
Seorang gadis manis sedang duduk di sebuah bangku taman kota, ia menatap laptop dengan sedikit tak percaya. Sekitar dua menit yang lalu ia menerima pesan masuk di emailnya yang menyatakan dia telah mendapatkan juara satu kompetisi novel terbaik di salah satu platform baca yang diikuti.
Sungguh keberuntungan yang datang dengan tepat waktu. Di sana tertulis bahwa hadiah pertama sebesar sepuluh juta rupiah plus menginap di hotel mewah selama tiga hari.
"Sepuluh juta cukup buat aku membayar uang kuliah dan mengirim sedikit sisanya untuk Ibu," ujar gadis itu dalam hati.
Ia tersenyum penuh syukur. Pasalnya, ia telah menunggak uang kuliah beberapa bulan ini dan sedang kebingungan mencari jalan keluar. Kerja part time sebagai pelayan rumah makan sederhana hanya bisa mencukupi biaya hidupnya saja, itu pun dibantu dengan ia berjualan online dengan menjadi resseler atau dropshipper.
Dulu, ia punya pekerjaan yang menjanjikan, cukup untuk membayar uang kuliah juga memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun, beberapa bulan lalu ia dikeluarkan dari tempatnya bekerja karena keponakan manager tempatnya bekerja ingin bekerja di sana. Karena tidak ada posisi yang kosong, jadi dialah yang ditumbalkan.
Seperti inilah potret kehidupan zaman sekarang, yang kuat yang berkusa.
Hari sudah semakin sore, Nisa membereskan laptop dan barang bawaan lainnya, memasukkan kedalam tas gendong bermotif unicorn, bergegas untuk pulang.
Sesampai di tempat kos ia langsung membersihkan tubuhnya, menunaikan salat magrib lalu membereskan baju dan keperluan lainnya selama di hotel. Ya, tiket menginap gratis selama tiga hari di hotel berlaku dari mulai malam ini. Sayang juga kalau tidak diambil, kan?
Tok, tok, tok!
Suara ketukan terdengar dari luar kamar, Nisa melangkah membukakan pintu. Di sana berdiri seorang wanita ramping seumuran dengannya, Nova. Sahabat yang juga sudah seperti keluarganya di kota ini.
"Jir, keren juga ya, lo. Bisa nginep di hotel mewah bermodalkan menulis," ucap Nova sambil memerhatikan barang bawaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kamu! Udah kubilang suruh gantiin aku, juga!"
"Ya, gak mau lah, lo yang dapet hadiah masa gue yang nikmatin."
"Gak apa-apa lah, kan yang penting aku udah dapat uangnya dan bisa kupake buat biaya kuliah,"
"Gak ah, lo aja sana. Nikmatin jadi orang kaya selama tiga hari di sana, siapa tahu pas pulang gandeng cowok tajir melintir." Nova tersenyum membayangkan apa yang ia ucapkan itu menjadi kenyataan. Sahabatnya yang cantik, baik hati, juga sedikit pendiam itu mendapatkan gebetan seorang pria kelas atas.
"Yee ... cowok tajir mulu yang dipikirin! Aku maunya yang sederhana aja, Va, yang bertanggung jawab dan sayang sama aku dan keluargaku."
"Iya lah, iya, terserah lo!" tembal Nova sambil merengut. Sahabatnya itu memang sangat sederhana, dari kehidupan juga impiannya, dia tidak pernah menginginkan lebih seperti kebanyakan orang, punya pasangan kaya raya dan hidup mewah.
"Ya udah, aku pamit. Kamu jaga diri. Pulang nanti, aku bawain oleh-oleh deh," pamit Nisa.
"Apaan sih, Va. Udah ah, aku pergi dulu. Assalamualaikum...."
Nisa bergegas pergi tanpa membiarkan Nova menggodanya lagi. Taksi di depan tempat kos sudah menunggunya. Tanpa perlu waktu lama ia pun segera masuk dan taksi itu membawanya ke tempat tujuan.
