Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan

Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan
Prolog


__ADS_3

Melissa Skolastika, anak SMA yang mempunyai paras yang manis dan tegas. Serta, alis tebalnya menjadi ciri khas seorang Melissa. Tapi, sikapnya tak setegas penampilannya. Ia adalah gadis paling ceroboh dan paling bodoh yang Ilham kenal.


Ilham Khanafi, musuh bebuyutan Melissa selama sepuluh tahun terakhir ini. Ilham adalah orang yang paling malas untuk melihat Melissa, si bodoh.


____


"Sejak kapan lo boleh menyentuh barang gue?" tegur cowok yang berseragam putih abu-abu itu kepada seorang gadis yang bernama Melissa.


Aura permusuhan jelas-jelas kentara sekali dari gelagat keduanya. Mereka saling beradu pandang sambil menampilkan ekspresi yang sama-sama mengerikan.


Gadis yang bernama Melissa itu yang masih menaiki motor cowok itu menyorot tajam pada Ilham, pemilik motor yang saat ini ia naiki.


"Gue tidak menyentuh, ya. Gue hanya duduk." Sambil mengungkang-ungkang kaki, Melissa menjawab pertanyaan Ilham dengan santai.


"Lo menaiki motor gue, kan?" Tatapan matanya makin menajam.


"Kan hanya menaiki," keukeuh Melissa.


"Sudah, lo turun!"Mata Melissa menyorot tajam pada Ilham.


"Gue tidak mau!" tolaknya mentah-mentah.


"Turun!"


"Malas!"


Tangan cowok itu mengepal keras, ia sudah naik pitam.


Ilham menarik tangan Melissa dengan sangat keras hingga terdengar bunyi erangan kesakitan dari gadis itu.


"Aww!" desisnya kesakitan, saat lutut mulusnya mendarat di ubin yang kasar. "Lo kasar banget sih!" amuknya.


Tidak peduli.


Motor Ilham melaju dengan kencang, menyisakan kepulan asap tipis dari knalpot motornya.


____


Hiruk pikuk kota dan kepulan asap dari lalu lalang kendaraan mencemari udara yang Melissa hirup.


Sedari tadi ia memang melihat mobil taksi dan tukang ojek yang parkir di pangkalan mereka, tapi ia tidak mau menaiki salah satunya karena uang sepeser pun ia tidak punya.


Ia hanya luntang-lantung di jalan dengan lututnya yang lecet dan sedikit membiru. Berharap keajaiban datang menghampiri dirinya. Tapi, yang ia tunggu tidak kunjung datang.


"Huft!" Helaan nafasnya kasar.


Kejadian sepuluh menit yang lalu memang benar-benar membuat ia naik darah.


Ia benar-benar menyesal meminta bantuan dengannya. Padahal ia hanya sekedar meminta bantuan untuk dibonceng sampai rumah. Tapi, dengan sifat angkuhnya ia menolak permintaan kecil dari Melissa yang saat itu tidak memiliki uang sepeser pun untuk membayar ojek.


Sekitar duapuluh menit, akhirnya ia menapakkan kaki di teras rumahnya.


Tidak diwaspadai, saat ia sudah masuk ke dalam rumahnya ia dikejutkan dengan kedatangan dari nyonya rumah ini, alias ibunya sendiri.


"Kenapa baru pulang?" tanya bunda Reski sambil bertolak pinggang menantang anaknya.


"Tadi Mel...." Belum sempat Melissa melanjutkan, bundanya sudah menyela ucapannya sehingga ia hanya memasang wajah pasrah.


"Bunda sudah mengatakan kan kalau pulang itu tepat waktu. Mau pulang, mau berangkat kamu selalu terlambat," oceh bunda Reski menekankan kata 'selalu' di dalam kalimat. "Kenapa terlambat?"


"Iya, tadi Mel itu...." Lagi.

__ADS_1


"Sudah! Tidak usah banyak alasan, lebih baik sekarnghampiri, ganti baju," titahnya


"Iya, bun."


