
Disanalah rumah itu berdiri, kokoh dalam kesendirian, tegak diantara luas kebun-kebun yang mengapit kanan kirinya; menyimpan kengerian suram. Dindingnya masih keras, tersusun atas tumpukan bata-bata kuat, kecuali cat-nya yang mulai kusam memudar dan telah banyak mengelupas, sebab terlampau sering menghalau sabetan udara dari cuaca yang berubah-ubah. Halamannya dijejali banyak rerumputan yang subur menghijau, ada pula yang kering menguning. Rerumputan itu menggantikan peran tanaman hias di atas pot-pot porselen. Tangga batu berkeramik hitam menjadi penghubung menuju teras yang menyempit ke dalam dan melebar ke samping seperti persegi panjang. Jika bisa dideskripsikan, rumah itu bukan bergaya Belanda, tak juga berbentuk bangunan khas Jawa, ia seperti didirikan begitu saja tanpa identitas. Kaca-kaca jendelanya tebal dan pintunya yang tinggi tertutup rapat, seolah tak membiarkan dunia luar mengendus isi di dalamnya. Begitulah gambaran fasad bangunan yang telah dikosongkan penghuni sebelumnya selama kurun waktu tiga tahun.
Pertama kali melihatnya, Miranti terkesan takjub, sebab rumah itu sesuai dengan gambaran imajinasinya. Tenang, sepi, seolah tak tersentuh keruwetan, terutama ketika hari telah malam, sesekali tertangkap telinga suara kicau burung yang entah bersembunyi di sisi mana, sebab gelap tak memberi ijin mata untuk bisa melihat dengan leluasa, selebihnya hanya kemerasak dedaunan yang digoyangkan angin. Rumah tetangga terdekat berjarak kurang lebih lima meter dari sana, pun terpisah oleh kebun yang cukup luas. Menjadikan rumah itu seperti yatim piatu; menua sendirian. Tetapi tak bisa dipastikan apakah ia kesepian atau tidak.
Bangunan menjadi tampak besar oleh sebab memiliki dua lantai, Miranti bahkan sudah membayangkan untuk menyaksikan matahari terbit dari atas sana, namun sayangnya itu tak akan terjadi, sebab rumah itu berdiri membelakangi arah lahirnya pusat cahaya bumi. Meski begitu, ia masih punya bayangan kegiatan lain; seperti menikmati hembusan udara pagi, berteman secangkir teh yang bisa membuka gerbang inspirasinya sebagai seorang penulis lepas— kemampuan lain yang ia miliki disamping menjadi akuntan.
Disaat yang sama dengan ketakjuban ibunya, Aurora justru dikagetkan oleh sekelebat bayangan gelap samar yang melintas begitu cepat dari arah atas, persis di balik kaca balkon. Meski tak yakin, namun sekilas ia menyangka bahwa ada manusia lain berada disana. Menunggu kedatangan mereka dalam kegelapan yang membisu. Pikiran waras Aurora pun segera membantahnya, rumah itu sama sekali kosong!maka jelas sudah apa yang dilihatnya tanpa sengaja itu, tak lain hanyalah pengaruh dari kelelahan yang menderanya. Ia coba meyakini dan mempercayai pikirannya.
“Kemarin bank membayar seseorang untuk membersihkan rumah, ku harap pekerjaannya memuaskan." ucap Dito setelah melihat sapu dan pengki tergeletak sembarangan di teras di dekat pintu.
“Wah, terima kasih Dit, sangat membantu." balas Miranti yang wajahnya mulai kuyu.
“Ini kunci rumahnya Mir, coba kau buka."
Miranti menerima kunci berjenis mortise dari tangan Dito dan juga beberapa kunci kamar yang masing-masing dilengkapi dengan duplikatnya, “rumah ini sesuai dengan yang kau ceritakan Dit, cukup besar dan tenang, seperti bayanganku." ucapnya selagi memasukkan gagang kunci ke dalam lubangnya, sentakan berbunyi ceklek terdengar dua kali, dan pintu tinggi itu terbuka; sementara ruangan yang gelap, pengap, dan lembab seolah memberi ucapan selamat datang pada mereka.
