus Al lagi yang tidak paham karena hanya melihat latar ponsel handphone Shakila.


Shakila yang mendengar itu langsung merebut hpnya, lalu menepuk jidatnya karena ia lupa masuk ke salah satu aplikasi yang ingin di tunjukkan ke Al.


"Nih." Shakila memberikan kembali hpnya setelah masuk ke aplikasi yang di dalamnya ada yang ingin ditunjukkannya ke Al.


"Maksud?" tanya Al yang masih tidak paham.


"Ck lihat yang telfon gue nomor siapa?!" ketus Shakila.


Al membelalakkan matanya saat melihat nomor yang familier baginya. "I..ini kan nomor-"


"Hmm, itu nomor Papa lo!" ketus Shakila lagi memotong ucapan Al yang kaget mengetahui hal itu.


"Untuk apa Papa gue telfon lo? Jangan bilang lo jalin hub-"


"What!! Lo pikir gue cewe apaan mau sama Om-om heh!! Gue punya banyak uang, gue nggak butuh uang orang lain apalagi dengan cara haram itu!!" hardik Shakila dengan wajah marahnya karena dituduh hal-hal negatif oleh Al.


"Sorry, terus maksudnya apa Papa gue telfon lo?" tanya Al kembali dengan wajah datarnya. Al sebenarnya tidak terlalu peduli mau Papanya melakukan apapun asalkan itu tidak mengganggu hidupnya.


"Papa lo itu mau jodohin gue sama lo, karena Papa lo lihat foto dari mata-matanya itu yang mana di foto itu kita kedapatan sedang pegangan tangan!! Puas lo, ini semua karena lo ckck!! Entah dari mana juga Papa lo itu dapat nomor gue!!" gerutu Shakila dengan wajah kesalnya.


Al membelalakkan matanya kaget mendengar hal itu.

__ADS_1


__ADS_2