Bunda Reski malah menyelonong pergi mengabaikannya tanpa sempat melihat luka di lutut anak gadisnya.


Saat sudah sampai di dalam kamarnya, ia langsung meluapkan kekesalannya pada sebuah benda yang ia anggap sakral. Yaitu foto Ilham yang ia tempel di tembok, dan menjadikannya papan target.


"Dasar Ilham!" Tiga panah mainannya sudah menancap di papan target miliknya. "Kapan lo berhenti mengganggu hidup gue sih? Tidak lelah apa lo?"


"Huft."


Melissa menjatuhkan tubuhnya tepat di kasur miliknya, berharap bisa meredakan sedikit emosinya.


Memandang langit-langit kamarnya yang dipenuhi kartun Jepang. Film Anime dari negeri sakura ini memang tidak pernah mengecewakan. Beberapa kali pun ia tonton, tidak terkesan membosankan. Bahkan, lemari bukunya hampir penuh dengan komik yang ia sukai. Serta filmnya sudah ia simpan di hardisk miliknya.


"Lebih baik gue nonton anime, daripada stres begini."


Dengan berjalan keluar kamarnya, ia menenteng laptopnya untuk ia tonton di luar rumah di bangku depan rumahnya.


Dengan gerakan cepat, ia langsung duduk dan lekas menonton filmnya.


Tak jauh dari rumah Melissa, seorang cowok sedang memegang kepalanya. Pening.


"Sudah sore begini malah disuruh tidur, mana hanya sebentar lagi. Segar tidak, pusing iya." Ilham berdecak kesal.


Melissa tertawa keras melihat anime yang sedang ia tonton. "Natsu! Boing-boing." Ia tertawa hampir menangis.


"Woi!" teriak Ilham dari depan rumahnya, tepatnya dari sebelah rumah Melissa.


"Ck, malesin," keluhnya, melihat Ilham sedang berjalan ke arahnya.


Jarang sekali sang musuh menghampiri musuhnya, tujuannya apalagi jika bukan mengusik hidup gadis itu.


"Menurut lo?" tanya balik Melissa dengan wajah songong.


Air muka Melissa sudah sangat tidak bersahabat, pasalnya sekarang ini ia tengah berhadapan dengan orang yang sangat menyebalkan. Wajar saja ia membalas pertanyaannya dengan ketus, apalagi lututnya lecet karna ulah cowok yang saat ini sedang berdiri di depannya.


"Lo tidak lelah menonton anime terus ha? Dapat apa?" tanya Ilham mengompori.


Kata-kata dari cowok itu memang tidak pernah tidak berhasil membuat Melissa naik darah.


"Dapat bahagia," spontan Melissa menjawab.


"Cih! Humor lo hanya sebatas 'boing-boing'." Ilham terkekeh mengejek.


Melissa menggebrak meja yang berada di depannya. "Lo itu kenapa sih? Mengganggu hidup gue terus, tidak bosan apa lo? Tidak lelah? Kerjaan lo hanya mengganggu hidup orang!" Melissa sangat tidak tahan dengan perilaku Ilham yang merasa paling benar. Berkali-kali memang ia tahan, tapi sekarang ia sudah tidak tahan lagi.


"Lah?"


"Lo mau jadi musuh gue, kan? Oke, kita musuh!" Melissa langsung pergi setelah mengucapkan itu, meninggalkan Ilham.


"Memang kita musuh!Dasar tetangga!" teriaknya, membuat Melissa menahan amarahnya lagi.


"Lo tetangga!" balas Melissa di depan pintu rumahnya.


Ilham mendesis geram bersamaan dengan menutupnya pintu rumah Melissa dengan keras.


____


Malam ini adalah malam Minggu, itu berarti waktu untuk menonton animenya diperpanjang sampai besok. Melissa langsung bersiap untuk menyaksikan filmnya.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Iya." Melissa langsung menghentikan aktivitasnya. "Iya, bun."


