
Satu minggu kemudian, persis selepas subuh, keluarga kecil Miranti sudah pergi meninggalkan Jakarta. Mobil hitam yang dikemudikan ibu dari dua anak itu melaju kencang sepanjang jalan menuju kota Jogja dengan memilih jalur selatan sebagai alternatif memperpendek jarak. Tak ada yang bersuara, mereka saling diam satu sama lain. Aurora yang duduk di sebelah kursi kemudi, terlihat tengah sibuk dengan gadget miliknya, sementara Tara tertidur pulas di jok belakang. Miranti pun memilih memusatkan perhatian sepenuhnya pada jalanan yang ia lewati, sambil memutar lagu-lagu lawas yang tersambung dari port USB, untuk memastikan ia terbebas dari kantuk, dan sesekali menepikan mobilnya untuk beristirahat.
Ketika kembali menjejaki kota kelahirannya, pikiran Miranti terbang, terbawa pada nuansa nostalgia. Suasana magis yang masih terasa kental khas tanah jawa, belum luntur meski belasan tahun lalu ditinggalkannya. Kini ia pulang kembali, bermodal harapan untuk menata ulang hidup bersama Aurora dan Tara, dan mencoba melupakan yang sudah berlalu. Ditengah ramainya pikiran, bunyi klakson pengendara mobil lain dari arah belakang mengagetkan lamunan, matanya melirik lampu lalu lintas yang sudah berubah warna menjadi hijau, ia segera lanjut memainkan kemudi setir, memacunya menuju pertengahan kota tepat saat sore menjelang.
Arloji di pergelangan tangan Miranti mengarah ke angka lima. Mobilnya berbelok dari jalan utama lalu memasuki sebuah kawasan perumahan kelas menengah. Dari dalam kaca mobil, terlihat sosok lelaki bertubuh tinggi dengan berat proporsional, berdiri di depan pelataran sebuah rumah berteras sederhana. Senyum yang melintang dari permukaan wajahnya menegaskan kesan ramah. Lelaki itu tampan dengan kulitnya yang berwarna kecoklatan. Rambut hitamnya di pangkas rapi, tak terkecuali area wajahnya yang juga bersih dari kumis dan jambang—penampilannya mencerminkan seorang pegawai kantoran. Miranti kemudian mematikan musik dan juga mesin mobil bersamaan ketika Aurora meliukkan tubuhnya dari lelah perjalanan, Tara pun terbangun malas menyadari jika mobil baru saja berhenti.
“Kita sudah sampai Ma?” tanya Aurora penasaran.
“Belum, kita ketemu om Dito dulu ya,” telunjuk Miranti mengarah ke sosok lelaki tadi, “dia yang akan mengantar kita ke rumah. Ayo turun sebentar, Tara... ayo ikut sayang.” Tara mengerjap-ngerjap, mengumpulkan kesadaran dan menguap untuk kesekian kalinya sebelum ikut menyusul turun, keringat mengumpul di sekitar wajah membuat kulitnya nampak berminyak.
Mereka pun mendapat sambutan hangat dari lelaki seusia Miranti itu.
“Miranti... lama sekali, akhirnya kita bertemu lagi.” kata Dito, nadanya yang beraksen medok terdengar gembira, kemudian disalaminya tangan lembut Miranti.
“Kau pasti tak sabar menunggu kedatanganku, Dit.” ledek Miranti yang mengundang tawa kawan lamanya.
“Ya, kejam sekali, aku harus menunggu belasan tahun untuk bertemu lagi denganmu.” Dito memandangi Aurora dan Tara. “hm... anakmu cantik dan tampan Mir.” puji Dito.
“Ah iya, aku belum mengenalkan mereka,” Miranti menunjuk ke arah Aurora dan Tara bergantian, “yang pertama namanya Aurora, dan si kecil yang menggemaskan ini namanya Tara. Anak-anak ayo salaman sama Om Dito dulu.”
Keduanya menuruti perintah Miranti, “Hai om, salam kenal, aku Aurora.” Dito menyambut uluran tangan Aurora, dan mengusap ubun-ubunnya untuk menciptakan kedekatan. Ia juga melakukan hal yang sama kepada adik semata wayang Aurora.
