Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan

Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan
Bab 3: Menstruasi


__ADS_3

Sekitar limabelas menit, akhirnya mereka sampai juga di kediaman Melissa.


Dengan pakaian basah kuyup, Melissa dan Ilham berjalan menuju teras rumahnya.


Sejak kejadian beberapa menit yang lalu, Melissa dan Ilham selalu diam. Melissa tidak mau memulai, sedangkan Ilham sedari tadi hanya merasa bersalah.


Berkali-kali pun ia menyingkirkan rasa bencinya terhadap gadis di sampingnya ini, ia tetap tidak bisa. Justru rasa bersalahnya malah menjadi pedang bermata dua yang seketika bisa melukai dirinya dan orang lain.


Melissa menekan bel rumahnya, sekitar kurang dari satu menit seseorang membukakan pintunya.


"Kok baru pulang kalian?" Tanya bunda Reski setelah membuka pintu. "Loh, basah. Kalian hujan-hujanan, kenapa tidak neduh dulu tadi? Kalau begini kan bisa sakit" ucap bunda Reski yang melihat anak dan menantunya basah kuyup.


"Tidak apa-apa kok, bun. Kalau begitu Mel mau mandi dulu biar tidak sakit," pamit Melissa dengan bundanya.


Bunda Reski merasa sedikit aneh ketika melihat sikap anaknya tidak seperti biasanya, tapi ia masih tetap berusaha berpikiran positif.


"Aku juga mau ke kamar bun, mau mandi juga sekalian ganti baju," pamit Ilham, menyusul Melissa ke kamar.


Gadis itu langsung berbaring, setelah selesai mandi tadi. Badannya serasa sangat tidak karuan, hawa panas dan dingin seperti bercampur aduk menyelimuti tubuhnya.


"Awas saja kalau lo sampai sakit nantinya. Gue tidak mau tanggung jawab, ya," ucap Ilham memperingati, saat melihat Melissa langsung berbaring.


Setelah mengatakan itu, Ilham langsung masuk ke kamar mandi, bergantian setelah Melissa mandi tadi.


Melissa mendengkus sebal, sambil menarik selimutnya.


____


"Mel. Mel. Melissa, bangun." Ilham menggoyang-goyangkan tubuh Melissa untuk membangunkannya.


Karena sedari tadi Melissa hanya tidur, sampai malam tiba pun ia masih tetap tidur. Ilham berniat membangunkannya karena Melissa sama sekali belum makan malam ini. Bukan apa-apa, ia hanya ingin Melissa cepat makan agar tidak merepotkannya ketika ia malah jatuh sakit nantinya.


"Apa?" Melissa mengerjap, berusaha membuka matanya yang begitu berat.


"Lo makan dulu. Belum makan kan, lo?" titah Ilham.


"Ambilkan," titahnya balik.


"Ambil sendiri, punya tangan kan lo," balasnya datar, Ilham lalu duduk bersandar di ranjangnya.


Melissa mendengkus sebal.


Tidak ada pilihan lain, ia harus mengambil makanannya sendiri. Padahal tubuhnya sangat lemas walaupun untuk sekadar berjalan dan mengambil makan. Tapi, setelah ia membaringkan badannya tadi, beruntung suhu tubuhnya sudah mulai membaik.


Ilham mengambil benda pipih yang berada di meja nakas, jarinya berselancar di layar gadgetnya.


Menurutnya, hal yang paling seru adalah ketika menikmati setiap detiknya untuk bermain gadget, sambil melihat-lihat ratusan suka pada akun sosial medianya yang berisi foto dirinya sendiri.


Wajar saja jika ia mendapat banyak suka, pasalnya selain tampan ia juga sangat mudah bergaul. Sehingga ia banyak mendapat teman.


Ia senyum-senyum sendiri melihat isi komentar-komentar yang memuji dirinya. Hampir semuanya adalah kaum hawa.


Tapi, seketika senyuman itu luntur ketika ada suara pintu terbuka. Ilham segera membuang mukanya saat Melissa menatapnya dengan pandangan sinis.


