
Ditengah tumpukan benda-benda yang belum sepenuhnya terkemas, Aurora menatap kedalam foto pernikahan kedua orangtuanya yang menggantung bisu di dinding ruang tamu. Ia berdiri dengan perasaan mendung sambil memanggu kekecewaan. Dalam balutan jawi jangkep, senyum bahagia yang merekah dari figur orangtuanya justru merenda luka. Semu, pikirnya. Disaat bersamaan, suara gaduh dari ponsel milik Miranti merangsek masuk ke gendang telinga. Terdengar derap langkah kaki dari ruangan lain terseok-seok mengejar panggilan masuk sebelum terputus.
Aurora mendengar Miranti mulai berbicara pada ponselnya dengan suara yang timbul tenggelam karena dilakukannya sambil mondar-mandir mengangkuti beberapa koper dari kamar. Sedang dirinya kehilangan minat untuk lanjut mengepak barang-barang. Si kecil Tara giat mengumpulkan mainan kesayangannya — lego, mobil-mobilan, robot, miniatur dinosaurus, dan masih banyak yang lainnya — lalu memasukkannya dalam satu kotak boks besar sebelum akhirnya duduk di satu-satunya sofa yang belum ditutupi kain putih lantas sibuk menyantap ice cream dan panekuk kegemarannya. Sejujurnya ia iri pada Tara dan mendadak merindukan masa kanak-kanak, dimana masalah paling berat dalam hidup hanya sebatas karena boneka miliknya rusak, ia bahkan bisa merasakan kebahagiaan meski dalam kondisi paling tidak menyenangkan sekalipun.
Samar-samar percakapan Miranti dan seseorang dibalik ponsel tertangkap oleh telinga gadis berkulit sawo matang itu, “terimakasih banyak, kau sudah membantuku. Baik, aku sampaikan ke anak-anak dulu. Oke. Sampai jumpa nanti Dit. ” tutup Miranti, mengakhiri percakapan. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku jeans, sambil datang menghampiri anak sulungnya dengan wajah sumringah, namun raut mukanya mendadak berubah melihat Aurora terpaku memandangi potret dirinya dalam bingkai, seakan sedang memaki kegagalannya sebagai sosok istri.
“Ehm ..apa kau hanya akan memandangi fotonya? Maksudku, kau bisa menaruhnya segera ke boks.“ tanya Miranti menarik kesadaran Aurora dari hasrat masa kecilnya.
"Ku pikir tak akan ada gunanya kita bawa.“ jawab Aurora singkat, tersirat nada kehampaan dari sana.
Sedikit tersinggung Miranti melewatinya untuk mengambil pigura dari dinding polos berwarna putih, lalu menaruhnya ke dalam sembarang boks container. Ia mendekat kembali ke gadis enam belas tahun itu dengan kikuk, bolak-balik mengusap cuping hidungnya yang mancung, ragu namun tak mengurungkan niatnya untuk menyampaikan sesuatu pada Aurora. “Ada kabar bagus”, ucap Miranti dengan nada sebiasa mungkin, Aurora berpaling, menatap datar tanpa jawaban. “Kita sudah dapat rumah baru, kapanpun siap ditempati. Tolong segera
bereskan pekerjaanmu Ra, kita harus bergegas supaya bisa pindah secepat mungkin. Lagipula pemilik baru rumah ini sudah tak sabar, ingin segera menempati." sambungnya sedikit bersemangat.
“Kemana kita akan pindah?” sambar Aurora dengan mimik minim ekspresi, tak mengindahkan antusiasme Miranti.
“ke kota masa kecil Mama dulu.” seutas senyum menyungging dari bibir penuh milik Miranti, merasa percaya diri dengan jawabannya.
Alis mata Aurora lantas berkerut, “Dimana kota masa kecil Mama?”
"Jogjakarta." perempuan pemilik kontur wajah tegas itu menjawabnya dengan mantap.
Seketika ruang udara di dalam paru-paru Aurora serasa tersumbat sehingga dadanya menjadi sesak setelah
mendengar jawaban Miranti, alih-alih membuatnya merasa senang, “Apa? Jogja?” ia bertanya seolah-olah tak mempercayai telinganya, “Kita tidak pernah membahas itu sebelumnya. Tolong jangan putuskan hal penting sepihak. ” reaksi Aurora diluar dugaan Miranti, nadanya sedikit meninggi, memancing perhatian Tara yang menghentikan kunyahan panekuknya tiba-tiba.
