Penunggang Jiwa

Penunggang Jiwa
Chapter 4 - Hanuma Kinanti


__ADS_3

    Malam kian larut ketika bulan mencapai purnama. Rasa dinginnya yang menggigilkan seakan mengepung seluruh balkon, akan tetapi gadis itu masih belum berminat memanjakan tubuh di kamar, dan memilih abai pada kehangatan selimut beludrunya yang tebal. Balutan selendang wol merah yang salah satu ujungnya disampirkan ke sisi tubuh, menenggelamkan piyama tidur yang dikenakannya. Ia telah memaksa diri melewati sebagian waktu malamnya disana. Menurutnya kala itu tampilan langit sangat indah, meski ia menghitung hanya empat lima titik bintang yang hadir, sementara lainnya pintar bersembunyi hingga tak tertangkap mata bulatnya.


    Beberapa langkah dari balkon menuju ruang bersantai, sedang duduk seorang wanita berusia empat puluhan tahun di sebuah sofa linen abu-abu. Perhatiannya bukan kepada tontonan dari salah satu kanal televisi yang diputarnya, melainkan terpancang pada sosok anak gadis yang berdiri khusuk di luar sana. Padahal sedari tadi matanya bertempur keras melawan kantuk yang ganas menyerang. Namun, ia akan merasa berdosa dan tak bisa memaafkan diri jika saja tiba-tiba jatuh tertidur. Ia sudah menanamkan aturan pada dirinya sendiri; sebelum ia masuk ke dalam gemerlapnya dunia mimpi, ia harus memastikan anak gadis semata wayangnya sudah lebih dulu terlelap. Bahkan selama dua puluh satu tahun ini, ia belum pernah satu kali pun melanggarnya.


    Wanita bernama Asih itu akhirnya menyerah, mematikan televisi sebelum beranjak menuju balkon. “Nduk, ayo sudah waktunya tidur. Ibu tidak mau kalau kau masuk angin, apalagi sampai sakit.” katanya sembari menghadapkan tubuh anaknya, lalu merapatkan selendang sehingga sempurna membebat tubuh langsing gadis itu.


    “Sebentar lagi Bu, lihat itu! bulan purnamanya indah sekali.” ia memberi jawaban selagi memegangi rambutnya yang hitam dan lebat ketika semilir angin menerbangkannya. “Kira-kira kalau ada bintang jatuh, Ibu mau buat permohonan apa?” tanyanya sebelum mengalihkan pandangan mata yang semula lekat menatap langit kepada wajah teduh Ibunya.


    Asih pura-pura berpikir, “sepertinya Ibu hanya menginginkan kau selalu bersama Ibu, tidak pernah ada permintaan yang lain, dan kau selalu tahu hal itu.”


    “dan Ayah? Apa Ibu tak mau bersama dengannya juga? ” godanya.


    “tentu saja, kita bertiga akan selalu hidup bersama, menjadi keluarga utuh dan bahagia.” tutup Asih, ia pun mengelus-elus pundak gadis itu, seakan seluruh kasih sayang yang ia miliki bisa tersalurkan begitu saja dari tangannya. Asih kemudian bersedekap menahan hawa dingin yang kian menggigit tulang, “sudah sudah, ayo sekarang kita masuk. Kau harus istirahat. Lihat, ibu sudah hampir menggigil. Lagipula, kau tidak takut ada setan yang datang kemari menculikmu?” Asih balik menggodanya.


    Gadis itu tertawa, “setan? Aku tidak percaya dengan makhluk halus Bu, jadi mana mungkin aku takut.” tapi melihat Ibunya yang benar-benar kedinginan — dan demi menyenangkan hatinya — gadis itu akhirnya mau menurut, “baiklah, ayo kita ke dalam, aku akan tidur.” meski kadang berlebihan, ia selalu menyukai bentuk perhatian


yang diberikan wanita itu kepadanya.


    “Nah, kau memang anak Ibu yang penurut, ayo.” mereka berlalu dari sana, Asih segera menutup dan mengunci pintu penghubung ke balkon, kemudian menuntun gadis kesayangannya ke kamar. Ia melepaskan selendang wol yang tadi dikenakan anak gadisnya, lalu menggantungnya di belakang pintu kamar. Asih tak segera pergi melainkan mendudukkan diri di pinggir ranjang begitu memastikan anaknya berbaring nyaman disana.


