
"Lo beneran tidak akur ya sama keluarga lo itu?" tanya Shakila dengan nada enteng serta penuh selidiknya.
Al hanya diam mendengar pertanyaan Shakila dan hanya fokus menyetir melihat kedepan agar tidak menabrak kendaraan lainnya di tengah padat-padatnya kendaraan.
Saat ini keduanya sudah di mobil perjalanan menuju Mansion Shakila setelah saling sindir ah lebih tepatnya setelah sindiran pedas yang terus di lontarkan oleh sepupu tidak punya akhlak Al itu. Setelah sindiran itu Al lebih memilih pergi menarik Shakila daripada harus bertengkar hanya karena masalah tidak penting untuk di pertengkarkan menurutnya.
"Pantas sih sikap lo kek gitu, emang mulutnya lemes banget. Coba ada klip huh ku klip juga tuh mulutnya yang melebihi ibu-ibu tukang gosip!" gerutu Shakila dengan wajah kesalnya.
Tiba-tiba mata Shakila berbinar seperti mendapatkan ide. Shakila menoleh menatap Al dengan senyum smirknya.
"Eh Al, bagaimana kalau kita kerjasama buat berikan pelajaran ke mulut lemes beserta para pendukungnya itu?" tanya Shakila dengan senyum smirknya.
Al menoleh sekilas dengan raut wajah bingungnya.
"Perasaan gue yang di sindir kenapa malah lo yang kepanasan sampai mau balas si b*ngsat itu?" Sindir Al sekaligus heran dengan Shakila yang ada saja tingkahnya.
"Gue cuman kesal aja sama dia, apalagi tadi bawa-bawa nama gue padahal gue diam aja!" Bohong Shakila, tetapi dengan wajah seriusnya.
Al mengangguk mempercayai kebohongan belaka yang di ucapkan Shakila.
"Tidak perlu lah, males gue terlibat lagi sama murut comberan kek mereka," ujar Al dengan mengedikkan bahunya.
"Ck nggak asik lo! Ayolah daripada lo hanya diam aja kek patung di apartemen lo, mending bikin sesuatu," bujuknya.
"Maksa banget lo!" Al mendelik tajam Shakila yang tidak berhenti bicara sedari tadi.
"Turun!" tegas Al menyuruh Shakila turun karena mereka telah sampai di Mansion milik orang tua Shakila.
"No, sebelum lo setuju dengan kemauan gue!" ujar Shakila dengan keras kepalanya malah enteng menyandarkan dirinya di kursi mobil milik Al.
__ADS_1
Al mengepalkan tangannya lalu menghela napas menahan emosinya yang rasanya selalu naik jika berdekatan dengan cewek disampingnya itu.
"Terus kalau gue setuju, apa yang mau lo lakukan?" tanya Al setelah berhasil mengendalikan emosinya berhadapan dengan perempuan keras kepala di depannya saat ini.
Shakila mengedikkan bahunya, "Entahlah, nanti gue pikirkan rencana selanjutnya asalkan lo bersedia dulu!" jawab Shakila lagi dengan entengnya.
Al menghembuskan napasnya panjang, lalu mengangguk menyetujui daripada harus berdebat lama lagi dengan perempuan di depannya itu.
Shakila pun tersenyum senang melihat anggukan tanda setuju dari Al.
"Nah gitu dong, dari tadi kek. Lama sih lo mikirnya!" ujar Shakila dengan senyum leganya karena berhasil mengajak Al untuk memuluskan rencananya yang entah apa itu.
Al mendelik tajam mendengar ucapan Shakila yang menurutnya seperti menyindir dirinya.
"Okelah bye Mister jutek. Selamat istirahat and mimpi indah. Tunggu kabar dari Miss imut ini mengenai rencana selanjutnya!" ujar Shakila dengan mengedipkan matanya lalu berlalu begitu saja masuk ke Mansionnya dengan senyum cerahnya karena satu rencananya lagi ia yakin akan cepat kelar dengan bantuan dari Al.
Al pun mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu menuju apartemennya untuk istirahat setelah menghadapi banyak makhluk-makhluk menyebalkan menurutnya.
