Pengantin Rahasia

Pengantin Rahasia
Kehadiran David


__ADS_3

Ting...nung....!


Suara bel berbunyi, segera Bik Sari membukakan pintu. Tampak Zul berdiri diluar sambil tersenyum ke arah wanita paruh baya itu, wajahnya terlihat sedikit kelelahan.


“Masuk Tuan,”


“Makasih Bik,”


Segera ia beranjak masuk dan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Karina tersentak kaget saat pintu dibuka tanpa ada ketukan dulu. Ia terlihat tengah mengganti pakaiannya disana.


“Aaahhhh!!!,”


Bug!


Ia melempar bantal ke arah Zul. Namun meleset, karena Zul dengan cepat menutup pintunya kembali.


“Kalau masuk ketuk pintu dulu napa? Main nyelonong aja!,” teriak Karina dari dalam.


“Salah siapa pintunya gak dikunci,” sahut Zul.


“Kenapa Tuan?,” tanya Bik Sari dari lantai bawah. Ia kaget karena mendengar teriakan Karina.


“Gak ada apa-apa Bik,” sahut Zul dengan suara agak tinggi.


“Udah belum? Cepetan ya! Aku hitung sampai tiga nih, .. Satu...


Dua......


Tiga....”


Zul membuka pintunya perlahan. Karina sudah selesai, ia tengah duduk di sofa panjang sambil memainkan gawainya. Zul melangkah masuk, ia menyimpan ranselnya di sofa dekat Karina.


“Gitu amet kagetnya.”


Wanita itu hanya mendelik.


“Darimana aja jam segini baru pulang?,” tanyanya sinis.


Zul melihat arloji hitam yang melingkar dilengan kirinya. Pukul 22.10.


“Habis dari kostan, beres-beres dulu disana. Lumayan dua hari ditinggal debunya tebel banget,” jawab Zul seraya duduk di tepi ranjang.


“Oh...dikira langsung main kerumah temen ceweknya itu, ampe lupa pulang.”


Ia melirik ke arah Karina, memperhatikan seksama raut wajahnya. Antara cuek dan cemburu. Ya, tidak berbeda jauh.


“Kenapa emangnya kalau langsung main kerumahnya?,” tanya Zul bergurau.


“Gak apa-apa, Cuma nanya,” jawabnya ketus.


Zul tertawa kecil. Cewek mah kalau ditanya gitu, jawabnya gak apa-apa, gak apa-apa. Tapi mukanya cemberut kayak burung perkutut.


“Kamu itu lucu ya, sebentar-sebentar senyum, sebentar-sebentar marah, bisa cepet gitu ya ganti mood nya, kaya bayi,” Ujar Zul seraya membuka baju kemejanya dan beranjak tidur bertelungkup di ranjang. Kini ia hanya memakai kaos dalam saja. Hari ini terasa sangat melelahkan baginya. Setelah mengantar Hilya ke Toko buku, lalu pergi kostan untuk beres-beres. Zul bersiul ke arah Karina. Karina pun menoleh.


“Pijitin,” ucapnya sambil menepuk bahunya pelan.


“Disekolah kamu boleh nyuruh-nyuruh aku, tapi kalau dirumah aku yang nyuruh-nyuruh kamu ya,” lanjutnya seraya tersenyum.


Karina menghampirinya dengan langkah malas. Kemudian perlahan memijit bahu putih Zul, terasa padat. Ya, terlihat jelas otot lengannya yang atletis.


“Kamu gak pernah bantu Bik Sari beres-beres rumah ya?,” tanya Zul dengan suara yang sedikit lemas.


“Emangnya kenapa?,”


“Tangannya lembut banget,”


Seketika Karina menahan tawa. Beberapa menit kemudian terdengar suara dengkuran halus. Ternyata Zul sudah terlelap. Segera ia hentikan aktifitasnya dan kembali menuju sofa. Tak lama ada panggilan telfon masuk, Karina melihat nama yang terpampang di layar handphone.


“David? Ada apa dia nelfon malam-malam gini,” lirihnya pelan. Ya, ia masih menyimpan nomor laki-laki itu. Namun dengan nama samaran.


Karina melirik ke arah Zul yang tengah tertidur pulas. Matanya menoleh lagi pada gawai ditangannya. Masih memanggil. Ia bingung harus mengangkatnya apa jangan. Akhirnya, ia memilih untuk me-reject panggilannya saja. Dan segera menekan tombol daya mati. Lalu bergegas pergi tidur disamping Zul.


