
Arfa beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi tanpa mengenakan sehelai kain tuk menutupi tubuhnya.
Arsila yang melihatnya pun menutup mata.
"Jangan malu-malu semalam kamu sudah melihatnya dan merasakannya terutama bagian ini," Arfa menunjuk pedang samurai dengan senyum.
"Au ah. Gak jelas! Udah sana masuk." Arsila mendorong tubuh Arfa masuk kedalam.
Arfa hanya terkekeh mendengar ocehan istrinya yang menurutnya malu tapi mau.
"Ma, mandi bareng yuk," teriaknya dari dalam.
"Gak mau! Kamu aja duluan." Jawabnya dengan teriakan juga.
"Dosa loh, Ma, nolak ajakan suami. Kalau mama mau mandi bareng papa nanti mama dapat pahala berlipat lipat ganda."
"Kalau mandi bareng, gak akan ada beres beres nya, yang ada main dokter dokteran papa? Mama tau akal bulus papa." Sahutnya dari luar.
"Kok tau." Arfa tergelak tawa.
"Punya suami gini amat ya," batinnya dengan senyum yang merekah.
Setelah Arfa keluar dari kamar mandi kini giliran Arsila masuk.
Karena hati ini libur Arfa memutuskan untuk membuat bubur untuk sang istri ia bergegas menuju dapur.
Bibi dan Mbak Efa melongo melihat majikannya turun ke dapur gak biasanya.
Arfa yang melihat ekspresi wajah wajah yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Ada apa?" Tanya Arfa dengan tangannya meraih panco yang ada di dinding.
"Tuan, mau apa? Biar bibi saja." Tanya bibi.
"Saya mau buat bubur, mana berasnya bi."
"Bubur?" Jawab Bibi.
__ADS_1
Arfa menatap wajah yang tak muda lagi yang sudah ia anggap ibunya sendiri.
"Bi, saya mau buatkan Arsila bubur spesial. Mumpung saya libur." Imbuhnya lagi.
"Bibi bantu ya?" Mohonnya.
"Boleh."
Mbak Efa celingukan harus ngapain, akhirnya dia memutuskan untuk membersihkan halaman belakang saja.
Bibi yang melihat Mbak Efa hendak pergi lalu menegurnya.
"Efa, mau kemana? Sini, kita bantu tuan Arfa masak bubur." Cegahnya.
"Bi, Efa lupa kalau halaman belakang belum Efa sapu," jawabnya.
"Ya, udah. Biar bibi saja yang bantu tuan."
"Sip." Efa mengangkat kedua jempolnya.
Tap
Tap
Tap
'Lagi ngapain Arfa di dapur, asyik banget ngobrol nya sampe kedengaran,' lirihnya. Arsila mempercepat langkahnya untuk ikut gabung dengan mereka.
"Pada ngobrolin apa sih, asyik banget." Tanya Arsila lembut.
Keduanya membalikan badannya dan tersenyum melihat nyonya nya yang datang.
"Eh, Nyonya, bibi lagi bantu tuan Arfa maska bubur," jawabnya dengan senyum.
"Bubur?"
Arfa mengganguk dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Buat siapa?" Tanya Arsila membuat keudanya saling tatap.
"Buat kamu Sayang," jawab Arfa.
"Papa? Mama gak suka bubur?" Ucap Arsila hati hati takutnya menyingung perasaan Arfa yang sudah capek-capek buatin dia bubur.
"Hah. Kamu gak suka bubur? Ya, sia sia dong saya buat bubur," Arfa merengut karena usahanya untuk membahagiakan orang yang ia cinta nyatanya tak suka bubur.
Arsila jadi tak enak hati melihat pengorbanan suaminya tangannya melepuh terkena uap bubur yang ia masak.
"Siapa bilang sia sia, kan, aku bisa coba, siapa tau suka." Pura pura senang padahal mah, liat tuh bubur membuat perutnya mual.
"Kalau gak suka gak usah dipaksakan ntar sakit yang sudah saya juga."
"Kan, belum di coba. Makanya jangan berasumsi kalau belum tau kebenarannya papa?"
Bibi menatap kedua majikannya pagi buta sudah bikin drama queen aja.
Bi Ani hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan majikannya yang bentar bentar baik, bentar bentar jutek.
"Bi. Buburnya buang saja." Perintahnya dengan sedikit emosi. Maklum ini yang pertama kali dimasak dalam seumur hidup seorang Arfa.
"Tuan, daripada di buang mending buat bibi."
"Jangan, takutnya bibi sakit perut."
'si Arfa lagi datang bulan. Semalam romantis banget. Lah, sekarang begini.'
Karena kesal Arsila pun membenarkan ucapan Arfa.
"Iya, bi, jangan dimakan, tadi aku lihat pak Arfa menaruh sesuatu di bubur itu."
Bi Ani garuk garuk kepala pusing tujuh keliling kompleks, ia pun pamit ke kamar.
Arfa pun melengos pergi meninggalkan Arsila yang bengong menatap punggungnya sampai menghilang.
Arsila mendengus sebal karena ditinggal pergi oleh Arfa.
__ADS_1
"Dasar kulkas!"