
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Al sibuk menatap ke arah depan fokus menyetir mobil, sementara Shakila fokus menatap jalanan lewat jendela di sampingnya.
Hanya keheningan, sebelum akhirnya Shakila kembali membuka suaranya.
"Al lo mau punya anak berapa?" tanya Shakila blak-blaakan lagi, karena merasa hening sedari tadi.
Mata Al membola mendengar pertanyaan yang nyeleneh dari Shakila itu lalu menatap sekilas Shakila dengan tajam.
"Jangan buat emosi gue tambah naik Shakila!" tegas Al dengan wajah datarnya serta tatapan tajamnya mengarah ke depan.
Shakila hanya mengulum senyumnya mendengar ucapan Al yang terdengar menahan emosinya. Entahlah Shakila merasa senang menjahili Al seperti saat ini.
"Kok emosi sih? Kan gue tanya baik-baik. Nanti kan kita nikah nih, ya pasti kita bakalan punya anak kan? Tidak ada salahnya dong gue tanya sekarang?" tanya Shakila lagi menatap Al intens dengan menahan tawanya.
Wajah Al merah padam bukan karena malu, tapi karena marah mendengar pertanyaan Shakila yang bertambah nyeleneh menurutnya.
"Shakila!!"
"Iya, Pak Al hadir." Tawa Shakila yang ditahannya akhirnya pecah setelah mengatakan itu.
Setelah beberapa menit tertawa, Shakila pun menetralkan dirinya agar tidak tertawa lagi apalagi melihat beberapa kali Al menatap dirinya tajam.
"Ekhem, baiklah kali ini gue serius. Om lo itu punya perusahaan yang kalau tidak salah namanya Erkio Company?" tanya Shakila yang kali ini dengan nada serta raut wajah seriusnya menatap Al.
Al mengernyit mendengarkan pertanyaan Shakila kali ini.
"Memangnya kenapa lo mau tahu?" tanya Al dengan penuh selidik.
"Yaelah tinggal jawab ya atau tidak saja repot amat!" ketus Shakila.
Al mendelik tajam.
Shakila yang ditatap tajam pun menghela nafasnya. "Gue pernah dengar bokap gue bicarain Om lo dan perusahaannya. Jadi, gue mau mastiin aja nama perusahaannya benar atau tidak," jawab Shakila berbohong.
"Bokap lo? Kenapa lo bisa tahu kalau itu Om gue? Padahal bokap lo hanya ceritain namanya kan, nggak mungkin bokap lo......" Mata Al kembali membola lalu menatap tajam Shakila.
"Jangan bilang bokap lo cari tau tentang gue?" tebaknya dengan pandangan terkejut.
"Itu lo tahu," jawab Shakila dengan entengnya. Padahal yang dikatakannya hanya kebohongan belaka.
"Why?" tanya Al dengan heran.
"Ck, jadi beneran kan itu nama perusahaan Om lo?" tanya Shakila lagi dengan berdecak kesal. Ia pun mengabaikan pertanyaan dari Al yang menurutnya pembahasan mereka bertambah lebar saja.
__ADS_1
Al hanya mengangguk kecil.
Baru saja Shakila ingin bertanya lagi. Ternyata mereka sudah sampai di Mansion utama milik orang tua Al.
"Kita sudah sampai. Turun!" perintahnya sebelum turun duluan dari mobil.
Shakila pun turun dari mobil lalu tanpa permisi menggandeng tangan Al.
Al mendelik ke arah tangannya yang di genggam oleh perempuan menyebalkan menurutnya.
"Lepasin!" tegas Al dengan nada dinginnya.
"Hust! Kita harus terlihat mesra di depan bokap lo!" cetus Shakila dengan senyumnya lalu menarik Al masuk ke dalam Mansion yang tak kalah besar dari Mansion orang tuanya.
Al hanya bisa berdecak kesal mendengar jawaban Shakila yang ada saja jawabannya itu.
Saat memasuki area Mansion, mereka berdua langsung di sapa oleh para maid di sana. Keduanya pun langsung mengarah ke area ruang keluarga.
Saat sampai mereka berdua melihat tiga orang pria dan dua orang wanita tengah duduk di sofa yang berada di ruang keluarga itu, semuanya tampak asyik bercengkrama.
"Kenapa lama?" tanya seorang pria paruh baya yang wajahnya masih tampak tampan itu menatap Al dengan tatapan elangnya.
