Penyesalan Suami Dan Mertua

Penyesalan Suami Dan Mertua
Bab.30


__ADS_3

Arsila menatap dirinya sendiri di cermin.


"Eh, kenapa aku jadi sedikit gemuk ya, Emm,' Arsila mengetuk ngetuk kepalanya ada apa dengan dirinya.


"Ngapain juga di pikirin, mau gendut kek, mau langsing gak masalah kan, udah punya suami, hehehe." Arsila terkekeh-kekeh dengan perkataannya itu.


"Mama!" Teriak ketiga anaknya.


Ketiganya menubrukkan diri mereka tuk memeluknya hampir saja Arsila terjungkal ke belakang, untung saja satu tangannya menahannya dilantai.


"Hati hati sayang, hampir mama terjungkal ke belakang." Nasehatnya dengan lembut.


"Maaf. Ma." Ucap mereka serempak.


"Ada apa kalian mencari Mama?" Tanya Arsila dengan mengelus pipinya dengan bergantian.


"Kangen aja. Memangnya kita gak boleh kangen sama Mama," tanya Ray dengan mencebikan bibir bawahnya.


"Boleh dong, ganteng," Arsila mencolek hidung Ray.


Ray pun tersenyum manis. "Ma, kita mau bobok sini ya? Boleh ya?" Mohon Ray Riko dan Rio.


"Emm, boleh gak ya?" Pura pura mikir.


"Ma, boleh ya," mohon Rio putra bungsunya. "Nanti kalau sudah punya dedek, kita gak bisa tidur bareng lagi."


"Emang harus malam ini juga, boboknya." Tanya Arsila yang di anggukan kepala oleh mereka.


"Ya, udah, sini. Mama peluk."


Arfa yang pulang dari kantor tak melihat senyum manis dari Arsila biasanya istrinya akan menyambutnya dengan senyum namun hari ini tak ada sambutan hangat dari Arsila.


Arfa bergegas masuk dalam kamar dan begitu melihat orang-orang yang ia cintai sedang tertidur pulas.


Huff, terdengar helaan nafas panjang darinya.


"Kenapa anak-anak tidur di sini? Katanya minta adek, tapi malah ganggu aja. Gimana mau download beby," Arfa mengacak rambutnya.


"Masa, harus di pending?" Gerutuknya dengan lesu. Niat pulang dari kantor mau jap jip jup malah sudah bodyguard yang menjaganya. Nasib nasib beginilah resiko Punya anak mau berduaan saja susah harus curi curi waktu.


"Kenapa gak aku pindahin mereka saja, atau Arsila yang pindah tempat, hahaha. Ide cemerlang." Kekehnya.


Lalu dengan senyum nakal, Arfa menggendongnya dengan pelan, kenapa Arfa bisa mengendong Arsila tanpa ketiga anaknya bangun? Karena Arsila tidur di pinggir ranjang, jadi begitu mudahnya Arfa menggendongnya.


Kalau di bangunkan yang ada hanya penolakan dari Arsila.


Setelah sampai di kamar tamu Arfa membukanya dengan pelan dan hati-hati takutnya Arsila bangun, dengan susah payah membuka pintu akhirnya pintu pun terbuka, lalu Arfa menidurkan Arsila dengan pelan senyum manis nya terlukis di wajahnya,


"Sayang, saya kangen sama kamu. Kita akan membuat adek bayi buat tiga R. Kamu cukup diam saja biar saya yang kerja, kamu cukup menikmatinya," Arfa mencolek hidung Arsila mesra.


Arfa melonggarkan dasinya dan melepaskan nya lalu ia menggulung lengan panjang sampai siku dan mendekati Arsila.


Dengan pelan ia menciumnya tanpa melepaskan ciuman Arfa membuka kancing bajunya.


Arsila membuka matanya karena merasa ada yang tak wajar, ia merasakan benda kenyal yang menyentuh bibirnya dan saat bangun ia mendapatkan suaminya yang menciumnya.


"Papa!" Ucapnya dengan melotot, takutnya tiga R melihat adegan yang tidak baik untuk dilihatnya.


