Penyesalan Suami Dan Mertua

Penyesalan Suami Dan Mertua
Bab. 21


__ADS_3

Arsila menatap wajah Arfa yang sebentar lagi akan resmi menjadi suami nya. Tatapannya tak berkedip seakan-akan enggan untuk mengedipkan matanya walaupun sedetik.


Arfa yang ditatap hanya melempar senyum menawan menambah ketampanan seorang Arfa.


Keduanya berpakaian serasi berwarna nute, yang satu bagaikan putri dan raja mereka di dampingi ketiga anaknya yang ganteng-ganteng.


"Mas, Ar," panggil Sari keduanya pun menoleh ke belakang. "Pak penghulu udah datang?" Ucap Sari yang di anggukan kepala olehnya.


Sari mengapit tangan Arsila dan menuntunnya ke ruang tamu yang disulap menjadi tempat berlangsungnya proses ijab kabul mereka.


"Wah, pengantin perempuannya cantik sekali?" Ibu Arfa memujinya dengan senyum sumringah.


"Sesuai janji Arfa Bu, kalau Arfa akan membawa menantu idaman ibu."


"Terimakasih ya Nak, ibu bahagia dengan ini semuanya apalagi ketiga anak kamu begitu menyayangi Arsila." Ibunya Arfa memeluk Arfa begitu eratnya.


"Nak Arfa sudah siap?" Tanya pak penghulu.


"Sudah Pak," jawabnya mantap.


"Duh. Yang gak sabar mau jap jip jup." Salah satu kerabat Arfa menggoda membuat Arsila malu.


"Berisik Lo." Arfa melempar tisu yang berada di depannya.


"Pak penghulu biar saya yang akan menikahkan mereka," pinta pak Warno.


"Silahkan Pak," pak penghulu pindah posisinya dan pak Warno duduk di depan Arfa.


Jantung Arfa berdetak kencang ada rasa gugup dan grogi saat berjabat tangan dengan pak Warno. Padahal ini pernikahan yang kedua kalinya seharusnya biasa saja.


"Nak Arfa sudah siap," tanyanya membuat Arfa terkejut saat namanya disebut.


"I-iya Pak." Gugupnya.


"Rileks bro." Sahabatnya menepuk pundak nya.


"Saya nikahkan engkau dengan putri saya bernama Arsila Darwanti dengan mas kawin satu set perhiasan di bayar tunai." Ucap bapak dengan suara bergetar ini yang pertama kali bapak menikahkan aku saat pernikahan pertama bapak mewakilkan kepada pak penghulu, ada rasa haru tak terasa air mataku merembes berdesakkan ingin keluar.


"Saya terima nikahnya Arsila Darwanti dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


Sekali tarikan nafas Arfa mengucapkan dengan lantang, terlihat jelas aura wajahnya yang bahagia.


Arsila terharu dengan semuanya.


"Ya', Allah kini aku resmi menjadi istri seorang Arfa pria yang lima tahun lalu cintanya aku tolak. Fa, Fa. Ternyata jodohku kamu." Kekehnya dengan senyum.


"Cium, cium," teriak sahabat kami yang sedaritadi usil siapa lagi kalau bukan Bram.


Pria yang gemuk doyan makan, tapi itu dulu, Sekarang mah ganteng siapa aja yang liat pasti jatuh hati padanya.


"Cium dong Arfa."


"Si Arfa Cemen."


"Gak tau si Arfa jadi lembek, nyalinya melempem mirip kue apem." Ucap trio kancil. Sahabatnya Sari yang usilnya melebihi Bram.

__ADS_1


Aku dan Arfa hanya tersenyum kikuk jelas mereka meminta yang aneh-aneh kalau di tempat pribadi pasti udah aku sosor duluan tanpa harus Arfa yang melakukannya.


"Papa, cium Mama nya? Kalau gak mau kita aja deh yang cium Mama," celetuk Riko.


Para tamu undangan terkekeh mendengar celotehan Riko termasuk aku dan Arfa. Anak satu ini memang bisa mencairkan suasana yang tegang bagiku.


"Ayo Pa," Rio menarik lengan Arfa.


"Fa, kalau kamu gak mau, bisa di wakilkan sama aku," jawab Bram dengan menaik turunkan alisnya.


"Enak aja." Sewot Arfa dan.


Cup


Arfa mengecup kening ku begitu lamanya sehingga para tamu undangan pun terkekeh geli melihat kelakuan Arfa suamiku karena malu aku dorong tubuhnya tuk menjauh, alih alih menjauh Arfa justru mempererat pelukannya dengan posisi mencium kening.


"Fa, malu diliat orang banyak." Bisikku.


