
(Pov Zul.)
Malam pengantin ini terasa begitu sunyi. Hampa. Setiap dentingan jarum jam kulewati dengan perasaan yang tak bisa terdeskripsikan. Aku sendiri rasanya sulit untuk tidur. Meski sudah berusaha agar mata ini segera pergi berlelap, namun lagi-lagi ia menentang untuk membuka katupnya. Entah dengan perasaan wanita yang kini sedang tidur membelakangiku. Malam ini benar-benar terusik oleh berjuta pertanyaan yang menggelayut di fikiran. Sampai aku sendiri tak tau kapan akhirnya bisa terlelap tidur.
Pagi itu, selesai sarapan Pak Rudi mengajak aku dan Bu Karina duduk-duduk di teras Hotel sambil menikmati secangkir teh hangat.
Ya, kami menggelar pernikahan di sebuah hotel sederhana yang jauh dari keramaian kota. Aku sendiri hanya manut saja dengan rencana pernikahan ini. Mau digelar dimana lah, mau seperti apalah nanti acaranya, sungguh aku tak peduli. Yang saat ini aku pedulikan hanyalah Hilya. Entah bagaimana perasaannya nanti jika dia tau tentang pernikahanku yang sungguh diluar dugaan.
"Papih senang melihat kalian akhirnya bisa bersatu" Kata Pak Rudi sambil menyeruput teh hangatnya yg masih mengepulkan asap tipis. Terlempar senyum manis dari bibirnya. Kumis tebal yang tercukur rapi membuat wibawa sebagai seorang bapaknya kian kentara.
Aku dan Bu Karina duduk bersebelahan, meski kursi kami terpisah. Mendengar mertuaku bicara seperti itu, aku tersenyum meski sedikit dipaksakan, tak ingin banyak berkomentar. Terlebih wanita yg ada disebelahku ini, ia hanya diam sambil sesekali menyeruput teh nya.
"Ini, ada sedikit hadiah dari papih. Semoga kalian bisa bersenang-senang" Ia mengulurkan dua buah kertas kecil persegi panjang. Disana tertera tulisan 'Menginap Free Tour di Bali". Ternyata itu sebuah voucher liburan untuk kami berbulan madu. Aku menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
"Tiga hari lagi papih akan berkunjung ke Turki, makanya kenapa papih ingin agar pernikahan kalian segera digelar, ya ini, papih akan meninggalkan anak cantik papih lebih lama dari kemarin." Matanya melirik bu Karina yang masih terdiam seperti tadi.
"Setidaknya papih tidak merasa khawatir lagi, karena sekarang kamu sudah punya suami" Tutupnya.
"Berapa lama papih disana?" Tanya putrinya itu.
"Sekitar dua bulan, bisa jadi lebih" Jawabnya
Ya, mertuaku memang orang sibuk. Tugasnya mengunjungi klien-klien nya yang berada di luar negri. Aku tak bisa membayangkan betapa kesepiannya istriku ini. Ia hanya tinggal bersama seorang asisten rumah tangga selama ditinggal pergi ayahnya. Tentu aku tau semua itu dari Pak Rudi.
"Papih harus pulang, siang ini ada rapat evaluasi kerja di kantor" Katanya sambil melihat arloji silver di lengan kirinya.
"Papa do'akan, semoga kalian bahagia selalu" Ia tersenyum dan beranjak dari kursi lalu mencium kepala putri semata wayangnya itu dengan lembut.
"Zul, tolong jaga istrimu baik-baik ya" Ucapnya seraya berpamitan.
Mendengar kalimat itu seakan-akan ada tugas berat yang harus ku emban. Ia menuju ke parkiran hotel dan menaiki mobil sedan hitamnya. Melaju perlahan seraya membunyikan klakson, kamipun melambaikan tangan.
****
Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Kami larut dalam fikiran masing-masing. Sampai akhirnya ia pun membuka percakapan.
"Kamu masih ingat kan kata-kata saya semalam?"
Aku menoleh. Kuingat-ingat kembali kata-katanya semalam sebelum akhirnya terlelap tidur.
"Ya" Jawabku singkat.
"Aku ingin kamu bisa melakukannya" Pandangannya kini lurus ke depan.
"Tapi maaf sebelumnya jika saya lancang bertanya, apa yang menjadi pertimbangan Bu Karina hingga menyatakan hal seperti itu? Jujur, sampai saat ini saya masih belum mengerti." Ungkapku dengan nada yang sebiasa mungkin.
"Kamu gak perlu tau"
Aku mengernyitkan alis.
"Saya cuma ingin menenangkan hati saya. Saat ini saya ingin sendiri dulu. Semoga kamu bisa mengerti" Ia menoleh dan menatapku penuh harap.
__ADS_1
"Apa ada yang salah dengan pernikahan ini?" Tanyaku lagi.
