
Saat jam istirahat Zeline, Naura, dan Silvia tengah duduk bersama di kantin sekolah, tiba tiba saja ada satu gerombolan kakak kelas memasuki kantin dan berhasil membuat satu sekolah heboh.
" Mereka padahal baru kelas 2 SMA, tapi sepertinya postur tubuh mereka sangat bagus " gumam Naura memperhatikan satu gerombolan yang baru saja membuat kantin heboh.
" Di SMA merah putih, mereka adalah segerombolan organisasi yang sangat di segani siswa dan siswi, perempuan itu bernama Yoora berumur 18 tahun, dia adalah pemimpin organisasi dan juga ratu sekolah merah putih, katanya sih keluarga nya adalah keluarga terkaya " ucap Silvia menjelaskan.
" Uhuk uhuk uhuk " Zeline tersedak makanannya saat mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut Silvia.
" Hah, keluarga terkaya ?" tanya Naura tersenyum mengejek.
" Hem " jawab Silvia mengangguk ragu.
" Lu aja ragu, terus dari mana lu tau ?" tanya Zeline terkekeh.
" Katanya sih gue dengar dengar dari siswa lainnya, kak Yoora sendiri lah yang bilang ke semua orang bahwa dia putri dari keluarga terkaya " jawab Silvia menjelaskan.
" Putri dari keluarga terkaya ?" ulang Naura.
" Setau gua orang terkaya tidak memiliki putri " gumam Zeline terdengar lirih.
( Aish tiba tiba gua kangen oppa ) batin Zeline.
" Lu tau dari mana Zeline ?" tanya Silvia curiga.
" Gua dengar dengar juga sih " ucap Zeline cepat menyembunyikan kegugupan nya.
Di waktu yang sama namun berbeda tempat, Yoora berjalan ke arah meja yang di duduki Nathan dan Dilan.
" Hai, apakah kamu yang bernama Nathan ?" tanya Yoora genit, di balas anggukan kepala Nathan.
" Oh, kalau begitu sampai jumpa lagi " pamit Yoora mengedipkan sebelah matanya.
Sepeninggalan Yoora, kini Dilan angkat bicara.
" Hei apakah lu juga terkenal di kelas 2 ?" tanya Dilan antusias.
" Entah " jawab Nathan males.
" Nathan " panggil Dilan mengulum senyum.
" Hem " dehem Nathan.
" Bukan kah itu mereka yang tadi dance di kelas ya ? ah iya mereka juga kan yang bertemu kita sewaktu di bus tadi pagi " tanya Dilan melirik Nathan.
" Siapa ?" tanya Nathan balik.
" Aish lu mah wajah doang yes, tapi lambat tangkap " celetuk Dilan males.
__ADS_1
" Nangkep apa maksud lu ? nangkap mulut lu biar gua lakban gitu ?" tanya Nathan yang semakin ngawur.
" Elu mah makin ngelantur " ucap Dilan males.
" Itu loh coba kalian lihat mereka bertiga, di antara mereka itu yang gua maksud " ucap Dilan gemas.
" Owh " jawab Nathan singkat.
" Astaga, punya teman gini amat ya, amat aja gak gini gini amat " celetuk Dilan menepuk jidat.
" Btw, gua penasaran banget sama mereka berdua, apalagi sama Zeline " ucap Dilan tiba tiba.
" Maksud lu ?" tanya Nathan heran.
" Maksud gua, kalo di lihat lihat mereka berdua bukanlah perempuan biasa apalagi di lihat dari gaya mereka berdua, terutama Zeline, gua yakin banget mereka sebenarnya anak orang kaya, benar gak sih ?" tanya Dilan meminta pendapat Nathan.
" Urus aja urusan lu, tidak perlu mengurus urusan orang lain " jawab Nathan singkat.
( Sebenernya gua juga ngerasa begitu Dilan, benar sih di lihat dari apa yang mereka pakai terlihat sederhana, tapi kalau di perhatikan lagi kayaknya barang yang di pake mereka itu barang sederhana dengan harga fantastis, hanya orang orang nya sajalah yang bisa menyadarinya ) batin Nathan memperhatikan interaksi antara Zeline dkk.
" Kenapa lu ?" tanya Dilan menyenggol Nathan.
" Gua ? gua gak papa " jawab Nathan mengalihkan pandangannya dari Zeline dkk.
Di tempat Zeline dkk.