"Stttt,jangan berisik." Arfa menempelkan jarinya di bibir Arsila.


Arsila menatap sekeliling kamar.


"Mana anak-anak? Kamu bawa aku ke kamar tamu?" Kesalnya lagi enak enak tidur malah di gangguin.


"Anak-anak ada di kamar kita, kenapa sih, mikirin anak anak, yang harus kamu pikir itu ini," Arfa menunjukkan pedang samurai yang sudah menjulang keatas. "Dia butuh sarangnya sayang, kalau tidak masuk sarang akan bahaya. Dia akan selalu mencari mangsanya."


"Awas saja kalau berani mau cari sarang yang lain. Aku bakalan patahin tuh pedang kamu biar gak tajam lagi." Ancamnya.


"Makanya cepetan buka sarangnya, pedangku sudah gak bisa di ajak kompromi," Arfa menatap wajah Arsila penuh semangat.


Kini tubuh mungilnya sudah berada dalam kungkungan suaminya, Arsila yang di perlakukan seperti itu membuat dirinya pasrah atas apa yang akan dilakukan suaminya.


*


*


*


"Mama! Kenapa gak ada dikamar sih. Pasti mama pindah ya, karena gak mau bobok sama kita."


"Betul." Riko dan Rio membenarkan jawaban dari Ray.


"Mama gak pindah kok, kan, kalian tau kalau setiap pagi Mama harus bangun lebih awal untuk menyiapkan keperluan kalian semua dan sarapan," jawab Arsila dengan senyum meneduhkan aura keibuannya keluar membuat mereka merasa nyaman.


Ketiganya manggut-manggut dengan senyum.


"Maafkan kita semua ya ma? Sudah menuduh Mama yang bukan bukan." Jawab Ray dengan memeluk lengannya.


"Gak papa kok." Arsila mengelus rambut Ray.


"Pagi semuanya, wah, anak anaknya papa sudah pada ganteng nih." Puji Arfa menatap satu persatu putranya.


"Harus ganteng dong, kalau gak ganteng ntar cewek cewek gak ada yang mau sama kita. Betul nggak Dek." Tanya nya pada adiknya.


"Betul, Ray," timpal keduanya.


"Hahaha, anak siapa sih, pintar jawab." Ucap Arsila yang gemas melihat kelucuan anaknya itu.


"Anak papa?" Sombong Arfa dengan menepuk nepuk dadanya. Arsila mencebikan bibirnya mendengar perkataan suaminya yang selalu menyombongkan diri.

__ADS_1


Arfa menarik kursi dan duduk di dekat Arsila.


"Papa mau ngapain dekat dengan Mama? Sono menjauh. Badan papa itu bau. Mandi ngak sih!" Omelnya dengan menutup hidungnya.


Arfa tercenung dan mengendus-endus badannya sendiri.


"Enggak bau ah, wangi, papa kan, barusan mandi." Jawab Arfa menatap heran kearah istrinya.


"Hahaha, emang enak di gituin sama Mama," ketiga anaknya meledekinya.


Tak patah semangat Arfa mendekatinya kembali namun lagi lagi ia mendapatkan menolakkan darinya.


"Hidung Mama bermasalah kali, yuk, kita ke rumah sakit," ajak Arfa.


"Mau ngapain?" Jawab nya.


"Periksakan hidung Mama lah, ke THT." Arsila mendelikan matanya.


"Yang masalah itu kamu pa, bukan hidungnya Mama?" Kesalnya lagi perutnya seperti di aduk aduk bila dekat Arfa entah kenapa akhir akhir ini Arsila malas dekat dekat suaminya, membuat Arfa bingung dibuatnya.


Arfa garuk-garuk kepala pusing memikirkan istrinya yang tiba tiba aneh menurutnya.


Huwek, huwek, Arsila berlari menuju westafel tuk memuntahkan isi perutnya.


"Tuh kan, benar kalau papa bau? Makanya Mama muntah." Ujar Rio yang kasihan melihat mamanya kesakitan.


Arfa merasa khawatir dengan kondisi Arsila wajah nya pucat pasi seakan akan tau ada darah yang mengalir di tubuhnya, dengan malas Arsila berjalan menuju sofa. Saat Arfa akan mengikuti nya Arsila menghentikan langkahnya.


