
Sepanjang perjalanan Nisa hanya membisu. Ia sudah pasrah dengan semua rencana pria yang membawanya kini, entah akan ke mana.
Berbeda dengan Arga. Ia sangat bahagia karena sebentar lagi akan menikahi gadis yang ia inginkan. Ditatapnya gadis bertubuh mungil yang kini berada tepat di sampingnya.
Ah, entah ini perasaan cinta atau obsesi semata. Yang jelas Arga akan segera memiliki gadis ini seutuhnya dan tidak akan pernah ia biarkan pergi lagi dari sisinya.
Perjalanan dari kampus tempat Nisa menimba ilmu menuju kediaman Arga telah sampai. Mobil diparkir di halaman yang begitu luas, sang sopir membukakan pintu untuk tuannya beserta calon nyonyanya, mungkin!
"Ayo," ucap Arga.
Nisa yang sedang dalam keadaan melamun seketika tersadar, ia mengerjap mendapati pemandangan asing di sekitarnya.
Halaman yang luas dan bangunan megah berlantai tiga menegaskan bahwa laki-laki yanh kini membawanya memang bukan laki-laki sembarangan. Seketika rasa cemas itu kembali melanda, memikirkan akan seperti apa hari-harinya bersama orang asing ini setelah ia resmi menjadi istrinya?
"Apa kau mau di sini sampai malam?" kembali Arga bersuara.
Nisa menoleh, melihat Arga di luar yang sudah siap dengan tangan kirinya menyambut uluran tangan Nisa. Perlahan, Nisa menyambut uluran tangan itu. Meski merasa enggan, tapi tidak pernah ada pilihan untuk keinginan seorang Arga.
Mereka kini berjalan menuju bangunan megah itu, tangan keduanya saling bertaut tidak terlepas karena Arga tidak pernah berniat melepaskannya semenjak turun dari mobil. Ya, meski itu sangat memaksakan kehendak karena kenyataannya Nisa tidak pernah berniat membalas tautan tangan Arga. Ia hanya pasrah pada keadaan yang mungkin tidak akan pernah bisa dihindari.
"Ray, siapkan segala sesuatunya. Juga, tolong jemput ibu dan kakak calo istriku," perintah Arga pada sahabat yang mengiringinya di belakang.
"Sudah diatur, Arimbi dan Bimo sedang menuju ke sana," jawab Ray.
Mendengar pembicaraan itu, Nisa membuang napas kasar, ternyata mereka benar-benar serius melakukan apa yang diinginkan laki-laki disampingnya ini.
Menikah? Benarkah dia akan secepat ini menikah, dengan orang yang sama sekali belum ia kenal? Sungguh dunianya seketika melenceng jauh dari alur yang tidak pernah ia bayangkan.
Takdir memang begitu, bukan? Rencana kita apa, yang terjadi apa. Andai Nisa tidak ingat akan hal itu, mungkin kini ia tidak akan pernah bisa setenang sekarang.
__ADS_1
"Nenek," sapa Arga ketika sudah sampai di ruang keluarga. Terlihat seorang wanita sepuh yang masih terlihat cantik sedang menikmati secangkir teh.
"Hey ... Cucu nenek akhirnya pulang juga," sahut sang nenek.
"Sini, Arga ... kau bersama calon istrimu?" lanjutnya memerintah Arga agar mendekat.
Arga mendekat, menciumi pipi kanan-kiri neneknya kemudian memperkenalkan gadis yang ia bawa.
"Ini Nisa, gadis yang Arga janjikan untuk dilenalkan pada Nenek. Cantik, kan?"
"Tidak diragukan lagi, kau persis ayahmu, pandai mencari pendamping. Nenek menyukai yang ini," ucap sang nenek bahagia.
Nisa menyalaminya tanpa bersuara, hanya seulas senyum yang dipaksakan.
Nenek membawanya duduk di sampingnya, menggenggam tangan Nisa dan mengusapnya, "Kamu cantik sekali, pantas saja cucuku bersemangat untuk menikah. Kapan acaranya, Arga?" Nenek menatap Arga tapi tangannya tak ia lepaskan dari Nisa.
"Acara apa?"
