
( pov Zul)
Pak Rudi sudah tiba kembali ke Tanah Air, otomatis acara pernikahan akan segera dilangsungkan. Namun, sesuai kesepakatanku dengan Bu Karina, perjodohan ini harus secepatnya dibatalkan. Jujur saja akhir-akhir ini hatiku galau luar biasa. Ku luapkan rasa resah yang mendera disepertiga malam terakhir. Shalat istikhoroh pun tak putus ku dawamkan. Berharap agar permasalahan ini segera diberikan jalan keluarnya.
Namun siapa sangka, setiap akan mencoba membicarakan hal ini kepada orangtuaku , ada saja hal yang terjadi. Hingga kuurungkan lagi niat itu. Ya seperti hal nya hari ini, saat gadis pujaan hatiku meminta agar aku menemuinya di Perpustakaan Daerah seperti biasa, entah apa yang akan ia bicarakan. Namun aku berfikir untuk membicarakan masalahku saja sekalian, agar kelak tak ada hal yang kututupi darinya. Dengan bermodalkan mental yang kuat ku siap menerima apapun resiko yang akan terjadi.
Setibanya disana, seorang gadis berjilbab merah muda melambaikan tangannya kepadaku. Aku menghampirinya dengan perasaan yang tak menentu. Sesaat kamipun duduk bersebelahan. Disana dia banyak bercerita tentang kehidupannya dan masa lalunya. Ya, lebih tepatnya bernostalgia. Aku hanya menjadi pendengar setia, hanya berbicara sesekali saja.
Tak lama iapun mengeluarkan sebuah benda dari tas nya, lalu memberikannya padaku. Jujur saja aku kaget sekaligus bahagia melihat itu. Benda serupa yang selama ini aku simpan baik di kotak rahasiaku, ternyata masih ia simpan dengan baik juga. Ya, dulu sebelum kami berpisah, kami sempat saling menukar gelang sebagai kenang-kenangan. Terlihat sepele sih namun bagiku itu hal yang istimewa. Ku perhatikan benda kecil yang kini berada ditangan, biji-biji yg melingkar rapi dan diselanya terjuntai huruf berinisialkan “Z” Aku tersenyum.
“A Aden masih inget ini?” suaranya membuyarkan lamunan indahku. Ku menoleh seraya mengangguk.
“mudah-mudahan A Aden juga masih nyimpen gelang itu baik-baik ya...”
Entah mengapa saat itu aku tak mampu berkata apa-apa, hanya sebuah senyuman yang mampu menjawabnya. Kutatap manik indah dihadapanku itu. Masya Allah....sempurna. Kuhela nafas perlahan, tak ingin membuat manik indahnya mengeluarkan butiran luka akibat ucapan yang keluar dari mulutku. Hingga pada akhirnya tak satupun kata yang kuucapkan tentang perjodohan itu padanya. Ya, nyaliku ciut seketika.
‘saat kau pergi... Berlinanglah air mataku..
Betapa singkat kurasakan kebahagiaan itu kini lenyaplah sudah..oh..
Tak pernah kuinginkan. Perpisahan ini terjadi.
Kuhanya bisa merelakan jika memang kau pikir inilah yang terbaik.
Tak perlu kau beri alasan mengapa kau ingin pergi meninggalkan diriku.
Namun ku yakin mungkin semuanya itu bisa membuatmu bahagia.
Sepenuhnya ku menyadari bahwa cinta itu tak mesti harus memiliki.
Namunku akan terus slalu menyayangimu setulusnya hati ini.’
Ah! Menyebalkan. Kenapa lagu itu harus diputar disaat suasana seperti ini. Terdengar alunan musik lawas menghiasi ruangan. Meski diposisi ini sebenarnya akulah yang meninggalkannya. Ya, meninggalkan cinta pertamaku. Hilyatunnafisah, sosok gadis yang selalu tersemat namanya dalam do’aku selama ini. Bisa dibayangkan kan bagaimana sakitnya saat itu. Kubuang nafas kasar mencoba menentralkan perasaan. Aku bukanlah tipe laki-laki yang mudah mengeluarkan air mata. Namun kali ini sungguh sangat memalukan.
“Aa Kenapa?”. kuusap cepat buliran air disudut mataku.
“Gak apa-apa,, aa terharu aja neng masih nyimpen ini juga” jawabku sedikit berbohong. Meski memang perasaan terharu itu ada.
“Yaudah pulang yuk A, sebentar lagi ashar” ajaknya. Kamipun bergegas keluar dari bangunan klasik itu.
“hayoh...terciduk !” ucap seseorang mengagetkanku.
__ADS_1
Aku berdecak. Dasar manusia-manusia ini selalu tau saja aku sedang dimana.
“ Heh bro katanya mau ada urusan penting, taunya ngedet disini...”
Ah untungnya Hilya sudah pergi sebelum mereka datang. Memang sebelum menemuinya, aku ijin pada mereka kalau ada urusan penting.
“Dari kapan lo-lo disini?” tanyaku .
