Pengantin Rahasia

Pengantin Rahasia
Kesungguhan Zul


__ADS_3

Mereka kaget saat melihat Karina tengah berdiri dimuka pintu. Wanita itu menatap keduanya secara bergantian. Namun diwajahnya seperti tak ada tanda-tanda sehabis menguping pembicaraan Zul dan Bik Sari. Terlihat rambutnya terlilit handuk basah yang tergulung ke atas, memakai kaos putih, dan celana pendek selutut. Sepertinya ia habis selesai mandi.


“Bik, udah siap bingkisannya?,” Tanya Karina.


“Eu...anu... Non udah...tadi ini dibantu sama Tuan Zul...,” Suaranya terdengar gelagapan.


“Bahan-bahan kuenya mana Bik? Sekarang aja ya bikinnya,” Ucap Karina seraya berjalan ke arah Zul dan Bik Sari. Ia langsung menyiapkan bahan-bahan untuk membuat cake, yang akan dibawa nanti siang ke panti.


“Iya non sekarang aja, sini bibi bantu,” segera mereka berdua membuat adonan.


“Emangnya kamu bisa bikin kue?,” tanya Zul pada Karina. Wanita itu hanya meliriknya sekilas. Tanpa merespon sedikitpun.


“Oh ya banget Tuan. Jago masak dia mah, apalagi bikin-bikin kue kayak gini, hobinya itu mah. Ya kan non..,” timpal Bik Sari.


Mendengar itu, Zul tetiba ingat Hilya, ternyata mereka sama-sama punya hobi serupa yakni membuat berbagai macam olahan cake. Zul pun tersenyum. Akhirnya mereka bertiga memasak bersama.


*****


Suara klakson mobil terdengar didepan rumah.


‘Itu pasti Pak Amir, dia sudah datang’.


Tak lama pria berbadan kurus itu datang menghampiri Zul.


“Ini Tuan kuncinya,” Seraya memberikan kunci mobil pada Zul.


“Makasih, Pak Amir. Hayuk sekarang kita berangkat,” ajak Zul pada Karina yang terlihat sedang membereskan beberapa bingkisan. Lalu mereka membawanya kedalam bagasi mobil.


.


Sesampainya di sebuah Panti Asuhan dan Anak Yatim ‘AL-IKHLAS’, Zul segera mengeluarkan bingkisan yang telah dipersiapkan, dibantu oleh satu orang pria sebagai pengurus Panti disana. Karina terlihat sedang menyapa seorang wanita berjilbab lebar yang diketahui sebagai pemilik Panti. Bu Fatimah namanya.


Setelah berbincang sebentar, tak lama beberapa anak kecil berusia kisaran antara tiga sampai dua belas tahun datang berhambur memeluk Karina yang tengah berdiri. Mereka terlihat tak canggung sedikitpun. Ya, secara anak-anak itu sudah tak asing lagi dengan sosok Karina yang setiap bulannya selalu mengunjungi mereka. Mereka tampak bahagia saat satu persatu bingkisan mendarat ditangan merwka masing-masing. Ucapan terima kasih pun terdengar saling berburu di bibir mungil anak-anak yang tak berorang-tua itu. Zul dan Karina tersenyum puas melihatnya.


Tampak Karina menggendong seorang anak laki-laki berumur tiga tahun. Zul memperhatikannya dengan tatapan sejuk. Ya, sosok keibuannya sangat kentara disini. Dirinya berharap segera dikaruniai keturunan dari pernikahannya ini.


Setelah puas bercengkrama, akhirnya Zul dan Karina beranjak pamit untuk pulang, tak lupa sebelumnya Karina menyerahkan amplop coklat kepada Bu Fatimah.


*****


“Alhamdulillah... Agenda hari ini berjalan lancar,” kata Zul setibanya di dalam mobil.


“Aku seneng ngeliat mereka seneng. Karena aku bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan sosok orang yang sangat di cintai,” ucap Karina.


Entah mengapa ada perasaan tak suka saat mendengar ucapan Karina barusan. Ia menyangka bahwa sosok itu adalah David.


“Siapa?,” tanya Zul.


