Pengantin Rahasia

Pengantin Rahasia
Pertemuan Zul dengan Cinta Pertamanya


__ADS_3

PoV Zul


Setiap pagi hari seperti biasa jalanan di Ibukota selalu ramai dan padat oleh kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Tak kalah para pejalan kaki pun ikut meramaikan suasana kota. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Suara klakson mobil dan motor selalu menemani pagiku jika akan berangkat ngampus.


Hari ini macetnya luar biasa. Akupun sampai membunyikan klakson motorku berkali-kali berharap kendaraan didepan segera bergerak maju. Sesampainya di kampus, segera ku parkirkan motor matic kesayanganku di area parkiran sekolah. Dengan setengah berlari, aku melewati setiap ruangan kelas yang berjajar rapi. Masih sempat terdengar suara ramai para pelajar dibeberapa kelas yang aku yakini dosennya belum masuk. Baru saja sampai dipintu kelas, tampak Bu Karina berjalan ke arahku, dengan sedikit kaget kuhentikan langkah untuk menunggunya. “pagi bu” sapaku ramah.


Ia hanya mengangguk. Aku mempersilahkannya masuk duluan sebagai tanda hormat pada sang dosen. Huft...Kubuang nafas, nyaris saja aku terlambat. Ya, Hari ini memang jadwalnya masuk di jam pertama. Dan kini aku sudah mulai bisa mengendalikan perasaan canggungku saat bertemu dengannya. Aku berusaha seakan tidak pernah terjadi apa-apa dengannya.


****


Jam pertama selesai, setelah itu tidak ada lagi kelas. Egi dan Agung mengajakku makan di warteg Mpok Yuyun, warteg yang sudah jadi langganan kami. Masakan disana sudah sangat cocok dilidah. Meskipun tempatnya lumayan jauh dari gedung kelasku, namun demi kepuasan makan, kami rela berjalan kaki sekitar seratus meter untuk sampai disana. Warungnya tepat di samping gedung Fakultas Pendidikan. Ya, bisa dibilang lahan kampusku ini memang luas. Antara Fakultas satu dengan yang lain jaraknya agak berjauhan. Setelah sampai disana, kami langsung memesan makanan favorit masing-masing. Agung memilih makan dengan terong balado sebagai lauknya, sedangkan Egi memilih ayam rica-rica saus tiram, dan aku memesan sop iga plus sambel ijo favoritku. Siapa sangka, ternyata kami ini sama-sama pecinta pedas. Haha..


Setelah selesai makan aku memilih berjalan-jalan sebentar sambil mencari angin segar. Di dalam warteg itu memang terasa menyengat. Baling-baling yg menempel di langit-langit pun tak mampu membuat gerahku hilang. Aku berjalan-jalan santai di dekat area parkir gedung berlantai empat itu sendirian. Sedangkan kedua sahabatku lebih memilih menyambung makannya dengan meminum kopi. Jujur aku tak begitu suka kopi. Terlihat para mahasiswa mahasiswi yang berlalu lalang disana. Tiba-tiba netraku menangkap seorang gadis yg terlihat kesulitan saat akan mengeluarkan motor yg terhimpit oleh motor-motor lain yang sedang terparkir. Aku melihat- lihat ke arah kanan kiri disekitar gadis itu barangkali ada tukang parkir atau orang yang bersedia membantunya. Namun tak ada sama sekali. Akhirnya hatiku tergerak untuk memberikannya bantuan. Segera ku hampiri gadis yang sedang terlihat kebingungan itu.


“Maaf mba, barangkali butuh bantuan?” tawarku.


“oh..iya mas maaf ya...” jawabnya.


Aku menggeser pelan motor-motor disebelahnya, dan tak lama motor matic putih itupun berhasil dikeluarkan.


“Makasih ya mas” ucapnya.


“Sama-sama”


“A Aden?” tiba-tiba gadis itu mengucap nama yang membuatku tersentak kaget.


Aku menoleh ke arahnya. Memperhatikan wajahnya dengan seksama.


“ini A Aden kan?” tanyanya lagi. Seolah ingin memastikan.


Aku masih terbengong, mengingat-ngingat kembali siapa gadis ini. Dia menyebut nama itu. Ya, nama yang sering orang sebut saat aku masih kecil. Itu nama panggilan ku dulu. Jadi aku pastikan dia adalah orang yg tinggal di dekat rumahku, di tanah kelahiranku, Bandung.


Aku mengangguk pelan. Melihatnya tersenyum lebar, tetiba aku jadi ingat pada seseorang. Aku mengenali senyumannya itu.


“Neng Hilya?” tanyaku dengan masih sedikit ragu.


Gadis itu mengangguk sambil masih tersenyum. Wajahnya terlihat begitu senang. Aku menghela nafas lega, ternyata benar. Dia adalah tetanggaku di kampung. Sosok yg sering menemaniku bermain saat kecil.


