Pengantin Rahasia

Pengantin Rahasia
Menikmati Kebersamaan Meski Sesaat


__ADS_3

Dua jam kemudian Zul pun datang, ditangannya ia menenteng keresek putih dengan logo sebuah minimarket.


“Ini, saya belikan bu Karina cemilan,” Katanya setelah masuk ke kamar tidur.


Karina yang sedang terbaring pun beringsut duduk. Ia memperhatikan keresek belanjaan yang terlihat penuh.


“Kamu ngeledek?,” Tanya Karina


“Ngeledek? Maksudnya?,” Tanya Zul tak mengerti.


“Itu cemilannya banyak banget, kamu kira aku mampu gitu? makan segitu sendirian?,” Jawabnya sambil mendelik sebal.


Zul tertawa. Ia tak menyangka sama sekali respon istrinya akan seperti itu.


“Ini saya sengaja beli segini buat kita berdua, ya kalau Bu Karina mau makan sendirian juga ya monggo... ,” ucap Zul bercanda. “lagian bisa disimpen buat besok-besok juga kan kalau gak abis,” lanjutnya.


Karina masih memasang wajah sebal.


“Oya, tadi mobilnya kena overheat. Terus ada bagian mesin lainnya juga yang harus diperbaiki. Kemungkinan harus ditunggu dalam beberapa hari kedepan.” Tutur Zul sambil beranjak mengambil baju koko didalam lemari.


Karina tercengang saat melihat pria didepannya tengah mengganti pakaiannya dengan santai.


“Zul, gak sopan banget sih. Sana-sana!,” seru Karina sambil menutup mukanya dengan buku.


“Orang cuman ganti baju doang, apanya yang gak sopan?,” jawab Zul.


“Gak liat kamu disini ada orang!,” teriak Karina dengan masih menutup wajahnya.


Zul hanya menggeleng heran.


“Bu Karina mau sholat?,” tanyanya setelah rapi memakai baju koko, sarung dan kopiah hitam.


Terlihat ia menggosok-gosokkan parfum non-alkohol ke telapak tangan dan mengusap-usapkannya ke sela-sela jari dan ke sebagian pakaiannya. Wanginya yang kalem dan segar, menambah cool penampilannya yang menyejukkan mata.


“Gak, lagi halangan,” jawabnya ketus.


“Halangannya setiap hari ya Bu?,” tanya Zul sambil menahan senyum.


“Maksud kamu?,”


“Ya, soalnya nyebelinnya tiap hari,” jawab Zul diiringi tawa kecil.


Karina membulatkan matanya. Seraya melempar buku yang dipegangnya ke arah Zul.


Ia mengelak sambil tertawa kecil melihat ekspresi istrinya yang sensitive.


“ Bercanda Bu. Maksud saya, cantiknya yang setiap hari,” ucapnya seraya tersenyum.


Entah mengapa kali ini ia berani menggoda dosennya itu. Selama ini biasanya hanya teman-temannya saja yang berani berulah, karena sejujurnya dia paling malas untuk menggoda wanita. Menurutnya seakan-akan tak ada kerjaan lain yang lebih penting.


“Berangkat ke Mesjid dulu ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” jawab Karina masih dengan wajah ketus.


Esok paginya, Karina terbangun. Dilihatnya jarum jam menunjukkan pukul 04.30. Ia beranjak dari tempat tidur dan hendak mencari Zul. Ternyata pria itu tengah tertidur diruangan depan, di sekitarnya banyak buku-buku dan laptop yang masih terbuka.


“Sepertinya ia semalam ketiduran disini,” lirih Karina dalam hati.


Ia pergi ke ruangan sempit disebelah kamar mandi. Disana terdapat beberapa peralatan dapur yang tertata rapi, meskipun keliatannya tak begitu lengkap. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Kali ini ia mencoba untuk membuat sarapan pagi, namun dirinya bingung tak ada bahan makanan yang bisa di sajikan disana. Saat Karina tengah kebingungan, Zul datang menghampiri.


“Bu Karina? Lagi apa disitu?,”


Karina tersentak kaget dengan kehadiran Zul dibelakangnya secara tiba-tiba.


“Mmm.. Gak apa-apa, Cuma mau coba buat sarapan aja,” jawab Karina gugup.


“Istri sholehah,” ucap Zul sambil tersenyum. “Saya mau ke air dulu,” segera ia pergi ke kamar mandi yang memang posisinya bersebelahan dengan dapur.


Karina terdiam mendengar ucapan Zul barusan. Ia merasa masih belum siap dipanggil ‘istri’. Ia menghela nafas, mencoba menetralkan perasaannya yang tengah tak karuan.


“Zul, bahan-bahan makanannya dimana?,” tanya Karina yang memang sedari tadi masih kebingungan mencari, karena disana tidak ada kulkas yang biasa menyimpan untuk bahan masakan.