*****


Esok paginya..


“Sebelum ke kampus kita ke bengkel dulu ya, ngambil mobil,” ajak Zul pada Karina.


“Alhamdulillah. Syukurlah kalau udah beres. Soalnya aku udah males banget ngeladenin pertanyaan anak-anak yang nanya terus kesininya pake apa?,” kata Karina yang masih sibuk merias diri didepan cermin.


“Resiko jadi dosen favorit ya gitu, banyak dikepoin murid-muridnya,” tukas Zul yang tengah membuka-buka catatan materi kuliahnya.


“Kalau kamu sendiri sering ngepoin aku gak sih? Kelihatannya cuek banget?,” ucap Karina polos.


“Mau aku kepoin nih?,”


“Gak juga. Nanya aja,”


Zul tersenyum. Lalu mendekati Karina dan berdiri di belakangnya. Mereka hanya saling melihat dari pantulan cermin di meja rias.


“Aku gak tertarik ngepoin cewek. Apalagi yang keliatannya gak tertarik buat dikepoin. Bagiku gak ada kerjaan aja sampai membuat orang lain terusik. Aku cuman mau ngepoin seseorang yang hatinya bener-bener terbuka buat aku, hingga tak ada rasa keberatan dihatinya untuk aku deketin,”


Ungkap Zul.


Entah mengapa difikirannya langsung terbayang sosok Hilya. Ya, sosok yang benar-benar menanti untuk didekati olehnya. Dan Zul pun dulu sebenarnya berencana untuk itu. Namun apa daya, takdir Tuhan yang sudah membuat harapannya tak kunjung terjadi. Bahkan mungkin tak akan pernah terjadi.


Karina menatap mata Zul yang terlihat semu. Ia membaca ekspresi wajah suaminya itu. Dan ia merasakan seperti ada sesuatu hal yang tengah mengganjal dihati pria yang kini tengah berdiri dibelakangnya. Rasa penasaran Karina tetiba muncul. Apakah Zul pernah ada hubungan dengan seseorang yang belum tuntas selama ini? Layaknya hubungannya dengan David?


Perlahan ia menghela nafas. Lalu melanjutkan kembali aktifitasnya.


****

__ADS_1


Diperjalanan menuju kampus, Zul membelokkan dulu motornya ke tempat bengkel yang menangani mobil Karina beberapa hari yang lalu. Kemudian disana ia menghampiri seorang montir pria berbadan gemuk dan mereka berbincang sebentar. Tak lama, ia kembali lagi ke tempat Karina yang tengah berdiri menunggu disamping motornya.


“Kayaknya harus nunggu sekitar lima belas menitan lagi,” Ucap Zul seraya melirik ke arlojinya. “Aku barusan udah ijin ke Pak Ali bakal datang terlambat,” lanjutnya lagi.


“Aduh gimana ya, aku jam pertama ada kelas di semester tiga C,” ucap Karina tampak kebingungan.


“Ya udah gini aja, kamu kesananya pake dulu motor, biar aku yang bawa mobilnya nanti,” saran Zul.


“Gak ah bareng kamu aja,”


“Lah nanti keburu telat masuknya,”


“Aku gak bisa bawa motor, Zul,” sahut Karina.


Zul tercengang, kemudian ia tertawa.


“Haha...masa iya bisa mobil gak bisa motor,”


Karina mendelik kesal mendengar Zul yang menertawakannya.


“Dulu aku pernah jatuh pas bawa motor, jadinya takut aja gitu kalau mau make nya lagi,” tukas Karina.


“Kamu ini traumaan ya orangnya. Ya udah sekarang aku anterin dulu ke kampus, yuk.”


Segera ia melajukan motornya menuju kampus.


Tak terasa Pelajaran ketiga akan dimulai, kini giliran mata kuliah Karina. Namun ia malah memanggil Zul untuk menghadap keruangannya.


“Iya, ada apa?,” tanya Zul setelah sampai.


“Begini, Sekarang aku gakan masuk dulu, ada rapat dadakan barusan. Tolong kasih tugas materi Bab sepuluh ya. Suruh dikerjakan di kertas polio aja. Hasilnya nanti kumpulkan dimeja saya.,” suruh Karina seraya menyodorkan Buku tebal pada Zul.


Ia memperhatikan sekilas materi yang diberikan Karina. Kemudian ia mengangguk.


“Baik, istriku sayang,” ucapnya sambil beranjak berdiri dari duduknya.