“Dit, bisa kita jalan sekarang? Lihat, sudah semakin sore.” Miranti mengacungkan telunjuk ke arah langit.
“Tentu, ayo kita pergi.” Dito menerima kunci mobil yang diserahkan Miranti. Mereka berempat masuk dan menempati kursi masing-masing, hanya saja, kini Aurora berpindah ke jok belakang menemani Tara, dan Miranti
__ADS_1
duduk di depannya. Dari tempatnya berada, Aurora dapat mengamati Dito yang sudah nyaman memegangi setir berbentuk bulat itu, bersiap untuk memulai perjalanan.
“Sudah siap semua? Pakai sabuk pengamannya ya?”
“Siap” jawab ketiganya serentak sembari menuruti instruksi Dito.
Sedetik kemudian, mobil kembali melaju dibawah kendali lelaki bergaya rapi itu dan mulai menjauh dari kota. Perjalanan panjang ternyata masih belum menemui usai, sebab lokasi rumah baru Miranti terletak didekat wilayah pedesaan. Jalan yang mereka lewati, meskipun sudah beraspal, namun kebanyakan diapit oleh sawah maupun hutan penuh semak dan pepohonan di kanan kirinya.
Aurora masih memilih diam selama perjalanan, berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia mencoba menikmati sisa perjalanan dengan menghamparkan pandang ke luar jendela, sambil sesekali mencuri dengar obrolan dua manusia dewasa yang telah lama tak bersua itu. Ada detik dimana ia merasa sedih telah pergi dari kota yang sudah memberinya ruang untuk hidup, ada juga detik dimana rasa rindu pada ayahnya tiba-tiba muncul, namun ketika mengingat apa yang dilakukannya, kemarahan kembali memenuhi isi hati Aurora. Sementara Tara kembali menuntaskan hasratnya untuk tidur, wajahnya terselip diantara kaca jendela dan sandaran kepala, sesekali tertunduk-tunduk, membuat Aurora turun tangan membetulkan posisinya.
“Masih jauh Dit?”
“Kalau sudah masuk jalanan ini berarti sudah dekat Mir.” pandangan Dito tak lepas dari lajur jalan. “begitu sampai di rumah, rasa lelahmu pasti akan terbayar.”
“kau membuatku tak sabar untuk melihatnya Dit.” ungkap Miranti semakin tertarik, sedang Dito tertawa dari kursinya sembari memutar persneling. Melihat wajah ceria temannya itu, tiba-tiba terbersit sesuatu di pikirannya, “hm...ngomong-ngomong apa kau sudah punya pacar sekarang?” tanyanya sedikit ragu.
“Memangnya aku mak comblang, kalau mau usaha saja sendiri. Aku khawatir yang kupilih tak memenuhi standar tipemu.” Miranti balik meledek Dito. Saat keduanya larut dalam candaan demi candaan, tiba-tiba sesuatu melintas dengan sangat cepat, membuat Dito terkejut lantas menginjak pedal rem mendadak. Tubuh setiap orang dalam mobil terpelanting kedepan, bahkan kepala Aurora dan Miranti mengalami benturan ringan, tak terkecuali Tara yang akhirnya terpaksa bangun dari tidur pulasnya.
“Ada apa om?” Aurora panik, pertanyaannya sekaligus mewakili benak Miranti dan Tara.
“Sepertinya Om melindas sesuatu,” jawab Dito tak kalah panik, “Om cek dulu sebentar,” jawabnya sambil buru-buru menarik door handle lalu bergegas turun begitu pintu mobil terbuka, disusul oleh Miranti, Aurora, dan Tara yang juga dilanda penasaran.
Aurora merasakan deburan perasaan aneh, jalanan terlalu sepi dan tak ada pengendara lain yang lewat. Mereka juga masih belum keluar dari jalan penuh pepohonan yang mengapit kanan kiri mereka, sementara langit menampilkan sinar matahari yang berubah menjadi pendar senja, tandanya tak lama lagi gelap malam akan menyambut mereka.