Lalu lintas ibu kota tidak pernah sepi dari kemacetan apalagi di jam pulang seperti ini, untuk menempuh jarak yang hanya empat kilometer pun perjalanan membutuhkan tiga kali lipat lebih lama dari waktu normal. Nisa akhirnya sampai di hotel pada pukul 20.15 Wib. Setelah membereskan pendaftaran di resepsionis dan mendapatkan kunci, ia bergegas menuju kamar yang telah disediakan.
Pada saat membuka pintu, betapa takjubnya ia, melihat dekorasi kamar dan interiornya yang sangat mewah. Perlahan ia melangkah memasuki ruangan memperhatikan dengan detail dari mulai kasur yang berukuran king size nan empuk, kamar mandi yang mewah dengan segala keotomatisannya mengatur suhu air, meja rias yang artistik, televisi yang sebesar layar lebar di kampungnya.
__ADS_1
Balkonnya juga cukup luas dan terdapat kolam renang berukuran 3x5 dan juga letak kamarnya yang strategis menawarkan pemandangan ibu kota di malam hari yang indah. Suguhan deretan lampu-lampu jalanan yang tersusun sangat cantik dan juga bangunan-bangunan yang menjulang tinggi memberikan kesan romantis di lantai dua lima ini. Sayang sekali ia hanya datang sendirian.
Setelah cukup puas mengamati kamar hotel dan menikmati suasana malam yang indah, tubuh lelahnya kini terasa dan menuntut ia untuk segera membaringkan diri di kasur nan empuk itu. Namun, rasa penasaran akan sensasi berenang di malam hari membuatnya ingin mencoba.
"Apa salahnya berenang sebentar sebelum tidur? Sepertinya akan menyenangkan! Lagian, kapan lagi bisa seperti ini,"
Malam yang indah, seakan ia kini sedang berada di surga. Berenang di bawah cahaya purnama dan kilauan bintang-bintang serta pemandangan sekitar yang tak kalah cantik.
"Nikmat sekali menjadi orang kaya! Segala keindahan dapat dinikmati kapan saja yang mereka mau. Tapi ... tapi aku tidak mau Tuhan, sungguh! Menjadi kaya selalu membuat orang lupa diri, lupa bersyukur, dan lama-kelamaan lupa jalan pulang (kematian)," monolognya.
Lama ... Nisa menikmati waktunya di kolam renang, sampai pada akhirnya ketukan pintu membuatnya kaget.
"Siapa yang mengetuk pintu? Pelayan! Aku udah bilang untuk tidak mengantarkan makan malam atau apa pun." Lalu ia beranjak dari kolam, memakai jubah mandi yang tersedia sebelum mencari tahu siapa di luar. Namun, belum sempat ia membuka pintu, orang di luar sudah masuk duluan.
Sontak Nisa kaget dan panik. Melihat seorang pria tengah berdiri di ambang pintu dan sedang menatap penuh arti.
"Pintu itu ... perasaan telah aku kunci, kenapa pria asing bisa masuk dengan mudahnya? Apa keamanan di hotel ini tidak bagus? setahuku hotel ini adalah salah satu hotel termewah di ibu kota." Tak henti ia bergumam, memikirkan bagaimana hotel sekelas MT tidak memerhatikan keamanan pengunjungnya, bahkan orang asing bisa begitu dengan mudah masuk ke kamarnya.
Nisa semakin panik tak kala melihat pria itu berjalan masuk dan mendekatinya. Selangkah pria itu maju, maka selangkah Nisa berjalan mundur hingga Ia terhenti saat langkahnya terpentok dinding.
Tidak ada jalan lagi, ia sangat sangat sangat panik. Pria itu terus berjalan ke arahnya dan semakin mendekat. pandangannya tidak pernah lari dari Nisa, memerhatikannya dari ujung ke ujung dengan tatapan yang sukar Nisa artikan.
__ADS_1
Takut? Tentu saja! Dan itu Pasti! Hingga Nisa tidak tahu lagi harus lari ke mana, sangking paniknya.
"Si-siapa kamu?" ucap Nisa terbata, saat jarak keduanya kurang dari selangkah.