“Oya, mobilnya udah diambil kan?,” tanya Karina.


“Udah, nih,” jawab Zul seraya menyodorkan kunci mobil.


“Makasih ya,”


Zul hanya tersenyum. Kemudian beranjak keluar ruangan dan menuju kelas.


******


Dua jam berlalu, sembari menunggu jam pelajaran selanjutnya, ketiga pria bersahabat itu memilih mengobrol di taman kampus. Mereka tengah asyik membicarakan tentang liga persepak-bolaan yang diidolakan masing-masing. Namun ditengah obrolannya, tak sengaja mata Zul menangkap sosok pria yang tengah berjalan masuk ke gedung kampus. Zul tak asing lagi dengan sosok itu. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasakan panas yang menjalar. Ia yakin pria itu pasti akan menemui istrinya lagi.


Ia tak bisa lama-lama berdiam diri, langsung saja beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi ke ruangan Karina.


“Mau kemana?,” tanya Agung


“Ke dalem bentar,” jawab Zul lalu pergi meninggalkan keduanya.


Di tempat yang berbeda...


Tok...tok....!


“Masuk,” seru Karina


Ia terbelalak kaget saat mengetahui David yang datang. Pria itu menutup kembali pintunya rapat-rapat.


“Selamat pagi menjelang siang, sayang?,” Ucap David seraya menghampiri Karina yang tengah duduk.


“Ka-kamu? Ngapain kamu kesini?,” tanya Karina gelagapan.


“Aku Cuma ingin ketemu sama seseorang yang special. Oya, semalam kenapa telfonku gak diangkat-angkat?,” tanya David santai.


Karina berdiri menghampiri laki-laki itu.


“David, plis..jangan pernah temui aku lagi. Bukannya aku udah bilang sama kamu, kalau aku ini sudah jadi milik orang,” ucap Karina.


Pria itu membuka kacamata hitamnya. Ia menatap lekat netra Karina.


“Tak peduli sekarang kau milik siapa, aku hanya ingin kau menepati janjimu,”


“Janji? Hhh?...Terus dulu kamu kemana aja saat aku menghubungimu berkali-kali untuk bisa menolongku dari perjodohan ini? Saat semuanya sudah terjadi, sekarang kau tiba-tiba datang dan minta aku memenuhi janji? Kau gila!,” ucap Karina geram.


“Aku tau kamu, aku sudah jauh mengenalmu. Aku tau tipe laki-laki yang kau dambakan. Dan aku yakin, kau takan mudah melupakanku begitu saja, dan aku juga yakin kau tidak mencintai suamimu, ya kan?,”


Karina menunduk, ia menahan gemuruh didadanya. Ucapan David itu memang benar. Tapi kini ia sedang berusaha keras melupakan masa lalunya ini.


“Plis...hargai aku, hargai keputusanku. Diantara kita memang pernah ada kisah, namun aku harap kau mau mengikhlaskanku pergi,” matanya mulai berkaca-kaca.


“Jangan ganggu aku lagi David, biarkan aku hidup tenang bersama suamiku sekarang,”


“Sayang, aku gak ingin melihatmu menangis. Namun rasanya aku masih enggan untuk melepasmu.” Kukuh David.


“Kalau kau masih bersikap seperti itu, sama saja kau menyakitiku!,” Karina menatap tajam pria dihadapannya. “jangan membuatku tambah membencimu, David. Aku benci orang-orang egois. Aku benci orang-orang yang sudah menyakitiku!,” bentak Karina.


Ya, ia merasa akhir-akhir ini telah disakiti oleh tiga orang pria terdekatnya. Ayahnya, David dan Zul.


“Kalau begitu ayo tunjukkan mana suamimu itu? Seperti apa dia? Apa dia lebih hebat dariku? Lebih kaya? Lebih segalanya-kah?,” ucap David tegas.


Karina terdiam. Air matanya mulai menetes.


“ Sampai saat ini setiap ku minta kau untuk menunjukkan suamimu, kau hanya diam. Apa semua ini hanya manipulasi semata agar aku menjauhimu?,” lanjutnya.


Karina menghela nafas, ia berusaha menenangkan hatinya.


“Beri aku waktu, sampai aku siap mempertemukanmu dengannya,”

__ADS_1


David tersenyum kecut.


“Hhh... Bulshitt dengan ucapanmu!. Pokoknya, sebelum kau mempertemukanku dengan pria yang kau sebut suamimu itu, aku takkan pernah berhenti menemuimu,” ancamnya. Ia pun beranjak keluar meninggalkan Karina yang masih diam berdiri.


