
"Mama." Arfa terus memangilnya namun Arsila tak mengindahkannya dirinya terus berjalan menuju kamar di mana ketiga anaknya tidur.
"Mampus gue, gara gara takut gelap, malam ini auto kedinginan," gerutuknya kesal dengan dirinya sendiri.
Krek.
Arsila membuka pintu kamarnya dan masuk.
'Si Arfa penakut banget, ini ketiga anaknya tidur dalam gelap hanya lampu temaram yang nyala. Udah gede penakut lagi, eh, maksudnya udah tua," ralatnya dengan senyum.
'mereka tidurnya anteng banget, kalau aku ikutan tidur sama mereka ntar kebangun lagi, tidur di mana ya?' nampak berpikir mau tidur dimana.
Arsila memutuskan untuk tidur di sofa kamar anaknya daripada balik kekamar bisa bisa debat parpol sama Arfa.
Adzan subuh berkumandang, dengan malas ku rentangkan kedua tanganku sungguh serasa tersiksa tidur disofa biasanya tidur di ranjang empuk leluasa lah, ini sempit banget.
Dengan gontai Arsila masuk ke kamar mandi untuk menguyur tubuhnya rutinitas sehari-hari bila adzan subuh berkumandang maka ia akan segera mandi dan melaksanakan shalat subuh.
"Mukenanya kan, ada di kamar Arfa, aku ambil dulu deh," ucapnya dengan keluar dari kamar anaknya.
Arsila menekan knop pintu kamar namun tertahan dari dalam kemungkinan di kunci dari dalam.
Lah. Di kunci segala gimana aku masuk? Menyebalkan.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu yang lumayan keras namun penghuni kamar anteng anteng aja tak ada niatan untuk keluar, aneh.
"Fa," serunya dengan terus mengetuk pintu.
"Arfa."
"Papa." Nihil tak ada jawaban.
"Tidur apa tidur, sih. Apa aku pinjam sama bibi atau Mbak Efa," Arsila meninggalkan Arfa yang masih tidur.
Tap
Tap
Tap
Arsila menuruni anak tangga menuju lantai bawah dan mencari kamar para asistennya .
Ini rumah Segede gini jadi bingung deh, dimana kamar bibi dan Mbak Efa? Arsila mondar-mandir di ruang tamu.
Dari arah belakang bibi melihatnya dan menghampirinya.
"Nyonya sedang apa?" Pertanyaan bibi membuat Arsila kaget.
"Astaghfirullah, bibi? Ngagetin saya aja." Jawabnya dengan senyum sambil mengelus dadanya karena terkejut.
"Bibi gak sengaja melihat Nyonya mondar-mandir takutnya ada sesuatu yang di butuhkan."
__ADS_1
"Iya Bi, saya mau pinjam mukenanya boleh? Soalnya saya mau ambil mukena di kamar tapi mas Arfa menguncinya dari dalam." Ujarnya membuat bibi mengerutkan keningnya.
'loh, pengantin baru tidurnya pisah? Ada apa dengan tuan dan nyonya?' batin bibi.
Arsila yang seakan akan tau pikiran bibi iapun menjawabnya.
"Semalam saya menemani anak anak bi,"
Bibi tersenyum tak enak hati karena sudah bersuuzon padanya.
"Bi, malah bengong, saya mau pinjam mukenanya ini sudah setengah lima lebih," ujarnya yang di anggukan oleh bibi.
Tak lama kemudian bibi datang dengan membawa mukena dan di letakkan di telapak tangannya.
"Maaf, ya, Nya, kalau mukenanya jelek dan agak bau," jelas bibi.
"Wangi kok bi, udah ah saya mau sholat dulu," ucapnya sambil berjalan menuju kamar anaknya.
Selesai sholat Arsila melipat mukenanya dan memberikannya pada bibi.
"Bi, ini mukenanya terimakasih ya bi," ucapnya dengan seulas senyuman.
Bibi yang sedang memasak di dapur anggukan kepala.
"Bibi masak apa, biar aku bantu," tanpa persetujuan dari bibi Arsila langsung merebut sapa tula yang di pegang bibi.
"Oh. Masak nasi goreng?"
Bibi hanya tersenyum melihat nyonya ya yang begitu cekatan dan lincah, soal memasak Arsila jagonya.
"Jangan Nyonya, nanti tuan Arfa marah, ini sudah tugasnya bibi dan Efa."
