Penunggang Jiwa

Penunggang Jiwa
Chapter 5 - Pengagum Rahasia


__ADS_3

“Terangilah kasih .. lentera cintamu itu ..Agar ku tak jatuh dalam kegelapan ... agar ku tak jatuh dalam kegelapan."


    Lantunan lirik akhir lagu itu sekaligus menghentikan permainan jemari lentik Hanum diatas tuts-tuts piano sebagai ritual kala pagi. Semakin hari, gadis bermata bulat itu kian piawai mendendangkan nada demi nada yang seirama dengan suara merdunya. Kepandaiannya dalam bermusik dan bernyanyi, semakin melengkapi daftar kesempurnaan yang disandangnya. Hanum seumpama perwujudan dari segala keindahan, atau mungkin akan lebih tepat jika menyebut Hanum adalah keindahan itu sendiri.


     Asih memberikan tepukan tangan, kemudian menangkupkan jemarinya ke permukaan kulit bibir yang kini menyungging senyum sumringah; mengagumi putrinya sendiri. Sekali lagi ia meneriakkan syukur dalam hatinya karena telah memiliki Hanum. Asih menyalurkan rasa bangganya dengan menepuki pundak tegak gadis itu, dan sedetik kemudian mengalungkan lengannya dari arah belakang ke leher jenjang Hanum, hingga gadis itu bisa merasakan punggungnya memberat.


    “Bagaimana Bu? apa aku memainkannya dengan baik?” Hanum mendongak, memutar tubuhnya ke sisi kanan untuk melepaskan dekapan Ibunya. Kini keduanya bisa saling melihat.


    “Kau hebat, Nduk. Kau selalu bisa membuat lagu-lagu terdengar syahdu dan menarik, Ibu sampai bingung harus berkomentar apa lagi.” puji Asih, mulai membelai-belai rambut legam Hanum. “Katakan kenapa kau menyukai lagu itu?”


    "Entahlah, aku juga tidak tahu, mungkin karena aku tidak suka dengan kegelapan? seperti bait terakhir lagunya.” Hanum mengangkat kedua bahu, memberi jawaban asal.


     Asih manggut-manggut, menerima saja apa perkataan Hanum, “hm..begitu? pokoknya kau hebat, Nduk." serunya sambil mengacungkan jempol, “baiklah gadis manis, sekarang ayo kita pergi ke meja rias, Ibu harus merapikan rambutmu.”


    Hanum menggeleng, “Ibu turun saja dulu, aku akan melakukannya sendiri. Bukannya Ibu mau membuat sarapan?”


    Asih mencengkeram ringan kedua lengan Hanum, memintanya bangkit dari duduk dan berniat untuk menolak permintaannya. Gadis itu pun patuh, lalu memundurkan kursi tanpa sandarannya. “Ibu tidak akan membuat sarapan sebelum mengepang rambutmu, jadi jangan melarang Ibu melakukannya. Oke?”


    "Oke." gadis itu tersenyum menyambut perhatian Asih seperti biasanya.


    Mereka keluar dari ruang bermusik, menutup pintu dan meninggalkan piano itu sendirian disana, lantas menuju ke kamar Hanum yang tepat berada di sebelahnya. Di kasur di atas sprei katun biru favorit Hanum, tergeletak midi skirt abu-abu dan oversized t-shirt hitam yang sudah Asih persiapkan untuk dikenakannya ke kampus.


    Hanum menemukan paras ayunya dari pantulan cermin ketika ia mulai duduk di kursi; menghadap meja rias. Ia memulaskan pelembab yang ditimpanya dengan bedak ke permukaan kulit wajah, dan mendaratkan lipbalm pada


bibirnya yang sudah ranum. Ia juga menaburkan parfum beraroma violet ke leher, memindahkan wanginya kesana. Dibelakangnya, Hanum dapat melihat Asih yang dengan kehati-hatian mulai menyisir rambutnya, kemudian membentuknya menjadi kepangan-kepangan rumit namun estetik. Asih selalu menyukai dan menikmati kegiatan itu, seakan-akan Hanum tak pernah beranjak dewasa dan selalu menjadi putri kecilnya.


    "Lihat Nduk, kau semakin cantik jika sudah dikepang begini.” Asih membungkuk, mencondongkan kepala dan menaruh dagunya hampir di pundak Hanum. Pandangan matanya tak lepas dari wajah gadis kesayangannya didalam cermin.


    Hanum tertawa, “tentu saja Bu, aku mewarisi kecantikanmu.”


     Asih menggeleng cepat-cepat, "kau lebih cantik dari Ibu dan dari siapapun itu." ia menutup kalimatnya dengan kecupan ringan di pipi Hanum, “oke, pakailah baju itu,” katanya sambil menunjuk ke kasur, “Ibu akan turun membuat sarapan. Kau ingin makan apa?”


    "Buatkan aku omelette Bu, aku juga mau jus. Apa bahan yang Ibu punya?”


    “Mangga?”

__ADS_1


    “Ya boleh, jus mangga terdengar enak.”


    “Oke, setelah selesai, lekaslah turun.” Asih mengatakannya sambil berjalan sebelum keluar dari pintu.


    Selesai dengan penampilannya, Hanum mematut diri sekali lagi di depan cermin, ia berdiri dan berputar untuk memastikan dirinya puas. Bergegas ia keluar, berjalan menuruni tangga yang menuntunnya ke ruang tengah. Disana ia menemukan Tirta yang tengah fokus dengan pekerjaannya, tidak, mungkin akan lebih tepat jika mengatakan hobinya. Sebab, Tirta adalah pemilik lahan pertanian, dan pengelola gudang penggilingan padi milik pribadi. Sementara kegiatan yang dilakukan oleh Tirta sekarang bukan sesuatu yang berhubungan dengan itu.


