
Hati-hati!
Kalimat itu terus berputar-putar dalam pikiran Aurora seperti gilingan mesin cuci; mengaduk-aduknya sepanjang perjalanan pulang, tapi sama sekali tak membuat otaknya jernih. Kalimat yang memicu berbagai pertanyaan muncul, namun Aurora tak bisa menemukan jawabannya, tak peduli seberapa keras ia berusaha. Apa maksudnya? Mengapa kalimat itu menjadi ucapan pertamanya? Apa yang ia pikirkan tentangku? atau apa yang ia lihat dariku? Semua pertanyaan itu hanya menggantung, dan pada akhirnya mengalami kebuntuan. Diatas jok penumpang, ia duduk membonceng sepeda motor matic merah muda milik Mayang dengan gelisah.
“Kau kenapa? masih memikirkan ucapan Jenar? kenapa diam saja?” terka Mayang, sementara matanya terus fokus pada lajur jalan yang sedang ia lalui menuju rumah kawan sebangkunya. “Kau membuatku seperti mengangkut benda mati,” tambah gadis berponi miring itu, masih berlanjut.
Aurora menyingkirkan lembar-lembar rambut kemerahan Mayang, ketika menampari permukaan pipi dan kepalanya yang tak terlindung helm, “bukankah aneh? Dia tiba-tiba mengatakan itu.”
“Ya, Jenar memang gadis aneh. Kau sudah tahu itu. Lalu apa lagi yang harus dipikirkan? Kau hanya membuang-buang waktu Aurora.”
“Apa mungkin itu berarti sebuah pesan untukku? tapi, aku harus berhati-hati dari apa?” pikirnya sembari menerawangkan pandang ke udara.
Mayang menggeser tombol sein ke kanan untuk mengikuti jalur, kemudian menyalip dua kendaraan di depannya. ”Kenapa tak kau tanyakan padanya saja, daripada kau sibuk menebak-nebak.” usul Mayang hampir tak tertarik.
“Aku sudah pasti melakukannya jika Jenar tak buru-buru pergi May.”
Mayang mendengus kecil, “Sudah dekat ke rumahmu belum?” tanyanya kemudian, belum menanggapi jawaban Aurora.
“Sebentar lagi, masih lurus ikuti jalan utama.”
Mayang melajukan sepeda motor persis seperti yang diarahkan teman perjalanannya, “hm ... mungkin sebetulnya aku tahu jawaban mengapa Jenar mengatakan itu.” katanya tiba-tiba.
"Sungguh?" respon Aurora seketika, begitu terkejut dengan pernyataan Mayang.
“Ya. Kau kan sudah tahu, Jenar itu tak mempunyai teman sama sekali, menurutku dia baru merasakan kesepian sekarang. Berhubung anak-anak satu kelas sudah tidak ada yang mau mendekatinya, maka dia memilih untuk mendekatimu, tentu saja, karena kau anak baru. Dia pikir kau akan mudah didekati, lalu sengaja mencari-cari perhatian dengan mengatakan 'hati-hati' agar kau tertarik,” jelas Mayang menjabarkan analisanya, “masuk akal bukan?”
Aurora mengatupkan bibir, lalu membuang napas berat melalui lubang hidung, “tapi ku rasa bukan karena alasan seperti itu, entahlah, aku juga bingung sampai tidak bisa berhenti berpikir.”
“Ya Tuhan, aku akan berkunjung ke rumahmu bukan untuk membahas Jenar. Kalau kau masih saja memikirkannya, mungkin lebih baik aku pulang, atau, kau mau ku antar ke rumahnya?” kemudian Mayang merenungkan tawarannya, “tapi sayangnya aku tak tahu dimana rumah Jenar. Ah, sudahlah, kalau kau mau mendengar nasihatku, lebih baik jangan berurusan dengannya, nanti kau bisa ketularan aneh dan misterius.”
"Hei, jangan begitu. Baiklah, aku tak akan memikirkan dan membahas hal itu lagi.” ujar Aurora pada akhirnya, membuat gadis berponi itu tersenyum. “Nah, sekarang pelankan motornya, kita hampir sampai May.” Mayang mengangguk mematuhi arahan hingga ia merasakan tepukan ringan tangan Aurora jatuh di pundaknya, “berhenti, itu rumahku.”
Mayang berbelok dan membawa kendaraannya menyeberangi rerumputan dan berhenti di halaman rumah. Aurora turun dari jok belakang ketika Mayang menaruh helm bogo merah mudanya di sisi kanan stang, lalu merapikan poni dan rambutnya.
“Waahh... lihat rumah ini, keren.” puji Mayang berlebihan, seperti biasa.
“Ayo kita masuk.”
