
"Oke, pernikahan kita dilangsungkan besok saja, pa. Yah, lebih cepat lebih baik kan, pa," usul Ilham kepada papanya.
Semua orang terdiam terutama Melissa, ia pikir Ilham akan menentangnya dan membantu Melissa untuk bersama-sama tidak menyetujui pernikahan ini. Tapi, kenapa cowok ini yang malah mengusulkan ide yang begitu gila.
Melissa masih ingat betul kejadian besar yang ia alami tadi malam. Ia tidak mengerti lagi apa yang harus ia lakukan sekarang.
Tidak! Ia tahu, tapi ia tidak bisa melakukannya.
Tepat setelah malamnya lamaran, akhirnya hari ini adalah hari bahagianya.
Haha!
Hari bahagia, yang membuat ia tidak bahagia.
Oh, Tuhan.
Jika ini mimpi, Melissa ingin cepat bangun dari mimpi buruk ini. Ia tidak ingin berlama-lama berada di keadaan yang tidak bisa ia atasi.
"Mba, mba kenapa?" Melissa tersentak saat air matanya tiba-tiba sudah membanjiri pipinya.
Huft.
"Emm, tidak apa-apa kok mba."
"Eh, mba jangan dihapus. Ini pakai tisu saja, takut riasannya luntur." Mba perias itu memberikan tisunya, karena tadi Melissa sempat akan mengusapnya dengan tangan.
"Makasih, mba."
Bunda Reski yang baru saja datang di ambang pintu, tersenyum melihat anaknya yang terlihat sangat cantik memakai pakaian pengantinnya. Kebaya putih, dan rambut yang disanggul membuatnya terlihat sangat dewasa.
Ia tidak akan menyangka anak yang dulu ia timang, yang dulu ia manjakan sekarang ia sudah akan menjalani kehidupan baru dengan lelaki lain.
Bunda Reski mengusap air matanya, haru.
"Udah siap, nak? Ayo turun." Melissa mendongak menatap bundanya yang berdiri di sebelahnya.
Ia tertegun melihat mata bundanya sembab dan sedikit merah.
"Bun."
__ADS_1
"Hm?" Sambil menuntun anaknya, ia melihat wajah putrinya bertanya-tanya. Ia segera tau apa yang membuat putrinya seperti itu. "Bunda tidak apa-apa kok. Bunda hanya sedang mengingat masa lalu, saat kamu sedang menangis karena mainanmu diambil oleh temanmu dulu," jelas bunda tersenyum, membuat Melissa juga ikut tersenyum mengingatnya.
____
"Il," panggil Arif, ayah Ilham di lokasi resepsi. Tepatnya lantai satu rumah Melissa.
Ilham tertegun melihat Melissa sudah berada di sampingnya. Matanya tidak henti-hentinya memandangi wajah calon istrinya itu. Melissa benar-benar tidak terlihat seperti musuh bebuyutan yang biasa ia lihat. Ia terlihat cantik, dan lemah lembut. Tapi, rasa gengsi untuk mengakuinya benar-benar tinggi.
Ck! Musuh tetap musuh.
Ilham memalingkan wajahnya kesal saat Melissa menyadari Ilham sedang menatapnya.
Tigapuluh menit lamanya mereka menyelesaikan akad nikah mereka. Ilham dan Melissa.
Sekarang semua keluarga besar sedang berkumpul di dalam satu ruangan yang sama. Tepatnya ruang keluarga yang dibawahnya terdapat tempat duduk lesehan untuk mereka semua. Ibnu dan Reski, Ayu dan Arif serta Melissa dan Ilham.
Bukan hal wajar lagi, jika Melissa sama sekali tidak tersenyum selama pernikahan berlangsung. Bahkan, untuk menyambut jumlah tamu yang masih bisa ia hitung dengan jari pun, ia masih tidak tersenyum.
Karena memang pernikahannya hanya mengundang beberapa kerabat dekat saja, dengan alasan Melissa dan Ilham yang tidak ingin terlalu mengumbar hubungannya. Apalagi mereka masih bersekolah.
"Meli." Refleks Melissa menoleh, mendapati ibu barunya yang sedang tersenyum tulus sambil menyentuh punggung tangan Melissa.
Diselingi senyuman, Ayu mempererat genggamannya. "Mama sama papa mau pulang dulu ya. Nanti setelah dua hari, kamu sama Ilham tinggal di rumah mama." Melissa hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban.
