
"Mbak-mbak istrinya Arfa Anugerah itu sudah meninggal dunia, sudah tenang di sana," Arsila menunjuk ke arah langit.
Wanita tersebut terkejut saat Arsila menjelaskan tentang istrinya Arfa.
"Mas, aku belum mati." pekiknya.
"Mbak, kalau mau marah marah jangan disini malu tuh, dilihatin banyak orang," ujar Arsila.
"Diam, kamu. Saya tidak ada urusannya sama kamu," jawabnya dengan menyunggingkan senyum.
"Jelas dong, kamu berurusan dengan saya, karena kamu sudah menganggu suami saya." Kesal Arsila.
"Pa, yuk kita masuk kedalam ngapain disini gak penting banget," Arsila mengandeng tangan Arfa dan masuk kedalam supermarket.
Wanita tersebut terkejut saat Arsila menjelaskan bahwa Arfa suaminya. Ada perasaan kecewa tangannya mengepal kuat.
"Mas." Pekiknya.
"Kenapa bukan aku yang jadi istri kamu, bertahun-tahun aku menunggu momen yang sangat aku harapkan. Apa kami gak kasian sama anak-anak kami Mas, dia butuh kasih sayang seorang ibu, aku lah yang cocok untuk mereka. Karena aku tantenya Mas." Wanita tersebut menangis karena harapannya pupus, setelah kematian kakaknya dirinya berharap agar Arfa menikahi dirinya.
"Mona, saya gak bisa menikahi kamu, karena kamu adikku, jadi maafkan saya." Ucap Arfa.
"Mas, banyak orang diluar sana, yang kakak ipar menikahi adiknya hidup mereka baik baik saja dan bahagia." Mona masih saja meraung-raung tak jelas.
Para pengunjung pun menatapnya dengan pandangan tak suka, ada yang prihatin ada juga yang nyiyir itulah manusia tak semuanya senang dengan apa yang terjadi.
"Sudahlah Mon, kamu pulang saja, Mas juga masih ada keperluan yang lain," Arfa meninggalkan Mona yang masih menangis.
Setelah masuk kedalam supermarket Arsila membeli semua kebutuhannya untuk beberapa hari kedepan, kata Arfa jangan banyak-banyak karena mereka akan pulang ke rumah Arfa.
*
*
"Capek juga, pulang dari supermarket." Arsila merentangkan tangannya yang merasa kaku.
"Ya udah kalau begitu, Mama istirahat saja, biar papa yang bereskan semua belanjanya."
Arsila menatap wajah tampan nya dan ia pun menyunggingkan senyuman.
Arfa yang melihatnya hanya bisa mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa Mama senyum senyum sendiri?" Tanyanya heran.
"Aku itu merasa gimana gitu, lucu aja denger kamu manggil aku Mama dan papa ?"
"Apanya yang lucu, kan, benar kalau kamu sudah menjadi Mama dan aku papa, mau ngelak dari faktanya." Ujarnya.
"Gak. Aku gak ngelak, cuman agak agak aneh aja, dulu aku manggil kamu dengan sebutan si urap dan kamu suka manggil aku Darwanto, eh sekarang malah jadi suami istri." Kekehnya.
"Iya." Keduanya terkekeh bila mengingat semuanya itu.
"Mas."
"Em," jawab Arfa.
"Siapa sih wanita tadi," tanyanya dengan serius.
Arfa menyentak napas panjang lalu duduk berhadap-hadapan dengan istrinya.
"Mona itu adik ipar saya, semenjak kepergian kakaknya Monaselalu mendekatiku, agar dinikahi alasannya kasian sama anak-anak kalau punya ibu sambungnya yang tidak sayang padanya," Arfa menjelaskannya pada Arsila.
Arsila tercenung memikirkan ucapan mona yang mengaku kalau dirinya adalah istrinya. Entah ia harus percaya sama siapa, Mona atau suaminya, sungguh penuh misteri antara mereka.
Arfa menatap wajah Arsila yang meragukan dirinya, seakan akan tau bahwa Arsila meragukan jawabannya.
"Oh."
Hanya kata 'oh' yang keluar dari mulut nya.
Melihat ekspresi wajahnya arsila membuat dirinya jadi bingung dijelaskan sedetail detailnya juga percuma bila tanggapan dari arsila dingin dan datar. Entah capek badan atau lelah pikiran. Perjalanan rumah tangga nya selalu ada rintangan yang menghadang untuk menuju ke bahagian.
"Kamu istirahat, saya keluar dulu mau liat anak anak."
"Hem." Ucapnya dengan menarik selimut tuk menutupi seluruh tubuhnya.
Arfa yang melihat istrinya yang merajuk hanya bisa pasrah dan tersenyum kecut.
"Saya harus gimana lagi buat menjelaskan semuanya? Huh." Helaan napas yang terdengar.
Dirinya pun kesal kenapa harus bertemu dengan Mona, bukankah mona berada di Surabaya? Kenapa ada di Jakarta," pikirnya.
'Ya Allah cobaan apalagi yang Engkau berikan kepada kami, sedangkan usia pernikahan kami baru satu hari, kenapa harus di temukan dengan gendis dan sekarang adik ipar nya lagi, bikin pusing mikirnya," batinnya.
__ADS_1
"Ngapain juga aku misuh misuh sama Arfa, dia udah jujur sama aku, kenapa cemburu dan meragukan jawabannya kan aku sudah jadi istrinya," gerutuknya.
Karena lelah akhirnya Arsila terlelap dalam tidurnya.
"Mama, bangun ma," teriak Rio dengan mengguncangkan lengannya. Karena tak ada respon dari nya Rio tak patah semangat ia terus membangunkan nya kembali.
"Mama, anterin Rio kewarung?"
"Mama ngantuk sayang, minta papa yang nemenin Rio ya," masih malas Arsila menatap anaknya.
"Gak mau sama papa, maunya sama Mama," renggeknya manja membuat Arsila luluh dan menuruti keinginan Rio.
"Ya, udah deh, Mama antar tapi Mama cuci muka dulu."
"Ok." Rio tersenyum sumringah.
"Mama, Rio mau es krim rasa coklat, boleh ya?" Celoteh nya.
"Iya."
"Udah Ma, kita pulang," ucap Rio dengan sekantong kresek berisi beberapa bungkus es krim.
"Bayar dulu, nih duitnya kasihkan sama ibunya," titahnya dengan memberikan selembar kertas merah pada Rio.
Rio berlari lari dengan tangan memegang es krim yang ia makan.
"Nak, jangan lari nanti jatuh es krim nya," Arsila mengingatkan anaknya.
Rio tak mengindahkan peringatan dari arsila dirinya terus lari dan.
Bug
Dirinya menabrak seorang pria tampan yang sedang keluar dari mobil, es krim yang ia pegang jatuh dan mengenai bajunya. Arsila yang melihatnya lari mendekati anaknya.
"Maafkan anak saya Mas," ujarnya tanpa menatapnya.
"Maaf ya Om," Rio menimpalinya dengan suara gemetar, arsila menggenggam erat tangan mungilnya yang gemetaran.
"Gak apa-apa Mbak, namanya juga anak-anak," jawabnya.
Suaranya tak asing bagi Arsila, dengan memberanikan diri Arsila menatap wajah pria tersebut dan terkejutnya siapa dia.
__ADS_1
"M-mas Arifin?"