Penjara Cinta Arga

Penjara Cinta Arga
Menemukanmu


__ADS_3

"Sudah seminggu lebih, nyari satu cewek aja lo pada gak bisa? udah bosan ngikutin gue?" teriak Arga penuh amarah. Semua yang ada di ruangan itu gemetar ketakutan, kecuali Ray yang masih bersikap tenang tanpa gentar.


"Mending lo semua pergi dari sini. kemasi barang-barang kalian! Manusia gak berguna." Arga semakin menjadi, dilemparnya apa pun benda yang ada di hadapannya.


Ray mencoba untuk mendekat, tapi sebelum ia lemangkahkan kaki, ponselnya berdering.


"Ya,"


"Oke! Kerja bagus." Ray mengakhiri panggilan itu dengan singkat.


"Bos, Bi--"


"Gue gak butuh informasi apa pun selain keberadaannya." Dengan tegas Arga menyela ucapan Ray.


"Bimo dan anak buahnya sudah menemukan perempuan itu." Ray melanjutkan perkataan yang tadi dipotong bos sekaligus sahabatnya itu.


Arga yang mendengarnya seketika terdiam. Amarah yang tadi sempat membuncah, kini telah ia redam. Senyum devil terlihat menghiasi sudut bibirnya.


"Bawa gue ke tempatnya sekarang!" perintahnya.


"Dia sedang kuliah," sela Ray.


"Gue gak peduli. Di mana dia kuliah? Kalau lo gak mau ikut, gue bisa sendiri."


"Oke, gue ikut, gue ikut. Mari gue antar," ucap Ray, mempersilakan Arga untuk melangkah duluan meninggalkan ruangan diikuti lima anak buahnya.


"Huft, untung aja Bimo menemukannya, kalau gak, bisa berabe hidup gue. punya sahabat udah kayak monster kalau keinginannya belum terpenuhi. Kalau bukan bos gue di dunia hitam juga, udah gue tendang lo, Ga," gumam Ray seraya mengikuti langkah sahabatnya itu dari belakang.


***


"Sa, kantin yuk!" ajak Nova saat bel tanda kelas berakhir.


"Sendiri aja ya, aku mau ke perpus," tolak Nisa.

__ADS_1


"Yaudah, gue juga mau ke perpus aja."


"Va, a--"


"Apa? Mau bilang gak laper, atau gak selera makan, atau lagi puasa, lagi diet?" cerocor Nova tanpa jeda.


"Bukan gitu,"


"Lalu ...?"


"Aku gak mau ketemu Nico. Dia nungguin aku di kantin selesai jam pelajaran," ungkap Nisa terus terang.


Ya, semenjak kejadian itu, Nisa terus menghindar dari kekasihnya, Nico. Selain karena merasa dirinya tidak pantas, orang tua Nico pun tak pernah merestuinya. Jadi, buat apa semua dipertahankan?


"Nico udah pulang!" seru Nova.


"Serius? Tahu dari mana, kamu pasti bohong, kan?" tanya Nisa kaget. Ia tak percaya, pasalnya baru dua puluh menit tadi Nico mengirim pesan agar menemuinya di kantin.


"Anjar tadi yang bilang, waktu gue izin ke toilet gak sengaja tabrakan sama Nico. Terus pas balik ke kelas, gue ketemu Anjar, ya, sekalian aja gue tanyain kenapa si Nico terburu-buru gitu. Dia bilang, Nico dapat telepon dari orang rumah dan harus buru-buru pulang."


"Ke mana? nyusul Nico?" tanya Nova memastikan.


Mendengar itu, Nisa mengernyitkan kedua alisnya. Sahabatnya ini kenapa mendadak jadi idiot gini?


"Ke kantin, Va, Aku lapar,"


"Ohh, kirain nyusul Nico. Emang lo gak penasaran kenapa dia balik terburu-buru gitu? Gak khawatir sesuatu terjadi?"


"Gak. Aku lapar," jawab Nisa cuek. padahal di dalam hati ia setengah mati mengkhawatirkan lelaki yang selama ini selalu dia sebut namanya dalam doa. Namun, Nisa berusaha untuk tetap bersikap biasa.


Menjauh adalah keputusan terbaik. Nico gak pantas mendapatkan perempuan kotor sepertinya. Biarlah ia dibenci karena ketidakpeduliaanya, asal tidak membuat Nico kecewa dengan mengetahui kalau dia sudah tidak suci lagi.


