
Shakila menatap malas Aurel yang langsung menghujatnya. Shakila awalnya kaget melihat berita negatif tentangnya itu, tetapi setelahnya ia paham siapa yang menyebarkan berita hoax tentangnya, terutama saat melihat wanita yang tepat berada di belakang Aurel tersenyum kecil menatap dirinya.
"Shakila Queena Zashaa harap ke ruang kepala sekolah." Panggilan untuk Shakila itu terdengar jelas seisi sekolah.
Shakila menatap kesal Amira yang nampak tersenyum menatapnya, terutama saat mendengar ia harus direpotkan lagi oleh hal-hal tidak penting menurutnya seperti saat ini.
'Huh, ck awalnya gue mau main-main dulu, ternyata lo nggak sabaran banget yah mau rasain balasan dari gue!' batin Shakila dengan tatapan tajamnya.
Shakila pun langsung pergi sesuai dengan pengumuman itu, ia pergi ke ruang kepala sekolah untuk membahas masalah berita yang menyebar tentangnya itu.
Ruang kepala sekolah
"Shakila selama ini kami tau kalau kamu anak yang pintar dan baik, kami tidak menyangka dengan berita bahwa kamu melakukan aktivitas negatif seperti j*lang begitu," ujar kepala sekolah yang sedang didampingi guru bk dengan wajah kecewanya.
"Kami sangat tidak menyangka akan hal ini. Mungkin kamu ada masalah di perekonomian hingga melakukan hal tidak baik seperti itu, tetapi bukan seperti itu caranya Shakila. Jangan hanya karena uang kamu merelakan harga diri kamu seperti itu, padahal ibu yakin kamu bisa sukses karena kamu anak yang pintar dan rajin," ujar guru bk itu dengan wajah kecewa dan sedihnya juga.
Shakila menghela nafasnya mendengar serta melihat raut wajah kecewa dua orang wanita paruh baya di depannya itu yang notabene adalah gurunya.
"Sekarang sebaiknya ibu lihat deh berita terbaru di forum sekolah," ujar Shakila dengan wajah santainya.
"Maksud kamu nak? Berita mengenai kamu kan yang terbaru nak," tanya guru bk itu tidak paham.
"Shakila kami tau kamu sepertinya ada masalah, kamu bisa cerita ke kami guru-guru kamu siapa tau kamu bisa bantu jangan malah melakukan hal negatif dan tidak baik seperti itu," ujar kepala sekolah itu lagi dengan lembut sembari menggenggam kedua tangan Shakila.
Shakila sedikit terenyuh mendengar hal itu, ia pun tersenyum tipis. Shakila kira guru-guru disini semuanya tidak ada yang care karena Shakila yang asli tidak pernah ingin melaporkan ketika ia di bully ternyata ada juga yang care dan lembut seperti ini ke muridnya.
"Iya, bu Shakila paham. Tapi, sebaiknya ibu lihat dulu deh berita terbaru di forum sekolah sekarang," jawab Shakila dengan senyum tipisnya.
Kepala sekolah dan guru bk itu saling menatap satu sama lain lalu melihat handphone mereka masing-masing.
Keduanya terbelalak kaget bahkan mulut mereka menganga lebar saat melihat berita terbaru di forum sekolah itu.
__ADS_1
"I...ini," Kepala sekolah menatap Shakila dengan wajah kagetnya.
Shakila hanya tersenyum tipis lagi melihat reaksi guru-guru di depannya itu.
"Ter..ternyata bukan kamu nak, ta..tapi Amira?" Guru bk itu juga menatap kaget berita itu, ia pun juga merasa bersalah ke Shakila karena telah ikut menuduh Shakila.
"Seperti yang ibu lihat."
"Ma..maaf yah nak, kami malah langsung percaya dengan berita itu bukannya bertanya terlebih dahulu sama kamu apa berita itu benar atau tidak," ujar kepala sekolah itu menyesal sembari memegang tangan Shakila.
Shakila mengangguk, "Tidak apa-apa bu. Tetapi, hal ini bisa jadi pelajaran buat kita semua dan Shakila yakin sekolah ini bisa lebih maju dengan ibu yang menjadi kepala sekolahnya. Shakila ingin mengkritik sedikit agar kedepannya lebih baik lagi boleh Bu?" tanya Shakila dengan senyumnya.