"Ma, kenapa tidak sekarang saja pindahnya sih? Lagi pula kan rumah mama sama bunda kan dekat, jadi tidak perlu tinggal di sini lagi," ujar Ilham menolak usulan mamanya.
Puk!
"Aww!" Ilham mengusap kepalanya yang dihadiahi pukulan oleh mamanya.
"Biarkan Melissa dan kamu tinggal di sini dulu, nanti juga kan kamu menemani Melissa, Il," ucap mama Ayu menggoda anaknya.
Ilham berdecak.
Setelah berpamitan dengan besannya, Ayu dan Arif pergi meninggalkan anak dan menantunya untuk tinggal sebentar di rumah besannya.
"Kalau gitu bunda dan ayah juga mau tidur, lelah," pamit bunda Reski kepada kedua anaknya, mengajak suaminya untuk masuk ke kamar mereka.
"Iya, bun," jawab Ilham dan Melissa kompak.
__ADS_1
____
"Wibu." panggil Ilham yang sedang tiduran di kasur milik Melissa. Memiringkan wajahnya menghadap Melissa yang sedang duduk bercermin membersihkan riasan di wajahnya. "Kapan selesainya kalau dari tadi hanya melamun?"
"Tidak." Ekspresi Melissa masih sama datarnya semenjak ia memasuki kamarnya.
Ilham hanya berdecak, sambil berbalik membelakangi Melissa dari arah Melissa duduk.
Melissa yang melihat itu merasa sangat lega. Entah apa yang ia pikirkan ketika melihat pria lain berada di dalam kamarnya. Meskipun, sekarang Ilham sudah menjadi suaminya, tapi masih sangat terasa asing untuknya. Apalagi mereka adalah musuh.
Melissa berjalan ke arah Ilham, tepatnya tempat yang berada di samping Ilham. Tidak punya pilihan lain ia harus tidur di samping orang yang sudah menyandang predikat musuh sekaligus suaminya sekarang.
Pasangan suami istri ini sama-sama tidur dengan berlawanan arah membelakangi satu sama lain.
Suasana sangat hening sebelum suara dari lelaki di sampingnya ini berucap dengan masih membelakangi Melissa. "Lo pikir gue suka sama, lo? Dengan gue menyetujui bahkan sampai membuat seolah-olah gue yang paling mendukung pernikahan kita." Melissa sedikit memiringkan wajahnya, melihat punggung Ilham.
"Lo masih ingat kan kalau kita ini musuh? Gue tidak pernah sekali pun berpikir untuk pernikahan ini. Dan gue juga tau alasan lo pura-pura menyetujui ini, lo hanya mau mengganggu dan menghancurkan hidup gue," balas Melissa, kembali berbalik membelakangi.
"Baguslah, kalau lo tau." Ilham semakin menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Malam semakin larut, menghipnotis setiap manusia yang berlindung di bawah selimut. Pasangan suami istri ini juga sama-sama terhipnotis dengan dekapan salah satunya.
____
"Lo yang aneh, kenapa tidur dekat-dekat gue?" ucap Ilham membela dirinya karena ia ketahuan tidak sengaja memeluk Melissa.
Sambil mengenakan baju seragamnya, ia berjalan ke arah Melissa yang sedang bercermin.
Melissa berdiri dengan geram, gadis itu menatap Ilham nyalang. "Itu jelas-jelas kamar gue, itu kasur gue. Jadi gue berhak atas semua ini, kenapa malah lo yang jadi marah-marah dan protes, ha?"protes Melissa pada Ilham yang sedikit lebih tinggi darinya.
Ya, ini semua milik Melissa. Bagaimana bisa ada orang yang berani protes jika orang itu sudah tau kalau itu adalah milik orang lain, bukan miliknya.
Ilham terkekeh mendengar kata-kata yang sama sekali tidak lucu.
Melissa menaikan satu alisnya, bingung.
"Lo mengatakan itu milik lo? Terus lo itu milik siapa? Lo masih belum lupa kan, lo itu istri gue sekarang, hm?" Dengan wajah tersenyum menang, Ilham pergi dari kamar Melissa dengan tas sekolahnya.
Melissa terdiam sejenak. "Apaan coba maksudnya?"
__ADS_1
Bersambung.