Pengantin Rahasia

Pengantin Rahasia
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Disebuah kantor perusahaan, tampak kedua laki-laki dan perempuan sedang beradu argumen. Keduanya tampak menahan emosi.


Srekkk ! Srekkk !


"Karina !!" Sentak Pak Rudi. Ia tak habis pikir dengan sikap ego anaknya ini.


Tangan wanita muda itu tengah meremas foto seorang laki-laki yang telah ia sobek. Lalu membuangnya ke tong sampah di sampingnya.


"Maaf pih, aku tetep gak bisa"


"Papih sudah menentukan calon suami yg terbaik buat kamu. Pokoknya mau tidak mau kamu harus menuruti perintah papih !"


"Papih sadar gak sih pilihan papih itu norak, kumel, kampungan. Aku gak suka sama cowok sarungan!"


"Dia lulusan pesantren terbaik di Jawa Timur. Papih juga mengenal keluarganya sangat baik. Kami sudah membicarakan perihal perjodohan kalian. Pokoknya kamu harus ikut papih" Kata Pak Rudi penuh penekanan.


"Apa?? Perjodohan?" Karina tersentak kaget.


"Papih pikir ini sinetron siti nurbaya?! Nggak..gak.. Aku gak mau. Enak aja." Tolak Wanita berambut coklat pirang itu, sambil beranjak keluar dari ruangan kerja ayahnya.


"Kalau kamu gak mau berarti tandanya kamu menolak warisan dari papih " Kali ini suara Pak Rudi sedikit mengecil namun masih penuh penekanan.


Karina terhenyak. Ia menghentikan langkahnya lal menoleh ke arah papihnya yang terlihat tenang namun menatapnya tajam.


Pandangan mereka kini beradu. Akh ! Menyebalkan.


Dengan segera ia berlalu dari hadapan pria paruh baya itu sambil menahan gemuruh di dadanya.


***


Sialan ! Mengapa harus seperti ini urusannya. Hatinya tak berhenti menggerutu. Ia melajukan mobilnya dengan perasaan yg berkecamuk. Andai ia bisa melawan laki-laki yang sudah merawatnya sendirian itu. Namun hatinya tak kuasa melakukannya. Apalagi ini menyangkut urusan warisan yang memang sangat ia harapkan sedari dulu.


Setengah jam lagi ia harus pergi ke kampus untuk mengajar. Namun hatinya masih tak tenang. Kata-kata ayahnya beberapa menit yang lalu masih terus terngiang di benaknya. Perjodohan? What ?? Seorang Karina Safira akan dijodohkan dengan seorang santri lulusan Pondok Pesantren ?? Terus bagaimana dengan karirnya ? Apa nanti kata rekan-rekan seprofesi nya jika hal itu terjadi? Hellooow...apa kata duniaaaa ???? Batinnya terlalu cerewet memikirkan itu. Hingga ia tak sadar hampir saja menabrak pejalan kaki yg akan menyebrang. Refleks ia menginjak rem.


Cekiiiittt.... Dug.


"Awww....." Rintihnya sambil memegang jidatnya yg terbentur setir mobil. Nafasnya tersengah-sengah. Rasanya jantungnya hampir saja copot.


"Aaakkhhh...! Ini semua Gara-gara papih. aku hampir aja mati hari ini...!" Umpatnya sambil terisak. Tak lama ia pun menangis sejadi-jadinya di dalam mobil.


****


Di salah satu Universitas ternama di Ibukota.


Tampak tiga orang pria sedang mengobrol di dalam ruangan kelas.


"Eh, hari ini bagian kelompok siapa yg presentasi? " Tanya Laki-laki berambut kribo sambil menatap bergantian ke arah dua pemuda yg duduk didepannya.

__ADS_1


"Dia kali " Jawab Agung sambil menunjuk ke arah teman satunya lagi yg berada disebelahnya.


Laki-laki yg memakai kemeja lengan pendek berwarna biru itu hanya tersenyum. Sebagai kode bahwa memang giliran ia hari ini.