“Semoga kau cocok dengan rumah ini,” Dito menyalakan flashlight dari gawainya, lalu mengarahkannya ke sekitar ruangan, mencari-cari keberadaan saklar, sebelum akhirnya ditemukan menempel di tembok samping ruang tamu. Sekali menekannya, ruang gelap gulita itu menjadi terang seketika oleh lampu gantung klasik yang tepat berada di tengah-tengah plafon, sementara lampu bohlam mengelilinginya dengan posisi dan jarak yang teratur. Dito yang berdiri membelakangi Aurora, kebingungan dan bertanya-tanya, mengapa ruangan masih nampak kotor seperti belum dibersihkan, bahkan sawang-sawang masih memenuhi sudut-sudut atas ruangan.
“Aneh, kenapa kondisinya masih kotor begini?” Dito menghela napas, lalu menatap ke gawai yang sedari tadi ia genggam, telunjuknya sibuk berselancar di layarnya, mencari-cari nomor telepon seseorang, “Aku harus complain sama pihak bank.”
“Tidak perlu Dit,” cegah Miranti sembari memegang lengan kawannya, “kami sudah banyak merepotkanmu, soal rumah yang masih kotor, bisa ku bersihkan besok.”
"Kau tak masalah?"
“Tidak, sama sekali. Ah iya, kau menginap saja dulu Dit, temani kami melewati malam pertama disini.”
__ADS_1
Dito pun mematuhi Miranti, membatalkan niat untuk protes lantas menyembunyikan ponsel dibalik saku jeans denim-nya, “Oke Mir, lagipula aku juga tak tega meninggalkan kau dan anak-anak dengan kondisi rumah seperti ini, besok ku bantu kau membereskannya.”
“Baiklah, dengan senang hati Dit.”
Tara yang sedari tadi diam, tiba-tiba bersuara girang, seakan-akan lupa dengan ketakutannya pada kematian tragis kucing hitam pada perjalanan menuju kesana, “yeay ... rumah Tara baru!" pekiknya.
Miranti berjongkok menatapnya, “Tara suka?” si bungsu berlesung pipi itu merespons Miranti dengan anggukan cepat, bersemangat. Miranti mengembangkan senyuman lebar, kemudian mencubit gemas pipi Tara, “bagus kalau begitu.”
Aurora pun takjub mendapati ruang tamu luas itu, seakan ia bisa bebas berlarian tanpa takut terantuk meja dan sofa. Lantai-lantainya yang berasal dari keramik marmer terasa dingin, sementara debu-debu tebal seperti kerak menutupinya. “Om, kamar untukku sebelah mana?" tanya Aurora penasaran.
“Iya Om Dito, Tara juga mau lihat dimana kamar milik Tara." timpal si bungsu.
"Ah iya, mari kita berkeliling dulu untuk melihat-lihat seisi rumah.” ajak Dito.
"Ayo," jawab ketiganya serentak.
"Ini kamar untuk Mama anak-anak,”
“Pakai saja, aku lebih memilih lantai atas sebagai kamar, dan balkon juga jadi milikku” goda Aurora.
"Tara juga mau punya kamar di atas.” seru Tara lagi-lagi ikut menimpali ucapan Aurora.
Dito hanya tersenyum menanggapi percakapan keluarga itu. Mereka berpindah tempat, menuju ke ruang bersantai, disana terdapat satu lemari yang berisi koleksi benda-benda antik. Terdapat pula tiga lukisan yang jika dilihat dari tampilannya, sudah berumur cukup tua.Tangga menuju lantai atas berada di dekat ruang tengah, namun sebelum kesana, mereka lebih tertarik menyelesaikan penjelajahan ke seluruh ruangan di lantai satu. Mereka menemukan ruang makan berisi meja panjang dengan kursi kayu yang mengitarinya di dekat ruang tengah. Lebih masuk lagi, di area paling belakang melewati lorong, Dito membuka pintu, disanalah dapur tersembunyi, dan untuk menuju ke kamar mandi yang berada di ujung, mereka harus berjalan melewatinya. Lampu-lampu disana menyala lebih redup dibandingkan ruang-ruang yang lain, membuatnya terasa suram.
