Penyesalan Suami Dan Mertua

Penyesalan Suami Dan Mertua
Bab.24


__ADS_3

"M-mas Arifin?" Lirihnya.


"Hai." Jawabnya singkat, namun kedua netranya menatap wajah anak kecil yang menggemaskan itu.


"Maaf ya Om," lagi lagi Rio minta maaf.


"Iya, gak apa-apa lain kali kalau jalan liat liat." Ucapnya dengan seulas senyum.


Arsila mengelus rambut bocah tersebut, pandangannya tak lepas dari Arifin.


'kenapa kamu jadi seperti ini Mas,' batinnya yang melihat kondisinya yang agak kurusan dengan dipenuhi kumis dan jenggot, sejak kapan Arifin memelihara kumis dan jenggot?


"Mas." Tanyanya ragu.


"Em."


Arsila tersenyum kikuk haruskah bertanya kenapa dia jadi kurusan.


"Mau nanya apa? Ngobrol nya di situ aja biar gak pegel kakinya." Arifin menunjuk bangku panjang yang berada di bawah pohon rindang.


"Mau nanya apa?" Tanya Arifin setelah duduk.


"Mas, sekarang kurusan kenapa, sakit," Arsila balik bertanya dengan nada khawatir karena saat dirinya bertemu terakhir kalinya Arifin baik baik saja.


"Mas,kok, diam, beneran sakit," ini yang ketiga kalinya Arsila bertanya.


"Em, eh, anu, hanya sedikit lelah saja, karena akhir akhir ini banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan. Emang keliatan kurusannya ya," Arifin menarik ujung bibirnya.


"Hem," Arsila menatap wajah pria yang pernah ada di hati nya.


'Rasa hatiku masih ada untuk mu Mas, andaikan bapak merestuinya, ya Allah kenapa aku mikirnya seperti itu? Sama saja aku tak mensyukurinya, bukankah hati ini sepenuhnya milik Arfa? Ingat Arsila, Mas Arifin adalah masa lalu kamu, ingat itu.' Arsila mengingatkan dirinya sendiri.


"Anak itu siapa? Akrab sekali sama kamu," ujarnya.


"Anakku," jawabnya dengan senyum.


"Anak?"

__ADS_1


"Iya anak aku mas," Arsila menyakinkan apa yang dikatakan nya itu benar.


"Tiga tahun gak bertemu sama kamu, sekali bertemu kamu sudah nikah dan punya anak, kamu sudah mematahkan hati seorang Arifin Mumtaz," kekehnya tersirat jelas dihatinya ada rasa nyeri yang dirasakannya saat ini ketika melihat wanita idamannya sudah memiliki keluarga kecil.


"Maaf," lirih Arsila dengan berkaca kaca.


"Siapa sih, yang sudah meluluhkan hati bapak," seulas senyuman yang penuh kekecewaan yang aku dengar.


"Boleh aku kenalan sama suami kamu Ar," ucapnya dengan hembusan napas panjang.


"Boleh, mau sekarang?"


"Lain kali saja, kalau sekarang hatiku belum siap."


Arsila jadi tak enak hati, rasa canggung bingung pun menjadi satu, ingin sekali Arsila pergi menjauh dari Arifin.


'Kenapa harus bertemu dengan mas Arifin? Jadi begini kan.' ucapnya dalam hati.


"Mama, kita pulang yuk, aku sudah bosan disini mau pulang," Rio berlari menuju kearah nya dan menarik narik tangan agar bangun dari duduk.


"Sabar Sayang, Mama pamitan sama Om Arifin dulu," ujarnya sambil menunjuk Arifin.


"Om, Rio pulang dulu." Celotehnya yang di anggukan oleh Arifin.


"Mas kita pulang dulu," pamit Arsila dengan.


"Hati hati di jalan."


"Oke."


*


*


Arfa yang sedang beres beres memasukan pakaiannya dan istrinya.


"Mau kenapa Pa, kok, semua baju aku pada masuk koper semua?" Tanya Arsila menatap semua koper yang sudah penuh pakaiannya.

__ADS_1


"Mama ini gimana sih, kan kita mau pulang ke rumah papa," jawab Arfa.


"HAH! Secepat itu," shocknya mendengar jawaban dari Arfa.


"Sebulan lagi gitu pulangnya, lagian aku masih kangen sama ibu bapak."


"Gak ada penolakan, hari ini juga kita pulang."


Huh, Arsila mencebikan bibirnya dengan kesal.


Tap


Tap


Tap


Arsila berjalan dengan menggeret kakinya, rasanya enggan untuk melangkahkan kaki membuat kedua orang tuanya tersenyum.


"Nduk, wajahnya jangan di tekuk gitu, jelek," ucap Bu Nirmala.


"Aku masih betah di sini bersama kalian, si Arfa gak pengertian banget." Ketusnya dengan menatap Arfa.


"Kewajiban istri yang ikut suami,"bapak menimpalinya.


"Tapi kan gak--"


"Harus ikut sama suamimu, kalau kangen bisa datang ke sini atau bapak sama ibu yang kesana." Sahut Bu Nirmala.


Percuma saja debat toh, bapak sama ibu gak peduli.


"Siap komandan." Ucap Arsila dengan hormat pada orang tuanya.


Semua yang ada di situ terkekeh mendengar ocehan Arsila.


Dalam perjalanan hening tak satupun yang berceloteh, ketiga anaknya tidur mungkin lelah bermain saat akan pulang. Dalam kebisuan akhirnya sampe juga dirumah Arfa yang mewah.


"Ray, Riko, Rio bangun nak, kita sudah sampai," Arsila membangunkan mereka.

__ADS_1


Ray bangun dan mengucek matanya yang enggan membukanya.


__ADS_2