Pengantin Rahasia

Pengantin Rahasia
Terkuaknya Tentang Karina


__ADS_3

Kini wajah mereka sudah tak berjarak, Karina merasakan nafas Zul yang memburu. Hampir saja tubuh atletis itu menindih tubuh rampingnya.


“Ah!,” Karina mendorong dada bidang Zul kuat-kuat. Hingga ia terjengkang duduk. Karina segera beranjak lari dan berdiri merapat ke dinding.


“Bu Karina! apa kamu tidak tahu, perbuatanmu itu sudah menyakiti suamimu, dan itu dosa!,” Suara Zul terdengar menekan.


Karina masih terdiam, nafasnya tersengah-sengah. Seperti habis lari marathon.


“Aku mohon Zul, jangan sekarang,” Pinta Karina, wajahnya terlihat memerah menahan gemuruh didadanya.


“Kenapa? Masih belum siap juga?,” tanya Zul dengan raut wajah yang kecewa.


“Beri aku waktu..,” ucapnya seraya menunduk.


Zul membuang nafas kasar. Mimpi apa ia hingga mendapatkan istri sekeras Karina.


“Apa belum cukup aku memberi waktu hingga saat ini?,”


“Kamu gak ngerti perasaanku Zul!,” bentak Karina. Ia menahan tangisnya yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja.


Zul beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri, ia menatap wanita didepannya itu dengan tajam.


“Bagaimana aku bisa mengerti, kalau kamu gak pernah terbuka sedikitpun padaku,” Zul menyinggung sikap Karina yang selama ini selalu tertutup padanya.


Karina terisak, bahunya terlihat terguncang.


“Kenapa? Apa kamu pernah trauma?,” selidik Zul pelan.


Karina masih menunduk, ingin sekali ia meluapkan unek-uneknya selama ini.


“Ayolah Karina...bicaralah.. Terimalah aku sebagai suamimu seutuhnya, jangan membuatku merasa tak berguna,” ungkap Zul sedikit emosi. Ia merasa kecewa dan sedih jika wanita itu masih bersikap acuh dan tak memperdulikannya.


Karina mengangkat wajahnya, ia mendongak, menatap manik Zul yang terlihat sangat sedih. Perlahan tangan kanannya memegang pipinya.


“Tamparan keras papih, masih terasa membekas dipipi ini, bentakannya seakan menghujam jiwaku yang kian melemah. Kau tau? Papih lakukan semua itu karena ia lebih memilihmu menjadi suamiku!,” ucap Karina lantang. Air matanya kini membanjiri pipinya yang mulus, bibirnya terlihat bergetar saat menumpahkan kekesalannya.


“Aku kenal papih, ia adalah seorang ayah yang lembut dan penyayang... Namun malam itu, ia bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya...”


Zul mendengarkan ucapan Karina dengan hati yang penuh pertanyaan. Ia tidak mengerti, namun dirinya siap mendengarkan hingga Karina selesai bicara.


“Aku sudah tak punya ibu Zul, kalaulah masih ada mungkin ia akan memelukku saat itu...huhu...,” tangisnya pecah. Ia mengingat kembali kejadian di malam sebelum pernikahannya berlangsung. Kejadian yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Kini kedua tangannya menutup wajahnya. Suara sesenggukannya terdengar bak hati yang sangat terluka dalam. Zul makin diam terpaku.


“Papih egois! ia tak pernah memberiku kesempatan untuk berbicara, hanya sekedar mendengar keinginanku pun ia enggan. Selama ini aku selalu mengikuti keinginannya, dan aku Cuma minta satu, jangan mencampuri urusan hatiku. Aku sudah punya pilihan, dan ia tak mau tahu itu!,”


Deg. Saat mendengar kalimat terakhir Karina, hatinya serasa tersengat listrik. Ya, serasa ada aliran menyakitkan yang menusuk ke relung jiwanya.


‘sudah punya pilihan? Apa yang dimaksudnya cowok brewok itu?’ Batinnya bertanya-tanya.


“Aku tak percaya Pak Rudi seperti itu...” lirih Zul.


