
"Ga?" Panggil Bu Darmi dengan suara pelan.
"Apa Bu? Jangan banyak bicara dulu, ibu kan masih sakit." Rangga mendekati kearah ibunya yang terbaring lemah.
Hiks.
Bukannya menjawab Bu Darmi hanya meneteskan air matanya tanpa henti, beliau merasa bersalah atas sikapnya terhadap Arsila sebelum dirinya meninggal tak akan tenang selama belum mengantongi maaf dari Arsila.
Bu Darmi menyeka air matanya dan menyentak napas panjang.
"Ibu mau ketemu Arsila, Ga. Ibu sangat berdosa padanya." Ucapnya dengan suara bergetar.
"Iya, Bu. Rangga sudah mencarinya kemana mana namun tak menemukannya," jawabnya lesu.
Semenjak bercerai dengan gendis hidup mereka sangat menyedihkan, Bu Darmi selalu sakit sakitan, dan dirinya pun susah mencari pekerjaan. Sudah tiga bulan nunggak bayar kontrakan membuat pemiliknya marah besar.
Sedangkan rumah yang di kampung sudah terjual untuk biaya Bu Darmi berobat dan bayar utangnya yang banyak.
"Coba kamu tanya sama Pak Warno, siapa tau beliau tau dimana Arsila tinggal Nak," Bu Darmi berharap bisa bertemu dengan atsila mantan menantunya itu.
"Bu, Rangga sudah betapa kali meminta alamat Arsila pada pak Warno, namun nihil, beliau tak mau memberikan alamatnya. Kalau mau Rangga disuruh mencarinya sendiri."
"Wajar saja kalau Pak Warno gak mau memberikan alamatnya, karena kita sudah keterlaluan dengan anaknya. Ini karma, Ga?" Ucapnya dengan Isak tangisnya.
Rangga menatap wajah ibunya yang begitu menyesali perbuatannya dulu, andaikan dulu mereka tidak menyakitinya mungkin, mungkin hari ini mereka akan bahagia bersama anak cucunya, penyesalan tinggallah penyesalan. Untuk apa menyesali yang sudah sudah lebih baik memperbaikinya setiap manusia akan diuji kesabaran dan keikhlasan apakah sanggup atau tidak.
"Ga, besok ibu harus kontrol, kamu punya uang?"
__ADS_1
Pertanyaan Bu Darmi membuat Rangga diam tak menjawab dirinya bingung harus jawab apa, kerena akhir akhir ini ia bekerja menjadi tukang parkir gajinya pun tak seberapa hanya cukup makan saja.
Rangga terpaksa berbohong kepada ibunya bila dirinya bekerja menjadi tukang bangunan, diam nya Rangga membuat ibunya mengerutkan keningnya.
"Kamu gak punya uang? Ya, sudah ibu gak apa-apa semoga penyakit maag nya ibu sembuh dengan meminum obat herbal."
Ada rasa bersalah, bingung harus kemana lagi untuk mencari uang.
'apa aku minjam sama Bu Tuti? Biarlah kalau beliau menceramahi ku yang penting aku di pinjami uang.' batinnya.
Bu Darmi mengguncang tangannya.
"A-ada kok, Bu, jangan kuatir soal uang. Sekarang ibu isttirahat aku mau keluar dulu cari angin." Ucapnya dengan senyum.
Bu Darmi anggukan kepala dan beliau merebahkan tubuhnya di kasur kapuk.
*
*
*
Sebelum mengetuk pintu Rangga menarik nafas terlebih dahulu agar bisa menghadapinya.
"Assala--"
"Waalaikumsalaaam!" Ketusnya yang di sambut dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Mau apa kamu! Pasti minjam duit! Makanya cari kerja yang benar, harus ingat dosa, istri baik di akalin. Kualatkan." Sarkasnya membuat Rangga diam ada perasaan marah yang bergemuruh di dadanya namun berusaha ia tahan
Tak apa dihina seperti itu yang penting kesehatan ibu nya yang lebih utama. Rasa sakit hati soal belakangan.
"Kebanyakan mikir! Mau pinjam berapa! Utang kamu itu loh, udah menumpuk. Kapan kapan cicil dong ah. Punya mantan tetangga bisanya cuma nyusahin saya." Cetusnya sembari masuk kedalam kamar tuk mengambil uang.
Tak lama kemudian Bu Tuti keluar dengan mengapit dompetnya.
"Nih. Saya kasih separo separonya lagi bayar, dah sana pulang," usirnya jutek.
Dengan sedikit senyum Rangga pamit pulang. Ada perasaan lega karena ia sudah mendapatkan pinjaman uang untuk berobat ibunya.
"Bu, besok kita berobat, aku ingin melihat senyuman ibu lagi," lirihnya.
*
*
*
"Ma, papa perhatian Mama agak gemuk kan deh," ujar Arfa yang menatap tubuh Arsila yang agak gendut.
"Masa! Ih. Iya." Jawab nya dengan memutarkan tubuhnya.
"Dan, akhir akhir ini Mama makannya banyak." Imbuhnya lagi yang di anggukan oleh Arsila.
Bibi dan Mbak Efa yang mendengar obrolan mereka hanya tersenyum.
__ADS_1
"Bi, jangan jangan nyonya hamil lagi."
"Bisa jadi Fa. Kan tuan sama nyonya sudah empat bulan menikah." Keduanya berasumsi bahwa Arsila hamil.