"Halo Om," sapa Shakila yang berhasil mengarahkan netra semua yang berada di ruangan itu kepadanya.
Shakila mengangguk, "Iya, Om. Saya Shakila yang Om hubungi. Dan kami akhirnya setuju dengan perjodohan itu, tapi kami mau nikahnya nanti setelah kami lulus kuliah," ujar Shakila dengan senyumnya.
"Eh, kok lama sekali sih? Setelah lulus sekolah saja kalian nikahnya," ujar Radit tidak setuju.
"Setelah lulus kuliah atau Papa tidak akan lihat Al menikah!" tegas Al dengan wajah datarnya.
Shakila sedikit kaget mendengar perkataan Al yang seolah setuju dengan perkataannya. Tapi, yasudah lah, toh Shakila juga yang di untungkan karena ia masih bisa membatalkannya nanti.
Radit menghela nafas mendengar ucapan anak satu-satunya itu.
"Terserah!" ujar Radit akhirnya dengan raut wajah kesalnya.
"Ayo duduk nak Shakila," ajak Radit dengan ramah ke Shakila.
Shakila mengangguk lalu menggandeng Al menuju sofa yang masih kosong di ruangan itu.
"Oh ya, perkenalkan nak Shakila. Itu Erald Omnya Al, disampingnya ada istrinya Mediana, itu sepupunya Al namanya Elano dan yang cantik itu namanya Elona adiknya Elano," ujar Radit menjelaskan satu persatu keluarga yang dimilikinya.
"Perkenalkan juga, perempuan cantik ini calon menantu saya namanya Shakila," lanjut Radit dengan senyumnya.
__ADS_1
"Halo, perkenalkan saya Shakila," sapa Shakila dengan senyum tipisnya.
Keempat orang itu pun membalas sapa Shakila dengan acuh saja.
Shakila diam-diam menatap tajam seperti ingin menguliti seorang pria yang perutnya buncit, siapa lagi kalau bukan Om dari kekasih bohongannya itu.
"Bagaimana bro udah mulai lanjutin bisnis Om Radit?" tanya Elano dengan senyum mengejeknya karena yang ia tahu sepupunya itu belum juga mulai terjun di perusahaan Papanya, tidak sama seperti dirinya yang sudah mulai membantu di Perusahaan Papanya.
"Ah, jangan tanya hal itu nak Lano. Sampai sekarang Om sudah paksa dia, tapi masih tetap saja belum ingin membantu Papanya ini yang sudah tua di Perusahaan." Bukan Al yang menjawab melainkan Radit dengan segala keluh kesahnya.
Al yang mendengar keluh kesah Papanya itu hanya acuh. Lain halnya Shakila yang kini tatapannya beralih menatap sepupu Al dengan tatapan tajamnya setelah sedari tadi menatap Om Al tajam.
Shakila mengikut pelan pinggang Al.
Al mendelik menatap Shakila.
"Lo musuhan ya sama sepupu lo?" bisik Shakila.
"Menurut lo?"
Shakila hanya mengangguk seolah paham lalu kembali diam mendengar percakapan dari keluarga Al itu.
"Haiss, seharusnya lo udah mulai terjun supaya punya pengalaman nanti. Seperti saya sudah mulai ada pengalaman jadi nanti bisa menggantikan bokap untuk mengambil alih Perusahaan," cetus Elano lagi membanggakan dirinya sendiri.
Al hanya acuh saja. Karena lagi-lagi di acuhkan Elano pun menyindir lebih pedas lagi.
"Yakin lo kalau perempuan di samping lo yang akan menjadi istri lo itu tidak sama seperti nyokap lo?" sindir Elano dengan wajah santainya seolah tidak bersalah.
Al langsung mengalihkan netranya ke arah Elano dengan tajam, bahkan jika tatapannya itu anak panah maka pasti sudah menembus tubuh Elano. Begitupun dengan Radit yang mengepalkan tangannya mendengar perkataan ponakannya, karena ia paling tidak suka mendengar mantan istrinya itu di sebut-sebut lagi.
Shakila yang di sebut pun menatap kesal Elano yang membawa-bawa dirinya di tengah pertengkarannya dengan Al.
Shakila mengernyitkan dahinya saat merasakan hawa di ruangan ini tiba-tiba menjadi mencekam rasanya.
*
*
*
*
Huhuhu maafin author karena lama baru up astagfirullah 😠Author benar-benar sibuk di dunia nyata😩
__ADS_1