
Sementara itu di tempat lain, "Loh, Sa, lo udah balik? Bukannya tiket nginepnya tiga hari tiga malam?" tanya Nova kaget saat melihat Nisa membuka pintu kamar kosnya.
Nisa menatap sahabatnya itu sejenak, alih-alih menjawab pertanyaannya, ia malah memberikan seulas senyum yang terlihat seakan dipaksakan.
"Lo habis nangis? Kenapa? Ada apa? Bilang sama gue!" ucap Nova sekali lagi dengan penuh tanya.
"Aku papa kok,"
"Jangan bohong, gue kenal lo gak sebentar, Sa!"
Nisa terdiam sejenak, sahabatnya itu memang selalu peka terhadap keadaannya. Atau mungkin, Nisa lah yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Va, hmm, a-aku ... aku ...." Bulir bening itu mengalir lagi tanpa bisa Nisa cegah. Ia kembali menangis, air matanya begitu deras membasahi pipi dan raut wajahnya menyiratkan kepedihan yang mendalam.
Seakan tahu keadaannya tidak sesederhana yang dipikirkan, Nova menyeret Nisa masuk ke dalan kamar. Nova tahu, sahabatnya yang satu ini tidak akan mau membuka pembicaraan di tempat terbuka. Apalagi kalau ini menyangkut masalah pribadinya dan di sekitar mereka banyak penghuni kos yang lain sedang bergumul dengan segala aktivitas mereka.
Menjemur pakaian, ngerumpi sambil momong anak, dan lainnya, karena ini hari Sabtu dan penghuni kos kebanyakan pekerja pabrik jadi banyak yang sedang libur kerja.
Sebagian perusahaan memang menetapkan Sabtu sebagai hari libur dengan membagi jam kerja di hari ini ke hari kerja lain. Mungkin agar para pekerjanya mempunyai waktu istirahat lebih maksimal dan pas kembali bekerja mereka akan lebih fit dan bersemangat.
"Lo kenapa?" tanya Nova untuk kesekian kalinya saat telah berada di dalam. mereka duduk beralaskan karpet lantai bulu berukuran 100x120 cm berwarna abu-abu yang sering Nisa gunakan untuk rebahan sambil menonton TV atau memainkan laptopnya untuk menulis naskah.
"Semua udah berakhir Va, semua hilang, udah hilang," ujar Nisa sesenggukan.
Nova memeluknya, mengusap punggung Nisa, menepuk-nepuknya pelan mencoba menenangkan, "Apa yang hilang? Beri tahu gue, apa yang terjadi?"
"Aku udah hancur, Va. Aku udah kotor, aku kotor...." Air mata semakin deras bahkan mulai merembes membasahi baju Nova. Nisa meluapkan segala kesedihan dan kekecewaannya dalam pelukan sahabatnya itu. Sahabat yang sudah seperti saudara satu-satunya yang ia kenal di perantauan ini.
"Apanya yang kotor? Nico nyusulin lo? Lo tidur bareng sama dia?"
"Nico ...." Mendengar nama Nico, Nisa malah semakin terluka dengan keadaannya sekarang. Ia semakin histeris, tangisannya mengandung begitu banyak luka.
__ADS_1
Pria yang sangat dicintainya itu mungkin akan sangat terluka dan benci jika mendengar keadaannya saat ini. Entah apa yang harus ia lakukan? Semuanya terasa buntu. Semua harapan hidup Nisa seperti sudah berakhir sampai di sini.
"Baj**gan! Gue pasti bakalan buat perhitungan sama dia." Nova begitu terlihat penuh amarah, gurat wajah juga sorot matanya memancarkan kemurkaan.
"Bukan Nico, Va. Bukan dia pelakunya, Nico gak ada di sini, dia lagi pulang ke Malang."
Mendengar itu, Nova sontak terdiam kaku. Ia sudah sedikit lega kalau Nico pelakunya. Walau ia juga sangat murka karena Nico telah mengkhianati kepercayaannya, tapi Nova yakin Nico akan bertanggung jawab.
Nico begitu mencintai Nisa, bahkan sudah mengutarakan rencananya pada Nova untuk melamar Nisa setelah wisuda S2-nya tahun ini.
"Lalu siapa?"
Nisa menggeleng tak tahu. Siapa lelaki itu? Dari mana asalnya? Bahkan untuk nama pun ia tak tahu.