    Dalam duduknya, tubuh gempal Tirta bagaikan sebuah tenda kecil, sedang jari-jari tangannya yang besar — seolah memakai sarung tinju — tengah memegang sebuah buku tua, dapat dilihat dari warnanya yang sudah menguning dan tampak lapuk. Hanum tidak heran, sebab sudah sejak lama Tirta menjadi seorang kolektor benda-benda kuno. Seluruh koleksinya ia tempatkan di dalam satu lemari bertutup kaca di ruang santai. Nampaknya buku itu akan menambah lagi daftar koleksinya. Hanum yang berjalan mendekatinya dapat melihat sekilas isi buku tua itu, dan, seluruh ejaannya memakai aksara jawa. Gadis itu sama sekali tidak tertarik untuk membacanya.


    “Hai Ayah, koleksi baru?” sapa Hanum setelah duduk menyebelahi Tirta.


    “Hai gadis kecilku.” Hanum tersenyum cemerlang, tak pernah merasa keberatan jika Tirta menyebutnya seorang 'gadis kecil' meski nyatanya ia sudah tumbuh besar. “ya begitulah, ini buku bagus.”


    “oya? isinya tentang apa?”


    “Kau tak akan suka, isinya tentang sisi kelam manusia.”


    “Terdengar menakutkan, aku tidak ingin membacanya.”


    Tirta tertawa melihat gadisnya mengedikkan bahu sebagai ekspresi takut, dan ia menganggap wajah Hanum begitu lucu ketika melakukan itu. Tirta pun menaruh buku tua di meja setelahnya.


    "ya ... itu lebih baik.”


    “Ngomong-ngomong, Kau cantik sekali, Nduk.” kata Tirta memperhatikan.


    Rona merah tumbuh di kedua pipi Hanum seperti kelopak bunga yang baru saja mekar, “Terimakasih pujiannya Ayah.”


    Disaat bersamaan, Asih muncul dari dapur membawa satu baki besar berisi dua piring omelette, satu jus mangga, dan secangkir teh hangat. “sarapan sudah datang.” serunya.


    “hm ...terlihat lezat ” puji Hanum, “mana punya Ibu?”


    “Sebentar, Ibu ambil di dapur.”


    "Oke, ambillah, kita sarapan bersama.”


    Sekembalinya Asih mengambil jatah sarapannya, Hanum mengatakan sesuatu. "Ayah, Ibu, bolehkah pulang kuliah nanti aku diantar Satya ke rumah?” pintanya ragu-ragu sembari menyendokkan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


    “Siapa itu Satya?” Tirta kebingungan.


    “Lelaki yang kau ceritakan semalam, Nduk?” tanya Asih, yang dibalas Hanum dengan anggukan cepat. “putri kita sedang jatuh cinta, Yah.” Asih menjelaskan ke Tirta.


    “benarkah? Ayah jadi merasa sangat tua sekarang.”


    “boleh tidak?” pancing Hanum penuh harap.


    “hm ... begini sayang, sebelum Ayah melihat anak itu, lebih baik kau tidak pergi dulu dengan dia. Ayah akan tetap menjemputmu pulang. Oke?”


    Hanum terlihat kecewa dan mencebikkan wajah, “terus kapan aku boleh pergi dengan Satya?”


    "Ajak dulu dia kesini, Ayah dan Ibu akan tenang jika sudah melihatnya.” jelas Tirta.


    “Ibu setuju dengan Ayahmu. Suruhlah dia kesini lebih dulu, seperti yang Ibu katakan semalam.” Asih mengaminkan perkataan suaminya.


    “Baiklah, aku akan patuh dengan permintaan kalian."


    “Kalau begitu, mana senyumnya?” tagih Asih. Hanum pun menyunggingkan bibir meski setengah dipaksakan, nyatanya tak setitik pun paras manisnya berkurang.


    Asih tiba-tiba mengelus sangat lembut punggung tangan Hanum, “ini demi kebaikanmu, Nduk.”


    Mendengar itu, hati Hanum luluh dan tersentuh, ia pun mengubah senyumnya dari keterpaksaan menjadi tulus.


    “Bagus, sekarang habiskan makananmu jika tak ingin terlambat.” kata Asih.


    Usai sarapan, ketiganya hanya menyisakan piring dan gelas tanpa isi. Semua tandas mereka lahap, sebab begitulah prinsipnya, untuk tidak membuang-buang makanan. Tirta lalu bangkit mengambil kunci mobilnya yang menggantung di paku, tepat di samping lemari bertutup kaca; bersiap untuk mengantar anak gadisnya kuliah dan selanjutnya pergi bekerja.


    “Ayo Nduk kita berangkat.”


    "Ayo."


    Asih mengantar Hanum dan Tirta sampai ke teras rumah, menunggui sampai mereka menghilang dari pandangan nantinya.


     Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, dibalik semak-semak dekat halaman rumah, seseorang sedang duduk diam tanpa sepengetahuan ketiganya. Matanya yang seolah baru diasah, tajam memperhatikan kegiatan mereka. Sementara tangannya yang kurus seakan tak berdaging itu menggenggam sebuah ponsel, yang selanjutnya ia gunakan untuk memotret. Dari posisinya, ia bahkan berhasil mengambil beberapa gambar dengan leluasa.  Ia nampak bersemangat melihat hasil pekerjaanya, lalu menyeringai puas ketika akhirnya Hanum dan Tirta melaju pergi dengan mobil  berukuran besar itu, meninggalkan Asih di teras.

__ADS_1


__ADS_2