Penunggang Jiwa

Penunggang Jiwa
Chapter 7 - Sebuah Pesan


__ADS_3

    Segera, Aurora telah sepenuhnya berhasil menyesuaikan diri bergaul dengan teman barunya, Mayang. Menurutnya, gadis itu sangat menyenangkan, bahkan berbaik hati mengenalkan banyak teman untuknya. Tentu saja, kecuali Jenar.


    “Lupakan tentang dia, kau perlu mencoret si misterius itu dalam daftar pertemanan.” katanya menggebu, sambil membenahi buku-buku dan perkakas menulisnya ke dalam tas.


    Mungkin sudah menjadi sifat alamiah manusia, semakin dilarang, keinginan untuk lebih banyak tahu semakin besar. Aurora nyatanya tak bisa mengabaikan sikap Jenar begitu saja. Tatapan mata itu, hampir ia yakini bukan tanpa makna, seakan ada sesuatu yang bersarang ditubuh Aurora, dan Jenar sedang membacanya. “bukannya mau menghasut, tapi kau bisa melihatnya, dia lebih suka mengasingkan diri,” Aurora hanya mengangguk ketika Mayang mengatakan itu, namun diam-diam ia mencuri pandang ke arah Jenar yang sedang duduk diam dengan kepala tertunduk begitu dalam, sehingga lehernya seperti patah dari punggung. Tak ada yang berusaha mengajaknya bicara, dan tak ada yang ingin ia ajak bicara. Jenar seperti punya dunianya sendiri, dan manusia lain hanyalah figuran didalamnya.


    “Sebelum ke kantin, aku akan mengenalkanmu pada seseorang.” Mayang kembali bersuara, menarik Aurora dari pikiran-pikirannya tentang Jenar.


    “Masih ada lagi? Siapa?” Aurora menelengkan kepala, menatap wajah lawan bicaranya.


    “Sepupuku, asal kau tahu, dia itu tampan. Pokoknya kau akan berterimakasih padaku jika sudah melihatnya nanti.” Mayang menyeringai bangga.


    "Begitu?"


    “Iya, cepatlah kemasi buku-bukumu Aurora.” perintah Mayang sedikit tak sabar.


    "Baiklah."


    Mayang segera menarik pergelangan tangan Aurora begitu menyelesaikan instruksi darinya. Keduanya melenggang keluar kelas, dimana satu tatapan mengekori kepergian mereka. Gadis berkulit sawo matang itu sangat menyadarinya, namun antusiasme Mayang membuat ia mengesampingkan rasa penasaran yang terus berkelebat dalam benak. Sehingga saat ini ia memilih pasrah mengikuti langkah kaki teman barunya.


    Pada bangunan sekolah yang berbentuk letter U itu, Mayang memandu Aurora melewati beberapa ruang kelas dengan menerobos banyak kerumunan siswa yang semuanya saling berjalan, kemudian berhenti sebentar didekat tangga, sebelum akhirnya berbelok ke koridor sebelah kanan. Begitu sampai tempat tujuan, Mayang mengajak Aurora berdiri di dekat pintu sebuah ruang kelas gaduh, hampir seisi penghuninya beranjak meninggalkan ruangan. Begitu sepi, Mayang melambaikan tangan pada seorang laki-laki berwajah oval dengan kulit putih dan mempunyai lesung dagu. Ketika berdiri, Aurora dapat mengukur tinggi tubuhnya yang hanya sampai sebatas bahu laki-laki itu.


    “Ada apa May?” tanya si pemilik lesung dagu itu sambil berjalan mendekat.


    “Kenalkan, teman baruku, murid pindahan dari Jakarta. Teman sebangku juga sekarang.”


     “Hai, aku Aurora,” ucapnya seraya menyodorkan tangan.


     “Oh iya, aku Bagaskara,” laki-laki itu menjawab dan menyambut uluran tangan Aurora. Kedua manik mata mereka saling bertemu, membuat gugup satu sama lain.


     “Nama panggilanmu siapa?” tanya Aurora malu-malu.


     "Ah iya lupa, panggil aku Gaska, aku lebih suka itu.” katanya sambil mengulum senyum, yang juga disambut oleh Aurora. “Kau betah satu bangku dengan Mayang? Dia sangat banyak bicara. Aku saja sebagai sepupunya, sering tidak kuat.” lanjutnya membuka keakraban.

__ADS_1


      Mayang merangkulkan lengannya ke bahu Aurora, “Enak saja, tak perlu ditanyakan, Aurora sudah pasti betah bersamaku.”


    “Dia pasti pura-pura betah,"


    “Bilang saja kau iri denganku yang gampang bergaul?”


    Gaska membuat gaya seperti ingin muntah sementara Aurora hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.


    “Sudah, berhenti bersikap sombong May,” Gaska mengetuk ringan dahi Mayang dengan punggung jari tengahnya.


    “Aww .. sakit,” Mayang memanyunkan bibir, lantas mengusap-usap dahinya.


    Gaska hanya tertawa menanggapi sepupunya itu, “Ngomong-ngomong, kau tinggal dimana Ra?” tanya Gaska kemudian.


     “Masih di daerah dekat sini, kira-kira lima belas menit jaraknya dari sekolah.”


