Penyesalan Suami Dan Mertua

Penyesalan Suami Dan Mertua
Bab. 25


__ADS_3

"Kenapa bengong? Gak mau masuk, disini udaranya dingin Mama?" Ucap Arfa membuyarkan lamunanku, aku masih bergeming menatap bangunan yang megah dan mewah di depan rumahnya di sulap menjadi taman kecil nan indah bunga bunga bermekaran menambah keindahan tamannya.


Dua guci antik berdiri kokoh di kedua sudut pintunya, rumah bergaya Eropa bercat biru muda sungguh ini rumah idamanku yang sejak dulu aku inginkan apakah doa ku di kabulkan Allah? Atau seleraku sama dengan Arfa. Entahlah seperti kebetulan saja.


"Mama, ayok, masuk," tanyanya karena melihatku yang masih berdiri melihat bunga bunga bermekaran.


"Arsila?"


"Eh ,iya, ada apa? Ngomong apa tadi?" Jawabnya dengan gugup.


"Mikirin apaan sih, sampai papa ngomong di cuekin." Ujarnya sambil mencebik.


"Papa, kenapa kita kesini? Inikan bukan rumah kita pa," tanya Ray dengan tangan dilipat diatas perut.


"Iya." Timpal kedua adiknya.


"Hah! Ini bukan rumah papa, lalu ini rumah siapa?" Arsila ikut menimpalinya dengan wajah bingung sedangkan Arfa hanya menyunggingkan senyum manis.


"Tara. Ini rumah untuk istriku tercinta, rumah idamannya yang di penuhi bermacam-macam tanaman bunga dan ada beberapa kolam ikan di dekat taman bunganya." Ujarnya dengan menunjuk ke arah taman.


Kedua netranya berkaca kaca haru campur bahagia.


"Boleh aku liat." Pintanya.


"No, ini sudah malam Sayang, besok saja liat liatnya, kasian juga anak anak kelihatannya masih ngantuk."


"Jawaban yang menyebalkan," cetus Arsila dengan manyun.


Akhirnya kami semua masuk kedalam dan disana sudah ada beberapa asisten rumah tangga nya yang berjejer menyambut kedatangan kami akan akan aku ini putri raja, semuanya mengangguk hormat.


"Selamat malam Tuan, Nyonya," ucapnya dengan menunduk.


Apa. Aku di panggil nyonya, sespesialanya aku di rumah ini? Arfa benar benar memperlakukan aku sebagai ratu di istana ini, terimakasih Fa, tak terasa kedua bola kristal ku merembes haru, punya suami sosweat kayak di film film dan cerita novel yang wanita di cintainya dengan memanjakan.


"M-malam," jawabku dengan malu, sungguh aneh bagiku seumur umur aku diperlakukan seperti ini.


"Bi, bawakan koper kami ke atas," perintah Arfa yang langsung di angukan oleh bibi.


Ketiga anaknya sudah ada yang mengurusnya yaitu baby sitter, dan sudah masuk ke kamar masing-masing.


"Tuan, Nyonya, apa mau makan? Biar bibi diapakan," tanya bibi membuat kami menghentikan langkah kaki.


Arfa menoleh ke belakang seraya berkata.


"Gak Bi, kita mau istirahat saja." Jawab Arfa.


"Iya, tuan."


Ceklek.


Pintu kamar dibuka lebar oleh Arfa dan mempersilahkan aku masuk senyumannya tak pernah pudar selalu menghiasi bibirnya.

__ADS_1


"Silahkan masuk tuan Puteri Arsila darwanti bidadarinya Arfa Anugerah?" Ujarnya dengan senyum manis memperlihatkan deretan gigi nya yang putih.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


Berjalan menuju sofa uang berada di kamar.


Lagi lagi aku di buat shock berat saat melihat isi kamar yang lengkap, sempurna sudah hidupku.


"Tuan, ini kopernya mau di simpan di mana?" Tanya asisten yang masih muda.


"Letakan di situ," tunjuk Arfa di pojokan kamar.


"Mbak Efa, tolong buatkan saya teh hangat dua," pinta Arfa sebelum yang namanya Mbak Efa keluar.


Mbak Efa mengangguk dan keluar kamar.


"Fa, kamarnya gede banget, mirip lapangan bola saja. Gak sekalian masak disini aja,biar gak keluar lagi." Kagum Arsila dengan menatap sekeliling kamar.


