Penunggang Jiwa

Penunggang Jiwa
Prolog


__ADS_3

    Bagi siapapun yang tidak percaya, keberadaan iblis itu sungguh nyata adanya. Jangan berpikir tentang omong kosong, sekawanan burung dan deretan pepohonan bahkan mungkin akan bersaksi. Mereka bukan tak tersentuh


manusia, tetapi eksistensinya hanya dapat dirasakan melalui mata kegaiban. Tak terlihat bukan berarti tak pernah ada. Seperti desir angin, seperti udara yang melayang, seperti aroma yang mengembang, atau seperti debur kesedihan dan hunusan amarah. Sekali lagi, mereka nyata! Iblis tak pernah benar-benar jauh, tanpa disadari, dimensinya berdampingan dengan dunia manusia — tanpa jarak.


 


 


    Malam itu hujan turun dengan deras, suara guntur menyentak-nyentak pendengaran, angin bahkan ikut turun tangan menggoyangkan apapun yang dilewatinya. Suara tokek-tokek saling bersahutan kian mempertebal kesuraman. Kebanyakan orang akan memilih bersembunyi dibalik gulungan selimut, menyerahkan kesadarannya pada alam mimpi penuh kehangatan, tapi tidak dengan gadis itu. Rasa ngeri akan timbul pada sesiapa yang berani menatap mata bulatnya, sorotnya nyalang menyala, dibentuk oleh nafsu amarah yang membara. Wajah ayunya tenggelam oleh kemurkaan.


 


 

__ADS_1


    Setelah memastikan tak ada yang terjaga selain dirinya, ia mulai menjalankan rencana. Satu-satunya pintu penghubung ke dunia luar ia tutup, dan dikencangkannya dengan gerendel, sehingga kini kegelapan total memakannya. Pendar cahaya akhirnya muncul ketika ia menyulut api kecil pada belasan lilin-lilin di sekelilingnya, meski yang terbentuk hanya pijar temaram. Dihadapannya terdapat cawan yang berisi beraneka macam bebungaan, lalu sebentuk benda kecil berbau khas yang mengeluarkan asap, secangkir kopi hitam yang mulai mendingin, dan segelas darah ayam hitam segar. Ia duduk bersila, mulai memejamkan mata. Fisiknya melemah, setelah sebelumnya ia melakukan puasa selama tiga puluh hari berturut-turut tanpa henti, dan ketika berbuka hanya makanan hambar tanpa bumbu yang ia santap, namun tekadnya sekuat baja serta hasratnya setangguh bebatuan. Bibirnya bergerak dalam ritme yang perlahan-lahan mulai cepat, merapalkan larik-larik kata semacam mantra.


 


 


    Beberapa menit berlalu tanpa terjadi sesuatupun, selain geledeg di udara yang masih terus menggelegar. Dalam


kesendirian bibirnya terus menerus komat-kamit, sedang jiwanya perlahan mulai lebur kedalam kekuatan mantranya. Ia merasa terikat dan semakin bersemangat — demi yang tersemai di hatinya terwujud. Ia bahkan rela melakukannya jika butuh waktu semalaman atau lebih dari itu. Duduknya semakin menegak dan khusuk dalam keremangan serta hawa dingin yang kian pekat.


 


 

__ADS_1


 


 


    Penuh ketakjuban sekaligus kengerian ia lalu menunduk penuh penghormatan kepada sosok raksasa bertanduk lancip yang memiliki sayap pada kedua sisi punggungnya. Lidahnya menjulur dan terbelah dua mirip seperti ular serta ujung-ujung jemari tangan dan kakinya panjang meruncing. Kuasa kegelapan itu muncul dari balik tembok yang serta merta berubah menjadi semacam gerbang dengan lorong panjang gelap yang seakan tiada akhir. Detik itu juga, dalam ketundukkan, gadis itu menyatakan diri bersekutu dengannya. Kesepakatan pun dibuat, raksasa yang tak lain adalah iblis berjanji untuk memenuhi apapun permintaan sang gadis.


 


 


    Sayangnya, gadis bermata bulat itu tak tahu dengan siasat iblis. Perasaan menang yang ia dapatkan kini, hanyalah kepuasan sesaat sebelum akhirnya berubah menjadi petaka yang berbalik menyerangnya. Ia lupa dengan peran penciptaannya sebagai manusia, bahwa ada batas-batas yang tak seharusnya dilanggar. Ketika dirinya sadar, segalanya sudah terlambat. Kemanapun ia menapakkan kaki, kuasa kegelapan itu akan terus menempel padanya seperti permen karet. Ia tak bisa mengubah apa yang sudah dimulai. Perjanjian dengan iblis itu telah menjerat jiwanya menuju kegelapan abadi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2