Penjara Cinta Arga

Penjara Cinta Arga
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Hari berganti, pernikahan Nisa dan Arga tinggal dua hari lagi. Segala persiapan sudah matang, bahkan keluarga besar Dirgantara sudah menyebar undangan ke seluruh kolega mereka.


Meski pernikahan ini tidak diinginkan Rani, ibunya Arga, tapi dia cukup tahu konsekwensi jika menolak kemauan Arga.


Biarlah nanti dia akan pikirkan lagi bagaimana caranya menyingkirkan gadis kampung itu dari sisi anak sulungnya ini.


Saat ini bukan waktu yang tepat, jika gegabah takutnya hasilnya tidak akan sesuai keinginannya. Dengan terpaksa dia harus pura-pura baik pada calon menantu kampungannya itu juga calon besan yang rendahan melebihi pelayan-pelayan rumahnya.


"Arga, kamu mempermalukan Mama. Tiara kurang apa hingga kamu memilih perempuan udik itu." gumamnya.


"Tante, Tiara harus gimana? Tante bilang, Arga hanya akan menikah denganku," keluh Tiara pada Rani.


"Maafkan tante, Ra, kamu tahu sendiri Arga itu tidak bisa dibantah keinginannya sekalipun oleh Om Adam." Rani merasa bersalah pada gadis pilihannya untu anak sulungnya ini.


Gadis cantik nan modis berusia 21 tahun bernama Mutiara Anggun Prayoga lulusan luar negeri anak dari keluarga ningrat yang juga sahabat dekatnya Rani.


"Kamu tenang aja, tante punya rencana bagus untuk membuat Arga tidak akan lagi menginginkan gadis kampung itu. Itu pun kalau kamu bersedia menunggunya menduda. Rencana ini perlu waktu yang tepat dan persiapan yang matang, tante tidak bisa bertindak gegabah saat ini," ungkap Rani.


"Tiara mau, Tante, Tiara mau. Sampai kapanpun Tiara akan menunggunya, Tiara yakin Tante tidak akan mengecewakan Tiara. Tiara sangat mencintai Arga Tente, Tiara gak bisa hidup tanpa dia," keluh Tiara.


"Bagus kalau gitu, karena tante pun hanya menganggap kamulah menantu tante. Bukan gadis udik itu," ucap Rani menatap Nisa dari jauh dengan penuh rasa jijik.


Mereka memang sedang berada di rumah pribadi Arga. Mempersiapkan segalanya meski pestanya di gelar di MT Hotel tapi ijab kabulnya dilaksanakan di masjid komplek rumah Arga.


Selain itu juga Arga sengaja mengundang keluarganya datang guna memperkenalkan kedua keluarga.


Arga terlihat sangat bahagia, mamanya menyambut dengan baik keluarga Nisa. Tanpa dia ketahui, Rani mempunyai rencana buruk terhadap perempuan yang akan dinikahinya.


"Kak Arga jahat, kenapa ninggalin Tiara nikah duluan. Tiara kan jadi gak bisa lagi manja-manja sama kakak." Tiara menghujamkan pernyataan tidak senangnya pada Arga.


Mereka memang telah dekat sedari kecil, tapi Arga tidak pernah menaruh perasaan lebih selain menganggap Tiara adik.

__ADS_1


Meskipun dia tahu Tiara menyayanginya lebih dari seorang kakak dan kedua orang tua mereka memginginkan mereka menjadi pasangan, tapi Arga sama sekali tidak pernah mengindahkannya.


Baginya, Tiara hanya seorang adik kecilnya seperti halnya Yura, Adik kandung Arga yang kini berada di Amsterdam sedang melanjutkan S2-nya.


"Makany, cepat cari pendamping biar bisa manja-manjaan sama pasangannya. Kamu udah gak bisa manja sama kakak lagi, sudah ada istri yang harus dijaga perasaannya." Arga berucap sambil mengingatkan kalau hubungan mereka tidak bisa sedekat dulu lagi.


Arga harus menjaga jarak, menghargai istrinya yang bisa saja salah paham karena kedekatan mereka terlalu intim sebelumnya.


Ah, mengingat ia dicemburui Nisa rasanya akan membahagiakan. Akan tetapi, benarkah Nisa akan mencemburui dirinya bersama wanita lain? Sedang pernikahan mereka pun bukan karena cinta. Lebih ke Arga yang memaksakan kehendak sendiri.


Tidak, Arga yakin dirinya bisa membuat Nisa mencintai dan mencemburuinya. Nisa pasti akan dibuat bucin oleh Arga, pasti!


"Gak bisa sekaligus gitu dong, Kak. Tiara harus belajar sedikit demi sedikit untuk tidak bermanja sama Kakak. Masa Kakak tega sama Tiara," rengek Tiara manja. Tak terima jika harus kehilangan kasih sayang Arga.


