
"Sebentar lagi nak, sabar ya?" Celetuk Arfa dari arah belakang, sontak keduanya menolehkan kepalanya.
"Apaan sih papa ini, ngaco." Ucap Arsila dengan tersipu malu.
Arfa mendekati Rio dengan membisikkan sesuatu sehingga anak tersebut mengangguk dan pergi.
"Bisikin apa sih, sampai sampai Rio pergi?" Tanyanya penasaran.
Arfa menggeleng dan duduk di sampingnya.
"Ma, kapan kita mau bulan madu, gak kasian sama anak-anak minta dedek bayi?" Pertanyaan Arfa hanya di tanggapi dengan mencebikan bibirnya yang tipis.
"Itumah maunya kamu papa?" Juteknya.
"Kalau iya, emang Mama mau?"
"Gak ah."
"Kok, jawabannya nggak. Emang gak mau punya anak dari papa?" Tanya Arfa serius dan menatap instens istrinya.
"Ih. Papa pemaksa," kekehnya dan meninggalkan Arfa sendiri.
Srekk.
Tangan Arsila ditarik Arfa dan jatuh di pangkuannya.
Cup
Cup
"Ini bibir sok jual mahal," tunjuk Arfa, ia tak menyadarinya bahwa telunjuknya di gigit Arsila.
"Aww, sakit Mama!" Teriaknya dengan menarik telunjuknya dan ia tiup tiup agar berkurang sakitnya.
"Syukurin. Lagian itu bibir main sosor aja, ini bibir ada yang punya. Wek." Arsila menjulurkan lidahnya.
Arfa meringis kesakitan karena telunjuknya memerah.
Arsila menatap wajah Arfa yang menahan sakit tiba tiba dirinya jaid tak enak hati karena sudah menggigitnya.
"Sakit ya pa, maaf ya, habis papa yang mulai duluan," Arsila meraih telunjuknya dan meniupnya penuh cinta.
"Sakit Mama Sayang?"
"Mama cariin obatnya."
"Jangan, cukup di kecup mama pasti sembuh." Arfa tersenyum dengan mengedipkan matanya.
Modus.
Pura pura kesakitan agar dikasihani istrinya, permintaannya juga aneh, bisa sembuh bila di ciumnya.
Arsila duduk di sampingnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu Arfa.
Ia mengingat momen dirinya bersama Arfa dulu sebagai teman dan sekarang menjadi suami istri.
"Fa, kamu ingat nggak, saat itu kamu sedih menangis dan minjam bahu aku, tuk sekedar bersandar dan mencurahkan kesedihan, terus kamu nangis Bombay sampe pegel bahu aku, mana ingusan lagi," kekehnya.
"Sekarang kamu yang ingin minjam bahu saya," ujarnya dengan mengelus rambut nya.
__ADS_1
"Pa, dulu papa nangis gegara apa ya, aku lupa."
"Gara gara, sapi saya di jual bapak."
Keduanya tergelak tawa bila mengingat semuanya.
"Waktu itu yang nyosor meluk saya itu kamu deh," Arfa mengingatkannya membuat Arsila tersenyum masam.
"Itukan buat kamu biar tenang, hanya memeluk sebatas teman gak lebih."
"Kalau sekarang apa kamu masih menganggap saya teman juga?"
Arsila anggukan kepala membuat Arfa menatap dirinya dengan wajah kecewa.
"Apa kamu gak ada perasaan sama sekali sama saya."
"Hahaha, punya suami baperan banget. Maksudnya aku itu kamu adalah teman hidupku? Senyum dong, masa wajah tampannya di tekuk, jelek tau," ucapnya dengan mengecup punggung tangannya berkali kali.
"Terimakasih Ar, sudah mau menjadi pendamping hidup saya, jangan pernah meninggalkan saya, cukup lima tahun lalu, menahan rindu itu berat kata-"
"Kata dilan." Potong Arsila.
"Bukan."
"Lalu kata siapa?" Tanya Arsila.
"Kata Arfa Anugerah dong?" Jawab Arfa dengan menahan tawa.
"Nyebelin,"
*
*
*
Riko tak mau ngalah tangannya terus menarik mobil mobilan yang di peluk Rio.
"Mama!" Serunya dikala melihat Arsila datang.
"Mama, Papa, kak Riko nakal! Mobilnya Rio mau di ambil." Adunya dengan terisak.