"Geser dong! Lelah gue, mau tidur." Melissa mendorong Ilham untuk menjauh dari tempatnya.


Menurut Melissa, jika bukan menonton anime, maka tidur adalah pilihan kedua.


Ilham berdecih.


Lalu ia juga ikut tidur di sebelah Melissa, berhenti memainkan gadgetnya. Meletakkan gadgetnya ke tempat semula.

__ADS_1


"Ham,"panggil Melissa, melihat Ilham yang tidur membelakanginya.


"Ham!" panggilnya lagi karena tidak disahuti sang pemilik nama.


"Apa sih?!" Ilham membalikkan badannya, melihat Melissa. Air mukanya terlihat tak bersahabat."Apa?!"


"Gue mau nanya."


"Apa?" tanyanya, malas.


"Kenapa lo benci sama gue?"


Pertanyaan itu membuat mata Ilham memandang lurus pada netra Melissa. Ia menatap serius mata Melissa yang bertanya-tanya.


Ya, alasan mereka menjadi musuh adalah karena cowok itu sangat membenci Melissa. Entah apa alasan Ilham membenci Melissa, padahal dulu sekali mereka adalah sahabat akrab yang kemana-mana harus pergi berdua.


Sampai-sampai Ilham harus membujuk orang tuanya untuk membeli rumah di samping rumah Melissa agar ia bisa bermain bersama setiap hari.


Tapi, setelah sepuluh tahun yang lalu itu, Ilham seperti menghilang dan malah membenci Melissa.


Ilham segera memutus kontak mereka, ketika melihat mata Melissa yang malah mengelilingi wajah Ilham.


Ilham menghela napas panjang, meredakan kekesalan yang tiba-tiba saja muncul ketika melihat cewek yang berada di depan matanya ini.


"Karena lo bodoh," sarkasnya


Tatapan Melissa menajam. "Gue tidak bodoh!"


"Sudah jelas-jelas lo bodoh!"


Gadis itu mendengus sebal, sebelum akhirnya ia kembali berbalik membelakangi Ilham.


____


"Gue tidak mau sekolah ah!" rengek Melissa kepada Ilham yang menunggunya di depan kamar mandi kamar Melissa.


Sejak tigapuluh menit yang lalu setelah ia membiarkan gadis itu mandi, Ilham terus-menerus menunggunya. Entah apa yang ia lakukan di kamar mandi.


Tapi, ketika ia sudah selesai mandi malah membuat-buat alasan agar dirinya tidak berangkat ke sekolah.


Cowok itu terus mengetuk pintu kamar mandinya dari luar. "Kalau lo begini terus, kapan otak lo bisa berkembang, bodoh?!" sarkasnya.


"Gue memang bodoh, kok!" akunya kesal.


"Lo tau lo bodoh, orang bodoh itu harus sekolah biar pintar, doh!" kompor Ilham membuat Melissa kesal sendiri dibuatnya.


Cih! Haruskah ia membujuk manusia bodoh ini?


"GUE MALAS SEKOLAH, GUE LELAH!!" berang Melissa.


Sedetik kemudian terdengar suara isakan dari dalam kamar mandi.


Ilham sudah paham akan semua ini, dengan kesal ia meninggalkan Melissa yang masih berada di kamar mandi.


"Huft."


Tepat setelah Ilham keluar dari kamar Melissa, bunda Reski melihat Ilham yang berjalan keluar sendiri tanpa Melissa.


"Loh, Il kok tidak bersama Melissa?" Tanya bunda Reski, heran melihat menantunya tidak keluar bersama istrinya.


Ilham tak mau berlama-lama lagi di rumah. Pasalnya, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Karena yang dilakukan Melissa sedari tadi hanya merepotkannya.

__ADS_1


"Melissa tidak mau sekolah bun, aku tidak tau alasannya." Setelah mengucapkan itu, segera ia menyalami bundanya dan beranjak pergi untuk berangkat ke sekolah.


Bunda Reski yang bingung dan penasaran langsung masuk ke kamar Melissa. Curiga Melissa sedang sakit.