“Ya, akupun tak percaya papih akan sekasar dan seegois itu, namun itulah yang terjadi. Dan itu semua karena adanya kamu! Setelah mengenalmu ia jadi berubah. Hati ini masih perih jika harus mengingat pernikahan ini, Zul. Bukan aku tak bisa menerima kenyataan, namun rasanya masih sulit. Masih perlu waktu. Maaf jika kamu merasa tertuduh, tapi memang itu yang aku rasakan....,”


Ia berusaha meredam tangisnya, lalu mengusap air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya.


“Jika kamu mau bersabar menunggu sampai hatiku pulih, silahkan. Namun jika sudah merasa lelah, tak apa, lepaskan aku....,” kini mereka saling tatap. Terlihat jelas kekecewaan di manik keduanya.


Setelah itu Karina pergi keluar kamar meninggalkan Zul yang masih diam membisu. Perlahan Zul menunduk, berusaha menguatkan hatinya yang tengah berkecamuk. Beberapa menit kemudian ia berjalan gontai ke arah tempat tidur, langkahnya terasa berat. Lalu duduk ditepi ranjang, tatapannya kosong, terlalu banyak fikiran yang menggelayut di benaknya. Ah! Ia hempaskan punggungnya ke ranjang empuk berwarna putih, terasa begitu halus, harusnya tempat ini menjadi saksi bisu mereka memadu cinta. Namun apa daya, malam ini ia harus berselimut kekecewaan. Kedua tangannya meremas rambutnya kasar. Ia menghela nafas berat yang terasa menyesakkan dada.


“Astagfirulllaaahhal’adziim..!!,”


Ya, hanya istigfar yang mampu terucap dibibirnya kala hatinya sedang dilanda gundah gulana. Ia berfikir, tak mungkin dirinya melepaskan Karina begitu saja. Sedikitnya ia tahu tentang ilmu rumah tangga, problematika pasti selalu ada disetiap perjalanan bahtera pernikahan, dan itu pasti ada jalan keluarnya. Ia tak ingin pernikahannya hanya seumur jagung, ia memilih untuk bersabar menunggu istrinya hingga benar-benar ikhlas menerimanya. Malam ini, ia putuskan untuk bermunajat pada Illahi, meminta pertolongan dan petunjuk akan permasalahan yang tengah ia hadapi.


*****

__ADS_1


Esok paginya, keluarga itu tengah bersiap menyantap sarapan. Pak Rudi, Karina dan Zul telah duduk bersama dimeja makan. Bik Sari tampak keluar-masuk dapur mempersiapkan beberapa macam hidangan untuk disajikan.


Karina menyiukkan nasi ke piring yang tersimpan di depan Zul. Ya, ia melayaninya layaknya tugas istri kepada suami. Zul hanya diam tak bergeming. Berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia tahu, Karina bersikap manis seperti itu hanya didepan ayahnya saja.


“Oya Zul, nanti siang Pak Amir mau antar bapak ke Ciremai. Ada acara di kediaman kolega bapak. Jadi dia gak bisa antar Karina ke Panti, nanti biar kamu aja ya yang antar?,”


“Mobil Karina lagi dibengkel Pih,” timpal wanita yang kini duduk manis disamping Zul.


“Di bengkel?,”


“Iya, turun mesin. Oya, kapan bisa diambilnya, Zul?,” tanyanya seraya menoleh ke arah Zul yang tengah menyantap sarapannya.


“Kemungkinan lusa,” jawab Zul tanpa menoleh.


Pak Rudi mengangguk. Sambil sedikit berfikir.


“Ya sudah, nanti biar Pak Amir pulang lagi aja setelah mengantar bapak. Tapi tetap kamu yang antar istrimu ya,” suruh Pak Rudi.


Zul mengangguk. Meski dalam hatinya ia bertanya-tanya ada apa Karina harus ke panti?