Sepiring siomay dan segelas es jeruk sudah tersaji dihadapan Nisa, sedang Nova memesan bakso dan es teh manis—menu favoritnya di kantin ini.

__ADS_1


Melihat Piring Nisa yang masih utuh, Nova akhirnya tak tahan, "Akhir-akhir ini gue liat selera makan lo turun drastis, Sa. Lo masih memikirkan kejadian itu? Lo boleh marah, boleh sedih, tapi jangan berlarut-larut kayak gini. Sayangi tubuh lo, inget ibu sama kakak lo yang menantikan kepulangan lo dengan sukses.


Lo gak sendiri di dunia, di Jakarta ini banyak kok, yang gak perawan padahal statusnya masih gadis, mereka cuek-cuek aja, tuh. Padahal mereka melakukan itu bukan atas keterpaksaan, melainkan saling suka dengan pasangannya. Nah, elo? Elo gak sengaja, elo korban.


Gue yakin, akan ada cowok yang mau terima elo dengan tulus. Elo cewek baik, Sa. Lo harus tahu itu." Nova menggenggam erat tangan sahabatnya, bulir air mata kini telah menetes membasahi pipi kedua sahabat itu.


Nisa merasa tak enak hati, ia mencoba untuk melerai kesedihan ini. diusapnya pipi sang sahabat dengan selembar tisu, lalu ia tersenyum memberikan kehangatan.


"Aku janji, aku gak bakalan egois lagi. Jangan nangis, Nova yang aku kenal gak cengeng kayak gini," ucap Nisa seraya melap jejak-jejak air mata di pipinya, menatap mata cokelat yang sudah dipenuhi air mata itu.


"Kamunya jangan menyiksa diri sendirii terus, Sa, aku sedih liatnya," lirih Nova sambil menggenggam tangan Nisa.


"Iya, Aku janji. Maaf ya, udah bikin kamu khawatir," ucap Nisa yang dibalas oleh anggukan oleh Nova.


"Makan." Nova menyodorkan sendok berisi siomay ke mulut Nisa. Belum sampai ia mengunyah, dari arah pintu masuk kantin terlihat wajah seorang pria yang begitu familiar di ingatannya. Seketika ia tersedak dan memuntahkan semua siomay yang sudah berada dalam mulutnya.


Uhuk!


"Kenapa, Sa?" tanya Nova dengan penuh kekhawatiran. Disodorkannya es jeruk pada Nisa, untuk kemudian diminum oleh Nisa.


Sedang Nisa terus membeku, matanya tak berkedip memandang lurus ke arah pintu masuk. Es jeruk yang disodorkan Nova tidak dihiraukannya, atau mungkin dia tidak menyadarinya sama sekali.


Melihat sahabatnya yang bergeming seperti tanpa raga itu, Nova semakin cemas, diperhatikannya tubuh mungil Nisa dengan detail takut ada sesuatu yang melukainya tanpa sengaja. Hingga ia menemukan sorot mata yang tak pernah berkedip itu, mengikuti pandangan sahabatnya yang seolah terkunci, dan didapatinya seorang pria tinggi bertubuh tegap dan luar biasa tampan sedang memandangi Nisa juga.


Seperti halnya Nisa, Nova pun sempat terbengong menyaksikan keindahan di depan matanya itu. Namun, Nova buru-buru tersadar dan menepuk tangan Nisa agar tersadar juga dari kebisuannya.


Nisa seketika tersadar, tanpa menghiraukan Nova yang kebingungan buru-buru ia beranjak, ingin segera pergi meninggalkan tempat ini. Namun, semuanya terlambat. pria itu sudah melihatnya, bahkan sebelum Nisa sadar dari keterkejutannya.


Ketika Nisa hendak melangkahkan kaki, tangannya dicekal oleh sebuah tangan besar penuh otot. Ragu, dilihatnya si pemilik tangan itu, terlihat sesosok wajah familiar yang tadi masih di ambang pintu. Nisa terkesiap, tangan itu ... milik pria brengsek yang sudah menghancurkan hidupnya.


Ia takut, juga merasa jijik saat bayangan malam itu memenuhi ingatannya. Tangan kotor itu ....


"Lepaskan!" teriak Nisa penuh amarah.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa lari dariku! Sudah kuputuskan, kamu akan menjadi istriku, menjadi ratu dari Arya Dirgantara."


__ADS_2