"Bisa, pasti kamu bisa. Maka dari itu, cepatlah cari pasangan biar perhatianmu teralih gak sama kakak lagi," tegas Arga.


"Ga, pelan-pelan... Tiara sudah terbiasa dari kecil bergantung sama kamu, masa kamu tega, sih?


Dia yang selama ini selalu ada di sisimu, dia yang harusnya lusa jadi pengantinmu." Rani tak terima dengan keputusan Arga anaknya.


Gara-gara gadis kampung itu, Anaknya jauh dari calon menantu kesayangannya Tiara.


Tiara menangis mendengar penuturan Arga yang tidak membolehkannya bermanja lagi padanya. Hari-harinya pasti akan terasa hampa.


Dulu, setiap dia menginginkan sesuatu, Arga selalu menurutinya apa pun itu. Arga sangat memanjakannya bahkan lebih dari Yura adiknya sendiri.


Kini Nisa hadir, Arga pun mulai menjauhinya. Tidak, Tiara tidak bisa membiarkan gadis udik itu mengambil Arga darinya.


Benar kata Tante Rani, mereka harus bertindak sebelum Arga terlampau jauhelupakannya.


"Ma, sudah Arga bilang, tolong hormati Nisa dan terima dia. Jangan pernah sebut dia gadis udik lagi, dia calon istri arga, calon Nyonya Arga Dirgantara!" tegas Arga tak terims calon istrinya direndahkan oleh Mamanya sendiri.

__ADS_1


"Dan kamu, Ra, Kakak harap kamu bisa melakukannya. Jangan pernah berpikir macan-macam karena kakak tidak suka itu."


Setelah itu Arga pergi dari hadapan mereka berdua menuju kerumunan lain yang sedang asyik mengobrol, yaitu Nenek, Papa, beserta keluarga Nisa.


Ya, Nenek dan Papanya tidak keberatan dengan pilihan anak sulungnya, karena bagaimana pun kehidupan pernikahan itu yang menjalani adalah Arga, bukan orang lain.


Hanya Mamanya saja yang keberatan. Mungkin karena dari dulu Mama berharap Arga bisa menikah dengan Tiara, anak dari sahabat dekatnya. Namun Arga yakin suatu saat Mamanya pasti bisa menerima Nisa. Nisa gadis yang baik dan tulus, dia pasti bisa meluluhkan kerasnya hati sang mama.


"Lagi ngobrolin apa sih, seru banget sepertinya?" Arga mendudukkan dirinya di samping sang nenek yang sedang tertawa bahagia.


"Ini loh Ga, kami sedang menggoda calon istrimu. Mengingatkannya supaya bersiap menghadapi malam pertama nanti, kamu pasti menggempurnya habis-habisan," ungkap sang nenek.


Arga melirik ke arah Nisa yang sudah pias karena menahan malu digoda oleh orang-orang di sini, bahkan ibunya pun ikut menggoda.


Seketika ia membanyangkan kejadia malam itu, malam yang sangat indah baginya. Sudah dipastikan malam pertamanya nanti pasti akan begitu menggairahkan dan sangat bersemangat.


Bukannya membela Nisa, Arga malah memperparah suasana dengan kelakarnya.


"Itu sudah pasti, Nek. Arga pastikan istri Arga tidak bisa jalan di hari pertama pernikahan kita. Bahkan, Arga akan mengurungnya berhari-hari sampai Arga puas," ucap Arga terkekeh sambil menatap Nisa menggoda dengan kerlingan nakalnya.


Nisa kalut, wajahnya sudah tidak bisa dibanyangkan lagi seperti apa piasnya. Mereka yang di sana benar-benar lepas kontrol untuk menggodanya.


Semua yang ada di sana semakin bersorak dengan pengakuan Arga yang tidak ada rasa canggungnya sedikitpun. Bahkan sang nenek hampit terkencing di celana jika saja tidak segera meminta suster perawat membawanya menuju kamar mandi.


Nisa berdiri, berniat pergi dari situ karena tak tahan dengan godaan semua orang. Membayangkan malam pertama bersama Arga membuatnya bergidik ngeri dan takut.


Ia masih ingat bagaimana buasnya Arga saat menidurinya tempo hari. Seketika hawa panas Nisa rasakan, bulu kuduknya meremang dan dia dia segera berlari menuju kamar tempat dia sementara tidur bersama ibunya sebelum resmi menyandang gelas istri dari sang pemilik rumah.


Mereka yang berada di sana semua terbahak melihat Nisa yang berlari dengan wajah merah seperti kepiting rebus itu.


Hahahaaa.

__ADS_1


__ADS_2