“Mamih,” jawab Karina dengan raut wajah yang sedih.


Ah, Zul merasa bodoh sendiri. Kenapa ia harus bersu’udzon begitu. Entahlah, dirinya tiba-tiba saja berubah menjadi sensitif kala harus mendengar sosok yang dicintai Karina.


Zul menyalakan mesin mobil, lalu menancap gas pergi dari sana.


“Ke kosan aku dulu ya,” ajak Zul.


“Mau ngapain?,”


“Mau bawa baju ganti. Kamu sih kemaren gak bilang-bilang kalau Pak Rudi pulang. Kalau bilang dulu kan mungkin aku siap-siap bawa baju sekoper,” sahutnya.


“Nanti kalau kamu tinggal di GPI, terus gimana sama kosanmu itu?,”


“Ya gampang, tinggal pindah aja. Ke Pondok Mertua Indah,” jawab Zul sambil tersenyum.


Karina membulatkan matanya. Lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela samping mobil.


“Ya kalau kita pisah rumah gini, nanti gimana kata Pak Rudi? Bik Sari dan Pak Amir? Hmm??,” tanya Zul, seakan-akan tahu isi hati Karina yang menolak ia tinggal dirumahnya.


“Terserah, asal jangan sampai ketahuan sama orang luar, terutama orang Kampus,” Ketus Karina.


“Lah, masih mau sandiwara juga? Gak capek apa Neng?,” kata Zul sambil fokus menyetir.


Karina menghela nafas. Ia masih menatap ke luar jendela.


“Malah kalau gak pada tahu, entar yang ada timbul fitnah lho...mau?,” tanyanya lagi.


“Ya pokoknya usahain jangan sampai ada yang tahu. Titik!,” kecam Karina.


Zul meliriknya sekilas.


‘Ck..! Bener-bener harus dirukiyah nih cewek’ bisiknya dalam hati.


“Ya kalau ada apa-apa jangan nyalahin aku loh ya.. Tanggung sendiri...” kata Zul santai.


“Kamu bener-bener kayak papih ya, gak pernah mau ngertiin perasaan aku?!,” Ucap Karina, nada bicaranya agak meninggi.


Ingin sekali ia menjawab ‘sama aku juga pengen dimengertiii....’


Namun, ah! Ia masih sadar, jika api dilawan api akan semakin berkobar, maka ia memilih mengalah saja.


Lampu merah pun menyala. Zul melambatkan mobilnya dan berhenti.


“Oke..oke... aku mau ngertiin kamu, dan bakal ngikutin kemauan kamu. Tapi dengan satu syarat..,”


Karina menoleh ke arahnya. Manik mereka kini beradu.


“Kamu harus janji, untuk berusaha semaksimal mungin membuka hatimu buat aku. Dan aku akan menunggu, selama apapun itu....,” ucap Zul serius.


Karina hanya diam. Ia tak ingin membalas kata-kata Zul.


Dan tak lama lampu hijau pun menyala, ia kembali melajukan mobilnya.


*****


Setelah sampai di Gang kostannya. Zul segera beranjak keluar mobil. Karina memilih untuk menunggunya saja di dalam. Lima menit berlalu, Ia telah selesai mengambil beberapa helai pakaian dan beberapa buah buku ke dalam ranselnya. buru-buru ia kembali lagi ke mobil, namun belum saja sampai tiba-tiba Hilya datang menghampiri.

__ADS_1


“A Aden? Mau kemana? Kok kaya yang buru-buru gitu?,” tanya Hilya.


“Astagfirullah... Neng Hilya? Aduh Aa kira siapa?,” tanya Zul kaget. Ia menoleh ke arah mobil Karina yang terparkir sekitar dua puluh meter dari tempatnya berdiri.


Hilya tersenyum.


“Mau kemana ? Itu ranselnya keliatannya penuh. Aa mau pergi ya?,” tanya Hilya sambil memperhatikan ransel yang dibawa Zul.


“Eeuuu.. Iya Neng, Aa mau pergi dulu sebentar. Kemungkinan dalam beberapa hari kedepan”


“Kemana?,” Tanyanya lagi.


