Penjara Cinta Arga

Penjara Cinta Arga
Salah Kamar


__ADS_3

Akan tetapi, pria itu tidak memberikan jawaban, hanya terus memandangi wanita yang kini telah berada tepat di depannya.


"Jangan macam-macam! Atau, atau a-aku akan teriak!" Nada suara Nisa begitu panik hingga gemetar.


Namun, bukannya takut, pria itu malah meraih tubuh nisa dalam satu hentakan. Nisa tentu sangat terkejut dan ketakutan dengan apa yang dilakukan pria itu.


"Lepaskan aku! Aku tidak punya masalah sama kamu, aku gak kenal kamu. Tolong lepaskan aku!" teriak Nisa sambil meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Namun, tenaganya kalah jauh dan dia tidak bisa membandingkan.


"Ray, kali ini lo benar-benar memilihkan mainan yang menarik. Kucing liar ini sangat menggemaskan," gumam si pria dalam hati.


Ia tersenyum melihat tingkah kucing liarnya yang tidak bisa diam itu. Memerhatikannya ... semakin lama semakin menarik dan senyumnya semakin melebar. Sementara kucing liar dalam pelukannya yang ia tatap semakin ketakutan dengan keadaan ini.


"Tolong! Tolong aku ... siapa pun yang mendengar, tolong aku...!" teriak Nisa dengan sekuat tenaga. Air mata sudah deras membasahi pipinya.


"Baby ... semakin kamu berteriak, semakin aku menyukaimu. Tetapi jangan berlebihan, karena aku aku tidak suka lelucon yang keterlaluan."


"Kau gila! Lepaskan aku, aku tidak mengenal—hmmh." Belum sempat ia mengakhiri kata-katanya, pria itu sudah membungkam Nisa dengan bibirnya.


Nisa membelalak tak percaya, terus meronta tapi tidak menghasilkan apa pun. Malah kepalanya terus ditekan semakin erat. Semakin membuatnya tak berdaya dan susah bernapas. Tubuhnya digendong dengan satu tangan oleh pria asing itu menuju kasur dan terjadilah malam yang sangat menyedihkan itu.


Malam yang membawa petaka bagi Nisa, malam di mana kesuciannya telah direnggut paksa oleh seorang pria yang tak dikenalnya. Malam yang menghancurkan impian masa depannya tentang pernikahan yang indah bersama pria yang selalu ia sebut dalam sujudnya.


Dulu, ia berpikir kalaupun berasal dari kampung dan dari keluarga pas-pasan, dia harus mempunyai pendidikan bagus minimal punya gelar sarjana. Dan kehormatan yang tinggi sebagai wanita adalah menjaga kesuciannya sampai nanti ia menikah.


Namun, pendidikannya belum usai dan membutuhkan tenaga ekstra untuk memperjuangkannya. Entah itu akan berhasil atau tidak, untuk mencapai gelar itu. Sekarang kehormatannya pun telah hilang, direnggut paksa oleh pria yang tidak ia kenal dan tidak punya hati.


Nisa menangis bahkan tanpa suara. Suaranya telah habis untuk berteriak dan melawan dalam pergulatan menjijikkan itu. Ia menatap ke samping, di mana binatang buas itu sedang tertidur kelelahan.


Tubuh pria itu masih polos tanpa menggunakan pakaian, hanya selimut tebal yang menutupi sampai pinggang. Lalu ia menatap dirinya sendiri, sekujur tubuhnya penuh dengan tanda merah keunguan. Rasa sakit seperti seluruh tulangnya telah remuk, terlebih di bagian intimnya yang sangat terasa perih. Entah berapa lama binatang buas itu menerkamnya.


Ia melihat ke arah jam dinding, di sana sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Nisa beranjak dari kasur empuk penuh duri itu, berjalan pelan tanpa tenaga, selangka demi selangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


Meski langkahnya kerap mendatangkan rasa sakit di bagian bawah, tapi ia harus segera pergi meninggalkan tempat terkutuk ini. Setelah membersihkan tubuhnya, dengan hati-hati ia membereskan barang bawaannya dan keluar dari tempat itu.


Bunyi suara handphone berdering, membangunkan Arga dari tidur nyenyaknya. Ia perlahan membuka mata, meraih benda pipih itu di atas nakas di samping tempat tidur.