"Jangan ikutin Mama, stop! Bau badan papa sudah mengaduk aduk perut Mama." Larangnya dengan terus berjalan.


"Oke Mah, tapi kita harus kedokter biar tau mama sakit apa." Teriak Arfa.


Ketiga anaknya berlari menuju sofa di mana Arsila berbaring di sofa.


"Mama, benar apa kata papa, mama harus ke dokter, takut kenapa Napa." Sahut Riko.


Arsila tak mau kerumah sakit hanya gara gara muntah harus ke dokter bentar lagi juga sembuh, namun sudah lima menit tetap rasa mual menyerangnya lagi, mau tak mau ia harus kerumah sakit.


Setelah sampai di depan rumah sakit, Arsila tak sengaja melihat Bu Darmi dan Rangga. Yang masuk ke dalam.


"Siapa yang sakit, apa ibunya mas Rangga?" Ucapnya dalam hati.


"Liat apa sih, ma," tanya arfa yang heran melihat istrinya menatap ke arah lobi rumah sakit.


Arsila tersenyum. "Itu pa, mantan suami aku dan ibunya ada di sini, kira kira siapa yang sakit?"


"Mana papa tau," ucapnya dingin.


Dalam situasi begini masih saja cemburu.


"Ayok turun, kita langsung saja keruangan dokter langganan keluarga kita." Arfa mengandeng tangan Arsila namun Arsila menepis nya.


Mau gak mau Arfa harus mengalah sebelum tau apa yang terjadi pada wanita yang ia cintai.


"Pagi, sus, dokter Inggit nya ada?" Tanya Arfa.


"Ada pak, ini dengan bapak Arfa Anugerah," ujarnya yang di anggukan oleh Arfa.


"Bapak sudah di tunggu dokter Inggit di dalam,"


"Terimakasih sus," ucap Arfa.


"Mama ayok masuk, liatin apa sih."


"Eh, enggak pa, ayok kita masuk." Ajak Arsila dengan senyum di buat buat.


Tok tok tok.


"Masuk."


Krekk


Pintu terbuka nampak Arfa tersenyum pada dokter Inggit.


"Pagi Dok," sapa nya.


" Pagi pak Arfa silahkan masuk."


Arfa dan Arsila pun masuk dan duduk di depan dokter Inggit.


"Ada yang bisa saya bantu," tanyanya.


"Ada Dok, tadi pagi istri saya gak mau dekat dengan saya, katanya saya bau, padahal saya sudah mandi." Adu nya Arfa seperti anak kecil saja, suka mengadu.


Dokter Inggit hanya tersenyum.


"Dengan ibu siapa," tanyanya pada Arsila.


"Arsila," ucap nya dengan menggulurkan tangan.


Dokter Inggit menyambut uluran tangannya.


"Mari kita periksa dulu." Dokter Inggit berjalan menuju ruang khusus untuk periksa.


Setelah di tindak lanjuti dokter Inggit hanya tersenyum lalu mengangguk sambil berjalan menuju dimana Arfa berada.


"Dok, sakit apa cepat katakan jangan bikin saya penasaran dengan penyakit Arsila," ucapnya dengan nada yang khawatir.


Dokter Inggit lagi lagi tersenyum. Arfa dan Arsila saling tatap heran.

__ADS_1


"Saya sakit apa Dok."


"Ibu Arsila gak sakit, tapi harus banyak banyak isttirahat gak boleh kecapean, kasian nanti dedek bayi nya."


"Apa! Saya hamil Dok." Jawabnya dengan mata melotot tak percaya bahwa dirinya akan hamil secepat ini.


Dokter Inggit anggukan kepala dan mengucapkan selamat.


"Selamat ya buat kalian berdua, Bu Arsila harus jaga kandungan nya," dokter Inggit mengingatkan aku agar menjaga kandungan ku.


"Berapa usia kandungannya Dok," tanya Arfa dengan senyum yang terlukis di wajahnya.


"Usia kandungan Bu Arsila baru tiga Minggu."