" Gua sadar, tapi gua pura pura gak sadar " jawab Zeline singkat tanpa menatap lawan bicara.
" Kalo lu Silvia ?" tanya Naura.
" Gua udah ngerasa sedari awal " jawab Silvia.
" Sebenernya apa yang mereka inginkan sih ? tidak mungkin kan mereka mau bully kita ?" celetuk Silvia polos membuat Zeline dan Naura menepuk jidat.
" Guys gua bosan, temenin gua main basket yuk " ucap Zeline bersemangat.
" Wah kebetulan gua juga udah lama gak pernah main basket, skuy lah cus " ucap Silvia senang.
" Hayyo " ucap Naura.
Zeline, Naura dan Silvia berdiri dari duduk, mereka bertiga bergegas melangkah ke arah lapangan basket, membuat Nathan dan Dilan yang sedari tadi memperhatikan mereka mengernyit heran.
" Mereka pada mau kemana ? kelihatannya arah nya itu mereka berjalan ke lapangan basket, tapi masa iya ? apakah mungkin mereka ingin bermain basket ?" tanya Dilan beruntun, namun tidak di hiraukan Nathan.
Nathan pergi ke arah lapangan basket karena dia sangat penasaran di susul Dilan, setibanya mereka berdua di lapangan basket ternyata sudah banyak siswa dan siswi yang bergerombol di lapangan basket.
~ Mereka bertiga keren banget.
__ADS_1
~ Mereka bertiga terlihat sangat cantik.
~ Gua dengar dari kelas X Mipa kak Zeline dan kak Naura hebat ngedance, kata mereka terlihat sangat sangat keren, ah rasanya gua ingin lihat mereka dance, sayangnya tadi gua habis piket makanya tidak sempat nonton mereka berdua dancer.
~ Wah benarkah yang kau katakan, mereka berdua dance?
~ Hem
Seperti itulah ucapan ucapan yang di dengar dari telinga Nathan dan Dilan, berbeda dengan Gladis dkk.
" Kenapa sih semua orang malah heboh banget, padahal kan cuman main basket doang, gua juga bisa " celetuk Gladis males.
" Bilang saja kalau lu iri " celetuk Kirana tanpa sadar.
" Gua iri sama mereka berdua ? ogah " jawab Gladis cepat
" Lagian yah mereka berdua memang keren kok, gua aja selama SMP tidak pernah melihat mereka sekeren sekarang, apa mungkin mereka memiliki bakat seperti ini sejak dulu, namun di pendam mereka, mungkin gak sih guys ?" celetuk Jelita bersemangat bertanya kepada Gladis dan Kirana.
Jelita tidak melihat ekspresi Gladis yang sudah berubah karena sedari tadi dia mendengar kedua sahabatnya seperti nya sedang memuji musuh bebuyutannya.
" Kalian berdua ini teman nya siapa sih hah ?" tanya Gladis membentak.
" Ya temannya lu lah " jawab mereka berdua serempak.
" Kalau teman gua, kenapa sedari tadi kalian berdua membicarakan tentang mereka berdua ? kalian sudah bosan hidup hah !" bentak Gladis benar benar marah menatap tajam kedua sahabatnya.
( Awas aja kalian berdua, ini karena kalian berdua, kedua sahabat gua jadinya ikut ikutan konslet ) batin Gladis.
Sedangkan di lapangan basket, Zeline, Naura dan Silvia masih fokus dengan permainan mereka tanpa menghiraukan teriakan teriakan orang orang berada di pinggir lapangan.
" Gua hanya ingin bermain " ucap Zeline sambil menggiring bola.
" Biarkan saja mereka, anggap saja mereka sedang menonton kita yang lagi bertanding basket " jawab Silvia acuh.
" Gua suka gaya lu " ucap Naura berkedip ke arah Silvia.
" Lain kali ku begini aja " sindir Zeline ke arah Silvia.
" Maksudnya ?" tanya Silvia tidak mengerti.
" Gua dikenal orang dingin, Naura yang di kenal orang pemarah serta lu yang di kenal orang cuek, kan mantap tu gelaran kita bertiga, bisa saling melengkapi gitu hehe " ucap Zeline menjelaskan panjang lebar dan terkekeh di akhir kalimat.
" Tumben amat lu bicara panjang " celetuk Silvia mengejek.
" Hanya dengan kalian saja jika di sekolah " jawab Zeline singkat.
__________
__ADS_1
Bersambung