"Mama, perkenalkan, itu Nisa calon istri Arga," ucap Arga memperkenalkan.
Wanita itu berjalan perlahan ke arah Nisa dan sang ibu mertua. Tatapannya tak pernah lepas memindai Nisa dari ujung ke ujung, sesekali terlihat ia mendelik seakan meremehkan.
"Kamu calon istri anak saya? Apa usaha yang keluargamu punya? Anak pewaris dari perusahaan mana?" tanyanya to the poin saat sudah berada tepat di depan Nisa. Matanya menyorot tajam, membuat Nisa menunduk dan tak berani menatap ke arah wanita itu.
"Ma ...," sela Arga sebelum Nisa membuka mulut.
"Arga, kamu yakin mengabaikan berlian demi sebutir debu ini?" hardik wanita yang Arga sebut Mama.
"Ini hidup Arga, Ma, tidak ada kasta di antara pernikahan ini. Arga menginginkannya dan Mama harus menerimanya suka atau tidak." Arga membalas mamanya tak mau kalah.
__ADS_1
"Kamu itu bodoh! Kurang apa Tiara, Ga? Kamu menolaknya demi gadis udik ini? Sungguh memalukan! Ingat Arga, keluarga kita dari kalangan terhormat, menikahinya hanya akan menjadi aib.
Kamu mungkin saja sedang diperdaya oleh gadis miskin ini untuk menguras semua hartamu."
Deg!
Nisa merasakan perih yang luar biasa saat lontaran hinaan dari orang tua calon suami terpaksanya ini. Air mata menetes namun segera ia usap. Tidak, dia tidak boleh menangis, bukankah ini bagus? Jika Ibu dari laki-laki ini tidak setuju, kemungkinan untuk menikah akan batal dan ia tidak perlu bersusah payah untuk menolak.
"Bahkan jika dia meminta nyawa Arga pun, akan Arga berikan!" jawab Arga tegas.
"Sudah lah, sudah ... kalian membuat saya selalu sakit kepala. Rani, mengalahlah demi kebahagiaan cucuku. Aku ingin melihat dia segera menikah agar bisa segera aku menimang cicit. Ibu lihat Nisa gadis baik-baik," sela sang nenek mencoba menengahi.
"Ibu tidak tau aja kelakuan aslinya. Kebanyakan orang miskin hanya ingin panjat sosial, Bu. Mereka tidak benar-benar baik," sanggah Mamanya Arga yang bernama Rani itu.
"Dengan atau tanpa persetujuan Mama, Arga akan tetap menikahinya. Nek, Arga pulang dulu. Hari minggu di Masjid komplek rumah Arga jam 9," pamitnya pada sang nenek.
Arga menggandeng tangan Nisa, membawanya pergi dari rumah itu.
"Pernikahan tanpa restu orang tua tidak akan pernah berjalan dengan baik," ucap Nisa membuka suara. Kini mereka sudah berada di mobil menuju kediaman pribadi Arga.
"Persetan dengan semua itu. Saya hanya sedang memperjuangkan kebahagiaan saya. Sudah cukup saya mengalah dan berbakti padanya, apa saya juga harus mengorbankan sisa hidup saya, menikah dengan orang yang sama sekali tidak cintai?"
"Kamu menikahi saya karena cinta?" tanya Nisa memberanikan diri. "Pertemuan kita baru sekali, dengan kesan buruk dan anda dalam keadaan mabuk."
"Saya meyakini apa yang saya lakukan. Kamu tidak perlu mengingatkan saya."
"Saya tidak ingin menikah tanpa restu," ungkap Nisa.
"Setelah menikah, saya pastikan kamu akan bahagia tanpa memikirkan itu. Dia Ibu saya, yang melahirkan saya. Saya yakin dengan berjalannya waktu, dia akan menerima kamu," jawabnya.
__ADS_1
Nisa diam, tidak ada lagi kata yang terucap di bibirnya. Percuma saja, laki-laki yang bersamanya ini seorang penguasa. Dalam hidupnya mungkin tidak pernah menerima yang namanya penolakan meski itu dari Ibunya sendiri.
"Ibu dan Kakakmu akan tiba nanti malam, semuanya sudah siap. Besok kita fitting baju, designerku akan ke rumah."