Sementara itu Shakila yang baru saja memasuki Mansion langsung mendapatkan tatapan tajam dari dua laki-laki yang berbeda usia dan tatapan khawatir dari seorang wanita yang sangat berbeda jauh dari umurnya.
Wanita paruh baya itupun langsung mendekati Shakila.
"Sayang kamu kemana saja sih? Kami khawatir banget loh, apalagi kamu tidak mengabari Mom, Dad ataupun Kakak kamu kalau kamu telat pulangnya," tanya wanita paruh baya itu dengan nada khawatirnya.
"Kemana saja hmm?" tanya pria paruh baya tetap di tempat duduknya hanya tatapannya yang mengarah tajam ke arah Shakila.
Shakila menelan salivanya kasar melihat tatapan tajam dari Dad dan Kakaknya, apalagi mendengar suara dingin Dadnya itu membuat bulu kuduknya merinding.
"Hahaha itu...anu tadi Shakila ada kerja kelompok, ya Shakila tadi ada kerja kelompok jadi langsung ikut ke rumah temannya Shakila eh ternyata Shakila lupa nagabarin. Shakila kira tadi su..sudah ngabarin," ujar Shakila berbohong dengan tawa meringis dan canggungnya.
__ADS_1
"Maafin Shakila ya tadi, Shakila janji deh lain kali kalau mau pergi kemanapun pasti izin atau setidaknya mengabari salah satu di antara Mom, Dad dan Kak Arka," lanjut Shakila lagi sebelum mendengar ocehan dari Mom dan ucapan tajam Dad dan Kakaknya yang tadi sudah siap untuk membuka mulut.
"Hah, baiklah sayang. Ingat loh lain kali harus kabarin!" tegas Mom Shakila.
"No, lain kali Mom. Mulai besok Shakila akan dikawal lagi sperti sebelumnya, Dad udah dapat pengawal yang lebih kuat dari sbelumnya!" ujar Dad Shakila tidak kalah tegasnya.
Shakila membelalakkan matanya lalu mencebikkan bibirnya mendengar pernyataan Dadnya itu yang lagi-lagi mengganggu kebebasannya. Tapi, yasudahlah toh Dadnya melakukan ini juga demi kebaikannya.
"Hmm. Kalau begitu Shakila sudah bisa naik ke atas untuk istirahatkan?" tanya Shakila karena merasa tubuhnya sudah capek dan bau keringat. Ia mau mandi lalu istirahat dengan nyaman.
Ketiganya yang berada di ruangan itupun hanya mengangguk membiarkan Shakila untuk naik beristirahat.
********
Pagi hari yang cerah menurut Shakila karena dapat berkumpul sarapan bersama keluarga tercintanya apalagi beberapa hari ini urusannya berjalan dengan lancar.
Setelah sarapan, Shakila pun memutuskan untuk berangkat ke sekolahnya dengan ditemani supir yang akan mengantarnya beserta dua orang bodyguard di mobil lain.
Baru saja Shakila menginjakkan kaki di gerbang sekolahnya setlah berjalan beberapa meter agar tidak ketahuan menaiki mobil mewah, ia malah di hadapkan lagi dengan situasi yang membuat moodnya yang tadinya sangat baik sekarang malah anjlok.
"AKHIRNYA SAMPAI JUGA LO J*LANG!!" teriak seorang pria yang berbeda beberapa tahun di atas Shakila dengan wajah merah padamnya.
Shakila hanya menatap jengkel pria berbadan besar di depannya itu.
"Lo kan yang membuat adik gue di permalukan kemarin? Berani-beraninya loh ya, dasar j*lang tidak tau diri!!" hardik pria berbadan besar itu lagi dengan menunjuk marah wajah Shakila.
Semua yang ada di tempat itu hanya menatap seolah apa yang tengah mereka lihat saat ini adlah tontonan yang menyenangkan.
'Ck gue lupa lagi sama yang makhluk satu ini!' batin Shakila jengkel karena bisa-bisanya ia melupakan kakak tiri dari pemilik tubuh asli itu yang sangat menyebalkan dan selalu menindasnya sebelas dua belas dengan adiknya siapa lagi kalau bukan Amira.
__ADS_1