Menyadari Itu, Miranti menghembuskan udara berat dari mulutnya, lalu menjauh dari Aurora untuk mendekati Tara. Sembari berlutut, ia memegangi pundak si bungsu, sebelum mengatakan sesuatu padanya, “Tara sayang, kau bisa masuk ke kamar sebentar? Mama perlu bicara dengan kak Rora, ambil satu mainan dan tunggu kami sebentar
di kamar, oke?” titahnya dengan senyum terkatung. Tara yang polos menuruti perintah tanpa bertanya, sedang tatapan Miranti mengantar kepergian bocah lelaki yang mulai naik ke tangga dan menghilang dibalik pintu kamar. Semenjak gagal menjadi seorang istri, Miranti bertekad agar anak-anaknya tumbuh dengan baik dibawah pengasuhannya, sebab ia tak ingin gagal juga menjadi seorang Ibu.
Miranti kembali menghampiri Aurora yang masih terlihat kesal dengan raut wajah ditekuk sehingga tak ada kesan lunak yang dapat ditemukan disana. Miranti melangkah di tengah barang-barang yang masih berserakan, yang membuat suasana kian gerah. “Kita harus ke Jogja Ra.” ucap Miranti tegas sambil duduk mengepak buku-buku novel koleksinya dari tahun-tahun lawas dan juga yang dibeli paling anyar. Aurora mendengus dengan senyum sinis masih dalam berdirinya, ia menaruh kedua tangan ke depan dada dan melipatnya.
"Kenapa kita harus ke Jogja? Kenapa kita tidak menetap di Jakarta saja?” protes Aurora.
Miranti menengadah, menatap dalam mata Aurora. “Kau tahu, rumah ini bukan hanya milik Mama, tapi juga papamu. Kita tidak bisa tinggal bersama lagi, jadi, kita harus jual rumah ini dan membagi hasilnya berdua. Kenapa harus Jogja? Karena disana tempat Mama tumbuh dari kecil, setidaknya Mama punya kenalan dekat disana. Jakarta terlalu keras bagi kita, biaya hidup yang sangat tinggi, pengeluaran untuk sekolah yang mahal, belum untuk hal-hal diluar dugaan. Ku anggap kau sudah cukup dewasa untuk ku beritahu hal ini.” pungkasnya sembari fokus kembali pada penataan buku-buku.
__ADS_1
“Kalau begitu alasannya, kenapa kalian bercerai? Bisakah kalian tetap bersama, agar kita tidak perlu pindah rumah? lalu aku dan juga Tara, tidak perlu menjadi korban perpisahan kalian. ” Aurora ikut duduk di hadapan Miranti, menanti respon wanita yang sebelumnya sangat ia hormati. Disaat bersamaan, Miranti sungguh kesal dengan pertanyaan Aurora, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa cepat atau lambat, pertanyaan seperti itu akan terlontar dari anaknya yang sudah bisa bernalar itu. Ia juga sadar dirinya memang patut disalahkan, telah menjadikan anak-anaknya sebagai korban dari kegagalannya membina rumah tangga.
"Demi Tuhan Ra, Mama juga tidak ingin pernikahan ini gagal.” mata Miranti mulai membasah, namun ia bersikeras menahan sesuatu yang memaksa tumpah. Ia tidak yakin harus mengatakan hal yang selama ini ia pendam sendiri, tetapi posisinya saat itu memaksa untuk berterus terang. “Mama minta maaf untuk yang sudah terjadi, tapi dengan sangat terpaksa, hubungan antara Mama dan Papa sudah tidak bisa diperbaiki lagi. ”
“Kenapa?” cecar Aurora, “tidak bisakah kalian BERTAHAN untuk anak-anak kalian?” ia sengaja memberikan penekanan pada kata bertahan, sebagai tanda jika dirinya terluka.
Miranti menelan ludah, saat ini ribuan jarum serasa menusuk hatinya, “Dengarkan Mama, mungkin ini saat yang tepat untuk menceritakan semuanya.”
Aurora tampak menaruh minat, “oke, aku mendengarkan, ceritakan alasan yang masuk akal. " tegasnya.
“Sudah hampir empat tahun ini, Papa tidak pernah memberikan nafkah lahir pada Mama, selain karena pekerjaan Papa yang kurang baik, juga karena ...” Miranti menahan napas sebelum melanjutkan kalimatnya, “Papamu berselingkuh.” Air mata meleleh juga dari mata Miranti pada akhirnya, namun secepat kilat pula ia seka.
“Apa?” ada jejak keterkejutan pada mimik wajah Aurora.
“Iya, diam-diam Papamu sudah meniduri wanita lain selama ini. ”
“Apa Mama punya bukti? ” seru Aurora tak ingin langsung mempercayai Ibunya begitu saja.
“Siapa?” Aurora semakin penasaran.