Sebenarnya aku sendiri sudah menerka jawabannya, karena sedari awal perjodohan itu dilakukan, terlihat jelas bahwa Bu karina sungguh sangat tidak menginginkannya.
"Enggak, gak ada yang salah. Mungkin cuma hati saya aja yang belum bisa menerimanya. Maaf, jika kamu keberatan, tapi sekali lagi saya mohon pengertiannya"
Untuk yang kedua kalinya ia memasang tatapan penuh harap.
"Sampai kapan?"
Ia menghela nafas. Lalu menggeleng pelan.
"Entahlah. Butuh waktu untuk itu"
"Sekarang, aku akan mengantarkanmu pulang. Aku akan tinggal di apartemen sementara waktu ini." Lanjutnya.
Kupalingkan pandangan ke depan, terlihat sebuah taman di sebrang hotel sana. Tanaman yang tumbuh rapi dengan warna bervariasi begitu indah bagi setiap mata yang memandang. Ditengah-tengahnya terdapat air mancur berukuran kecil yang dikelilingi bunga-bunga cantik serasa memanjakan mata. Ah, Andaikan saja wanita itu mau menganggapku seperti suami pada umumnya, akan ku ajak ia berkeliling disana. Namun rasanya untuk saat ini, itu tidak akan dulu terjadi. Aku harus menunggunya sampai ia benar-benar siap menerima ketentuan yang sudah tertulis di 'catatan' sang Illahi.
Aku bukanlah tipe laki-laki pemaksa. Dan aku berencana untuk mengikuti ke arah mana perjalanan rumah tanggaku ini ia bawa. Sejujurnya diri ini tau, mungkin ini adalah sebuah dosa. Namun harus kukatakan, memang butuh perjuangan jika menikah tanpa didasari cinta. Kami sama-sama memiliki kisah asmara yang tak bersambut dipelaminan. Rasanya bagai dihujam beribu-ribu batu, saat harus melepaskan cinta yang telah lama dijaga kesuciannya. Ikhlas. Ya, hanya inilah yang kini sedang aku usahakan. Semoga iapun sama, berusaha untuk mengikhlaskan yang sudah menjadi ketetapan-Nya.
Selama diperjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Sebenarnya ada rasa kecewa yang terselip didada melihat sikapnya seperti ini. Setibanya di gang kosanku, aku tidak segera turun dari mobil.
"Ada apa?" Tanyanya setelah menepi.
"Nanti gimana dengan Pak Rudi kalau tau tentang hal ini?" Jujur saja, itu yang sedari tadi aku khawatirkan.
Laki-laki yang kini menjadi mertuaku itu telah menitipkannya padaku. Dan itu menjadi sebuah amanah.
"Itu urusan saya, gak perlu khawatir" Ucapnya tenang.
*****
Kurebahkan badan yang terasa pegal di matras yang empuk. Tak terasa ternyata sudah empat tahun ini ia menemani lelap tidurku. Kulipat tangan dibawah kepala, pandanganku kini menatap langit-langit kamar. Merasakan nasibku yang sungguh tak kuduga sebelumnya, menikah namun tak tinggal bersama. Huft,,, aku berusaha tenang untuk menjalaninya. Mungkin sudah bagian dari guratan takdir juga. Kulihat cincin pernikahan yg masih melingkar indah di jari tengah tangan kananku. Rasanya seperti mimpi. Entah itu mimpi indah atau buruk aku tidak tahu lagi.
Derrrrtttt...! Derrrrttt....!
Segera kuraih gawai yang tersimpan dimeja. Ada panggilan masuk yang tak terjawab. Ah, Hilya ! Lantas ku telpon balik .
"Assalamu'alaikum neng? Ada apa?" Tanyaku setelah tersambung.
"Wa'alaikumsalam... Enggak cuma mau nanya aja ari aa kosannya di sebelah mana ya? "
"Oh... Di Gang Anyelir neng yang depannya ada Toko Kelontong, tanya aja orang situ pasti taueun" Jelasku.
"Oh. Oke-oke. Tapi neng kesitunya sama temen ya.. Ga apa-apa?"
"Iya gak apa-apa"
"Kapan kesininya?" Tanyaku
"Sebentar lagi, ini lagi dijalan" Jawabnya.
__ADS_1
Setelah menutup saluran telepon segera ku bersiap-siap untuk menyambutnya. Kurapikan barang-barang yang tersimpan tak beraturan disetiap ruangan. Tak lupa juga ku lepas cincin pernikahan yang tersemat dijari.
Terdengar deru mesin motor di depan kostan, sepertinya dia sudah datang. Segera kuhampiri ke depan teras, disana ia tidak sendiri namun berdua bersama teman wanitanya.
Mereka mengucapkan salam, lalu aku menyuruhnya masuk.
