Penunggang Jiwa

Penunggang Jiwa
Chapter 6 - Gadis Misterius


__ADS_3

    “Berhenti memotret!" teriak Miranti sembari menjulurkan kepalanya dari dalam jendela mobil, “ayo cepat masuk Ra.” lanjutnya kembali memerintah.


    Mendengar seruan dari ibunya, gadis remaja itu cepat-cepat menghentikan kegiatan dan menaruh gawai ke dalam ransel biru yang tadinya menggantung di pundak. Ia baru saja mengambil beberapa foto rumah barunya-yang-meski sudah dibersihkan dan memakan waktu satu minggu lamanya itu tetap terlihat suram dan tanpa nyawa—setidaknya itulah kesan yang tertangkap menurutnya, entah apakah sama bagi Miranti maupun Tara, atau tidak. Meski begitu, ia tak bisa menutupi kekaguman akan rancangan bangunannya yang tegas serta kokoh, yang mungkin akan melindungi keluarganya jika suatu saat nanti terjadi badai. Selama masa satu minggu itu pula, ia sudah berusaha melupakan kejadian di balkon, dan masih bersikeras menyalahkan rasa lelah, sehingga memicunya berpikir hal-hal aneh.


    Rumah itu akhirnya bisa ditempati, juga tak lepas dari bantuan Dito. Lampu-lampu yang sudah kehabisan energinya, dengan tekun ia ganti satu persatu. Keran air yang bocor dengan kesabaran ia perbaiki. Langit-langit eternit yang kotor dan berlubang disana sini juga ia atasi. Hampir segala sesuatu yang payah dari rumah itu, tak luput dari sentuhan tangannya. Begitulah, menurut Aurora, keluarganya memang — sebetulnya — sangat membutuhkan keberadaan seorang lelaki.


    Aurora berlari kecil ke arah mobil, membuka pintu penumpang, dan masuk ke dalamnya. Dilihatnya dari punggung kursi, si kecil Tara sudah duduk tenang di jok depan menyebelahi Miranti, sementara mulutnya sibuk mengunyah sandwich di genggaman tangan kanan, bocah itu bangun kesiangan sehingga terlambat untuk sarapan. Miranti menaikkan kaca jendela — setelah memastikan Aurora duduk dengan sabuk pengaman yang sudah melintangi tubuhnya — lalu menyalakan mesin mobil, bersiap meninggalkan huniannya untuk sementara waktu.


    “Untuk apa foto rumah segala Ra? kau lihat, sudah jam berapa ini? jangan sampai kita terlambat di hari pertama.” seru Miranti seraya menyodorkan lengan ber-arloji-nya ke wajah Aurora, sedang tangan kanannya memegang setir.


    “Iya maaf Ma, aku hanya sedang berusaha mengatasi rasa gugupku.” jawabnya jujur seiring dengan melajunya mobil hitam dalam kendali Miranti itu. Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah baru, begitupun dengan Tara. Akan tetapi, adik semata wayangnya itu jauh lebih tenang dibandingkan dirinya, yang mempunyai semacam kekhawatiran akan lingkungan asing. Sehingga ia perlu menenangkan diri, dan menyalurkan keresahannya dengan melakukan sesuatu, seperti yang ia kerjakan barusan.


    Miranti mencoba tersenyum maklum, “Mama tahu, tapi kau tenang saja, nantinya kau akan terbiasa dengan segala sesuatu yang baru di sekitarmu. Kau tahu ini juga hari penting untuk Mama kan?”


    Aurora mengangguk, meski ia yakin Miranti tak dapat melihatnya, kemudian menjawab, "iya Ma." Sekali lagi, berkat bantuan Dito sebagai seorang Funding Officer di tempat kerjanya, membuat Miranti bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat setelah Dito mengenalkan wanita itu kepada salah satu relasinya — tentu saja karena Miranti juga memiliki keahlian yang mumpuni dibidangnya.


    Lima belas menit kemudian, Aurora sudah sampai di sekolah. Ia mengambil napas berat sebelum memutuskan masuk ke gerbang, lalu merapikan seragam putih abu-abu yang membalut tubuhnya. Gadis itu berjalan dengan asing di sepanjang koridor sekolah, sendi-sendi tubuhnya menegang ketika beberapa pasang mata tertangkap mengamati kehadirannya. Meskipun tak nyaman, ia berhasil menguasai diri dengan cepat.


