
Zul kaget melihat dosennya berada ditempat itu. Namun sepertinya orangtua mereka tidak menyadari kalau mereka telah saling mengenal.
“ayo mari silahkan-silahkan duduk...” Ucap Pak Rudi mempersilahkan.
“Neng Karina, kenalin ini putra ibu Namanya Muhammad Zulfikar” Bu Maryam memulai percakapan dengan memperkenalkan anak sulungnya itu.
Karina tampak mengulum senyum. Zul hanya diam menatap. Kacamata yang biasa ia pakai saat mengajar kini tak terlihat menghiasi wajah cantiknya itu. Ingin sekali ia menyapa namun rasanya seperti terkunci.
“Karin, dia ini laki-laki yang pernah papih kasih fotonya ke kamu beberapa hari yang lalu.” Ungkap Pak Rudi sambil menunjuk ke arah Zul.
Hah, benarkah? Karina tampak terkejut. Begitupun Zul. Foto? Ia tak mengerti maksud Pak Rudi tentang foto itu. Disisi lain wanita itu mencoba memperhatikan laki-laki yang duduk di depannya dengan seksama. Ah, masa iya? Penampilannya dengan sosok laki-laki yang ada di foto itu sungguh sangatlah berbeda. Wajahnya pun sepertinya tidak begitu mirip. Ia masih tak percaya dengan yang dikatakan ayahnya barusan.
“Zul, abah sama ambu teh sengaja gak ngasih tau dulu hal ini ke kamu. Soalnya Kamu pasti bakalan nolak dengan alasan studi kamu yang belum selesai, ya kan?. Namun kami rasa sekaranglah waktu yg tepat buat ngebicarain hal ini sama kamu dan neng Karina. “ ungkap lelaki berbaju batik itu panjang lebar.
“maksud abah?” tanya Zul masih belum mengerti juga.
“maksud Abah, kamu teh nanti akan dinikahkan sama neng Karina ini..” jawab Ambu singkat, namun sukses membuat anak-anaknya tersentak kaget.
“Apa?? Menikah??!” tak sadar mereka mengucapkannya bersamaan.
“Pih,, papih serius mau nikahin aku sama dia? “ tanya karina setengah berbisik. Wajahnya masih terlihat kaget bukan main.
“iya. Dan keputusan papih ini tidak bisa diganggu gugat.”.
Zul pun terlihat ingin mengelak. Namun orangtuanya seakan-akan tidak ingin mendengar alasan apapun dan tetap teguh pada keputusannya.
Kini, keduanya sama-sama bungkam. Bukan tak bisa melawan, hanya saja sepertinya disini bukanlah tempat yang pas untuk berdebat. Mereka hanya mendengarkan obrolan orangtuanya yang begitu akrab. Sesekali Karina melirik Zul yg masih tampak terdiam. Begitupun dengan Zul. Hanya suara hati mereka yang berisik saat itu. Namun, disaat netra mereka bertemu, Karina segera memalingkan pandangannya ke arah lain. Zul pun hanya bisa menunduk sambil memainkan ponselnya.
Ingin rasanya Karina pergi dari tempat itu, mengingat hatinya yang sudah tidak karuan. Namun ayahnya malah memesan makanan untuk disantap bersama tamu special nya ini. Entah mengapa makanan yg terlihat menggugah selera itu terasa hambar dimulutnya. kini ia benar-benar tak berselera makan.
Setelah pertemuan antar dua keluarga itu selesai, Pak Rudi mengantar Bu Maryam dan Pak Hamdan ke sebuah hotel penginapan yang tak jauh dari tempat mereka bertemu. Awalnya Zul mengajak orangtuanya untuk menginap di kosannya saja, namun Pak Rudi melarangnya.
“kasian jauh-jauh datang dari Bandung masa disuruh nginep di kostan....” ujar Pak Rudi. Akhirnya Zul pun menyetujuinya. Namun ia masih ingin berlama-lama dengan orangtuanya sekedar untuk melepas rindu. Sedangkan Pak Rudi dan Karina pamit pulang.
