![Perjalanan Dewa Perang[Hidup Santuy Dengan System]](https://asset.asean.biz.id/perjalanan-dewa-perang-hidup-santuy-dengan-system-.webp)
Author: Para pembaca sekalian, kalok ada yang Typo di maklumi ya. Hehehehe....
Balik Kecerita.
Dion dan Diona akhirnya memutuskan untuk pulang, karena mereka sudah bosan untuk jalan–jalan, tapi Diona yang masih bersemangat, sebab cintanya kepada adiknya dibalas dengan kasih sayang.
"Sayangggggg..." Ucap Diona melirik ke Dion.
"Hmmm... ya kenapa." Balas Dion melihat ke arah Diona yang memeluk tangannya.
"Gak ada apa–apa, cuman memanggil." Ucap Diona.
"Hmmm... yaudah." Ucap Dion kembali fokus melihat ke arah depan.
Yap, setelah Diona cintanya di terima sama Dion, Ia langsung bermanja–manja ke Dion, ya seterusnya begitu deh. di seperpanjang jalan, Dion merasa dia diikuti oleh beberapa kelompok terdiri dari enam orang, sebenarnya Dion sudah mengetahui itu dari tadi tapi ia hanya mengabaikanya.
"Hahhhhh... orang yang tidak beruntung." Ucap Dion sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Sayang?" Tanya Diona yang mendengar ucapan Dion.
"Tidak ada apa–apa, hanya ada enam tikus yang mengikuti kita." Balas Dion sambil membuka Hp nya.
"Tikus? mana?." Ucap Diona sambip melihat ke kanan dan kiri.
"Ada di belakang." Tunuk Dion dengan ibu jarinya mengarah kebelakang.
"Hmmmm... apa enam orang itu, aku merasa mereka bukan orang baik." Ucap Diona yang melihat arah dion menunjuk.
"Benar, kalok begitu aku akan membunuhnya saja." Ucap Dion sambil menambilkan wajah Badasnya.
"Eeeeeeee.... kok main bunuh saja, mereka ada enam lo." Ucap Diona sambil melihat ke arah Dion.
"Hehhh... Lihat aku." Ucap Dion sambil membalikkan badanya, dan menatap ke enam orang berjaket hitam. menyadari target mereka berhenti, orang–orang itu juga berhenti.
"Lihat, aku akan membuat sulap yang indah." Ucap Dion sambil menunjuk kan jarinya ke salah satu orang berenam itu. dan...
Citttttttttt...... Duaaarrrrrrrr!!!.
Orang yang di tunjuk Dion langsung melayang dan menimbulkan suara seperti kembang api yang meluncur, setelah sampai atas tubuh orang itu hancur dan menciptakan seperti letusan kembang api yang indah, karena saat itu hari sudah hampir gelap sepenuhnya.
__ADS_1
Cittttttttttt.... Duaaarrrrrr!!!
Cittttttttttt.... Duaaarrrrrr!!!
Cittttttttttt.... Duaaarrrrrr!!!
Cittttttttttt.... Duaaarrrrrr!!!
Cittttttttttt.... Duaaarrrrrr!!!
Dan lima orang lainnya menyusul yang satunya tadi, di sore hari itu menjadi sore yang indah bagi orang pejalan kaki yang lewat dekat Dion, mereka tidak menyadari kalok yang menjadi petasan itu dalah tubuh orang, sementara Diona sendiri malah mukanya berseri–seri.
"Wahhhhhhh.... indahnya." Ucap Diona sambil memandang ke langit.
"Bagai mana sulapku, Hebatkan!" Ucap Dion membusungkan dadanya.
"Sayangggg.... Kamu Romantis banget." Ucap Diona langsung memeluk Dion.
"Baiklah–baiklah, ayo kita pulang." Ucap Dion sambil memegang tangan Diona dan berjalan kembali menuju kerumah. di perjalanan kali ini, Dioan tidak mendapat gangguan apa pun dan membuat ia pulang dengan cepat.
"Aku pulang!!." Ucap Dion agak Teriak.
"Aku juga pulang!!." Ucap Diona yang juga agak teriak.
"Iyaaa!!" Ucap Dion langsung menuju ke arah Ruang tamu, karena suara ibunya tadi dari sana. Setelah sampai di sana, Dion mendapati Ada tiga orang yang sedang duduk di Kursi.
"Dion... Apa kamu masih kenal mereka." Ucap Ibu sambil melihat ke arah Tiga orang yang sedang duduk itu.
"Ahhhh... Paman Dendi dan Bibi Riska juga...." Ucap Dion yang mengenali ke dua orang dari ketiga orang itu.
"Masak kamu sudah tidak mengenalnya Dion, itu temen Masa kecil kamu lho." Ucap Ibu sambil melihat ke arah gadis yang dari tadi mukanya memerah.
"Kalok gak salah... Fanesha ya." Ucap Dion yang juga ikutan duduk.