Mereka melewati tangga batu sebelum mulai bertelanjang kaki meninggalkan sepatu mereka di undakan paling atas, lalu menginjak teras marmer yang dingin menuju pintu masuk. Aurora menyodokkan kunci duplikat yang ia pegang ke dalam lubang kunci, dan membuka pintu tinggi itu. Mayang yang bersemangat segera masuk mendahului si empunya rumah.
“Selamat datang di istana, tuan puteri Aurora,” Mayang berlaga bak seorang pelayan, sambil membungkuk ia menaruh tangan kiri di perut datarnya, sementara tangan kanan ia sembunyikan dibalik pinggang sehingga ia seolah-olah hanya mempunyai satu tangan. Aurora tersenyum menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah temannya.
.
“Kita ke kamar dulu saja ya, aku mau ganti baju, biar nyaman.”
“Baik tuan puteri, silahkan berjalan lebih dulu, hamba akan menyusul di belakang.” tangan kanan Mayang muncul dari persembunyian, lantas bergerak ke udara sebagai isyarat mempersilakan. Sedetik kemudian keduanya tertawa.
__ADS_1
“Ayo kemari May.”
Mereka masuk ke ruang tengah — Mayang selalu bersemangat setiap kali menjejakkan kaki di ruang baru — lalu mulai berderap menaiki tangga ke lantai atas.
"Wow... lihatlah, ada piano disana.” seru Mayang, lantas berlari ke ruang santai, melewati sofa dan meja televisi, dimana benda yang menarik perhatiannya diletakkan di sudut ruangan.
“Hati-hati, banyak debunya, belum pernah dibersihkan sejak pertama kali keluargaku datang kesini. ”
“Apa tuan puteri Aurora sepemalas itu, sampai tidak mau membersihkan barang bagus seperti ini?” goda Mayang.
Gadis itu tertawa, “Tadinya piano itu ada di kamarku. Mama berniat menjualnya karena keluargaku tidak ada yang berbakat memainkan alat musik. Nah kalau laku, rencananya baru akan kami bersihkan. Sepertinya kau tertarik?”
Mayang kemudian mengembungkan pipi, mengumpulkan udara didalamnya lantas ditiupkan ke tuts-tuts piano yang berdebu beberapa kali. Setelah merasa cukup — dengan mimik serius bagai seorang pianis berbakat — ia menekan jari jemarinya ke atas keyboard, bersiap memainkan sebuah lagu. Namun pada denting dan lirik pertama
lagu *Dang*erously milik Charlie Puth, Aurora tak bisa menahan tawanya karena suara sumbang Mayang dan bunyi musik asal-asalan yang dimainkannya.
“Sekarang kau masih berniat menawarkannya padaku?”
“Lupakanlah,” ucap Aurora disela tawanya, “ya sudah, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu di kamar.”
“Silahkan,”
Lima menit berselang, pemilik rumah itu sudah keluar dari kamarnya dengan balutan dress rumahan. “Mau disini atau turun?”
“Turun, aku ingin menjelajah seisi rumahmu.”
Mereka menuruni tangga dan berhenti di ruang tengah, disana sesuatu yang tertangkap oleh penglihatan, kembali menarik minat Mayang untuk mendekat. Gadis itu meraba tiga lukisan kanvas berumur yang menggantung kaku di dinding. Pada gambar pertama, nampak sesosok wanita sedang mengendarai sebuah kereta kencana yang ditarik tiga kuda hitam dan satu kuda putih diatas gelombang ombak dan berbusana serba hijau. Mayang langsung bisa mengenalinya sebagai lukisan Nyi Roro Kidul. Sedang sapuan kuas pada dua lukisan lain membentuk sebuah gambar wayang dan candi.
“Semua lukisan ini menakjubkan Ra,"
“Begitu?"
Mayang mengangguk.
Tak cukup hanya mengamati lukisan, perhatian gadis itu beralih pada benda-benda kuno didalam lemari berpintu kaca di sekitar situ. Ia lantas membuka lemari, mengambil dan melihat-lihat dengan seksama tiap benda kuno didalamnya. Sesuatu yang pertama kali ia sentuh adalah sebilah keris yang terlindungi warangka, ia menarik keris itu, mengamati bentuknya yang bergelombang dan semakin mengerucut ke ujung, lalu memasukkannya kembali ke dalam wadah. Berikutnya ia mengambil sejenis arca batu berukuran mini, lalu cincin berbatu akik, kemudian beralih ke piring dan gelas logam, berlanjut ke tumpukan buku tua yang berjejer dengan sebuah jam weker kuno.
"Gila, lengkap sekali koleksi benda-benda antik ini Ra. Aku tak akan bisa mengamati semuanya."