“Bu Karina istirahat aja, nanti saya beli dulu,” Jawab Zul sesaat setelah keluar dari kamar kecil. Wajahnya terlihat basah oleh basuhan air wudhu. Menjadikan wajahnya tampak sejuk dan cerah, selain memang sedari dulu ia sudah memiliki kulit yang putih bersih.


Karina menurut, ia melenggang pergi keruang depan. Dilihatnya buku-buku yang tampak berserakan. Lalu mencoba membereskannya.


Dua puluh menit berlalu, Zul telah kembali dari Masjid sambil membawa sekeresek belanjaan. Didalamnya terdapat seikat sayuran, rempah-rempah dan beberapa butir telur. Setelah mengganti pakaian, ia pergi ke dapur dan memulai memasak. Karina perlahan menghampiri.


“Kamu bisa masak?,” tanyanya.

__ADS_1


Zul menoleh. “Ya lumayan lah, meskipun gak jago-jago amet.” Jawabnya.


“Boleh saya bantu?,” Pinta Karina. Ia merasa tak enak hati jika hanya diam dan istirahat saja disana, karena ia merasa dirinya hanya seorang tamu yang numpang bermalam.


“Boleh kalau Bu Karina mau,” sahut Zul.


Akhirnya mereka memasak berdua, sesekali tertawa-tawa kecil. Setelah itu mereka sarapan bersama.


“Oya, nanti kalau mau ke kampus bisa ngehubungi saya ya, nanti saya jemput,” ucap Zul mengingat mobilnya yang masih dalam perbaikan.


Karina yang sedang membereskan peralatan bekas sarapannya itu langsung terdiam. Ia tengah memikirkan sesuatu.


“Nanti ibu bisa turun di belokan sebelum kampus,” lanjutnya seakan tahu isi hati Karina yang tampak gelisah. Karina hanya tersenyum, kemudian beranjak ke dapur.


“Assalamualaikum...? Zuul...!!,”


Terdengar seseorang diluar sana memanggil namanya. Zul yang sedang membaca buku seketika beranjak dari duduknya lalu melihat-lihat ke arah luar, tampak Egi dan Agung datang dan langsung duduk di kursi yang berada diteras rumah. Zul terbelalak. Segera ia menghampiri Karina yang tengah berada di kamar mandi.


“Bu... Bu Karina...,” Zul mengetuk-ngetuk pelan pintunya. Terdengar suara keran air dimatikan.


“Apa?,” teriaknya dari dalam.


“Gawat, ada temen saya diluar,” bisik Zul dari balik pintu.


Karina pun seketika panik mendengarnya. Tak lama ia membuka pintu.


“Siapa?” tanyanya.


“Egi sama Agung,”


“Aduh, terus saya harus gimana?,” ia mulai terlihat panik.


Zul berfikir sejenak. Lalu mengusulkan sesuatu.


“Gimana kalau gini, Bu Karina sementara ini pulang dulu, nanti saya ngajak temen-temen saya ke warung depan gang. Nanti ibu bisa pergi dari sini tanpa ketahuan.” Usulnya.


Karina mengangguk, ia setuju dengan usulannya.


Zul menghela nafas, sebenarnya ia tak tega dengan usulannya sendiri, seakan-akan mengusir istrinya yang dalam kondisi seperti itu. Namun apa daya, ia tahu betul jika Karina masih tak ingin hubungannya diketahui orang.


Kedua tangan Zul memegang pundak wanita dihadapannya seraya mengecup keningnya lembut. Lalu melepaskannya pelan.


Manik keduanya bertautan. Seketika ada perasaan sayang yang menjalar dalam hatinya. Juga perasaan tak rela jika harus berpisah secepat ini, setelah ia mulai mencoba mendekatkan hatinya untuk istrinya itu. Tapi sekali lagi, semuanya karena keterpaksaan.


Karina mengangguk pelan. Segera Zul menemui sahabatnya ke teras depan.


“Tumben bro kesini gak ngabarin dulu?,” tanya Zul seraya menutup pintu rumahnya rapat.


“Gapapa bro, kejutan. Eh, kemaren lu gak nge-gym?,”


Tanya Agung.


“Gak, lagi males aja.” Jawab Zul. Matanya sesekali melirik ke arah pintu.


“Eh ikut gue yok, ke depan sana. Mau gue traktir,” ajak Zul.


“Waduh kebetulan nih, ini perut belum diisi makanan. Hayu lah kalau begitu,” tukas Egi.


Mereka bertiga berjalan ke arah gang depan, perlahan menjauh dari kediaman Zul. Ia menoleh ke belakang, hatinya kini dihinggapi khawatir. Berharap Karina segera keluar dari rumahnya dan pulang dengan selamat.


Sesampainya pulang ke kostan. Zul menghela nafas lega ketika mendapati istrinya sudah tak ada dirumah. Ia berharap Karina segera menghubunginya.


