Penjara Cinta Arga

Penjara Cinta Arga
Aku tak Sudi


__ADS_3

"Laki-laki gila! Bajing*n! Siapa yang mau menikah denganmu? Seumur hidup, aku gak sudi berdampingan denganmu." Nisa begitu jijik saat mendengar perkataan yang dilontarkan pria di hadapannya.


Menikah? Calon isteri? meski dia telah kehilangan mahkotanya oleh pria itu, tapi untuk menikah dengannya rasa-rasanya sangat mustahil.


Orang seperti apa pria itu? dari kelakuan yang diterima Nisa di awal pertemuan saja sudah menjelaskan, kalau dia bukan pria baik-baik. Suka tidur dengan sembarang wanita, juga terlihat sangan arogan.


"Apa kau bilang? Aku gila, bajing*n? Hahaa, Baby, seumur hidupku baru kali ini ada wanita yang berani sepertimu.


Mengataiku, bahkan berani menolak keinginanku. Kau tahu, begitu banyak gadis yang antri untuk aku jadikan istriku, tapi kau malah begitu tidak tahu diri." Cengkeraman Arga bertambah kuat saat mendengar makian dari mulut gadis yang akhir-akhir ini membuyarkan konsentrasinya.


Matanya menatap tajam pada Nisa, Nisa juga tidak mau kalah. Harga dirinya sudah dihancurkan oleh laki-laki di hadapannya ini, pantaskah dia diperlakukan seperti ini?


"Dengar, Tuan arogan. Aku tidak tertarik dengan apa pun yang kamu katakan. kau bilang banyak gadis yang antri? Lalu kenapa kau susah-susah mencariku?


Bertemu denganmu adalah bencana bagiku, apalagi harus menikah? Mimpi!" Nisa menatap nyalang pada Arga, meluapkan semua amarah yang selama ini tak bisa ia ungkapkan karena tidak ada orang yang tepat untuk menerima amarahnya itu.


Kini satu-satunya orang yang tepat untuk menerima ke marahannya ada di hadapannya, ia pun tak lantas membuang kesempatan.


Ray yang mendengar umpatan dan penolakan dari gadis itu merasa sangat bersemangat. Pasalnya, tidak pernah ada gadis yang menolak Arga--bosnya.


"Sebelum kesabaranku habis, lebih baik kau ikut denganku. Kita urus pernikahan secepatnya. Aku--Arga Dirgantara tidak pernah menerima penolakan!"


"Tidak! Aku gak sudi. Aku bilang, aku gak mau menikah denganmu, apa kau tuli?" sentak Nisa.


"Oke! Jika itu maumu, tapi jangan salahkan aku jika kamu hamil dan tidak mempunyai pasangan. Ingat, kita melakukannya lebih dari sekali malam itu, dan aku tidak memakai pengaman," bisik Arga di telingan Nisa.

__ADS_1


Seketika wajah Nisa pias mendengar ucapan Arga, sementara Arga menyeringai puas saat melihat ekspresi gadis itu.


Nisa membatu, memikirkan perkataan pria bajingan itu. Benar, malam itu dia telah ditidurinya berkali-kali, bahkan ia sampai tak sadarkan diri saat menghadapi kebuasan Arga. Jika benar nanti dia hamil, bagaimana reaksi ibu dan kakaknya saat mendengarnya? Terlebih jika dia hamil tanpa suami.


Nisa menggeleng kuat, memikirkan hal itu membuatnya prustasi. Apalagi saat mengingat dia dalam keadaan subur selepas masa haidnya saat berhubungan.


"Ibu ... maafkan Nisa," batinnya. Tetes demi tetes air mata mengaliri pipi, ia menangis dalam diam.


Arga dan juga yang lainnya seketika kaget melihat gadis itu menangis, terlihat raut putus asa di wajahnya. Tubuhnya gemetar, tetapi ia sama sekali tidak bersuara, hanya deraian air mata yang semakin lama kian deras.


Tiba-tiba cengkeraman Arga pada tangan Nisa dilepas paksa oleh seseorang. Dia tersentak kaget, membuyarkannya dari ketidaksadaran akibat pengaruh dari tangisan dalam diam Nisa.


Seorang gadis yang sedari tadi menyaksikan Arga dan Nisa berinteraksi kini telah membawa Nisa ke dalam pelukannya dan angkat bicara.