Zul bingung harus menjawab apa.


“Ke PMI ! Ya udah ya, Aa pergi dulu udah ditunggu. Assalamu’alaikum,” segera ia berlari ke arah mobil Karina.


“Wa’alaikumsalam...” jawab Hilya. Ia masih berdiri dengan tatapan heran ke arah Zul yang terlihat tergesa-gesa. Ia melihat Zul langsung masuk ke dalam mobil.


‘mobil siapa itu?’ tanya Hilya dalam hati.


Ya, Zul tadi menyebutnya PMI sebagai singkatan dari ‘Pondok Mertua Indah’. karena sejujurnya ia bingung harus menjawab apa, dan refleks saja menyebut kata itu.


******


“Siapa itu?,” tanya Karina. Setelah Zul kembali duduk di sebelahnya.


Ternyata sedari tadi ia memperhatikan Zul tengah berbicara dengan Hilya.


“Temen,” jawab Zul seraya memasang sabuk pengaman.


“Temennya cantik ya...?,” ujar Karina.


Zul melirik ke arah wanita itu. Mimik wajahnya sangat sulit diartikan.


“Iya lah, temen cewekku kan banyak yang cantik-cantik,” ucap Zul seraya menghidupkan mesin mobil. Karina memiringkan sebelah bibirnya.


“Kenapa Non? Anda cemburu kah?,” tanya Zul sedikit bergurau.


“Ge-er,” jawabnya ketus. “Tapi kayaknya aku pernah liat deh cewek itu? Dimana ya?,” kata Karina, ia terlihat sedang mengingat-ingat.


“Oh iya, waktu aku nginep dirumah kamu, dia dateng, terus nanyain....siapa ya waktu itu namanya? Ah lupa lagi ! Aku jawab aja salah alamat,”


Zul hanya tersenyum. Ia juga pernah diberi tahu Hilya waktu itu, kalau dia pernah melihat wanita di dalam rumahnya. Ya, sepertinya itu pertemuan pertama mereka. Ia berusaha tetap fokus menyetir.


“Kok belok? Kita mau kemana? Harusnya kan lurus,” tanya Karina saat melihat mobilnya belok ke arah lain.


Zul hanya diam tak menyahut. Ia sengaja membiarkan wanita disebelahnya itu berkomentar.


“Zul, kamu lupa jalan pulang ya?,”


“Kita jalan-jalan dulu yuk, ke Victoria Mall,”


“Gak ah, males. mau pulang,”


“Eeiiit...jangan melawan suami ya..,”


Beberapa saat suasana hening. Hanya bunyi bising kendaraan yang berlalu lalang diluar. Agar tak terasa sepi, ia menyalakan musik di dashboard, sebuah lagu beat milik grup band favoritnya dulu, Radja.


***


Bukalah hatimu untuk diriku


Sebelum cinta hilang


Seperti bintang kupuja dirimu


Seperti malam datang


Yakinkan cintamu kepadaku


Agar aku bisa memiliki


Setulus hatiku mencintai dirimu ho..


Lupakanlah semua mimpi-mimpi


Walaupun bayangnya menghantui


Yang kadang ingin slalu memilih cinta


Katakan bila hatimu tak bisa


Memberi cinta yang indah


Jangan memaksakan ingin yang lain


Tunggulah cinta memanggil


Aku hanya ingin cinta itu pasti


Jangan ada lagi keraguan


Aku hanya ingin cinta yang abadi seperti air.


--------


Ya, rupanya lagu itu yang mewakilkan perasaannya, untuk wanita yang kini tengah duduk bersandar disampingnya. Wajahnya masih tetap berpaling ke arah jendela.


******


Sesampainya di Sebuah Mall. Segera Zul membawanya berjalan masuk ke Toko Busana. Karina tampak mengernyitkan alis. Ia sepertinya tak faham kenapa Zul membawanya kesini. Apa baju yang ia bawa dari kostannya kurang?


Laki-laki itu melihat ke arah Karina yang masih diam berdiri di depan pintu toko, lalu ia menolehkan wajahnya sekilas ke arah pakaian-pakaian yang menggantung rapi di depannya sebagai kode ‘ayo pilih’.