    Asih memandang lekat-lekat pada wajah gadis ayu yang ia beri nama Hanuma Kinanti. Baginya, Hanum adalah sebuah anugerah yang paling tak ternilai. Setelah berkali-kali hamil dan keguguran, akhirnya di tahun ke-enam perkawinannya dengan Tirta, Tuhan menghadirkan Hanum sebagai hadiah sangat menakjubkan. Bahkan kini Hanum tumbuh menjadi sesosok gadis jelita. Alis tebalnya yang begitu rapi kian mempercantik mata bulatnya yang sudah indah. Hidungnya mancung, seakan-akan dipahat dengan sudut kemiringan sempurna. Bibirnya yang penuh berwarna merah muda, dan ketika tersenyum, bibir itu akan membuat parasnya terlihat manis, sementara deretan gigi-giginya putih seakan cahaya purnama keluar dari sana. Kulit mulusnya yang meski sedikit kecoklatan, justru kian menambah daya tariknya. Belum lagi rambutnya yang panjang terurai, menjadikan ia seorang gadis sempurna. Satu lagi, jangan lupakan tentang tubuh tinggi semampainya yang langsing.

__ADS_1


    Dengan kesempurnaan seperti itu, tak heran jika Hanum menjadi seorang primadona; kembang desa yang begitu didambakan para lelaki. Namun, hal itu juga yang membuat Asih sangat mengkhawatirkan Hanum. Entahlah, ia memiliki semacam ketakutan yang susah dijelaskan. Ditambah sikap Hanum yang suka meladeni berbagai bentuk perhatian, meski ia sama sekali tak berniat untuk menerima lelaki-lelaki itu.


    Asih menaikkan selimut beludru itu hingga ke dada Hanum, kemudian mengusap-usap pipinya.


    “Bu, aku suka dengan seseorang.” serunya antusias, belum mau memejamkan mata.


    Asih sedikit terkejut, “benarkah? siapa akhirnya lelaki beruntung itu?”


    “Dia bukan berasal dari desa ini, dia teman kuliahku Bu. Kapan-kapan akan ku ajak dia main kesini.”


    “Apa dia orang yang baik?” tanya Asih tak pandai berbasa-basi.


    "Benarkah? sebaik itu sampai kau memohon untuk berjodoh dengannya?” Asih terus memancing.


    “Tentu saja. Ibu akan senang dengannya.”


    “Baiklah, secepatnya kau harus menunjukkan siapa lelaki itu pada Ibu dan Ayah.” Asih tak akan bisa tenang jika belum mengetahui seseorang yang mendekati anaknya.


    "Iya bu, tenang saja. ”


    Di luar ruangan terdengar suara langkah kaki berat yang berderap menaiki tangga, dan perlahan bergerak mendekat. Tak lama, Tirta sudah muncul di muka pintu. Tangan gemuknya menggenggam segelas sedang susu hangat. “Oh syukurlah kau belum tidur, maaf Ayah tadi lupa membuatkanmu susu. Ku pikir ini belum begitu terlambat untuk meminumnya.”

__ADS_1


    "Ku kira Ayah sudah tidur?”


    “Lebih tepatnya, Ayah ketiduran.” Tirta tersenyum kecil, merasa bersalah. "bisakah kau meminumnya, Nduk? ” Hanum segera bangkit ke posisi duduk begitu Tirta menyodorkan gelas susu itu.


    “Baiklah, aku akan meminumnya demi dirimu Ayah. Lain kali kalau terlambat lagi, aku tak akan meminumnya. Sekarang ku biarkan gigiku yang sudah bersih kembali kotor oleh susu ini.” kata Hanum pura-pura kesal dengan Tirta. Reaksi Hanum justru mengundang tawa Ayah dan Ibunya, mereka pun menghujani Hanum dengan ciuman.


     “Tolong nyanyikan sebuah lagu, sampai aku tidur.” pinta Hanum begitu manja usai menenggak susu dalam sekali minum.


    “Tentu tuan putriku, kau ingin Ibu bernyanyi apa?” kata Asih sembari meletakkan gelas susu ke meja rias.


    “Nyanyikan lagu kesukaanku Bu.”


    “Kalau Ibu bernyanyi, Ayah harus apa? ” tanya Tirta.


    “Kemarilah,” Hanum menepuk sisi ranjang kirinya, “Ayah harus memijat lenganku yang lelah bermain piano.” gadis itu menyeringai.


    “Baik tuan putri, sini kemarikan lenganmu.”


    Asih dan Tirta selalu memenuhi segala keinginan Hanum, termasuk untuk hal-hal sepele semacam itu. Bagi mereka berdua, Hanum adalah segalanya, harta tak ternilai yang akan selalu didekap dan dijaga. Mereka akan melarang apa saja yang menurut mereka tidak baik bagi Hanum, dan gadis itu pun tak masalah untuk mematuhi larangan itu. Ia justru menikmati perhatian demi perhatian yang mengalir dari orangtuanya. 


    Dan setelah beberapa menit berlalu, ketika Asih menyelesaikan senandungnya, Hanum sudah jatuh ke alam mimpi.  

__ADS_1


__ADS_2