“Aa, gimana kabarnya sehat? “ tanyanya dengan logat khas sunda.


“Alhamdulillah, neng sendiri, gimana kabarnya ? Ya Allah...gak nyangka ya bakalan ketemu disini.” tanyaku yang masih tak percaya.


“Alhamdulillah. Iya, kan neng kuliah disini, A.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah gedung yg berlantai empat dibelakangku.


“oh gitu? “


“iya, A Aden sendiri ning ada disini?” tanyanya penasaran.


“Aa juga kuliah disini neng sama. Tapi ngambil jurusan Akuntansi.” jawabku diakhiri senyum.


“atuh meni kebetulan pisan ya...” kini ia tertawa.


Akhirnya kami pun lanjut mengobrol sambil duduk di pembatas trotoar dekat pohon rindang yg tak jauh dari tempat awal kami bertemu. Ya, asalkan bisa untuk berteduh saja.


“Masya Allah, A...sumpah neng pangling pisan liat Aa yg sekarang” ucapnya sambil memandangi penampilanku.


Aku tersenyum. Sepertinya sudah tak aneh lagi mendengarnya. Entah sudah berapa banyak orang yg bilang hal serupa. Namun aku tak berniat untuk menghitungnya juga sih.


“sama, Neng juga. Tadi aa beneran gak ngenalin loh. Sekarang mah berjilbab ya, jadi tambah cantik “ Pujiku.


Ia tersipu. Terlihat dari wajah putihnya yg berubah merona. Gadis itu mengenakan gamis bermotif bunga-bunga kecil dengan jilbab lebar berwarna marun. Membuat mata teduh melihatnya.


“Neng udah lama disini? “ tanyaku penasaran.


.


“Semenjak kuliah aja A. Neng disini ikut bibi” Jelasnya.


Aku mengangguk.


“oya, bukannya A Aden dulu sempet mesantren ke Jawa ya?”

__ADS_1


Pertanyaannya itu membuat fikiranku terbang kembali ke masa-masa disaat aku akan pergi mencari ilmu ke Tanah Jawa. Aku sempat berpamitan dengan seorang gadis yg telah mengisi hatiku sejak kecil. Memang saat itu usiaku baru menginjak lima belas tahun, sedangkan usianya sepuluh tahun. Namun entah mengapa ada setitik perasaan yg dulu membuatku bertanya-tanya. Perasaan suka jika melihatnya dan malu jika berada di dekatnya. Apakah itu yang namanya cinta? Ah, dulu aku masih terlalu polos untuk mengenal kata itu. Tapi sungguh, aku menikmatinya.


Kala itu, gadis imut yg telah mengisi hari-hariku terlihat sangat sedih, saat kuutarakan bahwa abah akan mengirimku mondok di sebuah Pondok Pesantren di Jawa Timur. Namun aku berjanji padanya setelah selesai sekolah dan mesantren disana aku akan kembali lagi untuknya. Ah, Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, hingga tiba-tiba saja mengeluarkan kata-kata yg membuat aku merasa bersalah hingga detik ini. Kuakui banyak ilmu berharga yg ku dapatkan selama menimba ilmu disana. Salah satunya yg melekat hingga kini ialah sikap mandiri dan gesit dalam mengelola waktu.


Namun setelah lulus Aliyah atau setara dengan SMA, aku tak langsung masuk kuliah ataupun pulang ke kampung halamanku seperti yang ku janjikan dulu. Aku lebih tertarik ikut bisnis kecil-kecilan dengan santri seniorku saat di Pondok. Hingga suatu hari ia mengajakku untuk merantau ke Ibukota. Katanya bisnis dikota itu sangat menjanjikan. Bahkan saat itu aku benar-benar lupa jika harus kembali pulang ke Bandung sesuai janjiku dulu. Ya, lebih tepatnya aku telah mengingkari janji pada seorang gadis kecil yang mungkin saat itu telah beranjak remaja. Aku yakin, dia masih setia menanti kepulanganku hingga kini. Dari sepucuk surat yang pernah ia kirimkan dulu, telah cukup membuatku mengerti seberapa dalam dan besarnya harapannya itu padaku.


Aku mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya beberapa detik yang lalu. Terukir senyuman manis dibibir tipisnya seraya memalingkan pandangan nya ke arah lain. Dari matanya aku bisa merasakan kekecewaan yg tersirat.


“Zul !!” teriak seseorang memanggilku.


Refleks ku menoleh ke arah suara itu. Tampak Agung dan Egi melihatku dengan wajah yg sedikit kelelahan. Nafasnya yang tak beraturan terlihat jelas.