Karina masih diam tak merespon. Zul menghela nafas.

__ADS_1


“Ayooh..,” Ia menarik tangan Karina.


“Pilihlah sesukamu, aku tunggu disana,” ia menunjuk kesebuah kursi panjang tempat menunggu.


“Aku yang beli?,” tanya Karina.


“Siapa lagi. Aku kan cuman bawa kamu doang,” Zul tertawa kecil.


“Dikira kamu yang mau belanja,”


“Gak. Aku gak terlalu suka belanja baju. Aku kesana dulu ya,” ucapnya seraya beranjak ke tempat tunggu.


Daripada bete, akhirnya ia memilih bermain game saja di gawainya. Lumayan lama juga ia menunggu sampai habis beberapa babak permainan game nya.


‘Dasar cewek, katanya lagi males jalan-jalan tapi sekalinya dibawa masuk mall jiwa ‘shopper’ nya keluar juga kan?’ gerutunya dalam hati.


Tak lama Karina datang.


“Zul...” panggilnya. Ditangannya ia menenteng dua buah tas bening transparan.


‘Buseett banyak banget ngambilnya, ah untung aja gue bawa uang lebih’


“udah milihnya?,” tanya Zul.


Karina tersenyum sambil mengangguk. Segera Zul membayarnya ke kasir. Setelah keluar dari Toko ia menawarkan lagi.


“Mau makan dulu gak?,”


“ Gak ah udah mau sore, dirumah aja. Kasian Bik Sari udah masak,” tolaknya.


Akhirnya mereka bergegas ke parkiran.


“Zul, aku belanjanya banyak banget ya...? Maaf ya..,” ucap Karina setelah mobilnya melaju.


Zul menoleh seraya tersenyum.


“Gak apa-apa, selagi aku mampu pasti aku kasih. Ingat, kamu udah jadi tanggung jawab aku sekarang,” jawab Zul lembut.


“Nanti dirumah aku ganti ya uangnya,” ucap Karina. Entah mengapa ia masih tak enak hati pada Zul. Zul mengernyitkan alis.


“Lah, buat apa? Ini udah jadi kewajiban aku Karina. Kamu fikir, semua ini aku ngutangin ke kamu apa? Ada-ada aja.” Jawab Zul sedikit kesal.


Karina hanya diam. Sementara Zul kembali fokus menyetir.


****


Jam dinding menunjukkan pukul 19.30 wib.


Zul mengajak Karina shalat isya berjama’ah. Begitu terasa syahdu saat lisannya melafalkan ayat-ayat suci Illahi didalamnya. Ia melafalkannya dengan penuh penghayatan, hingga tak terasa buliran air bening menggenang dipelupuk matanya. Setelah selesai shalat, ia membalikkan posisi duduknya kebelakang menghadap istrinya yang masih rapi memakai mukena.


Karina meminta tangan Zul untuk bersalaman. Maasyaa Allah... Hatinya terasa damai melihatnya. Segera ia pindahkan tangan Karina ke tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menyentuh ubun-ubun istrinya itu lalu membacakan do’a untuknya.


اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ خَيرَهَا وَخَيْرَمَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ


“Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan sifat yang Kau ciptakan untuk nya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istriku dan keburukan sifat yang Kau ciptakan untuknya”


Ya, mungkin seharusnya do’a itu ia ucapkan saat dimalam pertama mereka. Namun baginya tak ada do’a yang terlambat.


Zul mengecup lembut kening wanita dihadapannya itu. Di hatinya ia terus berharap akan selalu seperti ini dan lebih baik lagi kedepannya.


Tok..tok..tok...!


“Non, Tuan, makan malamnya sudah siap. Ditunggu dibawah sama Tuan Rudi,”


Terdengar suara Bik Sari memanggil. Segera Zul lepaskan kecupannya. Ia menatap manik istrinya lekat.


“Sekarang kita makan malam dulu, setelah itu kita istirahat. Tadi udah capek kan muter-muter belanja baju?,” ucap Zul sambil menahan senyum.