"Fa, kamu tau darimana kalau rumah ini, rumah idamanku?"


Karena kesal tak mendapatkan jawaban dari Arfa membuat dirinya membalikan badannya ke belakang dan terkejutnya ia melihat Arfa menatapnya tajam dengan tangan dilipat diatas perut.


"Kamu kenapa Fa, gak usah liatin aku segitunya kale? Memang pesona istrimu itu tiada duanya," cicitnya dengan mengedipkan matanya.


"Kamu kenapa sih," kesalnya lagi sudah sekian kalinya pertanyaannya tak dijawab juga.


"Arfa!" Pekiknya dengan mengguncangkan lengannya.


'si Arfa kenapa sih, jadi begini? Kayaknya tadi baik baik aja, apa jangan-jangan kesambet lagi,' batin Arsila.


"Ih. Jadi suami baperan! Jelek tau,"


"Saya ini suami kamu." Jawabnya penuh penekanan dengan kata suami.


"Baiklah suamiku yang tercinta, jadi pertanyaan aku yang tadi dijawab dong?"


"Yang mana istriku?" Arfa menatap wajah Arsila yang masih tersenyum manis.


"Ih. Geli dengarnya Papa?" Keduanya terkekeh mendengar kata-kata yang menggelikan telinga.


Tawa keduanya terdiam saat pintu kamar diketuk dari luar.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Titahnya.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka nampak Mbak Efa membawakan nampan berisi dua cangkir teh hangat yang di pesannya tadi.


"Tuan, Nyonya, ini tehnya dan juga bakwan udang nya," Mbak Efa meletakan nya di atas meja dan keluar.


Arsila semakin heran saja, tau darimana kalau setiap malam Arsila harus meminum teh hangat dan camilannya yaitu bakwan udang kesukaannya.


"Pasti bingung ya, kalau papa tau semua termasuk baju tidur Mama," ujarnya dengan mengangkat kedua alisnya.


"Iya. Apa papa tanya tanya sama ibu atau bapak." Tebak Arsila.


"Gak lah, jatuh harga diri seorang Arfa, kalau masalah begituan harus tanya mertua?"


"Bisa jadi lah, kalau soal makanan, tapi? Kalau soal baju tidur gak mungkin juga sih." Ucapnya dengan menarik nafas panjang.


"Sini, duduk di minum teh nya mumpung masih hangat. Setelah itu kamu pake ini ya?" Pintanya dengan memberikan paper bag padaku entah apa isinya.


Arsila menatap bingung apa isi didalamnya, dirinya tak mau ambil pusing, ia duduk di samping Arfa dan meraih cangkir teh hangat lalu menyesapnya sampai setengahnya dan meletakkannya di meja tanganya mencomot gorengan yang sedaritadi menggugah selera dan ham, ia mengigit bakwanya dengan meresapi setiap gigitannya.


Arfa menatap istrinya yang memakan gorengan bakwan begitu antusiasnya hingga menyisakan satu bakwan dipiring.


"Alhamdulillah, kalau perut terisi mah, tidurnya juga nyenyak," ucapnya dengan menguap.


"Eh, jangan tidur dulu, tuh, bakwannya masih nyisa habisin sekalian."


"Buat papa aja. Mama udah gak kuat nampung bakwannya di perut." Ujarnya dengan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Ma! Jangan lupa pake baju yang udah papa kasih tadi," teriak Arfa memekakkan telinga.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka sedikit Arsila pun menyembulkan kepalanya.


"Besok aja ya pa, mama terlanjur pake daster males ganti," setelah berucap ia pun masuk kembali tuk mencuci muka dan gosok gigi.


Arfa mendengus sebal masak malam ini harus gagal lagi?


'ini semua gara gara bakwan udang jadi Arsila ngantuk, huh!' kesal Arfa menatap pintu kamar mandi.


Cetek


Lampu saklar dimatikan oleh Arsila.


"Kok, di matikan ma, gelap. Papa gak biasa tidur gelap," ujarnya sambil menekan tombol saklar ya lagi dan klik lampu pun hidup lagi.


Arsila mendengus sebal.


"Papa ganteng? Kalau lampunya menyala terang benderang gini gimana caranya mama bisa tidur?" Gerutuknya kesal.


"Ya, udah deh Mama ngalah mau tidur sama anak anak saja." Arsila pergi ke luar dan menuju kamar anaknya.


"Mama!"

__ADS_1


__ADS_2