    Fokusnya beralih pada bangunan sekolah yang cukup luas dan asri, beberapa tanaman hijau menghiasi setiap petak tanah disekitar gedung. Bahkan ada satu pohon besar dan rindang yang berdiri teguh ditengah-tengah halaman, pada sisinya sengaja dibuat tempat duduk melingkar dari semen, sehingga menjadi tempat favorit para siswa untuk berteduh atau mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


    Bel masuk sudah membahana beberapa menit yang lalu. Bersama seorang guru wanita bertubuh gempal, ia memasuki ruang kelas yang terletak di lantai dua paling ujung dekat dengan toilet. Guru bernama Erna itu yang nanti akan menjadi wali kelasnya. Tibalah ke bagian terburuk menjadi seorang murid baru, ialah momen perkenalan diri. Bagaimana tatapan-tatapan penasaran menyambutnya untuk membuat risih sekaligus canggung tanpa ampun. Itu sulit dan menyebalkan, ketika semua mata tertuju kepadanya. Ia tak suka menjadi pusat perhatian, tapi seburuk apapun, Aurora tetap harus menjalaninya. Penghuni kelas gaduh, guru wanita itu sampai harus mengetuk papan tulis dengan spidol untuk membuat para siswa diam, terutama murid lelaki. Tak bisa dipungkiri, wajah manis Aurora memiliki daya tarik yang memikat.


    “Anak-anak, saya mohon perhatiannya. Kalian kedatangan teman baru, biarkan dia memperkenalkan diri.” Bahasa Indonesia dengan sedikit dialek medok yang terlontar dari mulut Bu Erna mulai membuat mereka bungkam, meski beberapa masih berbisik-bisik. “Oke, silahkan dimulai perkenalannya.”


    Aurora mengangguk, mengambil napas pelan lalu memaksakan diri untuk tersenyum. “Nama saya Aurora Magdalena,” ia mulai memperkenalkan diri dengan sewajarnya, menyebutkan dari mana asalnya dan alasan mengapa ia pindah, kemudian mengakhirinya secepat mungkin, “semoga kita bisa berteman baik.” pungkasnya dengan lega.


    "Oke Aurora, kau bisa duduk di kursi yang kosong di sebelah sana.” Bu Erna menunjuk barisan meja keempat dari depan, di deretan tengah, disamping seorang gadis berponi miring. Aurora patuh, berjalan menuju kursi miliknya. Sementara teman sebangkunya itu menatap ceria, melempar senyum cemerlang seraya melambaikan tangan.


    “Hai, aku Mayang.” sapa gadis berponi itu, mengulurkan tangannya yang mungil begitu Aurora duduk.


    "Aurora." ucapnya membalas jabatan tangan Mayang.


    Aurora tersenyum sebelum menanggapi ucapan Mayang, “terimakasih sudah menyambutku dengan baik."


    “Oke. Kupastikan kau akan nyaman bersamaku.” kata Mayang berkelakar, menepuk dadanya dengan gaya yang dilebih-lebihkan.


    Sekejap, Aurora merasa tak sepenuhnya buruk menjadi seorang murid baru. Ia lalu mengangguk lega sebelum mengedarkan pandang ke sekitar ruang kelas, dan akhirnya menyadari jika ada sepasang mata yang tak lepas memperhatikannya. Sepasang netra milik seorang gadis yang duduk di kursi di baris ketiga paling kanan. Kelopak sayu itu menatapnya dengan ketajaman paling menusuk, seolah dirinya menyandang keanehan, atau bahkan tak memiliki lubang hidung.


    Penampilan gadis itu tidak begitu menonjol, berkulit kuning langsat dengan rambut ikal dan dikuncir rapi ke belakang. Wajahnya adalah kristal-kristal salju, tampak dingin dan begitu kaku, sehingga tak ada keramahan yang dapat Aurora temukan disana. Dengan kikuk, Aurora berusaha melambungkan senyum terbaik yang dapat ia lakukan, namun secepat kilat gadis itu memalingkan wajah, tak berharap mendapatkan sapaan darinya, seakan-akan jika mengindahkan usaha Aurora, gadis itu akan ditimpa kesialan tak berkesudahan. Hal itu membuat Aurora merasa buruk dan cukup berkecil hati.

__ADS_1


    “Tak usah dipikirkan,”Mayang mengejutkannya tiba-tiba.


    “Eh?”


    "Dia," telunjuknya mengarah pada gadis yang sedang memenuhi benak Aurora, “namanya Jenar, terkenal aneh dan misterius disini. Dia pendiam dan tidak memiliki teman sama sekali, jadi jangan berharap bisa mendekatinya.”


    “Kenapa begitu?" Aurora penasaran.


    Mayang membetulkan letak poninya lantas mengangkat kedua bahu, sebagai tanda ia tak mengetahui jawaban akan pertanyaan Aurora. "entahlah, awalnya kami semua juga penasaran, tapi lama-lama kami malas mencari tahu. Sudahlah, kau tak perlu mengurusinya.”


    “Dia tadi menatapku,” bisik Aurora.


    “Jenar menatap siapa saja,” balas Mayang yang juga berbisik.


    "Tapi ..."


    “Sshhtt ...” Mayang menaruh telunjuknya di bibir, “kita harus menyimak pelajaran, perlu kau tahu, guru matematika ini sangat galak.”


    Meski memberikan anggukan pada Mayang, Aurora tak menafikkan jika Jenar sudah berhasil menganggu pikirannya, terlebih, ketika ia memergoki tatapan tajam itu kembali. Tatapan yang nyaris menguliti seluruh jengkal tubuhnya dan membuatnya serasa ditelanjangi.

__ADS_1


__ADS_2