Penguasa Terkuat

Penguasa Terkuat
Harta Peninggalan


__ADS_3

Dragon War Continent adalah sebuah tempat dimana terdapat hukum mutlak, yang kuat adalah yang berkuasa.


Di sebuah tempat di kota kecil yang disebut sebagai kota Han, itu adalah tempat yang ramai dengan banyaknya anak muda bermain di sebuah lapangan.


Jauh di bawah pohon besar, seorang anak berusia 14 tahun duduk diam memandangi anak-anak lainnya bermain.


Ia sesekali menatap pada anak yang sedang jalan-jalan bersama ayah dan ibu mereka.


Wajahnya mengandung kesedihan yang mendalam. Beberapa hari lalu, ketika dia ingin bermain bersama dengan anak-anak lainnya, dia malah mendapat ejekan karena betapa jeleknya penampilannya.


Jika dilihat sekilas, anak itu memiliki paras biasa saja, rambut hitam pendek dengan mata yang tajam.


Tetapi pakaiannya sangat kotor dan mengeluarkan bau yang cukup busuk, hal itulah yang membuatnya dihindari oleh anak-anak yang lain.


Saat anak itu menatap pada sebuah bangunan yang merupakan toko herbal, seorang pria tua berambut putih panjang berjalan keluar dan datang menghampiri dirinya.


Seketika, anak muda tadi menghilangkan kesedihannya dan tersenyum menjemput kakek itu.


"Kakek, ayo kita pulang.. Perutku sudah lapar." Ucapnya sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


"Hoho, apakah kakek membuatmu menunggu lama, cucuku?" Kakek itu sedikit berlutut dan membersihkan wajah cucunya yang terdapat bekas tanah.


"Tidak kakek, aku bisa menunggu lebih lama jika kakek memintanya." Anak itu menjawab polos.


"Hahaha, baiklah malam nanti kakek akan membuatkan makanan kesukaanmu."


"Benarkah?" Mata anak itu bersinar, "Terimakasih kakek."


Rumah pria tua dan cucunya adalah di puncak bukit Heinan, yang berjarak kurang dari 1 km dari kota Han.


Kakek tua itu terlihat berumur 80 tahun-an dengan sebuah keranjang di punggungnya yang digunakan mencari herbal untuk di jual.


Karena asik berbicara dengan cucunya, Kakek itu secara tidak sengaja menabrak seorang pria bertubuh besar hingga menjatuhkan arak di tangannya.


"Hei pak tua, apakah kau buta!? Tidak lihatkah aku sedang berjalan, sekarang kau menjatuhkan bir milikku. Cepat ganti rugi." Teriak pria bertubuh besar itu marah.


"M–Maaf, aku tidak sengaja melakukan itu ... Apakah ini cukup?" Kakek tua itu mengambil dua koin tembaga dari sakunya kemudian menyerahkan nya pada pria bertubuh besar disana.


Kakek itu bukan orang kaya, dia hanya memiliki lima koin tembaga yang akan dia gunakan untuk makan malam nanti bersama cucunya.


"Hah! Apa kau bercanda, apakah kau meremehkanku pak tua. Arak ini seharga satu koin perak dan kau memberiku dua koin tembaga?" Pria bertubuh besar itu sangat marah, dia mencengkeram erat tubuh kakek tua itu dan membantingnya dengan keras.


"Arghh..." Kakek tua itu berteriak kesakitan.

__ADS_1


Mulutnya mengeluarkan darah segar, serta beberapa tulang rusuknya patah.


"Kakek!!.." Anak muda itu berlari melindungi kakeknya.


"Tch, pergi!."


Bam!


Sebuah pukulan keras menghantam tubuhnya yang membuatnya terpental puluhan meter jauhnya.


Anak muda yang menerima pukulan keras dari pria tadi seketika tidak sadarkan diri.


Ada banyak orang yang melihat kejadian itu, tetapi tidak ada satupun yang berniat untuk menghentikan ataupun membantu kakek tua itu.


Setelah pria bertubuh besar puas menghajar anak muda dan kakeknya, dia mengambil dua koin tembaga yang ada di genggaman kakek tua itu dan meninggalkan mereka berdua pergi.


Saat anak muda itu terbangun, dia melihat tubuh kakeknya penuh dengan bekas darah. Wajahnya sangat pucat dengan detak jantungnya semakin melemah.


"Kakek.. Kakek.. Cepat bangun kakek." Anak muda itu menggoyangkan tubuh kakeknya tetapi tidak ada reaksi dari tubuh kakeknya.


Anak muda itu dengan cepat berfikir, dia mencari toko obat tetapi karena waktu itu sudah larut malam, tidak ada satu toko obatpun yang buka.