Setelah selesai sarapan, ia beranjak keluar rumah untuk menggerak-gerakkan sedikit tubuhnya. Di hari libur begini ia tetiba ingat kepada kedua sahabatnya yang selalu mengajaknya pergi nge-gym. Dan hari ini ia hanya memilih berlari-lari kecil mengelilingi beberapa blok di Perumahan itu.


Tak terasa sudah setengah jam ia berolahraga. segera ia kembali pulang kerumah. Dari jauh ia melihat mobil alphard putih memasuki gerbang rumah Pak Rudi. Ia mempercepat langkahnya. Disana, terlihat Pak Amir tengah menurun-nurunkan beberapa dus dan kresek-kresek besar dari dalam mobilnya.


‘Keliatannya habis belanja’


Zul menghampiri dan menawarkan bantuan. Ia membawa barang-barang itu kedalam rumah dan membawanya ke dapur.


“Ini semua buat apa Bik?,” tanya Zul saat melihat Bik Sari membongkar isi kresek beserta dus-dus berukuran sedang itu. Ia melihat banyak beberapa aneka bahan makanan didalamnya.


“Ini buat dibagi-bagi ke anak yatim Tuan,” tangannya masih bergerak mengeluarkan benda-benda dan menyusunnya rapi. “Pak Rudi sudah menjadi donatur tetap di Panti Asuhan dan anak yatim Al-Ikhlas,” Lanjutnya.


“Oh...,” Zul mengangguk. Ia pun turun tangan membantu Bik Sari yang tengah sibuk menata beberapa makanan siap saji itu dan dijadikan ke dalam beberapa bingkisan.


“Banget Tuan. Udah hampir dua puluh tahun bibi mah kerja disininya juga,”


“Dua puluh tahun?,” tanya Zul sedikit tak percaya.


Bik Sari mengangguk.


“Betah ya Bik?,” ujar Zul setengah bergurau.


“Alhamdulillah, Tuan” Sahutnya sambil tersenyum


“Berarti kalau gitu, Bik Sari udah kenal banget dong sama keluarga Pak Rudi?,” tanyanya lagi.


“Iya lah Tuan. Malah bik Sari udah nganggap keluarga Pak Rudi sebagai keluarga bibi juga,” imbuhnya.


Zul mengangguk.


“Kalau gitu, bik Sari tau juga dong sama karakter keluarga disini seperti apa?,” selidik Zul. Ia memelankan volume suaranya. Takut-takut ada yang mendengar.


Bik Sari mengangguk. Tangannya masih sibuk memasukkan beberapa buah mie instan, gula pasir, susu kotak, ikan kemasan dan kue kering ke dalam kantong kresek.


“Boleh ceritain dong ke saya? Ya, biar saya lebih mengenal mereka juga,” bujuk Zul sambil tersenyum.


“Boleh dong Tuan. Yaa... Yang Bik Sari tau mereka orangnya baik-baik, ramah dan pekerja keras. Ini salah satu buktinya, Pak Rudi jadi donatur tetap di sebuah yayasan untuk anak yatim. Terus dia juga pernah nguliahin anak bungsu bibik sampe lulus kuliah. Alhamdulillah... Makanya rizkinya juga jadi nambah terus. Begitu juga Non Karina orangnya baik dan penyayang,” Ungkap Bik Sari.


“Oh gitu, tapi kok non Karina keliatannya suka jutek gitu ya, dingin, sering marah-marah....,” Zul mendadak curhat.


“Ah masa dia gitu ke Tuan? Yang bik Sari tahu, dia kaya gitu cuma ke orang yang bikin dia kesel aja. Aslinya baik kok. Tapi ketang dulu juga Bik Sari pernah sih kena protes beberapa mahasiswanya, katanya Non Karina sikapnya jangan dingin gitu, nanti lama-lama takut membeku, gitu katanya,” ucap bik sari seraya tertawa kecil. Sesekali matanya melirik ke arah pintu dapur, takut-takut Karina tiba-tiba nongol.