"Rio, kenapa sih kamu harus mengadu pada Mama? Dasar payah! Aku kan hanya minjam sebentar saja." Kesalnya dengan melepaskan mobil mobilan yang ia pegang.
Arsila mendekati kedua anaknya lalu mengambil mobil mobilan di tangan Rio.
"Mana mobilnya, biar Mama simpan saja di gudang." Pinta Arsila.
"Jangan mah! Ini punya Rio," ujarnya dengan sesegukan air matanya terus merembes ada rasa iba pada bocah empat tahun tapi harus bagaimana lagi hanya ini jalan satu-satunya Arsila hanya memberikan hukuman ringan agar kedepannya bisa akur.
Riko yang melihat adiknya menjadi tak tega akhirnya dia meminta maaf pada Rio.
"Dek, maafkan Kakak ya, kakak janji gak akan nakalin adek lagi," ucap Riko dengan memeluk Rio.
"Rio juga minta maaf sama kakak," keduanya saling peluk ada rasa haru melihat adik kakak saling bermaaf-maafan.
"Nah, gitu dong, kan, mama liatnya senang, besok siang kita ke mall beli mainan yang banyak. Apapun yang kalian mau pasti mama belikan,"
"Benar mah, apa aja yang kita mau," sahut Ray.
__ADS_1
"Iya, kan papa banyak duitnya ia kan pa?" Tanya Arsila.
"Emm, kok, jadi papa yang di todong? Kan yang ajak kalian Mama, ya, minta sama Mama jangan sama papa," jawab Arfa.
"Kan, Mama minta duit nya sama Papa?" Ujarnya.
"Oke. Besok kita beli semua yang kalian mau,"
*
*
*
"Ma, kita nambah Beby lagi, kira kira isi rumah ini jadi kacau nggak ya, liat mereka kalau sudah berebutan mainan papa jadi pusing mikirnya," tanya Arfa.
"Gak pa pa biar seru kali banyak anak banyak rezeki, itu sih kata orang-orang."
"Beneran kamu mau nambah," tanya Arfa antusias.
"Iyalah aku juga mau."
"Jadi sekarang kita download beby nya?"
Arsila mengangguk kesempatan itu tak di sia siakan Arfa dengan gerak lincahnya membuat Arsila pasrah atas apa yang dilakukan suaminya.
Arfa begitu menikmati permainannya dengan Arsila kedua tangannya bergerilya di dua bukit kembarnya. Arfa siap dengan pedang nya yang sudah menjulang keatas tanpa aba-aba ia menghujam nya membuat Arsila menjerit kecil dengan meremas seprai ketika di bagian intinya tertu suk pedang milik Arfa.
Arfa menatap wajah istrinya yang menahan sakit. Kedua netranya berkaca kaca sejenak Arfa menghentikan permainannya menunggu Arsila tenang.
"Sayang, kamu masih perawan?" Tanyanya dengan napas terengah-engah merasakan sesuatu yang menjepit miliknya.
Arsila hanya tersenyum mengangguk dan berkata.
"Pelan pelan Fa, sakit." Lirihnya.
"Maafkan saya, aku kira kamu sudah-"
"Sttt. Ini hadiah untuk kamu. Kamu satu satunya lelaki yang menyentuh ku."
Setelah memberi jeda pada istrinya kini keduanya saling menikmati setiap sensasi yang sangat luar biasa.
"Hah. Aku sudah gak perawan lagi, jadi begini rasanya bila sudah menikah, kenapa sih gak dari dulu aku nikah sama Arfa?" Batinnya.
"Arrrghhh." Teriak keduanya saat mencapai *******.
Arfa mengecup kening Arsila dan berbisik.
"Terimakasih Ar, saya lelaki yang paling beruntung yang mendapatkan ke perawan kamu." Ucapnya dengan mengecup kening dan bibirnya.
Arfa menutupi seluruh tubuh Arsila dengan selimut, "selamat tidur Sayang," Arfa pun masuk kedalam selimutnya.
Arsila bangun lebih dulu ia merasakan sakit yang luar biasa seluruh tubuhnya terasa remuk apalagi di bagian bawahnya ada rasa ngilu yang mengganjalnya.
Di tatapnya lelaki yang sudah menjadi suaminya ia tersenyum manis dan mengecup kening Arfa.
"Ternyata kamu tampan juga Fa," lirihnya.
"Baru nyadar kalo suami kamu tampan," jawab Arfa dengan mata masih terpejam.
__ADS_1