
"Pilihlah yang kamu suka, semuanya sudah mas pastikan cocok ditubuhmu," ucap Arga pada Nisa.
"Bu, Ibu yang pilihkan ya, Nisa yakin pilihan Ibu yang terbaik," pinta Nisa.
"Kamu itu gimana... kamu yang mau nikah, masa ibu yang milih gaunnya," ucap sang ibu.
"Nisa bingung, semuanya cantik-cantik, Bu," ungkap Nisa sembari memilah gaun-gaun cantik di hadapannya.
Sang designer tersenyum melihat Nisa yang kebingungan memilih.
"Anda boleh mencobanya dulu semuanya, biar nanti kelihatan mana yang paling cocok, karena semuanya memang model terbaik yang kami pilihkan untuk pernikahan anda dan Tuan Arga," ucap sang designer perempuan bernama Sisi.
"Cobalah dulu, kalau semuanya kamu suka, kamu boleh memilih semuanya. Mas gak keberatan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam," ungkap Arga dengan senyumnya yang menggoda.
"Jangan lama-lama... melihatnya saja aku sudah membayangkan betapa beratnya gaun itu." Nisa keberatan dengan usul pesta tujuh hari tujuh malam Arga.
Semua yang ada disana terkekeh mendengar protes Nisa.
"Ya udah, cobain dulu gih, atau mau aku bantuin?" goda Arga.
"Nggak! Aku cobain sendiri." Nisa bergegas membawa salah satu gaun yang ia pilih guna mencobanya.
"Anak Ibu itu, gimana aku gak ingin menyegerakan pernikahan kita," ungkap Arga pada calon mertuanya itu.
Meski baru kemarin datang, perlakuan Ibu Nisa begitu hangat padanya. Arga sudah tidak segan terhadap wanita bernama Sri yang berusia lima puluhan tahun itu. Didekapnya tangan kasar calon mertuanya dan menciumnya dengan takjim.
"Terima kasih sudah melahirkan wanita sebaik Nisa, Bu. Arga janji akan membahagiakannya dan tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Ibu percaya kamu akan membahagiakan Nisa. Ibu bahagia Nisa mendapatkan calon suami sepertimu, Nak," ungkap Sri haru. Ia menitikan air mata bahagia melihat anak bungsunya mendapatkan calon suami sebaik dan seperhatian Arga.
"Bu, ini cocok gak?" ucap Nisa membuyarkan obrolan orang-orang yang sedang menunggunya berganti gaun.
__ADS_1
Arga tertegun melihat Nisa yang begitu anggun dengan balutan kebaya putihnya. Meski tanpa riasan wajah, ia terlihat sangat cantik dengan wajah polosnya.
Seketika Arga membayangkan hari H pernikahannya dengan Nisa. Membayangkan betapa cantiknya ia memakai kebaya juga riasan ala pengantin, pasti sangat cantik. Tanpa riasan wajah saja, Nisa sudah membuatnya dimabuk cinta seperti ini.
"Bagaimana, Arga?" tanya Ibu membuyarkan imajinasinya.
"Ya?" tanya Arga tarkesiap.
"Bagaimana kebayanya, apa udah cocok dengan yang ini?" tanya Ibu mengulangi.
"Ah, ya, yang ini sangat cocok untuk ijab kabul," ungkapnya.
"Ya sudah, Ibu juga setuju dengan yang ini. Kamu terlihat sangat cantik dan sepertinya Arga juga sangat terkesan, iya kan, Arga?" ungkap sang ibu menggoda calon menantunya yang sedari tadi terpada dengan anak gadisnya itu. Membuat Arga salah tingkah dan garuk-garuk tak gatal dibuatnya.
"Sekarang coba gaun untuk resepsinya," lanjut sang ibu masih dengan senyumannya.
"Gaunnya yang mana saja lah, Bu. semuanya bagus, kok," ungkap Nisa.
"Ya sudah, iya... Nisa ganti sekarang." Nisa kembali ke ruangan ganti, melanjutkan mencoba gaun pengantin untuk resepsi.
"Ibu, yang ini gimana? Udah ya, pokoknya tentuin satu. Nisa capek gonta-gantinya," keluh Nisa di percobaan baju yang kesekian kalinya.