Sesampainya di dalam mobil, wanita itu segera meluapkan kekesalannya yang sedari tadi ia pendam.
“Pih..! Papih tega ya sama aku main jodoh-jodohin gitu aja!! Papih gak tau ya kalo dia itu murid aku piiih...”
__ADS_1
Pak Rudi melirik sekilas putrinya.
“oya? Kenapa tadi disana kamu gak cerita? Berarti kalian udah saling kenal dong?” Tanya pak Rudi sambil terus menyetir.
“ya iyalah hampir setiap hari ketemu. Pokoknya papih harus batalin perjodohan aku yang gak penting ini ! “ Karina mendengus kesal. Ia masih tak terima dengan keputusan papihnya yang hanya mengambil keputusan sepihak.
“Justru ini penting buat kamu” jawab ayahnya santai.
“Masa iya aku nikah sama muridku sendiri dih, gak level. Dia itu cuman pelajar yg masih minta uang jajan sama ortunya.”
Pak Rudi lantas tertawa mendengar cibiran putrinya tersebut.
“Kariin...karin. Kamunya aja yang belum kenal dia. Lah terus apa bedanya sama kamu yang udah jadi Dosen tapi masih minta ini itu sama papih, hmm?!” tanyanya.
Kali ini ia dibuat terdiam. Ia merasa telah termakan oleh cibirannya sendiri. Melihat putrinya yang tak kunjung bicara, akhirnya Pak Rudi memberi sedikit pengertian berharap puterinya itu mengerti.
“sayang, papih ini ayahmu. Papih kenal kamu dan tau mana yg terbaik untuk masa depanmu. Tak ada orangtua yang ingin anaknya sengsara.”
“ Oya, tadi disana papih sudah bilang kan, besok lusa papih harus berangkat ke Singapura karna ada pertemuan penting dengan klien. Dan sepulang darisana kita akan persiapkan acara pernikahanmu. Jadi, jangan sekali-kali kamu bikin ulah selama papih gak ada, ya.” Pak Rudi mengingatkan.
“siapa?? Laki-laki berandalan yg udah bikin kamu mabuk itu, hah?!” suaranya mulai meninggi. Ia tahu ayahnya akan marah jika mendengar hal ini. Pak Rudi memukul setir didepannya karena kesal. Masih teringat beberapa bulan yang lalu ia mendapati anak perempuannya tengah diantar pulang oleh seorang laki-laki yg tidak ia kenal. Karina terlihat di boyong oleh laki-laki itu dalam keadaan lemas, dan setengah sadar. Laki-laki tersebut tak banyak bicara ia langsung pamit pulang.
Namun Pak Rudi mencium aroma alkohol yg menusuk dari mulut anaknya. Dipastikan ia tengah mabuk. Beberapa hari kemudian ia memergoki Karina sedang berjalan bergandengan dengan pria itu lagi. Nalurinya berkata bahwa pria itu bukanlah pria baik-baik. Nyatanya hingga detik ini putrinya tak kunjung mempertemukan bahkan mengenalkan siapa laki-laki itu secara langsung padanya. Hingga ia bertekad untuk menjodohkan anak semata wayangnya ini dengan pemuda yg sudah lama ia kagumi sosoknya.
Dua hari berlalu.
Setelah jam pelajarannya selesai, Karina menyuruh Zul untuk datang menemuinya nanti disaat jam pulang kuliah. Wanita itu menyuruhnya untuk datang langsung ke ruangannya. Ia mengiyakan perintah dosennya tersebut. Dan tak terasa jam terakhir pun usai. Segera ia menuju ruangan dosen wanita terfavorit di kampusnya itu dengan sejuta pertanyaan. Hatinya terus menerka-nerka apa yg nanti akan dibicarakan oleh Bu Karina.
Sesampainya didepan pintu yg bertuliskan “Karina Safira, M.Ak “ Ia segera mengetuk pintu yg tertutup rapat dihadapannya seraya mengucapkan salam.
“masuk” jawab seseorang dari dalam.
