
Waktu berlalu, di perjalanan mereka hanya saling diam.
Setelah beberapa saat mereka perjalan, namun mereka bukan berjalan kembali kerumah melainkan mereka berjalan menuju bukit, yang dalam ngatan Xia Yun itu adalah bukit yang sering di kunjungi mereka waktu kecil.
Dan disinilah mereka duduk berdampinga dan bersandar di bawah ponon besar yang ada di tepi tebing sambil memandang matahari yang mulai tergelam.
“ Kenapa Mei’er membawa ku kesini? “ Tanya Xia Yun sambil menghadap Xia Mei
Xia Mei yang di Tanya hanya diam, masih memandang matahari tenggelam, namun di pikiranya sedang bergulat degan bagaimana cara menanyakan ucapan yang sebelumnya Xia Yun ucapkan tentang menjadi kekasihnya.
Dan akhirnya degan gugup Xia Mei berucap “ Apa yang kak Yun bilang sebelumnya adalah benar? “ Tanya Xia Yun degan suara yang pelan.
Xia Yun yang mendegar itu sedikit mengangkat alisnya , namun seketika ia sadar magsud dari pertanyaan wanita di sampingnya. Dan sedikit terbesit untuk mengerjai Xia Mei.
“ Ya itu benar, apa Mei’er tidak mau menjadi kekasih ku, ya itu wajar sih jika Mei’er tidak mau, siapa juga yang mau dengan sampah sepertiku. Sepertinya cinta ku hanya bertepuk sebelah tangan, “ kata Xia Yun degan ekpresi wajah sedih memandang matahari yang terbenam. Tapi didalam hatinya dia tidak bisa untuk tidak tertawa.
“ Bukan seperti itu kak Yun, aku… aku juga suka sama kak Yun “ kata Xia Mei sambil menunduk dan suaranya menjadi pelan di akhir kalimat.
“ Apa Mei’er, aku tidak bisa mendegar suara mu dengan jelas, bisa tolong ulangi “ kata Xia Yun , namun sebenarnya ia dengar degan perkataan Xia Mei tapi ia sengaja sedikit menggodanya.
__ADS_1
“ Aku juga mencintai kak Yun , aku Juga mau jadi kekasih kak Yun “ Xia Mei berkata sedikit berteriak sambil memandang Xia Yun degan kadua pipinya yang merona merah.
Sedangkan Xia Yun hanya tersenyum sambil membalas tatapan Xia Mei. “ Jadi apa kita kekasih sekarang “ Tanya Xia Yun, sedangkan Xia Mei kembali menundukan kepalanya dan tak lama ia mengangukan kepalanya kecil.
Lalu degan lembut Xia Yun mengankat dagu Xia Mei dan mendekatkan wajahnya. Xia Mei seakan mengerti magsud Xia Yun, mulai memejamkan mata, tak lama kedua bibir mereka pun bertemu, hanya sebuah kecupan kecil dan Xia Yun segera melepaskannya dan merangkul pundak Xia Mei dan menyadarkannya ke bahunya. Xia Mei tidak menolak di justru tersenyum bahagia, karena harapan dari kecilnya akhirnya terwujud, iya kemudian membenarkan sandarannya seyamman mungkin di pundak Xia Yun yang sekarang menjadi kekasihnya.
Setelah kejadian hari itu mereka sering keluar dan latihan bersama , Xia Yun lebih banyak melatih fisiknya karena menurut nya fisiknya sekarang sangat lemah. Xia Shen entah kemana karena sejak hari itu ia tidak lagi menganngu mereka. tak lupa Xia Yun juga sering pergi ke perpustakaan untuk menambah informasi tetang dunia yang ia tinggali sekarang.
Tak terasa suadah satu bulan Xia Yun hidup di dunia barunya, sekarang ia sudah mengetahui sebagian besar tentang dunia yang di tempatinya, terutama yang paling Xia Yun sering hapal adalah tentang bermacam – macam tanaman herbal dan kegunaannya , karena iya sangat ingin menjadi seorang Alkemis, karena menurutnya degan menjadi Alkemis ia dapat mencukupi kebutuhan kultivasinya sendiri dan juga yang terpenting adalah mudah mencari uang.