"Kakek.. Aku akan membawamu pulang dan memberimu obat."


Anak muda itu mengambil lengan kakeknya, membantu kakeknya berdiri setelah itu berjalan pergi.


Pemuda itu menangis menahan rasa sakit di kedua kakinya, dia terus berjalan tanpa. memperdulikan kakinya yang terus mengeluarkan darah.


Saat sampai di puncak gunung, pemuda itu membawa kakeknya masuk kedalam rumah dan meletakkan tubuh kakeknya diatas sebuah kasur.


Dia berjalan mengambil handuk dan air untuk membersihkan darah yang ada di tubuh kakeknya.


Tetapi langkahnya terhenti ketika pergelangan tangan anak muda itu dipegang oleh kakeknya.


"Uhuk uhukk.. Fan'er, maafkan kakek. Kurasa kakek tidak bisa menemanimu sampai tumbuh dewasa.." Kakek itu berkata pelan, matanya sedikit terbuka dengan wajahnya semakin memucat.


"Tidak kakek, jangan mengatakan hal seperti itu.. Aku akan mencari obat untuk menyembuhkan kakek." Anak muda itu menangis, air mata memenuhi wajahnya.


"Haa.. Tidak perlu Fan'er, jangan pedulikan kakek, ambillah sebuah cincin yang kakek sembunyikan tepat di bawah tempat tidurmu."


Ucap kakek itu dengan detak jantungnya semakin melambat. Dia sudah sangat kesusahan untuk bernafas, "H–Hdiuplah dengan baik Fan'er, kakek berharap kamu tumbuh menjadi orang hebat di masa depan."


Tepat setelah kakek itu menyelesaikan ucapannya, ia menghembuskan untuk yang terkahir kalinya.

__ADS_1


"Kakekkkk!!!...."


Pemuda itu menangis, dia menatap wajah kakeknya untuk yang terkahir kalinya kemudian pingsan karena kehilangan banyak darah yang keluar dari kakinya.


Ketika pagi hari datang, pemuda itu perlahan membuka kedua matanya, kepalanya sedikit pusing karena ia kehilangan banyak darah.


Dia menatap keatas kasur dan melihat mayat kakeknya, dia bergumam dengan ekspresi kosong di wajahnya. "Jadi semua itu bukanlah mimpi.."


Dia berjalan keluar, menyiapkan pemakaman untuk kakeknya. Matanya membengkak karena menangis untuk waktu yang lama.


Saat setelah dia selesai memberi kakeknya pemakaman yang layak, dia memberi penghormatan pada kakeknya untuk yang terkahir kalinya.


"Kakek, aku pasti akan membalas dendam untukmu di masa depan."


Anak muda itu berbalik dan kembali masuk kedalam rumahnya.


Dia bernama Xiao Fan, dia tumbuh dengan kakeknya yang telah merawatnya sejak ia masih kecil.


Meski kakeknya bukanlah orang kaya yang bisa membelikan apapun keinginannya, tetapi Xiao Fan sangat bahagia hidup bersama dengan kakeknya.


Hingga saat ketika kematian kakeknya, dia akhirnya menyadari sesuatu.. "Hanya yang kuat yang bisa bertahan, aku Xiao Fan akan mencari keadilan untuk kakekku."


Dia berjalan ketempat tidurnya dan mencari benda yang kakeknya sebutkan sebelum kematiannya.


Tak berselang lama, Xiao Fan menemukan sebuah cincin hitam terbungkus rapi dalam sebuah kain.


"Cincin apa ini? Kapan kakek menaruhnya disana?"


Karena penasaran, Xiao Fan memakai cincin itu di jari tangan kanannya.


Tepat setelah cincin itu terpakai sempurna di jarinya, sebuah buku usang tiba-tiba muncul dari dalam cincin itu bersama dengan sebuah catatan di sampingnya.


Xiao Fan membaca surat itu dengan serius, kesedihan sekali lagi memenuhi hatinya, dia menangis saat selesai membaca habis surat yang di tinggalkan oleh kakeknya.


Dia mengepalkan tinjunya, dan berkata penuh tekad.


"Suatu saat, aku akan menjadi orang kuat yang akan mengubah hukum di dunia ini."


Tepat setelah Xiao Fan berkata seperti itu, dia menoleh dan menatap buku usang yang memancarkan aura yang sangat misterius.


Dia mengambil buku itu, mencoba membaca sampul bukunya. Tetapi karena itu sudah sangat usang, Xiao Fan tidak bisa membacanya sama sekali.


Ketika Xiao Fan membuka halaman pertama, sebuah cahaya keluar, cahaya itu dengan cepat memasuki tubuh Xiao Fan.

__ADS_1


***


To Be Continued


__ADS_2