“Astagfirullah, lupa. Neng teh tadi mau motokopi agenda kegiatan ini” ia memperlihatkan map hijau yg memang sedari tadi ia pegang.


“Ooh iya. Lah, kok malah jadi ngobrol disini ya?” ucapku sambil tertawa. Tak lupa sebelum berpisah kami saling menukar nomor kontak. Setelah itu ia pamit pergi dengan mengendarai motornya.


Aku masih melihat ke arahnya sampai sosoknya menghilang dari pandanganku.


“Woy! Dicari-cari daritadi rupanya ada disini.”


Seru Agung. Sambil menepuk pundakku dari belakang.


“siapa yg barusan? “ tanya Egi.


Aku hanya tersenyum.


“caileh ditanya malah senyam senyum. Kagak ada pantes-pantesnya tao!!” cerocos laki-laki manis berambut kribo itu.


“Waduh, udah jam berapa nih buruan balik ke kelas” Agung menunjuk jam yg melingkar dilengan kirinya. Segera kami berhambur menuju gedung Fakultas Ekonomi yang berada tepat di pinggir jalan utama. berharap semoga belum tertinggal jam pelajaran selanjutnya.


Baru saja sampai di depan kelas, tiba-tiba langkah kami terhenti. Didepan sana ada seseorang yg tengah berdiri sambil mengernyitkan alisnya. Ternyata itu Bu Karina. Ia menghampiri kami seraya bertanya dengan gaya wibawa khas nya.


“Darimana saja kalian? Bukannya sekarang pelajaran sudah dimulai? “


“eh bu Karina... Hee...Maaf bu tadi kami ada perlu sebentar keluar” jawab Egi mencari alasan.


Tanpa berlama-lama segera kami pamit dari hadapannya.


Namun saat aku melewatinya, dia menarik sedikit lengan kemejaku. Aku menghentikan langkah. Ia menatapku dengan sedikit mendongakkan kepalanya. Ya, karna badanku lebih tinggi beberapa centi darinya.


“tadi pagi kamu datang hampir terlambat. Dan Sekarang terlambat juga? Awas ya, jangan pernah ulangi lagi kesalahan ini” bisiknya itu terdengar tajam ditelingaku.


Aku hanya mengangguk sambil menyungging senyum sedikit. Setelah itu ia berlalu pergi. Aku menoleh ke arahnya sekilas, dalam hati aku berharap semoga kami tidak ditakdirkan untuk bersama, karna aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti nasibku jika harus beristrikan wanita sedingin freezer itu.


****


Malamnya, kulihat masih banyak tugas yg menumpuk di minggu ini. Termasuk tugas tambahan yg diberikan dosen cantik yg bernama Karina Safira itu. Ya, meskipun ia sangat cantik dan menarik, namun entahlah tak ada sedikitpun rasa cinta atau getaran semacamnya yg tumbuh dihatiku. Tak seperti Egi, yg begitu sangat mengidolakannya. Sampai-sampai ia pernah berkata kalau ia rela diberikan tugas menumpuk oleh wanita itu, asalkan ia bisa mendapatkan cintanya. Ah, kurasa otaknya sedang bermasalah.


Hp-ku berbunyi, kulirik benda pipih yang sedari tadi tergeletak di meja belajarku. Terpampang dua pesan masuk ke WA, kulihat ada nama Hilya disana. Nama yang membuat hatiku bahagia jika mendengarnya. Segera kubuka pesan itu dengan perasaan yang sulit kugambarkan.


[Assalamu’alaikum A Aden?]


[Lagi sibuk gak A? Maaf ya neng ganggu waktunya]


Dengan cepat kubalas pesannya,


[Wa’alaikumsalam]


[ gak papa neng. Aa seneng neng WA]


Entah kekuatan apa yg mendorongku berani mengetik kata-kata itu. Aku berniat menghapusnya, namun ceklis dua itu berubah menjadi biru seketika. Aku pun menepuk jidat. Tahan zul, tahaaan. Batinku mengerang.


Kulihat jam dindingku menunjukkan pukul 11 lewat 10 menit. Aku tersenyum sendiri. Tak terasa, berarti sudah tiga jam kami saling membalas pesan. Malam ini aku tidur dengan perasaan yang membuat hatiku terasa ditumbuhi bunga-bunga indah.


***


Sepulangnya dari kuliah, aku dan kedua sahabatku berencana untuk pergi ke Perpustakaan Daerah yang letaknya tak jauh dari kampus. Sesampainya disana kami memilih-milih buku yg tertata rapi di rak. Tugas dari bu Karina kali ini memang lumayan berat. Kami harus mengumpulkan tujuh buku sekaligus sebagai bahan referensi untuk presentasi esok.