"Maaf ya tempatnya sempit," Kataku sambil mempersilahkan kedua tamuku untuk duduk di karpet yang telah disediakan.
"Gapapa. Oya A kita ganggu gak nih, takutnya lagi istirahat? " Tanyanya.
"Enggak kok gak ganggu. Tumben, ada apa?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Gak ada apa-apa sih A, cuman kebetulan lewat sini aja, neng jadi inget waktu itu A Aden pernah pulang ke arah sini juga kan? Cuman gak tau aja rumahnya disebelah mana " Jawabnya sambil tertawa pelan.
"Oh gitu... Eh iya, sebentar ya ngambil minum dulu" Segera kuberanjak mengambil air digalon. Lalu menuangkannya ke dalam gelas.
"Sok mangga diminum (ayo silahkan diminum )" Aku mempersilahkan.
"Gak usah repot-repot atuh A , kaya ke siapa aja" Ucapnya merasa tak enak.
"Masa iya ada tamu special gak disuguhin" Tukasku.
Kedua gadis itupun tertawa. Sejurus kemudian Hilya memperkenalkan teman kuliah nya yang dari tadi duduk disampingnya. Kami pun terlibat obrolan seru. Hingga tak terasa adzan zhuhur berkumandang. Mereka izin menunaikan sholat di Masjid yang tak jauh dari tempat tinggal ku seraya berpamitan pulang.
Perjumpaan dengannya hari ini telah berhasil mengobati rasa rindu yang sempat mendera. Selama aku merasakan kegalauan beberapa hari yang lalu, sama sekali aku tak pernah menghubunginya. karena jika setiap aku mengingatnya duka lara itu hinggap kembali ke relung jiwa. Sungguh seumur hidup baru kali ini aku merasakan perasaan yang sangat tak nyaman seperti ini.
Namun barusan tatkala aku melihatnya kembali, rasa bahagia sekaligus rasa bersalah itu muncul bersamaan. Mendadak perih jika harus mengingat takdir ini. Tak mudah melepas cinta yang telah bersemi kembali lalu harus dilepaskan dengan begitu saja. Aku bingung harus memulai dari mana untuk berkata jujur tentang hal ini, aku ingin agar perasaannya padaku tak menjalar lebih dalam lagi. Namun aku tak boleh gegabah, harus mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Hilya, maafkan aku.
****
Hari senin pun tiba, jadwal Bu Karina berada di jam ke dua. Aku masih diam terduduk sambil membaca buku tentang 'Hukum Perkawinan Islam di Indonesia' karangan Prof.DR. Amir Syarifuddin yang aku pinjam di Perpustakaan Daerah beberapa waktu lalu. Tampak Bu Karina masuk kelas sambil tersenyum manis.
Seketika para mahasiswa segera kembali duduk di kursinya.
"Pagi semua..." Sapanya ramah.
"Pagi bu..." Jawab kami serempak.
Hari ini ia mengenakan blouse lengan panjang berwarna peach dipadukan dengan celana hitam panjang. Sepatu pantofel yang menghiasi kakinya membuat penampilannya terlihat begitu formal. Tak lupa Kacamata persegi dan rambutnya yang kecoklatan di gulung rapi kebelakang, itu sudah menjadi ciri khas nya saat mengajar.
"Bu Karina... Hari ini anda terlihat sangat wah..." Celetuk Si Kribo. Wajahnya terlihat terpesona kala dosen cantik favoritnya itu masuk keruangan.
Wanita itu hanya melirik sekejap.
"Gak usah caper lu Bo!" Teriak salah satu mahasiswa dipaling belakang.
"Terserah gue dong, selama janur kuning belum melengkung, sah-sah saja. Ya kan bu?" Ia mengangkat-ngangkatkan sebelah alisnya.
Bu Karina tampak kaget, ia melirik ke arahku. Sesaat netra kami bertemu, segera kupalingkan wajah ke arah jendela. Ada rasa tak enak sebenarnya, namun juga ingin tertawa, ya lucu saja mendengar teman-temanku yang selalu menggodanya. Usianya yang tak berbeda jauh dari kami, membuat sebagian mahasiswa di kelas berani menggodanya. Bisa dikatakan 80 persen dikelas ini semuanya laki-laki. Jadi pasti akan selalu ramai jika ada dosen cantik yang mengajar di kelas.
"Sudah-sudah, kita langsung mulai ke materi pertama"
__ADS_1
Selama pelajaran berlangsung, ia jarang sekali melihat ke arahku. Entah ia merasa canggung atau bagaimana. Dan akupun bersikap sebiasa mungkin layaknya murid yang lain. Karena itu sendiri yang ia inginkan saat ini. 'TIDAK BOLEH ADA YANG TAU STATUS KITA SEKARANG' . Ok. Fix.
***