Perlahan ia masuk keruangan berukuran 3x3 meter itu dengan perasaan yg sedikit gugup. Namun ia berusaha menutupi kegugupannya. Entah mengapa setelah kejadian pertemuannya dua hari yang lalu, ia selalu merasa canggung saat bertemu dengan dosennya itu. Ya, seorang dosen wanita yang dikenal dingin, berwibawa namun sangat menawan.
“silahkan duduk," perintahnya.
“terima kasih.”
__ADS_1
Karina melepaskan kacamatanya sambil sedikit berfikir. Tak lama ia pun buka suara.
“maaf jika saya mengganggu waktunya”
Zul mengangguk.
“begini, mengingat kejadian dua hari yg lalu itu, saya sempat berfikir untuk tidak menceritakan semuanya pada siapapun” ia mengutarakan isi hatinya tanpa basa basi. “Dan saya harap kamupun punya pemikiran yg sama.” Nada bicaranya terdengar tenang namun serius.
“Dan jikalau kamu berkenan, maukah kamu menolak ajakan orangtuamu itu?” kini ia menatap lekat pria tampan yg duduk dihadapannya.
Zul menarik nafas perlahan. Wajahnya ia buat serileks mungkin “baik bu, saya pun memiliki fikiran yang sama untuk tidak menceritakan hal kemarin pada siapapun. Namun,, untuk rencana pernikahan yg terasa mendadak itu, saya sedang berusaha mencari solusinya..” ungkap Zul terus terang. Jujur saja ia pun sebenarnya tak ingin segera menikah. Apalagi jika caranya harus seperti ini.
“baiklah kalau begitu. saya harap kamu bisa bekerjasama dengan baik untuk masalah ini.” Ya, mereka menganggap hal ini adalah sebuah masalah. Karena sejatinya pernikahan bukanlah hal main-main. Harus dipertimbangkan secara matang-matang.
“Baik bu. maaf jikalau waktu itu saya tak sempat menyapa bu Karina. Karena jujur saya pun kaget dengan pertemuan hari itu”
Karina mengangguk pelan. Ia pun merasakan hal yg sama. Segan dan kaget tentunya. Dan ia sadar betul semuanya terjadi atas rencana orang tua mereka semata.
“ya, saya pun merasakan hal yg sama. Ya sudah terima kasih banyak untuk waktunya. Silahkan kamu boleh kembali” ucap Karina.
“terima kasih. Assalamu’alaikum ”
“waalaaikmsalam. “
Zul segera beranjak keluar ruangan.
Tak jauh darinya tampak dua orang laki-laki sedang berdiri bersandar menunggunya keluar.
“Ada apa sih dia manggil lu ke ruangannya? Lu dihukum? “ tanya Egi setelah Zul mendekat.
“Mmmm.... Enggak. Gak da apa-apa. Yuk ah balik” jawabnya singkat. Ia sudah sepakat agar tidak menceritakan hal apapun dalam pertemuan itu. Termasuk pada kedua sahabatnya ini.
Disebuah kamar kost. Tampak Mahasiswa semester lima itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Diatas mejanya terdapat laptop yang masih menyala dan buku-buku pelajaran yang sedikit berantakan. Namun pikirannya kini sedang bercabang, ia masih memikirkan bagaimana cara meyakinkan orangtuanya agar perjodohan ini bisa dibatalkan. Disisi lain ia juga ingin sekali membahas masa lalu nya yg selama ini ia pendam kepada orangtuanya.
Zul beranjak menuju meja laci disamping tempat tidur. Lalu mengambil sebuah kotak kayu yang berukuran sedang. Didalamnya tersimpan barang-barang ‘antik’ yang ia anggap penting dalam kehidupannya. Ya, bisa dikatakan itu adalah sebuah kotak rahasia pribadinya. Ia mengambil satu benda yang selama ini ia simpan dengan baik. Sebuah gelang kecil yg terbuat dari biji-bijian menyerupai tasbih. Ditengahnya ada gantungan huruf berinisial H. Ia tersenyum tatkala mengenang sosok yang selalu ia sebut dalam do’anya.
***””
__ADS_1