"Gak sabar pengen cepet-cepet ketemu sama si dosen cantik" Ujar Egi si Kribo cengengesan.


"Awas lo kalo gangguin dia gue gibeng luh" Timpal Agung sambil mengepalkan tangan nya.


"Dih, siapa elo main gibeng-gibeng segala. Dia masih jomblo tau. Masih ada harepan hahay" Tukasnya tak mau kalah.


"Eh, kemaren yg jemput dia pake mobil sport itu cowoknya tau." Agung menimpali.


"Ah Serius?? Masa iya dia pacaran ama cowok kaya sendal jepit gtu. Ups.." Umpat Egi sambil menutup mulutnya. Temannya pun seketika tertawa.


Tampak para mahasiswa - mahasiswi lain masuk keruangan. Karina si dosen cantik sudah bersiap-siap masuk. Tak lupa ia merapikan dulu pakaian dan rambutnya yg sebelumnya terlihat berantakan. Rambutnya yang awalnya terurai ia gulung rapi ke belakang. Dengan mengenakan kemeja putih berbalut rompi biru navy dan rok selutut dengan warna senada membuat penampilannya tampak elegan. High-heels yg ia kenakan membuat nya tampak seksi. Tak lupa ia pun mengenakan kacamata simple agar terlihat lebih berwibawa.


"Selamat siang" Sapanya sambil tersenyum manis.


"Siang bu" Serempak para mahasiswa - mahasiswi jurusan Akuntansi itu menjawab.


"Maasyaa Allaah...bidadari surga.." Bisik Egi. Wajahnya tampak terpesona melihat dosen wanita yg kini sedang berdiri tepat dihadapannya.


" Baik. Hari ini kita lanjutkan presentasi minggu lalu. Silahkan kelompok berikutnya maju ke depan."


Perintahnya tanpa basa-basi. Hari ini mood nya memang sedang tidak baik. Jadi rasanya ia akan sedikit bicara di pertemuan kali ini.


"Iya bu to the point aja nih" Timpal Egi. Ia memang senang jika pertemuannya dengan Bu Karina dikelas agak lama. Makanya ia paling rajin bertanya agar bisa terus memandang dosen favoritnya tersebut.


"Minggu yang lalu telah saya bahas materi Bab 13 ini panjang lebar, jadi sekarang silahkan untuk presentasi di depan sesuai dengan kelompok dan materi yg telah ditentukan " Jelasnya.


"Ayo Zul.." Agung menyuruhnya maju. Hari ini giliran kelompok Zul yg presentasi. Laki-laki berwajah putih bersih dengan perawakan tinggi itu berdiri memaparkan materi yang diusung.


Tampak Karina masih terdiam duduk di bangkunya. Tatapannya kosong, ia belum bisa melupakan kata-kata ayahnya tadi pagi. Ia masih memikirkan masa depannya jika harus di jodohkan dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Ia hanya melihat sekilas wajah laki-laki di foto itu. Karena yang menarik pandangannya saat itu ialah pakaian yang dikenakan nya sungguh sangat tak ia sukai. Berkenakan jas almamater, sarung serta peci hitam. Di tangannya memegang sebuah kitab. Ya, ia yakini itu adalah sebuah kitab karena sampulnya bertuliskan huruf arab.


"Bu...?" Panggil mahasiswa bernama Zul itu pelan.


Karina sedikit terkejut. Spontan ia berkata. "Baik silahkan duduk" Seketika para mahasiswa di ruangan itu tertawa.


"Maaf bu kami belum selesai, tadi saya bertanya betul tidaknya pembahasan yg telah saya sampaikan barusan" Ujar Zul menjelaskan. Ia pun berusaha menahan diri agar tidak ikut tertawa dengan yang lain.


"Bu, ngelamunin apa sih bu? " Teriak salah satu mahasiswa sambil diiringi gelak tawa yg lain.


Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Hari ini sungguh hatinya sudah dibuat jengkel dan malu. Sabar Kar, sabar.


