
Shakila terkekeh melihat Merdi yang jatuh dengan kasar ke tanah.
'Makanya jangan main-main sama bodyguard gue!' batin Shakila sombong menganggap seolah Al saat ini adalah bodyguardnya padahal Al pacar pura-puranya. Dasar emang Shakila.
Pukk, suara tepukan.
"Kerja bagus Al!" ujar Shakila menepuk bahu Al dengan wajah bangganya seolah ia yang telah memenangkan pertarungan ini, tapi ya memang benar sih Shakila yang menang walaupun Al yang melakukannya.
Al hanya bisa menatap sinis Shakila. Setelahnya Al pun langsung menarik Shakila untuk mengikutinya, ia tidak peduli lagi dengan pria bernama Merdi-Merdi itu, saat ini Al hanya ingin berbicara dengan Shakila.
"Lo kakaknya Amira? Bukannya lo itu anaknya yang punya Mansion yang gue antarin lo biasanya kan? Perasaan Mansion itu bukan milik keluarga Narendra!" tanya Al penasaran setelah mereka duduk di sofa yang ada di roftoop tempat nongkrong Al beserta teman-temannya.
"Kepo!" ketus Shakila.
"Shakila!"
"Huh, iya-iya gue emang kakak tirinya si Amira itu, tapi bagi gue dia bukan adik gue ya! Dan yang seperti lo tau Mansion itu tempat tinggal gue sekarang yang punya Mansion itu orang tua angkat gue!" jawab Shakila setengah berbohong dengan nada judesnya.
'Maaf Mom, Dad hais terpaksa Shakila bohong,' batin Shakila merasa bersalah karena mengatakan orang tua kandungnya sebagai orang tua angkat.
Al mengangguk paham mendengar jawaban penjelasan dari Shakila.
"Nggak usah bahas masalah tidak penting itu lagi. Sekarang gue mau bicarain tentang kesepakatan kita!" tegas Shakila dengan wajah seriusnya kali ini.
"Memang lo udah ada rencana?" tanya Al menatap tak kalah serius Shakila. Saat ini mereka tengah berhadapan dengan saling memandang serius satu sama lain.
__ADS_1
"Hmm!" Shakila mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Al.
"Gimana kalau kita bongkar kebusukan mereka dulu dengan bokap lo?" usul Shakila dengan mata berbinarnya.
"Kebusukan mereka sama bokap gue? Tunggu, emang apa yang mereka lakukan?" tanya Al bingung tetapi wajahnya tidak dapat berbohong kalau saat ini Al tengah diliputi amarah tertahan mendengar hal itu.
"Ck, Masa lo yang jelas-jelas tau muka asli mereka gimana nggak paham sih!" sindir sekaligus ejek Shakila.
Al yang merasa diremehkan itu pun tambah mengeratkan kepalan tangannya.
"Gue serius Shakila! Apa yang mereka lakukan sama bokap gue? Mereka mau celakai bokap gue?" tanya Al dengan penuh intimidasi serta tatapannya menghunus tajam ke arah Shakila menuntut jawaban.
Shakila menggelengkan kepalanya.
"Bukan, tapi mereka diam-diam memasukkan orangnya ke perusahaan bokap lo dan ya orang itu korupsi diam-diam tanpa ketahuan bokap lo. Selain itu..." Shakila menghela nafasnya sejenak lalu menatap lebih serius Al dengan tatapan keyakinannya. "Selain itu ternyata Om lo serta Istrinya itu terlibat dengan kejadian perselingkuhan yang dilakukan nyokap lo!"
"Kamu nggak usah bercanda gini deh Shakila, nggak lucu tau!" kesal Al.
"Ck, jam istirahat kita ketemuan lagi disini nanti gue tunjukin buktinya!" tegas Shakila.
Shakila pun beranjak dari duduknya karena bel tanda masuk kelas sudah berbunyi yang menandakan pelajaran sebentar lagi akan dimulai.
"Mau kemana Shakila? Kita baru sampai loh, lo malah udah mau pergi aja," cetus Davin dengan kedipan matanya.
"Bel!" jawab Shakila singkat lalu pergi begitu saja dari tempat itu.
__ADS_1
"Ha?" Kerutan di dahi Davin terlihat jelas karena bingung dengan maksud Shakila.
Pletak.
"Aduh, ck sakit tau Kenta!!" kesal Davin dengan memegangi dahinya yang terasa sedikit sakit karena disentil.
"Cih, gitu aja sakit!" ejek Kenta. "Maksud Shakila itu bel udah bunyi itu tandanya kita harus masuk kelas! Gitu aja nggak paham!" lanjutnya.
"Dih mana gue tau, kenapa juga tadi Shakila hanya bilang bel ya gue nggak tau lah!" bela Davin.
"Kelas!" Setelah mengatakan satu kata itu, Al langsung pergi meninggalkan dua temannya itu tanpa menoleh lagi.
Tidak terasa jam pelajaran pertama pun berakhir, bunyi bel pun terdengar yang menandakan sudah waktunya istirahat.
Shakila menatap sekilas Al mencoba mengkode Al untuk ke rooftop sesuai janji mereka tadi pagi.
Tidak berapa lama Shakila berada di rooftop, Al pun menyusul duduk di sofa depan Shakila.
"Buktinya!" Al menatap tajam Shakila menagih janji Shakila.
Shakila pun tanpa basa-basi langsung membuka hpnya dan menyerahkan bukti-bukti yang telah disuruhnya untuk diselidiki oleh keempat kawannya yang memang selalu dapat di andalkannya jika menyangkut masalah penyelidikan.
Al menatap intens serta membaca bukti-bukti yang diberikan oleh Shakila itu dengan serius. Tak ada satupun terlewatkan oleh Al. Ia memang sudah lama curiga, tapi sangat susah untuk mengulik ataupun mendapatkan bukti-bukti kecurangan pamannya karena saat itu Al hanya satu kali melihat laporan keuangan perusahaan Papanya dan Al menemukan kejanggalan tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat itu.
"Dari mana lo dapat buktinya sampai serinci ini?" tanya Al dengan tatapan tajam dan penuh selidiknya.
__ADS_1
Shakila tersenyum smirk mendengar pertanyaan yang di lontarkan Al itu.