Nova semakin prihatin dengan sahabatnya itu. Kenapa orang sebaik Nisa bisa bernasib seburuk ini, dosa apa yang telah diperbuatnya? Padahal selama mengenalnya, Nisa itu gadis yang pendiam dan berperilaku sangat baik.
"Lo yang sabar, ya, Sa. Lo tenang aja, gue pasti bakalan bantuin lo buat bikin pelajaran sama cowok brengsek yang udah ngancurin lo!"
Ya, bagaimana jika dia hamil? Sedang pria yang menghamilinya itu tak tahu di mana. Pasti ibu dan kakaknya di kampung akan sangat kecewa dan terpukul mendengarnya. Nisa telah menciptakan aib buat keluarganya itu.
"Lo yang sabar, gue yakin Tuhan bakalan bantu lo. Lo itu orang baik, Sa, dan untuk kemungkinan lo hamil, gue rasa peluangnya sedikit. Walau kemungkinan itu ada," ucap Nova menenangkan sambil menghapus air mata di wajah Nisa.
"Tapi ...."
"Sa, semua udah terjadi dan lo gak bisa ngebalikin itu semua. Satu-satunya cara biar lo tenang, lo harus ikhlasin. Lo selalu bilang sama gue, Tuhan itu Maha Adil, Maha Penyayang. Gue yakin Tuhan punya rencana indah di balik ini semua. Lo jangan takut, jangan nyerah, oke! Ada gue yang bakalan selalu temenin lo."
Akhirnya, setelah lama Nova menenangkan, Nisa perlahan mulai tenang. Nova tersenyum walau dalam hati ia masih merasa iba pada gadis sederhana di depannya. Malang nian nasib sahabatnya ini.
Nova kembali memeluknya, dalam hati berkata, semoga sahabatnya ini tidak sampai hamil dan bisa menemukan pria baik yang bisa menerima Nisa apa adanya.
Hari berganti, satu minggu telah terlewati. Nisa kembali menjalani kehidupan dengan normal, mencoba melupakan kejadian buruk yang telah menimpanya. Meski ia masih selalu cemas akan kemungkinan hamil, juga ketakutan saat mengingat kejadian itu di kala menjelang tidur. Namun, di siang hari ia selalu bersikap biasa dan normal. Ia juga bertekad untuk bangkit, melanjutkan impiannya mendapat gelar sarjana, membuat ibu dan kakaknya bangga.
__ADS_1
"Lo yakin bakalan mutusin Nico?"
"Ya," jawab Nisa mantap.
"Gak nyoba bicara dulu, menjelaskan semua yang udah lo alami? Gue yakin kok, Nico bakalan nerima lo apa adanya. Nico sayang banget sama lo, Sa."
"Aku udah pikirin semua ini dengan matang, Nico lelaki yang baik, dia pantas mendapatkan wanita yang baik pula."
"Lo juga wanita baik. Sangat baik, malah!"
"Sebaik-baiknya perempuan adalah yang bisa menjaga kesuciannya."
Mendengar itu, Nova sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Hanya bisa menyayangkan hubungan antara sahabtnya dengan orang yang disayangi akan berakhir. padahal ia tahu, mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Setelah putus sama Nico, lo mau apa?"
"Ya, gak apa-apa. aku mau fokus sama kuliah dan karierku aja."
"Lalu, alasan apa yang bakalan lo pake buat mutusin Nico?"
"Gak cocok! bilang aja seperti itu. Toh, selama ini memang hubunganku dengan Nico tidak pernah mendapat restu dari maminya. Perbedaan kasta antara kita terlalu jauh, dan orang tua Nico selalu tak pernah menganggap aku ada. Bahkan maminya sudah mempersiapkan calon istri untuk Nico."
"Maksud lo, Nico mau dijodohin?"
"Ya!"
"Tahu dari mana?"
"Sebelum kejadian ini, maminya Nico menemuiku bersama seorang wanita yang diperkenalkan sebagai calon istrinya Nico,"
"Nico tahu tentang itu?"
__ADS_1
"Tentang pertemuanku dengan maminya, nggak. Tentang perjodohan dia tahu. Bahkan kepulangannya itu adalah rencana maminya untuk mempersiapkan pertunangan mereka."