****


Seminggu berlalu.

__ADS_1


"Hallo...assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam Aka Bro, besok pagi sehabis fitnes kita ngafe dulu yok.."


Terdengar suara lantang milik si Kribo diujung telfon sana. Dia mengajak Zul ke kafe karena ia tau sehabis fitness pasti sahabatnya itu selalu langsung pamit untuk pergi bekerja. Zul pun sedikit berfikir.


"Mmm...Kayaknya belum bisa bro,, besok sehabis fitness gue mau nemuin abah gue di Rayabaru ". Ia menyebut nama tempat 'nongkrong' di kawasan Rawamangun.


" Bokap lu mau dateng ke sini? Ke Jakarta? "


"Iya"


"Gimana sama kerjaan lu?”


“besok gue ijin”


“bener-bener kejutan nih bro... Gapapa ya gue ikut, sekalian mau sembah salim sama ajengan" Tukasnya dibarengi suara kekehannya yang khas.


"Sorry deh. Lain kali aja ya bro"


"Etdah. Belum pernah loh gue ketemu bokap nyokap lo. Barangkali aja bawa oleh-oleh sepatu Cibaduyut. Haha..."


Zul tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. Sohib nya yang satu ini memang hobi banget bercanda. Tapi dia bersyukur telah dipertemukan Allah dengan orang-orang yg baik dan tulus. Sudah tiga tahun dia merantau di Ibukota. Dia merasa menemukan keluarga barunya disini.


"Yaudah salam hormat buat bonyok lu ya aka bro..."


"Sip."


*****


Esoknya sepulang dari tempat fitness ia bersiap menuju ke tempat yang telah seseorang janjikan padanya kemarin, ia melaju menggunakan motor matic keluaran terbaru miliknya. Ia hanya mengenakan kaos putih dan jaket hitam. Jaketnya dibiarkan terbuka. Dipadukan dengan celana jeans biru dongker dan sepatu hitam membuat penampilannya terlihat macho. Arloji ditangan kirinya menunjukkan pukul 09.20. Sesampainya disana, ia menelpon seseorang. Tampak dari jauh ia melihat seorang wanita berkerudung lebar melambaikan tangan ke arahnya. Matanya sudah tak asing lagi dengan wanita itu. Ya, dialah cinta pertamanya yang telah melahirkannya dua puluh lima tahun silam, kini sosok itu telah berada di depan matanya. Namun tak hanya sendiri, ia melihat ada beberapa orang sedang duduk bersama ibunya disana. Ia sedikit berlari lalu berhambur memeluk wanita yang berumur sekitar lima puluh enam tahunan itu dengan penuh rasa rindu.


"Ya Allah bujang ambu ni kot pangling (ya Allah anak bujang ambu sekarang jadi pangling)" Kata ibu nya Zul sambil memegang-megang bahu anaknya itu hingga ke lengannya. Seakan-akan heran melihat perubahan pada diri Zul, yang mungkin bertambah tinggi tegap dan berkarisma.


"Ambu sehat?" Tanyanya setelah mencium punggung tangan ibunya dengan penuh takdzim.


"Alhamdulillah kasep. Hayu salim hela ka abah (alhamdulillah ganteng, hayu salim dulu ke abah) " Sahut ibunya Zul dengan penuh bahagia.


Ia lalu menyalami dan memeluk laki-laki tua berbaju batik itu. Tak lupa menanyakan kabarnya juga. Setelah itu abah menyuruhnya bersalaman dengan laki-laki paruh baya yg telah berdiri didepannya seraya memperkenalkan diri. Namun ia terkejut saat akan bersalaman dengan seorang wanita yg sedang duduk terpaku sambil mendongak melihat ke arahnya.


"Zul ??" Ucap wanita itu pelan.


"Bu....ka-rina? "


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo readers,, makasih udah mau mampir baca ceritaku. Kalau kalian suka tunggu part selanjutnya ya... Salam santun buat semuanya...😊

__ADS_1


__ADS_2