“Bro... Ikut ke aer ya !,” seru Egi sambil berlalu ke dalam.


Zul hanya melenggang duduk ke ruangan depan, ia berselonjoran sambil mendengarkan musik di gawainya memakai headset.


Sementara Agung, ia bersantai di teras rumah sambil memainkan gitar nya. Si mata sipit itu memang memiliki suara yang merdu jika bernyanyi.


“Zuuull...!!,” tiba-tiba Egi berteriak dari dalam kamar mandi.


Kemudian ia keluar sambil membawa sesuatu.


“Ini punya siapa?,” tanya Egi dengan wajah heran.


Ditangannya ia mencapit sebuah bra sambil menunjukkannya pada Zul.


Zul terbelalak. Seketika ia melepas headset dari telinganya dan terperanjat dari duduknya.


“Eu...itu...tadi...gue... Nemu di belakang.” Ucap Zul spontan.

__ADS_1


Egi melongo.


“Eh, maksud gue itu punya tetangga sebelah yang jatoh dari jemurannya. Gue berniat buat ngebalikinnya entar,” jawab Zul dengan wajah panik sambil nyengir.


Segera ia meraih benda yang ada ditangan Egi sambil berlalu ke kamar tidurnya.


“Ada-ada aja lu,” kata Egi sambil berlalu ke teras dan bersenandung kembali bersama Agung.


“Dasar, Bu Karina ! Kenapa dia ampe lupa bawa bra-nya sendiri? Apa karena efek panik dia jadi lupa gitu?,” gerutunya dalam hati.


Tak lama, ada pesan WA masuk. Segera ia melihat ke layar ponselnya. Ada pesan dari nomor baru.


[Zul, saya udah nyampe. Makasih atas tumpangannya]


Zul menghela nafas lega, ia tersenyum dan segera membalas pesannya.


[Alhamdulillah kalau bu Karina udah sampai dengan selamat]


[Makasih juga udah bersedia mengunjungi kediaman saya yang sempit ini]


Terlihat Karina sedang mengetik pesan,


[Sama-sama]


[Maaf bu, ada barang yang kelupaan dibawa gak?]


Tiga menit setelah pesannya terbaca, Karina langsung offline.


Zul tersenyum geli.


Tak berselang lama, tampak Hilya datang.


“Assalamu’alaikum...”


“Wa’alaikumsalam...” jawab Egi dan Agung kompak.


“Eh,, neng Hilya ya? Mau ketemu Zul? Eh Aden?” tanya Agung sopan.


Hilya mengangguk sambil tersenyum.


“Zuulll ada tamu nih..!,” teriak lelaki itu dari luar.


Segera Zul beranjak keluar kamar dan melihat siapa yang datang. Ia sedikit tercengang.


“Neng Hilya? Ayo, silahkan masuk” ucap Zul mempersilahkan.


Kemudian gadis itu masuk ke dalam dan duduk bersama Zul.


“Heh bro, beruntung banget si Zul di datengin mulu cewek cantik,” bisik Egi pada lelaki disampingnya yang sedang memegang gitar.


“Hu’uh, kalau bukan sobat gue, udah gue tikung dia,” sahut Agung sembari ngakak pelan.


Setelah itu mereka kembali memainkan gitarnya.


“Gimana kabarnya neng? Tumben kesini gak ngabarin dulu, biasanya suka ada nge -WA,” tanya Zul.


“Alhamdulillah sehat. Itu temennya ya A?,” tanya Hilya sambil menoleh ke arah teras.


“Iya,” jawab Zul tersenyum.


“Oya A, kemaren neng teh kan dateng kesini, tapi kok yang jawab perempuan ya? Itu siapa?,” tanya Hilya penasaran.


Deg. Jantung Zul serasa berhenti berdegup. Ia tahu kalau itu pasti Karina.


“Euu....siapa ya? Aa gak tahu,” lagi-lagi ia berbohong. Kemudian menghela nafas perlahan, berusaha agar serileks mungkin berbicara dengan gadis itu.


“Ah masa sih? Beneran A, ada cewek. Malahan neng kira A Aden udah pindah. Makanya neng kesini lagi mau mastiin aja, bener gak nya kalau Aa udah pindah” jelas Hilya.


Zul hanya tersenyum. Ia berfikir keras bagaimana cara menjawabnya.


“Disini gak ada cewek, Neng. Silahkan cek aja kalau gak percaya.”


“Lah, terus yang kemaren nongol dijendela itu siapa??,” tetiba raut wajah Hilya mendadak gelisah. Tangannya mengusap tengkuk lehernya.


“Mungkin Neng salah lihat,” ucap Zul memastikan.


Dalam hatinya ia berjanji, suatu saat nanti ia akan memberi tahu kebenarannya. Meski untuk sekarang ia harus rela bergulat dengan sebuah kebohongan.


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2