"Nah itu kamu inget." Balas Ibu dengan bahagia.
"Wahhhh... Dion kamu sudah banyak berubah ya, makin ganteng." Ucap Bibi Riska
"Benar Kata Bibimu Dion, kamu sudah sangat berubah, Lihat lah kamu sekarang ganteng, gagah, berwibawa pula." Ucap Paman Dendi.
__ADS_1
Yap Mereka Bertiga dalah, Kerabat Dion dari desa, dan Paman Dendi itu adalah Kakak Ibu Dion dan Wanita yang hampir seumuran Ibunya Dion itu Istrinya, sementara yang Masih seumuran Anak SMA itu adalah Temen masa Kecil Dion saat di Desa dulu, karena maslh perkerjaan jadi Dion dan keluarganya harus oergi ke kota, saat itu Dion Masih kelas 1 SMP.
"Ohya Dion, Mana Kakak mu, tadi kamu jeluar sama dia kan?." Tanya Ibu sambil melihat Dion.
"Itu dia." Ucapku sambil menunjuk ke arah Belakang dan di sana terlihat kalok Diona mengintip.
"Diona kemarilah, Paman dan Keluarganya ada disini, sapa lah mereka dulu." Ucap Ibu menyuruh Diona untuk menyapa Paman dan Bibi.
"Hehehe... Halo Paman Bib dan Fanesha." Ucap Diona sambil membungkukkan Badanya.
"Hahaha.... Diona, kamu juga tambah vcantik ya sekarang." Ucap Paman sambil tertawa.
"Diona, kamu masih kuliah apa sudah Kerja." Tanya Bibi sambil melihat ke arah Diona.
"Diona masih menganggur Bi." Ucap Diona berjalan ke arah Dion duduk dan ia langsung duduk di sebelahnya setelah itu ia memeluk Dion.
Disana mereka sudah tidak terkejut melihat sikap Diona, karena mereka tau kalok Diona mencintai Adiknya sendiri, Tapi ada seseorang yang melihat Diona dengan cemberut, dia adalah Fanesha.
Fanesha sendiri juga mencintai Dion, tapi dia selelu saja di ganggu sama Diona, ahasil saat Dion masih di desa dulu selalu menjadi rebutan sama Kedua Wanita itu/Diona dan Fanesha. Fanesha tidak mau kalah dia langsung berdiri dan menghampiri tempat Dion dan Diona berada setelah itu Fanesha juga melakukan hal yang sama seperti Diona.
"Hahhhhh... kalian ini selalu saja seperti itu, tidak dulu dan Sekarang masih saja sama." Ucap Ibu sambil menggelengkan kepalanya.
"Hahahahahaha...." Tawa Paman dan Bibi serta Ibu secara bersamaan saat melihat tingkah laku kedua Wanita yang merebutkan Dion.
Dion hanya bisa pasrah melihat kedua Wanita yang terlihat saling bertatapan satu sama lain, dari muka mereka berdua mengisyaratkan "Jangan sentuh Dion ku" Seperti itu lah.
"Hey kalian bisa beehentikan." Ucap Dion sambil mengelus kepala kedua Kucing betina yang hampirkerah, tapi saat mau baku hantap si jantan langsung menjinakkan mereka berdua. Terlihat jelas Diona dan Fanesha menikmati Elusan kepala yang di lakukan Dion.
"Lihat lah mereka, sekajap saja langsung jinak." Ucap Paman yang meilahat Kedua Lucing yang hampir kerah tadi.
"Hihihihihi... masa muda memang paling menyenangkan." Ucap Bibi terharu melihat Dion yang menenagkan Diona dan Fanesha.
"Biarlah mereka begitu, di masa depan Nanti mereka berdua akan berbagi." Ucap Ibu sambil tersenyum genit.
"Hahahahaha...." Tawa sekali lagi ke tiga Orangtua itu.
"Ayo, kita pergi dari sini, aku mau menghirup udara segar." Ucap Dion yang langsung beranjak dari kursi dan pamit dulu ke Paman serta Bibinya. Setelah itu Dion langsung menuju ke arah lantai dua yaitu kamarnya.
Dion tidak tau siapa yang membenarkan Lantai dua, karena seinget Dion, lantai dua sudah terbawa sama badai, dan sekarang kembali ke bentuk semukanya, Setelah sampai di kamar, Dion bisa melihat kalok tempat itu tidak ada yang berubah setelah hancur lebur.
__ADS_1
Setelah itu Dion menuju ke arah Balko yang ada di kamarnya, di sana tersedia Sofa seperti saat sebelum Lantai Dua hancur, dulu Dion selalu ke balkon untuk merilekskan pikirannya, juga untuk bersantai juga. Sementara ke dua wanita itu hanya mengikuti Dion kemanapun Dioj pergi, Dion duduk di Sofa dan di ikuti Diona dan Fanesha.
"Mari kita berbincang disini." Ucap Dion sambil melihat ke arah kanan dan kiri.