"Itu semua peninggalan pemilik rumah yang lama." jelas Aurora.
Ketika ia mulai mengamati koin-koin semacam mata uang kuno — yang memiliki lubang di bagian tengah — dari dalam sebuah kantong, tanpa sengaja ia menjatuhkan salah satunya, koin kuning itu menggelinding ke bawah lemari.
"Sial!" pekiknya, "maaf Ra, aku tidak sengaja, aku akan mengambilnya sebentar."
"Iya, tidak masalah May."
Gadis itu menaruh lututnya di lantai, kemudian membungkuk sehingga posisinya seperti bersujud, lalu menyentuhkan pipinya ke keramik, sementara tangan kanannya menggapai-gapai dalam gelap, tapi koin itu tak ditemukan.
__ADS_1
"Ra, ambilkan handphone, aku butuh penerang." perintah Mayang.
Tak menunggu lama, Aurora sudah mengangsurkan benda itu ke tangan kiri Mayang. Sedetik kemudian, dengan bantuan fitur flashlight, Mayang sudah bisa melihat isi kolong dengan jelas. Namun, lagi-lagi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Ra, apa di belakang lemari ini ada ruangan?" Mayang bertanya tanpa mengubah posisi.
"Hah? Maksudmu?" Aurora malah balik bertanya, bingung dengan ucapan Mayang.
"Sepertinya aku melihat pintu, kemari dan lihatlah."
Diundang rasa penasaran, Aurora ikut menyamakan posisi Mayang, dan melihat ke dalam kolong. Ia terkejut, ketika faktanya memang ada sebuah pintu tersembunyi di balik lemari itu. "Aku baru tahu ada ruangan lagi."
"Apa kau tak ingin melihatnya?" tawar Mayang.
Aurora berpikir sejenak, "Ayo coba kita lihat, tapi geser dulu lemarinya."
"Iya."
Keduanya bangkit dari posisi semula, lalu bersama-sama mendorong lemari itu dengan kedua tangan, namun bukan lemari yang bergeser melainkan kaki mereka yang terdorong ke belakang.
"Ra, sepertinya kita perlu mengeluarkan isi lemari lebih dulu." usul Mayang.
Aurora mengangguk setuju, "ide bagus."
Cepat-cepat mereka mengosongkan seluruh isi lemari, dan memindahkannya sementara di lantai. "Biar aku saja yang dorong." Mayang berbalik memunggungi sisi lemari. Dengan bertumpu pada kekuatan punggungnya, ia mendorong lemarinya hingga tergeser. Hampir saja bergembira, namun rupanya usaha mereka belum selesai sampai disitu, sebab muka pintu ruangan tersembunyi itu ternyata di palang menggunakan dua bilah kayu pipih yang dipaku menyilang.
Kedua gadis itu tertegun, "huft ... ku pikir kita masih harus berusaha lebih keras lagi." ucap Mayang.
"Aku akan ke belakang, mencari sesuatu untuk membuka palang."
"Oke, aku tunggu."
Aurora bergegas ke dapur, membuka setiap laci lemarinya, berharap menemukan perkakas untuk digunakan mencabut paku-paku yang tertancap di palang kayu itu. Namun, tak ada palu disana. Alat pertukangan yang berhasil ia temukan adalah sebuah kapak kecil bergagang kayu. Cepat-cepat ia menyambar dan membawanya ke ruang tengah.
"Aku menemukan ini."
"Kau akan merusak kayunya."
"Tak masalah," kedua tangan Aurora menggenggam ujung gagang kapak, mengayunkannya tinggi-tinggi, lalu menimpakannya ke palang. Pada pukulan pertama, kayu mulai retak. Selanjutnya kayu baru berhasil dijatuhkan setelah menerima beberapa kali pukulan. Namun, mereka tetap belum bisa bernapas lega, setelah melihat pintu itu masih terlindungi oleh gembok yang kuncinya entah dimana. Aurora mendengus kesal. "ya Tuhan," hanya itu yang bisa dikatakannya.
"Kemarikan kapak itu, aku akan menghancurkan gemboknya." pinta Mayang.
Benda itu pun berpindah tangan. Segera, Mayang menguatkan tangannya lalu mulai memukuli gembok itu keras-keras, menimbulkan bunyi dentingan besi yang memekakkan. Keringat mulai bergelantungan seperti kera-kera di dahi Mayang, ketika gembok berhasil dijatuhkan dan berdebum ke lantai.
Mayang mengembuskan napas puas, "akhirnya."
“Ayo cepat kita buka,” seru Aurora tak sabar, lansung meraih handle, menariknya ke bawah hingga pintu itu terbuka.
__ADS_1