“dari semenjak dilan bertemu milea.”
Aku melotot. “lo -lo nguping ya? “
“kagak lah baru aja nyampe. Hahaha...”
Huft... Syukurlah...
“Bro, sebenarnya siapa sih dia? Pacar lu ?” Tanya Agung.
Aku bingung hendak menjawab apa.
“ya, pengen nya”
Sialan! si kribo malah ngeledek lagi.
“Biarin lah bro,, kasian umurnya udah ketuaan. Lama-lama dipendem takut bulukan entar” kali ini mereka tertawa puas.
Sontak kubuka topi si mata sipit itu dan kupukulkan kelengannya.
“adaww... Gitu aja ngambek” jerit Agung.
Tapi iya juga sih, usiaku memang terpaut 4 tahun lebih tua dari mereka. Makanya terkadang mereka memanggilku dengan sebutan “Aka”.
“beneran nih bro... Lu kapan kawinnya? Umur lu udah pantes buat cari bini”
“ya...do’ain aja biar cepet ada jodohnya” jawabku sambil duduk di kursi yang terletak tak jauh dari tempat ku berdiri.
“tapi cewek barusan cantik juga, mudah-mudahan aja masih ada kesempetan” Egi berangan.
“woy,, elu mah udah ada Bu Karina... Mending buat gue aja “
Aku menggeleng sambil menepok jidat. Heran sama dua pria jomblo ini. Mana kepincut sama cewek-cewek yang sekarang lagi musingin kepalaku lagi. Ah sudahlah. Gerutuku dalam hati.
__ADS_1
“entar kalo lo nikah undang-undang kita ya. Jangan lupa”
Deg. Ucapan mereka berhasil membuat bibirku membisu. Maafin gue bro. Hanya kalimat itu yang keluar dari sanubariku.
“hmmm...lagian belum kepikiran juga buat nikah” aku menyeletuk.
Padahal sebenarnya, pernikahan itu sudah di depan mata. Ya, kali ini aku hanya bisa pasrah. Berharap semuanya akan baik-baik saja sesuai harapan.
Dan hari yang membuat ku resah pun tiba. Tepatnya satu satu minggu setelah pertemuanku dengan Hilya. Pernikahan kami berlangsung tertutup, semua itu atas permintaan Bu Karina kata Pak Rudi. Aku sudah menduganya. Dan hanya dihadiri keluarga terdekat saja.
Malamnya sehabis shalat isya, aku melihat Bu Karina tertidur di atas kasur yang berbalut sprei putih. Ia masih mengenakan kostum kebaya pernikahannya dan tidur memunggungiku. Saat itu aku bingung harus berbuat apa, karena sedari pagi di saat proses ijab qobul berlangsung ia sama sekali tak berbicara padaku. Sesaat kemudian ia pun bangun lalu duduk. Matanya menatapku sedih. Terlihat dari matanya yang sembab. Aku baru sadar ternyata tadi itu dia tidak tidur, tapi menangis.
Aku masih berdiri di tepi ranjang. Belum berani untuk buka suara, namun tiba-tiba ia memanggilku.
“Ya bu... Ada apa?” jawabku pelan.
Ia menghela nafas.
“Maafkan saya, saya belum bisa menerimamu sebagai suami sah saya”
Jelas aku tersentak kaget.
“maksud bu Karina?”
“kamu tau, saya sudah berusaha memperjuangkan cinta saya selama ini. Tapi harus kandas.” Diujung ucapannya terdengar sedikit tersedat.
“saya mohon sama kamu, sekali ini saja. Jangan bicara apapun tentang pernikahan ini. Saya tidak mau ada yang tau sedikitpun soal status kita sekarang” lanjutnya.
“T-tapi... kenapa bu?” Aku masih tidak mengerti maksudnya.
“pokoknya kamu harus ikuti apa kata saya. Dan saya ingin setelah ini kita tidak tinggal serumah”
Kembali aku dibuat kaget dengan pernyataannya.
“satu lagi, jangan pernah sekali-kali kamu menyentuh saya” ucapnya terdengar menekan.
Apa??? Pernikahan macam ini ?? Tidak boleh ada yang tau soal status, tidak boleh tinggal serumah dan tidak boleh menyentuh???
“Sekarang kamu tidur disini. Dan ini batas tempat tidur kita malam ini” ia menaruh guling ditengah-tengah ranjang sebagai pembatasnya.
Aku tak bisa menyanggah sedikitpun ucapannya. Rasa segan telah menguasai jiwaku. Mungkin karena posisinya juga yang masih menjadi dosenku saat ini. Ah, seandainya saja Bu Karina tau akupun harus merelakan cintaku pupus. Sakit ini masih terasa di ulu hati. Dan sekarang harus di hadapi oleh sikapnya yang sulit dimengerti akal. Aku berjalan ke arahnya dengan sedikit gontai. Kami berbaring saling memunggungi. Kini harapanku, keadaan esok akan lebih baik lagi.
__ADS_1