****


Diwaktu yang bersamaan. Zul berusaha menemui Karina keruangannya. Namun saat hampir sampai, ia memperlambat langkahnya. Tampak pintunya tertutup rapat. Ia berencana untuk menunggunya saja diluar. Ia tak mau emosinya tersulut nanti jika benar laki-laki itu sedang berada di dalam. Ya, dirinya tak mau ada keributan disini yang bersumber darinya.


Zul merapatkan punggungnya ke dinding ruangan Karina disamping, berharap dapat menguping pembicaraan seseorang didalam. Namun tak ada yang dapat ia dengar dengan jelas. Hanya sayup-sayup suara kecil yang tak ia mengerti artinya, entah itu suara teriakan, tertawa, atau apa. Selain memang banyak para mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang disekitarnya jadi menambah kerancuan indera pendengarannya. Ia mengambil buku diransel, pura-pura sedang membaca, meski telinganya tetap fokus pada suara seseorang didalam.


“Hai...Kak Zul...,” sapa beberapa mahasiswi yang ia ketahui sebagai adik kelasnya itu.


“Yaa...,” sahut Zul seraya tersenyum.


“Kak maaf nih kita ganggu waktunya, mau ada yang ditanyain,” ucap salah satu diantara ke lima gadis itu.


“Oh iya silahkan,” ucap Zul ramah.


‘Ah sial, kenapa mereka harus datang disaat aku sedang sibuk menguping pembicaraan penting ini’ batinnya menggerutu.


Gadis-gadis itu tampak asyik bertanya tentang beberapa ekskul yang diadakan di kampusnya ini. Karena yang mereka tahu Zul adalah salah satu aktifis tampan di kampusnya. Entah mungkin mereka hanya sekedar mencari perhatian saja ataukah benar-benar ingin tahu, Zul tak begitu memperdulikan niat mereka itu.


Tak lama, pintu ruangan Karina terbuka. Tampak David keluar dari sana. Zul menoleh ke arah David, begitupun pria berjambang dan berkacamata hitam itu, keduanya sempat beradu pandang. Namun David segera pergi ke arah yang berlawanan.


Ia masih memperhatikan pria yang berjalan menjauh darinya. Tatapannya tajam. Banyak pertanyaan yang menggelayut di fikirannya. Apa yang ia lakukan bersama istrinya itu didalam?


“Kak Zul?,” ucap gadis-gadis yang tengah berdiri mengerumuninya.


“Oh iya, gimana tadi? Aduh maaf saya kurang fokus. Hmm.... Gimana kalau nanti dilanjut lagi ya ngobrolnya, saya mau ada perlu dulu, mau keruangan dosen saya dulu sebentar ya. Permisi...,” pamitnya seraya berjalan ke arah ruangan Karina.


“Iiih....dari deket ganteng banget ya...,” ucap Salah satu gadis itu gemas.


“Iya, udah ganteng, aktif, ramah lagi. Mudah-mudahan masih jomblo,” sahut kawan disebelahnya dengan akspresi malu-malu. Mereka semua terdengar cekikikan.


Zul sempat menangkap pembicaraan mereka. Ia hanya menghela nafas seraya memutar bola matanya ke atas.


*****


Zul membuka pintu pelan, tampak Karina sedang duduk di meja kerjanya. Tangannya bersidekap di atas meja dan kepalanya menunduk diatas lengannya. Keliatannya ia sedang menangis.


Terdengar suara pintu ditutup. Karina kaget, lalu mengangkat kepalanya.


“Zul??,” segera ia mengusap air matanya pelan.


“Kenapa? Apa yang laki-laki itu perbuat sama kamu?,” tanya Zul penuh selidik.


Karina tercengang. Ia tahu kalau laki-laki yang dimaksud Zul itu pasti David.


Ia bingung bagaimana menjelaskannya.


“Ternyata cowok itu masih berani ya datengin istri orang,” ucap Zul seraya duduk di hadapan Karina.


“Zul, aku sudah memberi tahunya tentang statusku. Tapi dia gak mau tahu...,” ucapnya pelan.


“Apa perlu aku yang langsung memberitahunya?,”


“Jangan. Jangan dulu.,” cegah Karina.


“Kenapa? Apa ada yang salah? Kenapa sepertinya kamu takut sekali untuk membuka statusmu pada orang-orang? Apa karena disini aku hanya seorang mahasiswa dan kau adalah seorang dosen muda yang cerdas?,” ujar Zul. Ia mengungkap unek-uneknya selama ini.