"Tentu nak," jawab keduanya serentak dengan senyum mereka.
"Shakila berharap para guru terutama ibu sendiri kedepannya mungkin bisa lebih memperhatikan para murid agar tidak ada kasus bully dan hal negatif lainnya. Shakila mau jujur dengan kalian, kalau di sekolah ini pembullyan sering terjadi, tetapi mungkin tidak terdengar hingga ke telinga para guru, tetapi kasus itu sering terjadi terutama untuk Shakila sendiri yang mengalaminya. Shakila harap hal seperti itu tidak terjadi lagi terutama di sekolah ini," ujar Shakila panjang lebar.
Keduanya kaget mendengar hal itu, karena seperti yang Shakila katakan mereka tidak tau sama sekali kalau ada bullyng di sekolah ini.
"Terimakasih atas infonya nak, kami terutama saya sendiri sebagai kepala sekolah akan mengupayakan agar hal seperti itu tidak terjadi lagi terutama di sekolah ini," janji kepala sekolah itu dengan tegasnya. Sepertinya ia harus lebih tegas lagi mengenai peraturan serta hukuman bagi murid yang melanggar aturan kedepannya.
"Tapi, nak darimana kamu tau mengenai berita terbaru itu? Bukannya sedari tadi saat kamu masuk kamu tidak buka handphone?" tanya guru bk itu dengan herannya.
"Shakila lihatnya sebelum masuk ruangan bu," jawab Shakila berbohong mengenai hal itu karena ia tidak mungkin memberitahu kalau dia di balik berita terbaru itu.
Keduanya mengangguk paham.
"Maaf sekali lagi yah nak, kami pasti akan memberikan hukuman setimpal dengan apa yang di perbuat Amira."
Shakila hanya membalas dengan anggukan.
"Baiklah, kamu boleh kembali ke kelas kamu nak. Kami juga akan berbicara dengan Amira mengenai hal ini," lanjut kepala sekolah.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu saya permisi bu, assalamualaikum," Shakila pun salim lalu keluar dari ruangan itu.
"Waalaikumsalam."
Saat baru saja keluar dari ruangan itu dan menghela nafas lega, Shakila kaget melihat sosok pria yang selalu membuatnya kesal.
"Tiang listrik kena salju? Ngapain lo ada di depan ruang kepala sekolah?" tanya Shakila dengan wajah herannya.
"Gu..gue?" tanya pria itu siapa lagi kalau bukan Al sembari menunjuk dirinya dengan wajah cengonya. "Ngapain yah? Ah, gu..gue hanya lewat kok," lanjutnya dengan gugup.
Shakila menatap curiga Al. "Lo nggak mungkin kesini karena khawatir sama gue kan?" tanya Shakila dengan wajah tidak percaya serta kagetnya.
"Mana mungkin! Ya enggak lah. Gue tuh hanya lewat kali, jangan kegeeran deh lo," ketus Al dengan melihat ke arah lain dengan jantungnya yang berdegup kencang sedari tadi. "Btw bagaimana di dalam? Lo nggak dikeluarkan kan dari sekolah?" lanjutnya.
Shakila bukannya menjawab malah terkekeh mendengar itu.
"Katanya jangan kegeeran tapi ujung-ujungnya lo kepo juga!" ledek Shakila.
"Siapa yang kepo! Kalau lo mau jawab yah tinggal jawab, kalau nggak mau juga nggak papa kali. Gue tuh hanya kasihan kalau lo keluar dari sini nggak ada sekolah yang mau terima cewek aneh kaya lo!" ketus Al membantah perkataan Shakila yang meledeknya.
"Kasihan apa kasihan?" ledek Shakila lagi.
"Ck, terserah lo deh!" ketusnya lalu melangkah pergi meninggalkan Shakila.
Shakila tertawa kecil melihat itu. "Beneran cuma kasihan nih? Nggak ada yang lain?" ledek Shakila lagi dengan mengikuti Al dari belakang.
*
*
*
__ADS_1
Mohon maaf yah author baru up kembali soalnya banyak tugas dari kampus🙏
Makasih banyak untuk para pembaca yang selalu mendukung karya author luv luv all😻🤗