
"Ibu, Akang...." Nisa menghambur ketika melihat dua orang yang disayangi datang. Ia memeluk ibunya penuh rasa rindu, setelah hampir setahun tidak bertemu, lalu berganti memeluk kakaknya.
"Kenapa gak cerita sedari awal?" tanya Hadi sang kakak.
"Nisa ... Nisa ...," jawab Nisa terbata, bingung tidak dapat jawaban yang tepat.
"Saya yang memintanya untuk menikah secepatnya. Maaf, karena mendadak ... saya tidak ingin kehilangan dia, saya sangan mencintainya," potong Arga.
"Kamu sungguh-sungguh ingin menikah dengan adik saya? Kami hanya orang kampung, saya takut adik saya tidak cocok dengan lingkungan anda. Dia satu-satunya harta kami, kami takut dia tidak bisa menjalani kehidupan yang seperti anda jalani," ungkap Hadi.
"Percayalah, saya serius dengan Adik Akang, saya janji akan membut dia selalu nyaman berada disamping saya.
Lebih baik kita bicarakan ini sambil duduk dan nyemil, Ibu sama Akang pasti lelah habis perjalanan jauh. Mari, Bu, Kang,"
Mereka pun melanjutkan obrolan di ruang tamu dengan disuguhi berbagai macam jamuan.
"Sekali lagi maaf, karena acaranya sangat dadakan dan saya tidak bisa menjemput Ibu dan Akang secara pribadi bersama Nisa. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan sebelum hari H dan saya tidak mungkin membiarkan Nisa pulang sendiri tanpa saya."
Membiarkan Nisa pulang sendiri hanya akan membuatnya melarikan dari dirinya, pikir Arga. Dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi, Nisa tidak boleh lepas lagi darinya bagaimana pun caranya. Mereka harus menikah. Arga harus mengikatnya segera dengan pernikahan agar Nisa tidak bisa lari darinya.
"Kamu udah yakin, Neng?" Kini Hadi bertanya pada Nisa. Adik perempuan satu-satunya yang sangat dia dan ibunya sayangi dan selalu mereka manjakan dengan penuh kasih sayang.
Nisa hanya mengangguk memberi jawaban. Dia tidak bisa berkata-kata, karena pasti akan membuat kakaknya ini meragukan niatnya. Dia tahu betul kalau tidak bisa membohongi kakaknya dengan perkataan, sedang jika kakaknya tidak setuju, Nisa khawatir calon suami terpaksanya ini akan berbuat sesuatu terhadap keluarganya.
"Ya sudah, Ibu sama Akang ikut apa mau kamu. Asal Neng bahagia, Akang pasti setuju!" tegas hadi.
Tak terasa, Nisa meneteskan air mata dalam dekapan sang ibu dan itu dilihat oleh Hadi.
"Jangan nangis, kan udah mau jadi istri, masa masih cengeng," ucap Hadi sambil menghapus jejak air mata di pipi adiknya itu.
__ADS_1
"Saya setujui pernikahan ini. Semoga anda bisa membahagiakan adik saya dan jika suatu saat anda merasa bosan, saya mohon kembalikan dia pada kami dengan baik, dia satu-satunya harta kami," ucap Hadi pada Arga.
"Saya janji akan membahagiakan dia dan tidak akan pernah mencampakkannya. Akang tenang saja, Nisa tidak akan kekurangan suatu apa pun dari saya," jawab Arga.
Obrolan berlanjut lebih santai setelah mereka sepakat dengan pernikahan dadakan ini.
Siang berganti malam, mereka bahkan telah selesai makan malam bersama. Hadi dan Arga tampak lebih akrab, bahkan kini mereka sedang bermain catur sambil ngobrol santai. Sedang Nisa dan ibunya sedang berada di kamar bercerita banyak sambil melepas rindu.
"Nak Arga itu kelihatannya sayang banget sama kamu, Neng ... semoga kalian bahagia dengan pernikahan ini. Ibu bahagia, anak ibu yang cantik ini akan mendapatkan suami sebaik dan seganteng Nak Arga," ucap sang ibu.