     “Mamanya Aurora membeli rumah murah, tapi dapat bangunan cukup besar,” Mayang ikut menimpali. "Aku jadi penasaran dengan rumahnya, rejeki nomplok sekali kalau begitu kan? aku juga mau.”


      “Oh ya? Beruntung sekali keluargamu.”


        "Coba mana lihat,” ucap Gaska dan Mayang bersamaan.


    Aurora merogoh saku rok abu-abunya, dan mengeluarkan benda pipih berwarna merah dari sana, tak lama kemudian jempolnya sudah bergerak lancar diatas monitor gawai, nampak memilih sesuatu lalu menyodorkan benda itu ke arah Mayang dan Gaska bergantian begitu menemukannya. "Ini rumahku."


    “Wow ... luar biasa! rumahmu seperti yang ada di film-film horor.” seru Mayang tertarik, tanpa menyortir kata-katanya, sementara Gaska hanya mengangguk-angguk tak ikut berkomentar, “aku penasaran sungguh, ingin melihat langsung rumahmu itu Ra.” kata Mayang melanjutkan.


    Aurora hendak menjawab namun mengurungkannya ketika melihat banyak murid berdatangan untuk kembali ke ruang kelas, sedangkan jam istirahat masih belum usai.


    “Ada apa?” cegat Gaska, bertanya pada salah satu teman sekelasnya.


    “Guru-guru ada rapat, sekolah dibubarkan hari ini Gas.” terang murid laki-laki berkacamata kotak itu, yang kemudian berlalu melewati kerumunan kecil mereka.


    "Yes! kebetulan sekali, aku bisa main ke rumahmu hari ini berarti kan Ra?” Mayang berseru sembari menyisir poninya dengan jari-jari tangan — sesuatu yang menjadi kebiasaannya—bergerak kegirangan seakan semesta mendukung keinginannya.

__ADS_1


    Aurora mengangguk semangat, “Tentu saja. Rumahku sepi, mama belum pulang bekerja, adikku juga belum pulang sekolah. Jadi, aku akan sangat senang dan berterimakasih jika kau mau datang ke rumahku sekarang.”


    “Kau ikut denganku Gas?” Mayang menolehkan wajah pada sepupunya.


    “Lain kali saja aku ikut main kesana. Sekarang, mumpung pulang cepat, aku akan pergi ke toko gitar,” jelas Gaska sembari menatap gugup wajah Aurora.


    “Baiklah, lain kali kau harus datang ke rumahku juga. Aku akan menagihnya.” Aurora nampak mulai nyaman berbicara dengan laki-laki berlesung dagu itu, meski masih sedikit malu-malu.


    “Siap!” Gaska mempraktekkan pose hormat pada Aurora, mengundang tawa dua gadis di hadapannya. “kalau begitu, aku pamit pergi dulu ya.”


    “Ya, pergilah sana." kata Mayang akhirnya. Gaska kemudian berlalu masuk ke kelas untuk mengemasi barang-barangnya, seiring dengan kepergian Aurora dan Mayang.


    “Aku telepon Mama dulu, supaya tak menjemputku ke sini.” Aurora sibuk mengutak-atik gawainya sembari berjalan menyusuri koridor ke kelas.


    “Ya, silahkan, kau harus memberi kabar.”


    Mereka berhenti sejenak selagi Aurora menangkupkan benda pipih itu ke telinganya, menunggu panggilan tersambung. Tak lama, suara halus terdengar dari seberang ponsel menjawab teleponnya.


    “Halo Ra, ada apa sayang?”


    "Halo Ma, ada rapat guru di sekolah hari ini, jadi aku pulang cepat.”


    “Mama belum bisa menjemputmu sekarang, masih ada pekerjaan yang belum selesai. Bagaimana? Kau bisa naik kendaraan umum dulu sayang?”


    “Tidak masalah Ma, aku akan pulang dengan Mayang, teman satu kelasku. Dia ingin main ke rumah sekalian menemaniku, boleh kan?”


     “Oh syukurlah, tentu saja boleh. Hati-hati di jalan ya, kabari kalau sudah sampai di rumah. ”


    “Pasti.”


    "Baiklah, Mama tutup teleponnya ya."


    Aurora tersenyum sumringah menatap Mayang yang juga ikut menyunggingkan senyum, menangkap maksud gadis itu. Keduanya melanjutkan langkah menuju ruang kelas. Disana, mereka menemukan seisi kelas telah sepi, dan hanya menyisakan Jenar di tempat duduknya, yang entah sedang melakukan apa. Mayang masuk begitu saja menuju meja duduk, sementara Aurora berdiri tertahan di pintu memperhatikan Jenar, yang lantas bangkit dari kursinya.

__ADS_1


    Wajahnya menunduk meski mulai berjalan, dan mata sayunya enggan menatap keberadaan Aurora. Namun, ketika jarak mereka sangat dekat — mungkin hanya sejauh satu jengkal — tiba-tiba gadis misterius itu buka suara, lantas mengucapkan sesuatu yang semakin mengundang rasa penasaran Aurora.


     “Hati-hati,” ucap Jenar dengan sangat jelas tertangkap telinga Aurora, belum sempat menjawab, gadis itu sudah pergi menjauh, meninggalkannya dengan tergesa-gesa.


__ADS_2