Kami bertiga duduk bersampingan di bangku panjang yang tersedia didalam ruangan. Sudah ada beberapa buah buku yang tertumpuk di meja. Kami sibuk mencatat beberapa rangkuman penting. Terdengar Egi menggerutu pelan.


“Kampret dah ini tugas bikin pala gua puyeng” terlihat ia masih membuka-buka buku yg ada di tangannya dengan sedikit kasar.

__ADS_1


“Ya ileh... Mana nih yang siap nanggung tumpukkan tugas demi meraih cintanye dosen cantik” cibir Agung yang berada duduk disebelah nya.


Egi tampak menggaruk-garuk kepalanya yg tidak gatal.


“Tapi ya gak gini-gini juga sih” tandasnya.


Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.


Tiba-tiba ada suara seseorang perempuan mengucapkan salam ke arah kami. Seketika kami pun menoleh. Tampak gadis bernama Hilya itu berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Bibirnya tersenyum ramah.


“ waalaikmsalam” jawabku. Mereka hanya bengong menatap gadis itu.


“Lho, A Aden disini juga?” tanyanya.


“eh... Iya” jawabku sedikit terbata, karena masih tak percaya jika kami akan bertemu ditempat ini.


“lagi ngerjain apa A?”


“Biasa, tugas kuliah” akupun tersenyum.


“Oh.. “ Iya mengangguk.


“Neng ada tugas juga?” aku balik bertanya.


“Enggak. Ya kalo sehabis pulang kuliah emang suka mampir dulu kesini sih, ngadem. Ya sambil baca-baca juga” jawabnya.


Aku pun mengangguk. Kami masih saling melempar senyum. Ya Allah, sebenarnya sudah lama kurindukan senyumannya itu.


“oya A, neng pulang dulu ya, kebetulan udah dari tadi juga disininya” lanjutnya seraya berpamitan.


“heh bro.... Siapa ?” colek Egi, sesaat setelah gadis itu berlalu.


“temen”


“eh aka bro, lu udah ganti nama?” tanya Agung menimpali.


Aku hanya mengernyitkan alis. Sambil kembali melanjutkan kegiatanku .


“ A Aden?? siapa tuh? “ terdengar suara mereka cekikikan.


“Nama panggilan gue waktu kecil” jawabku sambil tetap menulis.


“waktu kecil? Lah, Berarti dia temen masa kecil lo?” Si kribo itu emang selalu banyak tanya.


Aku hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun


“boleh dong dikenalin hehe....”


Kali ini aku menoleh ke arahnya.


“perjuangin dulu tuh si dosen cantik, main minta dikenalin-kenalin aja” kataku sambil mendelik tak suka.


“iya elu ah gak liat yang beningan dikit aja main sikat mulu. ” agung menimpali sambil sedikit mendorong kepalanya pelan.


“gue kan cuman minta dikenalin doang bukan mau macarin “


Tiba-tiba saku bajuku terasa bergetar. Ku ambil ponsel yang kusimpan disana. Terlihat panggilan dari nomor baru. Siapa ? Segera ku beranjak dari tempat dudukku menuju keluar ruangan. Karena takut jika akan mengganggu pengunjung yang lain.


“Hallo, assalamu’alaikum” sapaku setelah ku angkat panggilan masuk itu.


“Wa’alaikumsalam. Zul? Bagaimana kabarnya? Oya, Ini saya, Pak Rudi. Masih ingat kan??” tanya seseorang dari sebrang telfon.


“Oh, iya Pak Rudi, alhamdulillah baik Pak.”


Jujur, aku sebenarnya kaget, tiba-tiba saja laki-laki itu menghubungiku. Tetapi... dari mana dia tau nomorku? Hmm, sepertinya dari orangtuaku. Gumamku dalam hati.


Pak Rudi hanya memberitahu bahwa ia akan segera pulang ke Tanah Air dalam beberapa hari kedepan. Aku baru ingat saat ini ia sedang berada di Singapura. Ia berangkat dua hari setelah pertemuan kami di Casanova tiga minggu yang lalu. Berarti sekitar satu mingguan lagi ia akan pulang. Aku menarik nafas mencoba menenangkan hati dan fikiranku. Karena yang ku resahkan saat ini ialah rencana pernikahan kami setelah Pak Rudi kembali ke Tanah Air. Terus terang hatiku belum siap menerimanya. Namun entah mengapa tiba-tiba aku teringat akan Hilya, sosok gadis yang telah menarik hatiku beberapa tahun silam. Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Oh Tuhan, mengapa dia hadir disaat pernikahanku dengan sang dosen itu telah direncanakan? Mengapa ia harus hadir ditengah kondisiku yang seperti ini?


****


Akankah Zul menikah dengan Sang dosen cantik itu? Atau ia akan memilih wanita yg telah mengisi hatinya selama ini? Tunggu kelanjutan ceritanya ya...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2