"Kamu mau ngapain?" tanya bunda Reski, menilik isi kamar Melissa.


"Nonton."


"Sudah,nontonnya nanti. Ayo sekarang turun sama bunda." Bunda Reski menarik tangan Melissa.


"Eh, tapi mau ngapain?"


"Sudah, ayo!" Tanpa menjawab, bunda Reski kembali menarik tangan Melissa.


Mau ngapain sih? Ck!


Melissa hanya menuruti perkataan bundanya untuk turun ke bawah. Entah apa yang akan ia perintahkan pada Melissa, jika tidak menyuruhnya menemani menonton televisi maka berarti menyuruhnya membelikan makanan di warung.


Melissa sudah paham sekali pada sifat bundanya ini.


Tapi, mata Melissa membola saat melihat Ilham dan keluarganya ada di rumahnya. Tepatnya di ruang tamu, biasanya orang bertamu.


"Mel," panggil bunda Reski yang melihat anaknya hanya berdiri sambil melamun.


"Hm?" kaget Melissa.


"Duduk Mel, sini." Bunda Reski menepuk tempat duduk kosong tepat di sebelahnya.


Melissa menurut, mendengarkan titah bundanya sambil tidak berhenti menatap sinis cowok yang berada di depannya ini.


Arif, ayah dari Ilham berdeham melancarkan suara, untuk sesuatu yang akan beliau sampaikan. "Jadi, kedatangan kita kemari ingin melamar putri bapak sebagai menantu kami."


Bagai disambar petir, Melissa terkejut setengah mati mendengar penuturan om Arif ini. Ia menatap bingung pada om Arif yang baru saja mengucapkan hal aneh tadi pada semua orang.


Melissa segera membantah permintaan om Arif. "Maksudnya apa ya, om? Melissa menikah sama Ilham? Tidak, tidak, tidak. Kita kan...,"


"Mel!" Ibnu, ayah Melissa langsung memotong ucapan Melissa yang sangat tidak sopan.


Bunda Reski mendudukkan anaknya, membiarkan suaminya yang berbicara.


"Mel," panggil ayah Ibnu kepada anaknya yang mau menangis. "Dengarkan dulu, ayah mau bicara."


Melissa menggenggam lengan bundanya erat, ia sangat yakin akan apa yang terjadi nanti jika ayahnya sudah bicara begini padanya.


Melissa berusaha menatap ayahnya, yang sedang memegang bahunya.


"Jika kamu menikah nanti kan kamu tidak perlu bekerja lagi, nanti suamimu yang menafkahi, nak," jelas ayahnya yang malah semakin membuat dada Melissa semakin sesak.


Bagaimana bisa ayahnya sendiri yang menyerahkan anaknya dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai, bahkan ia sangat membenci lelaki itu.


Melissa menangis pun, tidak akan ada yang peduli dengannya.


"Kami ingin menjalin silaturahmi yah, ma ya." Ayu, istri Arif menanggapi ucapan suaminya dengan ramah. "Yah, mungkin setelah kita menjadi keluarga. Kita akan menjadi semakin dekat. Jadi, apa kalian sekeluarga berkenan?" tanya Arif menunggu jawaban.


Seperti tidak pernah terjadi, ucapan Melissa diabaikan semua orang yang berada di sini. Ia hanya menunduk, menumpahkan rasa kesalnya. Tanpa mau melihat wajah-wajah yang saat ini sangat ia tidak sukai.


"Kalo bunda mau, Melissa pasti mau ya kan, Mel?" Melissa tersentak saat mendengar perkataan bundanya.


Sudah pasti ia tidak mau, ia tidak akan mau menerima lamaran dari cowok yang sering membuatnya menangis itu. Tapi, sekarang untuk bernafas dengar benar pun sangat sulit. Perasaan sesak benar-benar menusuk dadanya saat ini.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2