"Kalau begitu kita pamit pulang Dok," Arfa berpamitan pada dokter Inggit.


"Setelah keluar dari ruangan dokter Inggit arfa tak henti-hentinya mengelus perut datar Arsila.


"Pa, malu ah, diliat orang banyak." Tegur Arsila tak enak hati karena semua orang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Tiga R akan punya adek, ma, kamu senang gak."


"Senang banget lah, malah di tanya." Senyum manis Arsila selalu menghiasinya.


"Nak Arsila!" Sapa seseorang, keduanya menoleh ke belakang.


"Pa, itu bukannya mamanya Mas Rangga ya, kok, ada disini, apa beliau sakit," tanya Arsila pada suaminya.


Arfa hanya mengedikkan bahunya.


"Ibu, kok, ada disini? Siapa yang sakit," tanya Arsila lembut.


"Kita bisa bicara empat mata?" Todong nya dengan menarik lenganku.


"Bentar Bu, saya pamit dulu sama suami saya," Arsila menatap kearah Arfa.


Arfa tersenyum dan mengangguk.


Bu Darmi mengajak Arsila ketaman samping rumah sakit.


"Kita duduk di sini aja ya Nak?"


Arsila termenung sejenak.


"Apa gak salah Bu Darmi memanggilku dengan sebutan nak.' hatinya penuh ribuan pertanyaan.


Bu Darmi menggenggam tanganku dan menangis sesenggukan membuat aku jadi bingung di buatnya.


"Bu, ibu kenapa menangis?" Tanyaku hati hati.


"Ibu minta maaf sama kamu Nak, sudah banyak dosa yang telah kami perbuat dengan menyakiti perasaan kamu, ibu dan Rangga sangat menyesal sudah menyia nyiakan wanita sebaik dan secantik kamu Nak," Bu Darmi menangis tanpa sebab menambah kebingungan.


"Maksud ibu apa, saya gak ngerti atas apa yang ibu ucapkan."


Bu Darmi menyusut air mata nya yang sedaritadi tak mau berhenti.


"Ibu sakit parah nak, sebelum ibu meninggal ibu ingin meminta maaf sekali lagi nak,"


"Sakit?"


Bu Darmi anggukan kepala.


"Ibu sakit maag kronis. Mungkin ini karma buat ibu."


Arsila memeluk tubuh yang tak subur lagi badannya habis terkikis penyakitnya. Ada rasa iba melihat kondisi mantan mertuanya yang semakin mengkhawatirkan karena penyakit maag nya.


" Ibu sudah berobat apa kata dokter?"


"Masih gitu gitu aja nak, kemungkinan tuk sembuh tak ada harapan." Arsila kaget dengan ucapannya.


"Maksud ibu apa?"


"Karena lambung ibu penuh dengan luka, jadi harapan sembuh tipis," Bu Darmi menghela nafasnya.


"Sabar ya Bu, ibu pasti kuat," Arsila menyemangatinya agar tetap sehat seperti semula.


"Sekali lagi ibu minta maaf," ucap nya dengan menggenggam erat tangan ku dan memelukku dengan Isak tangisnya, akupun larut dalam kesedihan yang beliau rasakan.


*


*


*


"Mama!" Teriak trio R menyambut kedatangan papa mamanya.


Arsila merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat dari ketiga anaknya.


"Ma, kata papa kita mau punya dedek bayi ya?" Ucapnya dengan binar.


"Iya, sayang," Arsila menatap wajah ketiga anaknya itu.


"Yes, aku punya dedek," Rio mencium perut datarnya Arsila membuat yang lain tertawa lepas.


Momen kebahagiaan mereka terdengar oleh pak Warno dan Bu Nirmala mereka mendengar kabar Arsila hamil mereka cepat cepat datang ke Jakarta .


"Beneran kamu hamil Nduk," tanya ibu dan bapak serempak.


"Iya, Bu, Pak. Kalian berdua akan jadi kakek dan nenek."

__ADS_1


"Alhamdulillah?" Pak Warno dan Bu Nirmala mengucapkan puji syukur atas kehamilan Arsila.


__ADS_2