“Bik Sari kerja disini semenjak non Karina berusia tujuh tahun, Tuan. Jadi bibik tau banget karakternya kaya gimana. Dia itu dulunya gadis periang, manja, disekolahnya pinter, sampai-sampai sering dapet juara kalau ada perlombaan-perlombaan disekolahnya. Ya semenjak Nyonya Citra, mamihnya Non Karina meninggal, ia jadi sering murung, jarang keluar rumah. Seringnya ya sama Bik Sari mainnya. Ya udah ke asuh lah sama bibik mah.”

__ADS_1


Zul mendengarkan cerita Bik Sari dengan seksama.


“Pak Rudi juga baik, tapi kalau bibi perhatiin sih dia agak ngekang non Karina, ya mungkin karena non Karina anak tunggal kali ya? Jadinya protektif gitu.” Ucap bik Sari pelan. “kadang non Karina suka nangis sendiri dikamar, teriak-teriak kalau Pak Rudi lagi gak ada. Dia gak mau banyak diatur katanya, dia suka curhat apa-apa itu ke Bibi semua, Tuan. Dia gak sanggup ngelawan papihnya, dan gak mau bikin papihnya sedih. katanya sih merasa berhutang budi. Sebab Pak Rudi kan gak nikah-nikah sampe sekarang itu demi non Karina. Gak mau menduakan cintanya buat anak semata wayangnya itu,” tutur Bik Sari dengan raut wajah sedih.


“Hmm... Apa bik Sari tau? Tentang malam sebelum pernikahan kami? Apa benar Pak Rudi sempat menampar non Karina?,” tanya Zul hati-hati.


Bik Sari tampak terdiam, wajahnya seketika berubah muram.


“Kalau pas kejadiannya Bik Sari gak tahu Tuan, karena kebetulan bibi lagi keluar. Tapi pas masuk kerumah, bibi udah liat si non nangis sesenggukan, terus pipinya merah kaya habis kena tamparan gitu.” Ia menghela nafas, “baru kali ini Tuan Rudi main fisik. Bibi juga gak nyangka,”


Zul menggigit bibir bawahnya, ia mulai faham apa yang dirasakan istrinya saat ini.


“Terus apa Bik Sari tau tentang pria yang dekat sama non Karina?,” tanya Zul penasaran.


Wanita dihadapannya itu mengangguk.


“Bisa diceritain juga gak siapa orangnya? Dan kapan mereka menjalin hubungan?,”


Bik Sari melirik sekilas ke arah Zul. Tampaknya ia ragu untuk bercerita.


“Ya Bik Sari gak enak lah, masa nyeritain mantan pacarnya Non Karina ke Tuan Zul, secara Tuan kan udah jadi suami sah nya,”


Zul tersenyum.


“Gak apa-apa Bik, saya orangnya selow kok. Terus kalau gak dari Bibi, saya taunya dari siapa lagi?,” Bujuk Zul.


Bik Sari tampak tersenyum, ia mencoba menata kata-katanya agar terdengar baik saat bercerita.


“Yang Bik Sari tau, Non karina itu punya hubungan spesial sama cowok ya setelah kuliah. Dari situ dia jadi keliatan ceria terus, seneng dandan. Ah pokoknya berubah deh. Terus sempet LDR’an selama empat tahun sama pacarnya. Kan si pacarnya itu katanya kuliah di Swiss. Nah semenjak itu non Karina jadi keliatan gak semangat lagi. Terus mereka sering telfonan, kadang ampe tengah malem. Kalau gak diangkat dia marah-marah. Pernah tuh Bik Sari liat dia ngebanting hape-nya Cuma karena gak diangkat-angkat sama pacarnya,” Bik Sari menggeleng.


“Siapa nama cowoknya Bik? Terus itu orangnya kayak gimana?,” tanya Zul santai.


“Namanya David. Orangnya ya gitu sih, bibik juga sebenarnya gak kenal-kenal banget. Soalnya dia gak pernah dateng kerumah sini, kalaupun mau jemput Non Karina, ia suka nunggunya diluar pagar sono noh!” Bik Sari menunjuk ke arah pagar dengan dagunya.


Zul melohok.