Karina tertawa kecil. Ia merasa malu sendiri. Segera ia membuka mukena dan merapihkannya. Mereka beranjak menemui Pak Rudi yang sudah menunggunya di meja makan.


Bik Sari dan Pak Amir pun selalu ikut makan bersama dimeja. Ya, keluarga itu tak pernah membeda-bedakan strata sosial di keluarganya. Semua ART dirangkul dan diperlakukan sama layaknya keluarga mereka.


“Oya, mengenai permintaan Karina untuk memilih tinggal di apartement, kayaknya papih masih keberatan untuk menyetujuinya,” ucap Pak Rudi sambil melap mulutnya dengan sapu tangan.


Zul mengernyitkan alis seraya menoleh ke arah Karina. Ia tak tahu kalau istrinya itu telah bicara mengenai hal itu dengan ayahnya. Karina masih diam menyantap makanannya dipiring.


“Meskipun niat kamu baik, ingin mandiri, tapi bagaimana nanti sama rumah ini? Sepi. Kalau papi lagi ada tugas keluar, nanti siapa yang nemenin Bik Sari dan Pak Amir disini?,” tanya Pak Rudi.


“Iya non, kalau Non Karina sama Tuan Zul pergi, nanti siapa yang nemenin Bibi disini? Kemarin aja selama dua bulan ditinggal, Bik Sari kesepian. Gak paruguh,” timpal wanita paruh baya itu.


“Lagian, kalau papi udah gak ada juga ini rumah jatuhnya ke tangan kamu. Bukan ke siapa-siapa.” Ucap Pak Rudi. Ia sebenarnya sedih jika harus tinggal berjauhan dengan anak semata wayangnya itu.


Karina menghela nafas. Ia menyimpan sendok dan garpu nya diatas piring.


“Iya Pih, nanti Karina bicarain lagi sama Zul,” jawabnya.


Setelah makan malam selesai. Zul mengajak Karina ke kamar, ia sudah tak tahan ingin menanyakan perihal pembicaraan mereka tadi di meja makan.


“Apa benar kamu ingin pindah dari sini?,” tanya Zul setelah mereka sudah sampai di dalam kamar tidurnya.


Karina duduk di tepi ranjang. Sementara Zul duduk di kursi meja rias yang letaknya berhadapan dengan ranjang mereka.


“Ya, aku mau tinggal di apartemen aja,”


“Kamu atau kita?,” tanya Zul lagi.


Ia masih menyangsikan sikap Karina. Sebab ia tahu percis wanita itu selalu ingin menghindarinya. Jadi kalau tempatnya jauh dari ayahnya, Karina pasti akan bebas menghindar darinya kapan saja.


“Kalau kamu mau ikut ya silahkan,” ucap Karina enteng.


Zul menarik kursinya mendekat ke arah Karina. Hingga lutut keduanya bersentuhan. Ia sedikit membungkukan posisi duduknya. Matanya menatap manik Karina yang terlihat sedikit menunduk. Lalu menggenggam kedua tangannya.


“Karina Safira,,, kamu adalah sosok wanita yang telah Allah pilihkan untukku. Dia yang menitipkanmu padaku, dan menyuruhku untuk selalu menjagamu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk melakukan kewajibanku sebagaimana yang Tuhan kita perintahkan,”


Ia menggenggam tangannya lebih erat. Lalu menghela nafas perlahan.

__ADS_1


“Jika kita harus berpisah tempat, itu sama saja dengan menjauhkanku untuk bisa melaksanakan kewajibanku dengan baik. Karina sayang, dengan rendah hati, dan serendah-rendahnya, aku ingin meminta hak ku sebagai suamimu. Insya Allah aku akan melaksanakan kewajibanku padamu dengan cara yang ma’ruf. Dan jika hatimu berkenan, maukah kita sama-sama kembali menata hati masing-masing agar hubungan pernikahan ini selalu dalam Ridho-Nya?,”


Ucap Zul lembut. Ia masih menatap manik indah itu lekat-lekat. Ucapannya yang terlontar murni keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Karina tampak berkaca-kaca. Ia merasakan ada getaran dihatinya saat mendengar ucapan Zul.


__ADS_2