“Orang itu tante Linda. ”
“Tante Linda yang kita kenal dan sering datang ke rumah? ”
“Iya, orang itu. Mama akhirnya pergi ke rumah Linda, waktu itu anaknya yang membukakan pintu. Dia sedikit ketakutan dan berbohong, mengatakan ibunya tidak ada di rumah, tapi Mama melihat ada sepatu milik Papa disana. Akhirnya Mama menerobos masuk ke kamar Linda, dan disanalah Mama tahu Papamu berselingkuh dengan mata kepala Mama sendiri.”
Antara terkejut, marah dan juga merasa bersalah tergabung menjadi satu, Aurora pun menangis, "Aku benci Papa." hanya itu yang mampu diucapkannya.
“Sekarang kau mengerti? ” pertanyaannya ditanggapi dengan anggukan Aurora, “lagipula hidup bersama atau berpisah, hanya akulah yang berjuang menghidupi kalian sendiri, tidak ada bedanya. Ia bahkan sepertinya tak berniat mengucap salam perpisahan pada kau dan Tara, lihat, ia tak pernah datang lagi kemari, selain meminta uang hasil penjualan rumah. ” Aurora mendadak menyadari ucapan terakhir Miranti benar adanya, menimbulkan rasa kecewa yang mendalam pada ayahnya. “Sekarang kau bersedia pindah ke Jogja? ”
Aurora membuang udara berat dari mulutnya sebelum akhirnya mengangguk, “huft ... kalau begitu, rumah seperti apa yang akan kita tinggali di Jogja? ” respons darinya berhasil mengundang senyum Miranti.
__ADS_1
"begini, Dito teman lama Mama, bekerja sebagai pegawai bank pemerintah. Dia menawarkan rumah sitaan bank yang dijual dengan harga murah, sangat sesuai dengan dana yang Mama miliki. Katanya rumah itu cukup besar, dan lingkungannya sangat mendukung untuk kegiatan menulis Mama. Bagaimana menurutmu?” Miranti hampir saja lupa kalau sesaat sebelumnya ia sedang bersedih mengingat mantan suaminya, tergantikan rasa senang sebab Aurora akhirnya mendukung keputusan pindah ke Jogja. Perlu diketahui jika rumah peninggalan orang tua Miranti sudah lama dijual ketika ia memutuskan pindah ke Jakarta bersama suaminya. Jadi, meskipun Jogja adalah kota kelahirannya dulu, Miranti tetap membutuhkan rumah baru untuk ditinggali bersama keluarga kecilnya.
“apa Mama senang dengan rumah itu?” bukannya berpendapat, Aurora malah balik bertanya.
“Setelah mendengar detail tentang rumah itu dari Dito, Mama merasa cocok. Lagipula Dito tidak akan memberikan kita rumah yang aneh-aneh kan? Dia teman baik Mama. ” Miranti meyakinkan Aurora yang nampak ragu.
"ah iya, benar juga. Selama Mama senang, aku akan ikut senang. ” Aurora tersenyum tulus, “ngomong-ngomong, aku minta maaf soal ucapanku tadi ya Ma ?.” pungkasnya.
“tidak masalah, sejujurnya Mama lega sudah menceritakannya padamu. ” Aku Miranti.
Terdengar derit pintu terbuka, Tara yang sedari tadi memisahkan diri, muncul dari balik pintu kamar, gurat kebosanan nampak dari wajahnya. “Tara sudah boleh keluar Ma? ” tanyanya begitu polos.
Miranti dan Aurora tertawa bebarengan, melihat ekspresi menggemaskan dari wajah Tara. “Iya sayang, kemarilah. Kau harus mendengar kabar baik juga. ” Tara berlari menuruni tangga dengan semangat, lalu menghambur ke pelukan Miranti.
"Mama sudah punya rumah baru untuk Tara, cukup besar dan luas. Nanti, Tara bisa main lari-larian sepuasnya disana.”
“benarkah?” Tara girang mendengar penuturan Miranti.
“Ya, tentu saja."
"Rumah yang bagus seperti disini Ma?"
"Jauh lebih bagus dari rumah ini," jawab Miranti begitu yakin.
"Asiikkk, Tara mau cepat pindah" ia sangat bersemangat menanggapi ibunya, ia pun dihadiahi kecupan bertubi-tubi.
"Aurora, kemarilah, ”Miranti merangkulkan tangan kanannya ke bahu Aurora, hingga tubuhnya tertutupi oleh kedua anaknya, dengan gembira ia berkata, “Mari kita buka lembaran hidup baru yang lebih baik di Jogja
nanti. ”ucapannya di sambut tawa kedua anaknya.
Mereka tidak menyadari, jika nasib buruk tengah menunggu kehadiran mereka.Sebentar lagi.
__ADS_1