“Oh gitu? Terus Pak Rudi kenal gak tuh sama orangnya?,”


“Justru itu, Pak Rudi juga gak taueun. Minta suruh dateng kerumah, eh kagak nongol-nongol. Ya jelas Pak Rudi kesel lah. Kalau non Karina bilang, cowoknya itu orang sibuk, jadi belum sempet dateng. Terus pernah ya, waktu mau jemput si Non kerumah, dia kan nunggu di luar pager tuh , bibi lewat mau masuk, padahal Bik Sari suruh dia nunggunya di dalem aja. Eh dia cuman geleng-geleng kepala, kagak senyum sedikitpun. Terus kan dompet bibi gak sengaja tuh jatuh di depannya, eh dia manggil bibi, katanya tuh dompetnya jatuh sambil nunjuknya pakek kaki pula. Cuih! Mentang-mentang Bik Sari disini cuman pembantu jadi sikapnya Sok Arogan!,” cibir Bik Sari panjang lebar. Wajahnya terlihat emosi.


“Tapi kok Non Karina keliatannya cinta banget ya sama cowok itu?,” tanya Zul.


“Ya gak tau lah Tuan, Bik Sari juga heran, Non Karina itu liat apanya sih? Ya emang sih keliatannya orangnya tajir, tapi yang Bibi tahu dia itu Cuma tajir turunan. Terus dari parasnya juga gak ganteng-ganteng amet, Cuma cool doang karena punya jambang bagus. Malah kalau menurut Bik Sari mah gantengan Tuan Zul lah, tinggi, putih, bersih, baek pula. Kalau Bik Sari punya anak cewek, udah tak jodohin lah sama Tuan, cuman sayangnya kedua anak Bibi cowok semua,” ucap Bik Sari sambil terkekeh.


Zul tertawa kecil mendengar penuturan Bik Sari. Kayaknya wanita ini cukup enak juga diajak ngobrol. Wanita itu melanjutkan ceritanya.


“Pas Bik Sari tau kalau Pak Rudi gak ngerestuin hubungan mereka. Uuuh.... Seneeeng banget rasanya! Alhamdulillah jadinya dapetin batu berlian bukan batu kali.” Cerocosnya, sontak membuat Zul tertawa geli.


“Yang Bik Sari tahu nih kelemahan non Karina itu apanya Bik? Dari segi apa gitu?,” tanya Zul lagi. Ya, ia jadikan kesempatan untuk mengetahui pribadi Karina lebih dalam lagi.


“Hmmm... Paling dia itu orangnya gak mudah move-on, dan suka inget terus sama kesalahan orang, apalagi yang udah bikin hatinya sakit. Kayak waktu dia pas SD tuh, ada temennya yang ngebulli dia pas sekolah, eh ampe sekarang dia inget terus. Kapan kejadiannya, dimana tempatnya, orangnya siapa aja, eh sampai jam berapanya pun dia masih inget! Ish..ish..ish...,” Bik Sari berdecak heran. “Terus dia juga orangnya gengsian. Ya, mirip ibunya kalau bagian itunya mah,” lanjutnya. Ia terlihat menoleh ke arah pintu lagi.


Zul mengangguk faham.


“Oya Bik, Bik Sari asli orang mana?,” Tanya Zul, udah lama ngobrol tapi belum kenalan sama yang diajak ngobrolnya.


“Bik Sari sendiri asli Tasik, Tuan. almarhum suami Bibi orang Sleman, terus kami pindah kesini ke Jakarta ampe sekarang. Dulu suami bibi juga kerja disini jadi supirnya Pak Rudi, tapi setelah meninggal, diganti sama Pak Amir,” terangnya.


Zul tersenyum.


‘Oh..pantesan aja dari tadi pas ngomong logatnya kayak campuran gitu, antara Sunda, Jawa dan Betawi’ ucap Zul dalam hati.


“Bik Sari....,” tiba-tiba terdengar suara Karina. Keduanya menoleh kaget saat melihat Karina sudah berdiri dimuka pintu. Zul dan Bik Sari tampak gelagapan.

__ADS_1


'Kapan ia datang? Apakah ia mendengar pembicaraan kami'


__ADS_2