“Om, ayo kita naik ke kamar Tara.” rengeknya, menarik-narik ujung kaos Dito.
__ADS_1
“Oke, ayo kita lihat bagaimana kamar anak jagoan ini.” Dito menyentil ringan hidung mungil Tara.
Terdengar bunyi dentuman keras dari arah pintu dapur, yang tiba-tiba tertutup saat mereka menaiki tangga. Semuanya memekik terkejut.
“Ya Tuhan, mengagetkan saja. Apa barusan pintu itu menutup karena angin?” Miranti masih memegang kencang dadanya.
Semuanya tampak berpikir, “iya mungkin itu angin,” Dito menyimpulkan, “ya sudah, kita lanjut naik saja.”
“Oke, ayo anak-anak.”
Mereka secara perlahan berderap menyelesaikan susunan anak tangga yang mengantar ke lantai atas. Kegelapan, kesunyian dan hawa yang lebih dingin segera menyergap mereka. Di sana ditemukan lagi ruang untuk bersantai, dilengkapi dengan satu sofa linen memanjang yang menghadap ke arah balkon, dan ada televisi berselimut debu juga disana. Seperti mimpi, Miranti merasa sangat beruntung, bisa mendapatkan rumah yang murah lengkap beserta isinya.
Aurora beralih ke dua ruangan yang tersisa, “Ma, coba buka yang ini,” ibunya pun memasukkan kunci pertama ke lubang pintu, terbuka. Namun, ada perasaan aneh yang tiba-tiba hadir menganggu gadis itu, semacam perasaan tak nyaman yang begitu saja menghimpitnya. Ia urung untuk masuk, mematung di ambang pintu. Kasur yang berbaring hampa disana, seakan menyimpan banyak penyakit yang siap menularinya kapan saja.
“Kau akan berdiri saja disitu? coba masuklah, kita lihat bagaimana kondisi di dalam.” kata Miranti.
Aurora mundur perlahan, menjauh dari sana. “Aku tak mau tidur di kamar ini, aku ingin lihat ruangan sebelah.”
Tara berlari kegirangan memasuki kamar yang ditolak mentah-mentah oleh Aurora, selagi Miranti bertukar pandang dengan Dito; keheranan. “yeay... ini berarti jadi kamar Tara." bocah lelaki itu hampir saja mendaratkan tubuhnya ke kasur, kalau saja Miranti tak melarangnya. "Kasur itu berdebu, kau bisa gatal-gatal dibuatnya sayang.” tangannya lantas menggandeng pergelangan Tara, "ayo sekarang kita lihat kamar kak Rora.”
Tanpa bertanya pada gadis itu, Miranti membukakan pintu untuk satu ruang lain yang tersisa di sebelahnya. “Nah, yang satu ini, mau tak mau kau harus menempatinya.”
Tak ada dipan atau lemari pakaian disana, hanya ada satu piano usang yang teronggok kesepian bersama satu kursi duduk kecil. Rupanya Miranti perlu pergi berbelanja satu kasur untuk ditempatkan disana. “hm ... ternyata dulunya ini ruang bermain musik.”Miranti manggut-manggut berkomentar, “bagaimana Ra?kau suka?"
“lumayan, aku lebih baik disini ketimbang di kamar sebelah.”
__ADS_1
“Kalau begitu, ayo kita ke balkon.”ajak Dito yang sudah lebih dulu berjalan kesana, ketika mereka semua menyusul, secara tiba-tiba seluruh lampu mati, mengumpankan mereka dalam kegelapan. Aurora sudah berada di dekat kaca balkon, saat sesuatu yang halus seperti kain serasa menyentuh telapak tangannya.