
Sarapan kini tertata rapi di meja makan, seperti biasa keluarga Raharja sudah berkumpul untuk menyantap hidangan yang telah di sediakan oleh asisten rumah tangganya. namun mata Bu rina tertuju pada kursi Bima yang belum melihat kehadiran Bima.
" Fit,, tolong panggilkan Bima di kamarnya. tumben dia belum bangun jam segini"
"Baik bu" sebenarnya fitry enggan mau ke kamar Bima, ia takut akan di marahin Bima lagi, tapi karna ini perintah dari majikannya maka mau tak mau fitry menurut.
langkah kaki fitry pun sampai di depan pintu kamar milik Bima, ada perasaan ragu dan takut yang berkecamuk di hatinya. takut melihat ekspresi Bima apabila melihat dirinya, mendengar perkataan Bima saat itu yang mengatakan ia tidak boleh lagi masuk ke kamarnya. tapi dengan tekat ia memasuki kamar itu.
Tokkk.... tokkkk... tokkkk.. tuan..
berkali kali fitry mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam, dengan terpaksa fitry memegang gagang pintu dan masuk ke dalam.
betapa terkejutnya ia melihat seseorang yang masih tertidur di bawah selimut menutupi seluruh tubuhnya, siapa lagi kalo bukan tuan Bima.
"ya ampun si singa tutul ini emangnya enggak bisa bedakan mana malam dan siang ya, jam segini kok belum bangun" gerutu fitry
"Tuan... tuan... tuan.. bangun tuan??" fitry hendak membangunkan Bima namun tidak ada jawaban.
"si singa tutul kok tidurnya udah kayak kebo gini sih.. di bangunin tapi nggak bangun bangun juga??? apa dia mati???? iiihhh kalau dia mati secepat ini kan aku belum ngerjain dia sekali sekali"
mata fitry pun tertuju pada wajah tuan Bima, di tatapnya dengan jelas wajah itu. betapa kagumnya ia bahwa tuan Bima sangatlah tampan.
"ya ampun...si singa tutul ini ternyata tampan juga, bahkan si singa tutul ini tak kalah tampannya dengan oppa oppa Korea yang ada di Drakor yang sering ku tonton" batinya
saking kagumnya ia melihat ketampanan tuan Bima sampai sampai ia gemes pengen mencolek pelan pipi tuan Bima pelan karena takut tuan Bima akan bangun dan melihatnya. namun genggaman dengan tangan yang lebih besar dari tangannya itu menggenggam tangan fitry yang hendak mencoleknya.
Degg.....
tiba tiba tuan Bima menarik tangan fitry dan hendak memasukkannya kedalam pelukannya. "Tasya.. kenapa kamu tega mengkhianati aku!!!! kenapa sya!!!!"
"aduh mati aku.. kenapa juga aq mau colek colek dia, kenapa aku nggak langsung bangunin dia aja tadi" dengan suara terbata bata ia ingin bangun tapi apalah daya, tenaga fitry melebihi tuan Bima.
dengan nada membisik ia mencoba membangunkan Bima. "tuan,,tuan,,, tuan bangun" bisiknya
namun tidak ada jawaban. akhirnya fitry mencoba melepaskannya dengan berhati hati.
"iiihhh ini si singa berat juga,, Oya tadi dia menyebut nama tansya barusan. apakah itu yang di maksud bi Dina mantannya tuan Bima??" batin fitry penasaran.
"ah bodoh ah.. apa juga urusannya denganku!!"
saat hendak berdiri, fitry merasakan suhu panas yang menjalar di tubuh Bima. sontak fitry terkejut "ya ampun si singa sakit, badannya panas banget"
dengan panik akhirnya fitry keluar mengambil kain untuk mengompres tuan Bima.
langkahnya pun terhenti ketika ia melewati dapur,
"fit mana Bima?? kok belum turun juga" tanya Bu Rina
"it..itu..itu.. Bu..,, tua. Bima" jawab fitry gelagapan saat menjawab pertanyaan dari Bu Rina.
"fit kenapa bima? kok belum turun?? lagian kamu kok ngomongnya gelagapan gitu" tanya Bu Rina heran
__ADS_1
"anu Bu.. tuan Bima sakit, badannya demam tinggi"
jawab fitry yang membuat pak rangga dan Bu Rina kaget bukan main mendengar pernyataan fitry kalau anak satu satunya kini tengah sakit.
"ok kalau gitu tolong kamu kompres Bima dulu, saya akan menelfon dokter untuk mengecek keadaannya"
...........
...........
...........
...........
"si singa itu bisa sakit juga ternyata?? tapi kalo lagi sakit gitu gantengnya terpancar nyata.. hihihi" fitry membatin.
setibanya fitry ke dalam kamar Bima dengan membawa mangkok kecil yang berisikan air hangat dan handuk kecil yang akan di pakainya untuk mengompres tuan Bima tengah ada Bu Rina dan pak rangga yang berada di dalam melihat anaknya.
" aduh.. apaan sih ma.. pa.. Bima sudah bilang kalau Bima itu nggak sakit, cuma kecapean aja jadi Bima mau istirahat"
"Bima hari ini kamu tidak usah ke kantor,, nanti papa yang suruh Rian untuk heandel semua pekerjaan kamu di kantor" kata pak rangga kepada anaknya.
tanpa menjawab Bima lalu menutup mukanya dengan selimut, menandakan kalau ia tidak ingin membahasnya ataupun ingin berdebat dengan kedua orang tuanya
tidak butuh waktu lama akhirnya dokter pun tiba lalu memeriksa Bima.