Arfa yang mendengar perkataan ku celingukan dan tersenyum kikuk.


"Maaf."


"Huh...."


Bram dan trio kancil terbahak-bahak mendengar kata maaf dari Arfa.


"Mas Arfa, mau lebih dari ciuman juga boleh, tapi ntar di kamar." Ledek Sari dengan senyum senyum.


*


*


"Fa," ucapku dengan bingung, sumpah demi Alek hatiku ketar ketir saat Arfa memelukku dari belakang dengan memakai handuk yang melilit di pinggang nya.


Glek


Tenggorokan terasa kering saat melihat tubuh yang atletis roti sobeknya menggoda iman Arsila.


"Kamu mau ngapain, dekat dekat aku Fa, a-aku belum mandi."


"Gak usah mandi juga gak papa nanti kita mandi bareng." Ujarnya dengan mengerlingkan mata genitnya.


Arfa memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu aroma samponya mengguar menusuk indera penciuman ku,


Akupun larut dalam pelukan sang duda yang meresahkan hati seorang Arsila si janda kembang. Kedua mataku terpejam menikmati aroma maskulin Arfa.


Entah siapa yang memulai duluan, kini kami sudah berada di ranjang pengantin bertaburan bunga mawar. Tubuhnya sudah berada di atas tubuhku sentuhannya membuatku tersipu malu, sesaat kemudian tubuhku menegang, inikah yang biasa dilakukan oleh sepasang pengantin?


"Kenapa tegang?" Tanyanya dengan senyum nakal tangannya bergerilya untuk menjelajahi dua bukit kembar.


Aku tak menjawab pertanyaan Arfa membuat Arfa menghentikan permainannya.


"Kamu belum siap?"


"Kamu mau sekarang?" Arsila balik bertanya.

__ADS_1


"Kok, malah ditanya, jawabnya jelas mau dong sayang, kasian pedang saya sudah lama gak di asah. Ini malam pengantin kita bukan? Jangan di lewatkan mubazir." Arfa tersenyum lalu membingkai wajahku membuat aku semakin terkejut.


'Anjir si Arfa kebelet banget, mana aku belum siap takut, katanya sih malam pertama itu sakit. Tapi rasa penasaranku semakin tinggi.


Kalau nolak ntar dia ngambek lagi.' gerutunya dalam hati.


"Kita mulai." ucap Arfa dengan memeluk ku lagi.


"A-aku--" belum sempat menjawabnya bibir Arfa sudah membungkam mulutku lidahnya menerobos masuk kedalam dan bermain-main di sekitar mulutku.


Arfa melepaskan tautan bibirnya sebentar untuk memberi ruang pada Arsila untuk bernapas sebentar.


Arsila memukul mukul dadanya karena kehabisan oksigen.


"Aku gak bisa napas tau, naf* su banget."


Arfa hanya terkekeh mendengar ocehan istrinya.


Arsila semakin menegang saat Arfa mengesek gesekan senjatanya ke arah area sensitifnya yang sudah menegang sempurna.


Pedangnya siap masuk kedalam sarangnya.


Srekk.


Arfa merobek pakaian Arsila dengan wajah yang sulit di artikan, napas yang memburu menerpa wajahnya Arsila.


Sepasang pengantin baru sedang memadu kasih yang penuh suka cita, sampai melupakan anak-anak yang sedaritadi menggedor pintu kamar mereka.


"Papa!" Teriak mereka dengan menggedor pintu.


Arfa yang sudah siap dalam posisi membobol gawang harus dipending dulu karena ada ganguan kecil.


"Fa, anak anak," ucap Arsila dengan napas terengah-engah ia mendorong tubuh Arfa agar menjauh dan memunguti pakainya yang teronggok di lantai.


"Sayang tanggung, ini gimana nasib pedang samurai saya?" tanya Arfa dengan napas menahan hasr*tnya.


"Papa." Teriakan semakin keras mau gak mau Arfa harus membuka pintunya.


Dengan misuh misuh Arfa membuka pintu dengan raut wajah masam.


Saat pintu kamar terbuka nampak ketiga bocah kecil tersebut menatap kesal padanya.


"Mama," teriak mereka dengan menerobos masuk kedalam kamar saat melihat Arsila keluar dari kamar mandi.


"Kalian mau ngapain di kamar papa?" tanya Arfa.


"Mau bobok di sini sama kalian." ucapnya serempak.


"APA!" Arfa memekik keras membuat ketiga anaknya menatap heran.


"Papa kenapa?" polosnya.


Arfa hanya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gak apa-apa, hehehe. Alamat palsu."

__ADS_1


__ADS_2