"Efa kalau subuh pergi ke pasar pagi, beli sayuran yang masih pres." Jawab bibi.
"Hah? Sepagi ini? Emang Mbak Efa gak sholat?" Tanyanya dengan senyum manis.
"Habis sholat Nya," timpal bibi.
"Bagus dong, kita sebagai umat Islam harus melaksanakan perintah-Nya, Emm, kalau Mas Arfa rajin gak sholatnya bi?" Tanya Arsila penasaran karena ini sudah hampir pagi kok belum kelihatan doa bangun.
Bibi tak menjawab pertanyaan Arsila, bibi hanya tersenyum simpul.
"Bi." Arsila menepuk pundak nya.
"Emm, anu Nya?" Jawabnya ragu.
"Ngomong aja bi, gak apa apa jujur saja sama saya, bila Mas Arfa jarang menjalankannya maka tugas saya untuk mengingatkannya untuk melakukan shalat."
"Tuan Arfa sering bolong bolong Nya, padahal bibi sering mengingatnya."
"Ya, udah kalau begitu saya mau bangunkan Mas Arfa dulu, tolong bi ini di tata di atas meja," ucapnya dengan wajah sumringah.
"Papa! Bangun! Buka pintunya," seru Arsila dengan menekan knop pintu.
Krek.
Pintu kamar terbuka nampak Arfa tersenyum hangat menyambut kedatangan istrinya.
__ADS_1
"Pa, udah shalatnya?" Tanyanya.
Arfa mengangguk dan menunjukan sarung dan baju Koko yang ia pakai.
"Udah, masa Mama gak lihat kalau papa udah mirip ustadz kondang," sombongnya.
"Harus dong. Dan itu kewajiban bagi setiap muslim. Kata bibi papa sering bolong ya?"
Arfa hanya tersenyum kecut. "Bibi ngadu ya? Awas ya bi," cicitnya.
"Awas kalau papa berani marahin bibi," sahut Arsila dengan mata melotot.
Cup.
Arfa mencium bibir Arsila yang menurutnya terlalu cerewet.
"Papa!"
"Hahaha! Mau lagi!"
"Enggak!"
"Bi," panggil Arfa membuat bibi membalikan badannya yang sedang mencuci piring di westafel.
"Iya, tuan." Jawabnya dengan berlari mendekati majikannya.
"Siapa yang masak nasi goreng nya," tanya Arfa
"Nyonya tuan, bibi sudah melarangnya agar tidak masak." Jawab bibi dengan bergetar.
Bibi takut di marahi oleh Arfa karena Arfa sudah berwanti wanti pada asisten rumah tangga nya agar Arsila tidak melakukan apapun hanya pengecualian dari nya.
Arfa tersenyum mendengar jawaban dari bibi.
'ini pertama kalinya aku merasakan masakan yang begitu memanjakan lidah, mama pintar masak,' Arfa memuji masakan Arsila yang benar-benar enak.
"Bi. Mulai pagi ini dan seterusnya biar nyonya yang masak sarapan buat kita."
"I-iya Tuan." Bibi sudah khawatir jikalau dirinya kena marah oleh Arfa nyatanya tidak justru Arfa senang bila setiap pagi istri tercinta yang menyiapkan semuanya.
"Ray, mana Mama," tanya Arfa dan duduk di samping Ray yang sedang belajar menulis karena bulan depan kedua anaknya akan memasuki sekolah TK.
"Mama lagi main sama Rio di taman." Jawab Ray nampa melihat ke arah papanya.
"Riko ikut?" Tanyanya lagi.
Ray menggelengkan kepala. "Gak tau,"
"Ya, sudah kamu belajar dengan rajin. Papa mau nyusul Mama," Arfa mengelus kepala Ray lalu pergi menuju taman.
"Mama, kapan Rio punya dedek bayi?"
Uhuk, uhuk, Arsila kaget bukan main atas pertanyaan Rio.
Sedangkan Arfa yang mendengarnya hanya tersenyum dan gelengkan kepala.
"Mama, kok diam? Kapan aku punya dedek nya?" Rio mengulang pertanyaan yang membuat Arsila kewalahan untuk mencari jawaban yang tepat.
__ADS_1
"Sebentar lagi nak, sabar ya?" Celetuk Arfa dari arah belakang, sontak keduanya menolehkan kepalanya.
"Apaan sih papa ini, ngaco." Ucap Arsila dengan tersipu malu.