Semua terkekeh mendengar keluhan Nisa yang kelelahan mencoba gaun-gaun pengantinnya.
Sudah berurang kali Nisa berganti gaun, tapi masih saja disuruh mencoba yang lainnya, membuatnya sangat merasa lelah.
"Akang rasa yang abu-abu tadi lebih cocok di kamu, Neng. Iya gak, Ga?" Sekarang giliran Hadi yang berkomentar.
"Ya, saya juga merasa yang abu lebih cocok, Kang. Terlihat lebih cantik meski semuanya memang cantik dibadan adiknya Akang yang cantik ini," jawab Arga sambil mengerling ke arah Nisa menggoda.
Nisa tersipu malu dengan tingkah Arga yang tidak ada malunya sama sekali di depan keluarganya itu.
__ADS_1
Lihatlah, bahkan sekarang dia telah dekat dengan ibunya Nisa, membuatnya merasa Arga memang benar-benar luar biasa mengambil hati keluarganya itu.
Kang Hadi pun luluh dengan Arga. Sungguh tidak bisa lagi Nisa menghindarinya.
"Baiklah, yang abu tadi sama kebaya putih yang pertama dicoba," putus Arga pada sang designer.
"Baik, Tuan. Akan saya pastikan gaun beserta kebayanya terlihat lebih pas di tubuh mungil Nona Nisa di hari bahagia anda berdua. Kalau gitu saya mohon izin untuk mengukur ukuran tubuh Nona beserta Ibu dan Pak Hadi dulu, sebelum kembali ke butik dan mengerjakan pesanan Tuan Arga," pinta Sisi sang designer.
"Oke, atur dengan baik. Ray, kau awasi pengerjaannya, jangan sampai hari bahagiaku mengecewakan. Jangan lupa urus juga keperluan untuk penghuni rumah utama," perintah Arga pada asisten sekaligus sahabat dekatnya itu.
"Beres, Boss... untuk ukuran Om, Tante, dan Nenek sudah gue dapatkan melalui designer rumah utama Megan, semua tinggal pengerjaannya saja. Sisi dan Megan akan bekerja sama agar Tante tidak kecewa dengan model juga bahannya, karena Megan lebih tahu selera Tante," jawab Ray.
"Kerja yang bagus, bonus lo akan gue transfer besok," ungkap Arga dengan rona bahagia.
"Thank's! Gue pamit. Bu, Kang, saya permisi mau melanjutkan pekerjaan yang menumpuk di kantor karena bos saya lagi malas untuk masuk sampai acara bulan madunya yang sebulan lebih selesai katanya.
Sebenarnya saya senang di sini, tapi karena gaji yang saya terima sangat bisa membungkam kelelahan saya, terpaksa saya harus pergi dari sini.
Senang mengobrol dengan Ibu dan Kang Hadi, lain kali kita ngopi bareng lagi, assalamualaikum," pamit Ray pada calon mertua juga ipar Arga, dengan sedikit di dramatisir untuk mempermalukan bosnya yang tak berperasaan itu di depan calon mertua dan iparnya karena mengambil cuti dengan waktu yang tak kira-kira membuat Ray bekerja ekstra menggantikannya.
Nasib jadi asisten pribadi seorang bos perusahaan besar juga sang mafia kelas atas sangatlah melelahkan. Namun, Ray juga menikmatinya, apa lagi tentang dunia bawah.
Dari kecil Ray suka olah raga menembak dan suka ikut berburu bersama almarhum ayahnya, hingga sekarang dia telah menjadi penembak jitu andalan klan mafianya Arga.
"Bonusnya gak jadi gue transfer!" seru Arga pada Ray.
"Tuh kan, Bu, lihat, calon menantu Ibu ini sangat keterlaluan sekali pada Ray. Ibu yakin mau menerimanya jadi menantu? Ray lebih baik dari dia, lebih cocok dengan Nisa," adu Ray pada Sri ibunya Nisa.
Sri terkekeh mendengar aduan Ray, baru sehari di sini dia sudah mendapatkan anak angkat sebaik dan setampan Ray, juga calon menantu yang tak kalah baik tentunya.
Sri sangat bersyukur akan hal itu.
__ADS_1
"Neng, kamu beruntung," gumam Sri.