"Siapa kamu? Berani-beraninya mencampuri urusan saya? Saya peringatkan sama kamu, tidak peduli kamu anak seorang pengusaha atau seorang pejabat, jika kamu berani mencampuri urusan saya, hari ini juga akan saya buat keluargamu tidak memiliki apa-apa."


Perkataan Arga seketika membuat nyali Nova menciut. Siapa pria arogan ini? Apa jangan-jangan pria yang di hadapannya benar-benar seorang yang punya pengaruh besar di negeri ini. Kalau tidak, mana mungkin pria ini berani menggertaknya dan menemui Nisa di kampus saat masih jam kuliah, meski sebagian sedang istirahat termasuk dirinya dan Nisa.


Nova memindai pria di hadapannya itu tanpa ada bagian tubuh yang terlewat dari tatapannya. Sampai pada wajah tampan dan kharismatik sang pria, Nova mengingat-ingat wajah yang begitu familiar ini. Lambat laun dengan seksama dan penuh konsentrasi, akhirnya Nova mendapatkan jawabannya.


"Astaga," gumam Nova sambil melongo kala mengingat siapa pria dihadapannya ini. Mulutnya membuka lebar--syok mendapati kenyataan yang dihadapinya kini bukan orang sembarangan. Lebih dari seorang pengusaha berpengaruh nomor satu, Nova juga tahu kalau pria arogan ini adalah salah satu pria yang punya kehidupan abu-abu.


Banyak beredar rumor kalau pria di hadapannya ini selain pengusaha juga seorang mavia yang mempunyai banyak bisnis gelap antar negara, perdagangan manusia, penyelundupan senjata, pembunuh berdarah dingin, mempunyai banyak bawahan dari berbagai klan dan negara.


Ada lagi yang bilang pria ini adalah tangan kanan pemerintah dalam mengelola perekonomian negara, roda perekonomian negara berada dalam genggamannya dan siapa pun tidak dapat mengusiknya barang secuil.

__ADS_1


Semua rumor itu tidak pernah terungkap jelas, tapi yang pasti pria ini sangat berbahaya.


"Menyingkirlah. Kau sudah ingat siapa saya, maka jangan pernah membuat saya marah karena kamu tahu akibatnya," ucap Arga membuyarkan lamunan Nova.


"Tidak. sekalipun kamu malaikat maut, gue gak akan membiarkan Nisa jatuh ke dalam jeratan manusia iblis sepertimu."


"Baiklah, jika itu maumu saya tidak keberatan. Ray, sambungkan telepon ke Santana Group, bilang saya mau bicara," perintah Arga pada sang asisten yang sedari tadi hanya jadi penonton bersama kelima anak buah yang dibawanya.


"Tidak perlu. Saya akan ituk dengan Anda, tapi tolong jangan libatkan orang yang tidak tahu apa-apa untuk mengancam. Lepaskan mereka, saya janji sahabat saya tidak akan ikut campur urusan kita." Kini Nisa angkat bicara.


Nisa tahu, pria ini pasti sangat berkuasa dan mempunyai pengaruh besar di negara ini. Kalau tidak, mana mungkin dia tahu seluk beluk keluarga sahabatnya dengan begitu mudah.


Nisa tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti kemauan pria ini, atau keluarga Nova akan hancur karenanya.


"Sa ...."


"Udah gak papa, aku udah memikirkannya dengan matang. Kamu jaga diri baik-baik, Va, Aku akan baik-baik saja," ungkap Nisa menyela perkataan Nova.


Ya, sepertinya memang ini jalan satu-satunya. Nisa tidak mungkin bisa lari, yang ada orang-orang di dekatnya akan menjadi sasaran pria iblis ini. Nisa juga takut kalau pria ini akan mencelakai ibu dan kakaknya di kampung.


Bukan hal yang sulit bagi pria ini untuk menemukan keluarganya bukan? Terlebih, ibu dan kakaknya hanyalah seorang petani teh yang identitasnya biasa dan gampang dilacak keberadaannya melalui informasi identitasnya di kampus ini.


Perlahan Nisa menguatkan dirinya, melepaskan diri dari dekapan Nova.


"Ayo pergi," lirihnya pada pria di hadapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2