"bagaimana dok keadaan Bima??" tanya Bu Rina yang khwatir keadaan anaknya
"apaaaa....!! kata pak rangga, Bu Rina dan juga fitry yang mendengarnya.
"sejak kapan Bima memiliki penyakit TBC dok" tanya Bu Rina yang mengira dokter alan serius dengan perkataanya.
namun sepertinya dokter alan hanya bercanda, ia sangat tau kalau Bima masih seperti dulu yang masih memikirkan hubungannya yang dulu bersam Natasya mantan pacarnya yang membuatnya seperti ini, dokter alan merupakan dokter andalan keluarga raharja dan teman Bima sejak SMA jadi kedekatannya dengan Bima yang membuat ia mengetahui sikap Bima
"ibu tidak usah khwatir,, karena penyakit ini tidak terlalu berbahaya. hanya saja dia akan terus mengalami kelakuan dan lagak yang aneh seperti ini ini" jawab dokter alan yang makin membuat semuanya bingung.
"TBC yang saya maksud adalah Tekanan Batin Cinta heehhehe" dokter alan terkekeh menjelaskan yang sontak membuat mereka semua tertawa
Bima yang mendengar kali dirinya menjadi bahan ledekan dokter alan pun tidak terima, akhirnya ia mendaratkan guling yang ia pakai ke arah dokter alan
"dokter sialan!!!! sejak kapan dirimu pindah profesi menjadi dukun. lebih baik lu keluar!! bisa bisa tambah gila aku dengar ocehanmu!!" usir Bima yang dokter alan tau pasti Bima hanya bercanda.
"ya,, ya,, aku akan keluar tapi aku akan memberimu resep obat untuk kamu minum. ya walaupun tidak sepenuhnya membuat TBC mu itu hilang" jawab dokter alan yang masih menggoda Bima.
______
"fit tolong kamu lanjutkan untuk mengompres Bima dulu ya, saya akan mengantar dokter alan dan bapak kedepan" Bu Rina mengangkat pembicaraan
" baik bu"
saat hendak keluar,, mata dokter alanpun tertuju pada fitry. ia kagum bahwa di hadapannya ada seorang wanita yang sangat cantik.
__ADS_1
"wanita ini sangat cantik,, walaupun dia pembantu dengan pakaian yang sederhana namun kecantikannya tidak mengurainya" batin dokter alan
Bima yang menyadari bahwa Alan melirik fitry pun membuyarkan lamunannya.
"Hei dokter sialan.. ngapain masih disitu?? tidak bisakah kamu tidak menatap pembantuku seperti itu.
dokter alan yang mendengarnya pun akhirnya sadar dari lamunannya dan hendak keluar bersama pak rangga dan juga Bu Rina. sedangkan fitry pun hanya terseyum.
tinggallah kini hanya fitry dan Bima di ruangan itu
namun hanya keheningan yang terjadi, tidak ada sepatah katapun dari Bima maupun fitry.
namun tiba tiba fitry memecahkan kehengan itu.
"tuan.. mari saya kompres dulu keningnya tuan agar demamnya turun" kata fitry namun tidak di gubris oleh Bima
" si singa ini kok diam aja di bicarain!! ah bodo ah. yang jelas aku harus cepat cepat mengompres nya lalu pergi, takut dia ngomel ngomel nggak jelas lagi"
fitry memulai mengompres tuan Bima, Bima yang merasakan kehangatan sentuhan sentuhan fitry pun mulai tersenyum dalam hati
"pembantu ini kalau di perhatikan cantik juga" Bima yang baru menyadari kalau asisten rumah tangganya itu memiliki wajah yang sangat cantik pun kini menatapnya.
fitry yang menyadari kalau Bima yang kini menatapnya itu seketika hendak hendak menyudahi aktivitas nya dan ingin pamit keluar dari kamar itu.
"tuan saya sudah mengompres,, kalau gitu saya pamit keluar untuk kembali ke dapur"
namun Bima yang menyadari kalau fitry yang hendak menghindarinya pun kini berbicara.
"nama kamu siapa??"
"fitry tuan" jawab fitry menunduk
"sejak kapan kamu bekerja disini" tanyanya lagi
"baru tiga hari tuan"
"kenapa kamu memilih menjadi pembantu?? kenapa tidak memilih pekerjaan lain??"
"iiissshh ini si singa tutul pertanyaannya kok banyak banget, macam guruku aja saat aku tengah menghadapi UAS"
ya pertanyaan ketiga Bima sebenarnya tidak salah karena dia heran, cewek seusia dia yang masih muda kenapa memilih bekerja sebagai pembantu sedangkan pilihan bekerja di luar kan banyak
"belum saya pikirkan tuan, saya butuh pekerjaan ini jadi saya belum memikirkan untuk mencari pekerjaan lain, lagian ijazahku hanya lulusan SMA pastinya sulit untuk mendapat pekerjaan di kota ini"
sepertinya pertanyaan Bima sepertinya sudah cukup, ia takut fitry merasa canggung dengan pertanyaan pertanyaan yang akan di lontarkannya.
"ok kalau gitu kamu sekarang boleh keluar"
__ADS_1