“Bukan begitu, awalnya aku hanya berusaha menjaga perasaannya saja. Karena memang ia pun juga sering datang kesini. Tapi lama-lama aku merasa gak nyaman, akhirnya dengan terpaksa aku jujur sama dia,” ucap Karina.


Matanya terlihat merah sembab. Zul faham yang dirasakan Karina, sebab ia pun sedang merasakan hal yang sama saat ini. Ya, menjaga perasaan seseorang yang pernah dicintai.


“Zul mungkin kamu tidak akan mengerti, bagaimana rasanya ingin menjaga perasaan seseorang yang telah mengisi hati kita bertahun-tahun. Rasanya sulit dan itu butuh perjuangan,” air matanya kembali beranak sungai.


“Jangan bilang aku tidak mengerti, Karina. Aku mengerti dan sangat-sangat mengerti. Namun kita bukanlah anak-anak lagi disini. Cobalah berfikir dewasa. Mari sama-sama membuka hati dengan takdir yang sudah Allah garisi. Aku, kamu, dan si David itu, bukan anak kecil yang tak faham urusan hati. Namun setidaknya, tanggalkan ego masing-masing agar hidup terasa tenang.,”


“Darimana kamu tau dia bernama David?,” tanya Karina heran, sebab dia tak pernah bercerita soal mantan kekasihnya itu.


“Tak penting tau darimana. Yang lebih penting, pernikahan kita harus bahagia. Dan kebahagiaan itu tidak akan didapat dengan sebuah kebohongan,” Ucap Zul serius.


“Karina, jika kamu masih bingung untuk memilih. Maka menjaga perasaan pasangan yang halal itu lebih utama dari yang lain. Aku kecewa jika sikapmu masih tertutup seperti ini. Rasanya aku tak ada harganya dimatamu,”


Netranya menatap lekat wajah Karina. Ia menahan kekecewaan yang sudah beranak pinak di hatinya. Rasanya ingin sekali ia meluapkan emosinya dengan menonjok tembok disebelahnya ini. Namun, ah rasanya lebih baik memilih untuk pergi daripada harus ada fisik yang terluka. Segera ia beranjak dari kursinya menuju keluar.


“Zul...,” panggil Karina.


Mendengar itu ia menghentikan langkahnya. Karina berhambur memeluk Zul dari belakang. Zul sedikit kaget dengan sikap Karina yang tak seperti biasanya.


“Maafin aku... Plis...jangan marah. Rasanya aku gak sanggup terus menerus dimarahin orang. Hatiku lemah Zul, aku rapuh...” Karina menangis tersedu dipunggung Zul. Ia merasakan bajunya basah terkena lelehan air mata istrinya itu.


“Aku sudah berusaha membuka hatiku untukmu. Aku sudah janji. Dan tolong beri aku waktu, agar benar-benar bisa mencintaimu seutuhnya.,” Ia masih terdengar terisak.


Kemudian Zul membalikkan badannya, lalu perlahan mengangkat pipi Karina dengan kedua telapak tangannya. Ia menatap manik yang sudah terlihat sepa itu.


“Tak ada alasan untukku memarahimu. Terima kasih telah berusaha membuka hatimu untukku,” ucap Zul seraya tersenyum. Dan terlihat pula senyuman kecil yang tersungging di bibir Karina.


Zul mengecup bibir wanita itu lembut. Ya, baru pertama kalinya ia melakukan hal itu. Tak lama ia pun beranjak keluar ruangan.


Tampak kedua sahabatnya beranjak mendekati Zul.


“Bro... Kita nyariin elu, rupanya ada disini!,” seru Agung.


“Iya, kata ciwi-ciwi lu ada diruangannya Bu Karina. Ada apa emang? Lu dimarahin ya?,” tanya Egi kepo.


Zul menoleh ke arah laki-laki yang berdiri disampingnya itu.


“Ya, Gara-gara lu telat ngumpulin tugas tadi, jadinya gue yang kena sebrot,” sahut Zul malas. Kemudian ia meneruskan lagi langkahnya.


Egi melongo, matanya masih menatap Zul yang perlahan menjauhinya.

__ADS_1


“Ah serius loh bro! Masa iya Cuman telat dikit aja ampe kena sebrot?! Woy tungguin dong.. Zul, maafin guee..!” teriak Egi seraya berlari mengejar Zul dan Agung yang sudah berjalan duluan.


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2