Gadis itu berusaha mengabaikan suasana dan bersama rombongan mencari tahu apa yang terjadi. Namun, begitu menempelkan pipi mendekati kulit aspal, sesuatu yang dilihatnya di kolong mobil membuat mual sekaligus
__ADS_1
ngeri. Miranti bahkan tak bisa menahan, dan buru-buru memuntahkan sebagian isi dari perutnya, sementara Tara pucat karena ketakutan.
“sial!” Dito memekik. Seekor kucing hitam dengan kepala hancur dan sebagian isi perut terburai berada di bawah kendaraan mereka. Darah dan gumpalan daging hewan naas itu muncrat kemana-mana.
“arrgghh... Mama..” teriak Tara, belum menuntaskan rasa mual, Miranti membenamkan kepala Tara ke pelukannya.
“bagaimana ini om?” Aurora tak bisa menutupi kengerian, serta merta hawa tak mengenakkan datang menggerayanginya.
Dito menaruh dua tangannya ke kepala, mengusap keras rambutnya, tanda ia sedang berpikir sebelum memutuskan, “kalian tenang ya, ini hanya kucing liar, kita tinggalkan saja bangkainya.”
“Jangan!” seru Miranti, “kita harus menguburnya.”
“sebentar lagi malam datang, apa tidak masalah buatmu?” tawar Dito.
Miranti menatap langit, merasa tak nyaman. Namun meski begitu, ia masih percaya mitos buruk yang beredar jika tak mengubur bangkai kucing yang mati ditabrak, padahal ia sudah tinggal lama di Jakarta. “Ayo kita kubur saja, takut sial kalau dibiarkan begitu saja.” Miranti memutuskan.
“iya Om, kubur saja bangkainya.” diam-diam Aurora cemas, jika matinya kucing hitam itu membawa pertanda buruk. Sekelebat angin yang hadir kian menambah perasaan aneh baginya.
Kalah suara, Dito akhirnya mengangguk setuju, “ya sudah Mir, biar aku saja yang menguburnya, tolong kau mundurkan mobil, aku akan ambil bangkainya. Aurora, jaga adikmu sebentar ya.” perintah Dito langsung dilaksanakan keduanya. Tangan atletis Dito segera menarik bangkai kucing yang menjijikan itu ke bahu jalan. Matanya menyisir ke sekitar untuk menemukan apa saja yang bisa digunakan untuk mencangkul tanah. Miranti yang cemas, menunggu disekitar mobil dengan anak-anak. Dito akhirnya melihat batang kayu dikejauhan, ia berlari dan segera kembali usai mengambilnya.
Hari berubah gelap, kabut yang entah datang dari mana tiba-tiba ikut turun ke jalan, sementara tak ada satupun kendaraan yang melintas. Cepat-cepat Dito menggali permukaan tanah dengan menyingkirkan beberapa semak liar. Ia menimbang-nimbang kedalaman tanah, dan berhenti ketika sudah merasa cukup. Tanpa dibungkus kain apapun, Dito meletakkan tubuh hancur kucing hitam itu, lalu dengan gerakan kilat menimbunnya dengan tanah sebelum ia injak-injak. Selesai dengan pekerjaannya, Dito menghampiri rombongan kecilnya. Aurora berinisiatif mengangsurkan dua botol air mineral untuk membasuh tangan kotornya tanpa diperintah.
“sudah beres,” ucap Dito sembari mengucurkan air ke tangannya hingga tak ada yang tersisa pada dua botol itu, ia membuat ketiga orang yang menunggunya menghembuskan napas lega.
“kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan.” ajak Miranti, ia ingin segera sampai ke kediaman barunya.
__ADS_1
“oke, ayo kita masuk ke mobil.”
Begitu semua sudah menempati posisi, Dito lantas menginjak pedal gas dan menambah kecepatan laju mobil untuk melewati sisa perjalanan. Kali ini, ia lebih menajamkan penglihatan, sebab lampu-lampu jalan entah kenapa mati. Mereka baru keluar dari area jalan berhutan sekitar lima belas menit kemudian dan sudah bisa melihat beberapa pemukiman meski tak banyak. GPS di mobil Miranti pun sudah memberikan sinyal, jika lokasi yang dituju semakin dekat, lalu setelah menghabiskan dua puluh menit terakhir, akhirnya mereka sampai juga di tujuan.