Terlihat jam menunjukkan pukul delapan pagi. Dilihatnya ID si penelepon 'Ray'. Tetapi sebelum mengangkat telepon itu, ia ingat akan perempuan yang ia tiduri semalam dengan begitu bergairahnya. Ia menolehkan pandangan ke samping, "Perempuan itu sudah tidak ada? Belum juga gue memberinya hadiah atas pelayanannya yang memuaskan," gumamnya sambil mengerutkan alis. Lalu ia mendengar lagi dering telepon untuk kedua kalinya, setelah tadi ia tidak mengangkatnya.


"Ya, ada apa? Ini masih pagi!"


"Lo di mana?"


"Lo amnesia?"


"Gue serius, lo di mana sekarang?"


"Gue di hotel! Di mana lagi memangnya?"


Hening. Setelah ia mengatakan di hotel, suara di ujung telepon tiba-tiba membisu. "Kenapa?"


"Hahaa, kali ini gue acungin jempol buat lo. Hasilnya tidak mengecewakan, dan bahkan gue sangat bersemangat. Lo pantas mendapatkan bonus atas kerja keras lo."


"Bro, gue semalam kebanyakan minum kayaknya!"


"Lalu?"


"*Gue ... gue salah ngetik nomor hotel*,"


"Maksud lo?"


"Lo, salah kamar, Bro."


Deg! Seketika Arga terdiam mendengar pengakuan asisten sekaligus sahabatnya itu. Ia mengingat kembali kejadian semalam yang memang terasa berlebihan bagi seorang wanita penghibur untuk meronta saat berhubungan dengannya. Meskipun saat ia berpesan pada Ray, ingin mainan yang sedikit menarik dan tidak terlalu vulgar untuk menambah energi, tapi kesannya sangat mendalam.

__ADS_1


Wanita itu terus meronta, berteriak meminta tolong, memberikan perlawanan dengan cakaran juga gigitan bahkan memakinya habis-habisan sampai kehilangan suaranya. Bahkan wanita itu berteriak kesakitan saat ia memasukinya dan rasanya seperti masih 'Perawan'. Ia melirik ke samping membuka selimut, dan di sana ia menemukan ada bercak darah.


"Sial!"


"Halo, Ga, kenapa? Cewek yang lo tiduri masih di sana, kan?"


"Kita bicarakan ini di kantor!"


Arga mematikan sambungan telepon, ingin beranjak dari kasur membersihkan diri. Namun, saat ia menaruh handphonenya kembali di nakas, ia melihat selembar kertas dan sebuah kunci hotel. Sejenak ia membacanya, di sana tertulis Tiket menginap gratis selama tiga hari dengan disertai kode vouchernya.


***


"Sial! Sial! Sial! Kenapa lo harus seceroboh itu, sih?" sungut laki-laki yang diketahui bernama Arga itu.


"Sorry, Bro. Tau sendiri semalam suasananya begitu menggoda untuk terus minum."


"Tapi masalahnya sekarang jadi salah sasaran, kan? Gue merawanin anak orang, Ray. Pantas saja semalam ketakutannya terlihat berlebihan dan seperti tidak dibuat-buat!"


"Tapi lo menikmatinya, kan?" tanya Ray.


Diam. Arga sejenak terdiam mendengar pertanyaan Ray. Membayangkan malam panjang yang baru saja ia lewati.


"Sejujurnya ... iya! Ini kali pertama gue merasakan kepuasan dalam berhubungan. Juga ... gadis itu sangat membuat gue bergairah. wajahnya yang terlihat cantik tanpa riasan make-up, juga wangi tubuhnya yang membuat gue tidak bisa berhenti untuk bermain dengannya semalaman." Terlihat gurat senyum puas di bibir Arga saat mengingat kembali kejadiam semalam.


"Lantas, sekarang lo mau apa?"


"Bantu gue cari dia! Kumpulkan semua informasi tentangnya sedetail mungkin. Begitu sudah dapat, beri tahu gue!"


"Lo yakin, setelah kejadian semalam, cewek itu mau sama lo?"


"Jangan banyak omong. Kerjakan tugas lo. Urusan itu biar gue yang tangani. Gue tunggu hasilnya dalam 2x24 jam, jika lo gak berhasil, jangan pernah menampakan diri di hadapan gue!" tegas Arga memberi perintah

__ADS_1


__ADS_2