"Doain Nisa selalu, ya, Bu. Semoga ini pilihan terbaik, maafkan Nisa karena memilih menikah lebih dulu sebelum lulus kuliah seperti janji Nisa dulu." Nisa merasa sedih karena mengingkari janjinya untuk lulus kuliah sebelum menikah.
"Gak papa, jodoh, maut, rezeki bukan kita yang ngatur, Neng. Meski kita berencana sesempurna mungkin, Allah lah yang menentukan hasilnya. Ibu dan akangmu akan mendukung apa pun pilihan kamu."
"Makasih, Bu...."
"Tidur, besok katanya mau ada fitting baju pengantin? Kamu harus istirahat yang cukup biar pas nyobain gaunnya kelihatan seger dan tambah cantik." Nisa mengangguk lalu bangkit dari dekapan sang ibu menuju kamar mandi guna membersihkan diri sebelum tidur.
Keesokan harinya, suasana di rumah pribadi Arga begitu ramai dan hangat dengan adanya keluarga Nisa. Nisa pun tampak terlihat ceria, tidak seperti kemarin yang tampak tertekan dan ketakutan melihatnya.
"Ehmm, buatkan aku teh tapi jangan terlalu banyak gula karena melihat kamu saja sudah sangat manis," ucap Arga dengan tiba-tiba berada di belakang Nisa yang sedang sibuk di dapur membuat sarapan.
Tangannya melingkar di perut Nisa. Hal yang membuatnya merasa risih karena tidak terbiasa.
"Le-lepaskan, ma-malu dilihat orang ... Saya, saya akan buatkan seperti apa yang anda minta," ucap Nisa terbata sambil berusaha melepaskan belitan tangan kekar Arga di pinggangnya.
Nisa merasa risih, takut, juga panik dengan perlakuan Arga. Takut akan kejadian minggu lalu terulang lagi.
"Saya tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memanggil saya Mas...,"
__ADS_1
"I-itu, Itu ... Saya, sa-"
"Aku! Mas! Kamu harus terbiasa dengan kata aku dan Mas. Ingat, sebentar lagi kita akan menikah, kamu harus menghormati suamimu, bukan?" ucap Arga sambil terus menggoda Nisa dengan tangan yang masih melingkari perut ratanya.
Wajah Nisa memerah malu saat Arga menggodanya. Bulu kuduknya berdiri tatkala sentuhan-sentuhan kecil Arga bermain di lehernya.
"Ja-jangn seperti ini, saya mohon lepaskan, nanti dilihat Ibu," ucap Nisa lagi.
"Aku! Mas! Tanpa itu, aku tidak akan melepaskanmu meski Ibu dan Kang Hadi kemari," ungkap Arga.
"Ma-mas, lepaskan,"
"Good, Honey ...." Arga melepaskan tautan itu dan tersenyum puas.
"Buatkan aku teh, jangan terlalu lama karena sudah gak sabar mencicipi teh buatan calon istriku,"
Cup!
Satu ciuman Arga daratkan di pipi kanan Nisa sebelum beranjak dari dapur. Nisa seketika membeku mendapat ciuman dari Arga. mukanya yang sedari tadi sudah memerah bertambah dua kali lipat.
Jantungnya berdebar tak karuan, kedua tangannya ia dekapkan di dada mencoba menetralkan diri. Sementara Arga sudah tak tampak di sana.
Tepat di waktu yang sudah ditentukan, designer langganan Arga datang membawa beberapa model gaun pengantin yang sebelumnya sudah Arga pilihkan yang sekiranya cocok dengan bentuk tubuh dan warna kulit Nisa.
Kedatangannya ke sini hanya untuk memastikan gaun mana yang benar-benar akan dipilih dan menyesuaikan ukurannya agar pas. Pasalnya, mereka hanya akan memakai dua gaun. Satu untuk ijab kabul, satu untuk resepsi.
Tak lupa juga memilih pakaian yang akan dikenakan keluarga mereka. Meski pihak keluarga Arga tidak hadir, tapi mereka tetap harus mengikuti kehendak Arga.
Dia adalah sang penerus satu-satunya yang tidak boleh diabaikan jika tidak ingin bisnis leluarga mereka hancur. Meski ibu kandungnya sekalipun, dia harus tetap menghormati keputusan Arga Dirgantara.
__ADS_1