"Mel." Suara dari bundanya langsung membuat tangisnya berhenti. Ia mengusap air matanya dan membuka pintu kamar mandinya. "Kamu kenapa, nak? Kok sembab begini?" tanya bunda Reski menyelipkan anak rambut Melissa yang menutupi wajahnya.


"Perut Mel sakit, bun," jawab Melissa memegangi perutnya yang sakit.


Sejak tadi pagi memang perutnya begitu sakit, pasalnya sekarang adalah hari dimana setiap bulannya ia menstruasi. Berkali-kali ia menahan rasa sakit seperti ada sesuatu menusuk-nusuk perutnya.


Bunda Reski sudah paham. Ia lalu membaringkan dengan lemah lembut anaknya ke kasur.


"Mau bunda buatin teh hangat?" Melissa hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


____


"Eh, Melissa kenapa kok tidak berangkat?" tanya Lia kepada kedua temannya ini.


Mereka bertiga sedang berada di kantin, berbincang-bincang soal Melissa.


Kantin adalah tempat untuk sekadar mengisi perut atau juga mengisi obrolan yang penting.


"Entah, mungkin dia sakit kali," jawab Raa sambil menyedot es tehnya.


"Sakit apa ya?" tanya Lia lagi.


"Tidak tau gue." Raa mengendikkan bahu, tidak tahu.


"Heh! Tidak mungkinlah dia sakit. Pasti nih ya, dia lagi santai-santai di rumahnya sambil nonton anime, ya kan? Hmm, sudah yakin gue," cerocos Faizal, lalu menyeruput dengan khidmat kuah minya yang masih hangat.


Mengabaikan pelototan tajam dari gadis yang berada di sebelahnya.


Raa menoyor kepala Faizal dengan keras. "Lo kira Melissa itu kayak lo apa? Yang kalau tidak berangkat dan bolos sekolah itu karena hal-hal yang unfaedah." Raa menyeringai. "Eh, lo ingat soal video yang lo lagi jalan sama Syiffa, tidak? Gue punya, loh. Mau gue sebar videonya, ha? Biar viral dan alhasil lo dikeluarkan dari sekolah," ancam Raa kepada Faizal yang terlihat biasa saja mendengar ancaman Raa.


"Siapa yang mengatakan kalau jalan sama Syiffa itu unfaedah?" tanya Faizal menanggapi ucapan Raa.


"Gue."


Faizal berdecih menanggapi. "Jalan sama Syiffa itu berfaedah, Maemunah." Faizal menoyor kepala Raa, sehingga yang ditoyor pun kesal. "Lagipula, mengajak jalan pacar kan bisa buat dia senang. Otomatis buat orang senang dapat pahala kan? Tidak percaya? Tanya saja sama pak haji," ucapnya ngelantur membuat bocah di sebelahnya ini hanya menggeplaki kepala Faizal.


Lia hanya memijit pelipisnya, lelah. Melihat pertengkaran dua manusia di hadapannya ini.


Ia berniat masuk kelas untuk menenangkan kepalanya dari kebisingan suara teman-temannya.


Di sepanjang jalan di koridor-koridor kelasnya, secara kebetulan ia berpapasan dengan Ilham yang sedang berjalan dari arah berlawanan dengannya.


"Ilham."


Ilham berhenti, melihat Lia yang sepertinya ingin berbicara dengannya. "Hm?"


"Lo lihat Melissa, tidak? Kok hari ini dia tidak berangkat, ya? Dia kenapa, ya?" tanya Lia beruntun kepada Ilham.


"Mana gue tau." Ilham lalu beranjak pergi meninggalkan Lia.


Tapi, ucapan Lia membuat langkah cowok itu terhenti.


"Lo masih tidak berubah ya, masih kayak dulu. Tidak pedulian, cuek dan tidak pengertian." Nadanya meninggi di setiap kata.


Ilham menghela napas samar. Melihat sekilas Lia yang berada di belakangnya. Lalu, akhirnya ia benar-benar beranjak pergi meninggalkan Lia sendirian yang menyimpan rasa kesal.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2