Walau pun dari buku yang Xia Yun baca tidak baik seorang cultivator membagi fokus bidangnya lebih dari satu karena itu akan menghambat pelatihannya, namun ia tak peduli. Sebelum mencoba mana bisa tau , itulah yang dipikirkan Xia Yun.
Dan untuk hubungan Xia Yun dan Xia Mei sudah di ketahui oleh kedua orang tua mereka , dan kedua orang tua mereka juga stuju dan tidak melarang merekaa. Malahan ibu dari Xia Yun dan Xia Mei yang merupakan sahabat dari muda sangat senang dagan hubungan mereka yang rencananya memang akan di jodohkan karena itu janji mereka berdua waktu masih muda.
Sebenarnya alasan utama Xia Yun ingin pergi ke hutan mati adalah mencari keberuntungan siapa tau iya mendapat harta karun atau sesuatu peninggalan seseorang hebat yang dapat membuat iya cepat menjadi kuat, seperti di novel yang iya sering baca waktu masih hidup di bumi. Karena Xia Yu mengangap dirinya adalah seorang protagonis dalam sebuah cerita novel.
Dan sekarang, setelah Xia Yun membicarakan tujuannya dan magsud dari tujunnya pergi ke Hutan Mati. semua orang yang ada di ruang makan tersebut terkejut dengan keinginan Xia Yun, terutama ibu Xia Yun dan Ibu Xia Mei. Mereka pasti khawatir dengan Xia Yun karena hutan mati bukan tempat yang sembarang orang bisa masuki.
" Untuk apa kamu kesana nak ? , disana berbahaya " kata Xia Shuwan ibu Xia Yun
__ADS_1
" Tenang lah Bu Yun'er kesana hanya untuk berlatih dan mencari pengalaman bertarung, lagi pula Yun'er hanya akan berada di area luar hutan tidak akan masuk lebih dalam , jadi kalian tidak usah khawatir. " jawab Xia Yun berusaha meyakinkan orang-orang yang ada di ruangan itu.
" Yun'er janji akan kembali sebelum turnamen di mulai"
" Sudah lah Wan'er , biarkan anak kita mencari jalannya sendiri dan dia juga sudah besar, anak laki-laki harus berpetualang agar dapat melihat luasnya dunia ini. " Ucap Xia Jiang mendukung Xia Yun sambil mengelus pundak istrinya.
sedang kan Xia Shuwan yang mendengar itu memandang kembali anaknya dan ia dapat
melihat tekat anaknya yang sudah bulat hanya bisa menghela nafas dan mengangguk pelan menyetujui keinginan anak laki-lakinya itu.
Xia Yun yang melihat itu segera tersenyum senang. setelah itu mereka melanjutkan mengobrol satu sama lain.
sedang kan Xia Yun pamit untuk kembali ke kamar nya untuk berkemas kebutuhan iapergi ke hutan besok.
namun ia tidak sendiri Xia Mei juga ikut membantu kekasihnya itu berbenah di kamarnya.
" Apakah kak Yun benar-benar akan pergi , bisa kah Mei'er ikut kak Yun pergi. " ucap Xia Mei yang duduk di kasur setelah mereka selesai berkemas.
" Maaf Mei'er aku tidak bisa membawa mu, disana berbahaya aku takut kekuatanku sekarang belum cukup untuk melindungi mu ." kata Xia Yun yang ikut duduk di samping Xia Mei.
__ADS_1
"Tenang lah jangan Khawatir aku janji akan baik-baik saja" ucap Xia Yun sambil mengelus puncak kepala Xia Mei.
Xia Mei hanya mengangguk pelan dan menyandarkan kepalanya ke pundak Xia Yun dan tak sadar ia terlelap. Xia Yun yang melihat itu segera membaringkan Tubuh Xia Mei ke tempat tidurnya dan Xia Yun ikut berbaring di samping Xia Mei dan ikut terlelap.